"Aku pesan lima kotak red velvet macaroon, please," kata seorang perempuan berambut pirang dengan lipstick merah menyala kepadaku.
Aku mengangguk lalu mengetik pesanan di komputer. Paula--teman kerjaku--membaca pesanannya. Dia pun segera mengambil lima dus berisi kue macaroon.
"75 dollar, Nona."
Perempuan itu mengeluarkan kartu atm dari dompetnya. "Aku baru melihatmu di sini." Dia memberiku kartu atm berwarna silver miliknya.
Aku tersenyum. "Iya, aku baru di sini."
"Oh, begitu."
Paula memberi dua bungkusan plastik berisi kotak dus lalu dia berikan kepada wanita pirang itu. Setelah mengucapkan terima kasih, wanita itu pergi. Paula menyikut perutku.
Aku menoleh sambil berkata,"Kau kenapa?"
Paula mendekatkan mulutnya di telingaku. "Dia sering ke sini."
Aku mengerutkan kedua alisku. "Kenapa? Bukankah itu bagus?"
Wanita berambut merah jahe itu memutar bola matanya kesal. "Apa kau tidak tahu? Dia mantan pacar Gilbert.”
Kedua mataku melebar. "f**k. Kenapa kau tidak bilang? Sejak kapan Gilbert punya pacar? Setahuku dia tidak suka wanita berdada besar seperti dia."
Paula tertawa terbahak-bahak sambil memukul bahuku. "Oh sial! Haruskah kau menyebut seperti itu?"
Aku mendongak menyombongkan diri. "Tentu saja. Buat apa d**a besar jika dia belum punya anak? Nih, lihat aku." Aku memukul dadaku sendiri. "Dadaku besar karena penuh ASI."
Paula menggebrak meja tertawa hingga mukanya merah. Kami berdua tertawa hingga seseorang berseragam hijau masuk ke toko.
"Selamat siang. Ada paket untuk Mrs. Emilia Jhonson."
Kami berdua saling berpandangan. Paket untukku? Bukankah ini mirip seperti Eliza dengan Andre dulu? Pria itu mengeluarkan sebuah amplop besar. Warnanya sama seperti amplop yang kuterima kemarin.
"Silakan tanda tangan di sini," kata pria itu.
Aku menandatanganinya dengan jutaan pertanyaan di kepala. "Terima kasih."
Pria itu tersenyum lalu pergi. Aku membolak balikkan amplop itu. Ini benar-benar mirip dengan Eliza dulu hanya saja yang dikirim bukan sebuah kotak besar. Haruskah aku membukanya?
"Apa kau punya secret admirer, huh?" sahut Paula memandangi amplop yang kupegang.
Aku menggeleng. "Tidak. Hanya saja ini seperti kejadian sahabatku dulu."
"Kenapa? Dia di teror?"
Aku tertawa. "Jika di teror oleh Alexandre Jhonson, tentu aku mau. Mungkin ini surat dari ibuku, sebaiknya kutaruh ini ke tasku sekalian menyusui Elsa."
Paula mengangguk lalu kutinggalkan dirinya menuju ruang khusus karyawan di mana Elsa masih tertidur di box bayi. Dengan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya kubuka amplop itu. Mengerutkan alis bahwa ternyata isinya beberapa lembar surat. Aku heran, di zaman seperti ini kenapa si pengirim tidak memakai email atau pesan w******p?
Dear Emilia Jhonson.
Aku bisa menebak jika kau tidak membuka amplop yang kubawa di kamarmu, Em.Oh, tidak, maksudku yang dibawakan oleh Andre. Aku juga bisa menebak bahwa kau mencibirku karena tidak memakai email, kan? Maaf, di sini tidak diperbolehkan menggunakan alat komunikasi elektronik bahkan kakakku juga tidak memberiku akses untuk menemuimu kecuali surat ini.
Kubungkam mulutku dengan derai air mata saat aku baru sadar bahwa yang mengirim surat ini adalah Sam. Tubuhku gemetaran membaca suratnya.
Bagaimana kabar Elsa? Pasti dia mirip denganmu, bukan?
"Tidak, dia mirip denganmu Sam."
Ma'afkan aku tak menemani dirimu saat melahirkan Putri kecil kita, Em. Aku salah. Aku hanya berharap secepat mungkin bisa keluar dari penjara ini namun waktu sepertinya tidak mengijinkan diriku menemui dirimu dan Elsa. Andre bilang bahwa kalian tinggal bersama Gilbert, temanmu di kantor lamamu. Ini membuatku semakin mundur untuk mendapatkan hatimu lagi, Em.
Em, bisakah kita kembali seperti saat kita bertemu di acara pernikahan Ibuku? Tertawa bersamamu, melihat pancar mata indahmu. Ah, kuharap Elsa memiliki mata biru sepertimu, Em. Ma'af jika kau mencintai diriku yang berakhir seperti ini.
Ps: Aku masih mencintaimu.
Lembar berikutnya, aku terkejut dia memberiku sebuah foto. Isak tangisku semakin keras saat kulihat kenangan dalam foto itu. Masih teringat jelas dalam pikiranku bahwa saat itu kami berdua berbaring di atas kasur penthouse milik Sam sambil menonton film setelah memasak pasta. Di dalam foto itu dia memelukku sedang aku mencium pipinya. Kami terlihat begitu bahagia dengan mengenakan sweater berwarna kembar dan mata Sam yang terlihat begitu bersinar. Kucium foto itu dengan sayang. Jika seperti ini terus, aku tidak bisa move on, kan?
####
Gilbert datang dari kantornya dengan penampilan berantakan saat aku selesai memandikan Elsa. Dia nampak terkejut saat melihat kedua mataku bengkak. Kualihkan kedua mataku ke arah lain tidak mau bertemu pandang dengan pria itu. Aku merutuki diriku sendiri, sekeras apapun aku berusaha melupakan Sam, nyatanya Sam memiliki seribu cara untuk membuatku ingat lagi dan lagi.
Kududukkan Elsa di ruang tamu sambil memberinya beberapa mainan kecil. Gilbert mendekati kami, diciumnya puncak kepalaku lalu bibirku. Tanganku terulur untuk merengkuh tubuhnya dalam pelukanku. Aku kembali menumpahkan air mataku menangisi pria jahat yang tidak membiarkanku melupakan dirinya.
"Aku dengar dari Paula bahwa kau menerima amplop, Em," kata Gilbert lirih.
Aku mengangguk tanpa sanggup berkata. Terlebih saat aku pulang kerja tadi, kubuka amplop yang tempo hari dikirim oleh Sam. Oh sial! Isinya foto-foto kebersamaan kami serta surat Cinta darinya tentang kerinduannya padaku dan Elsa. Tanpa pikir panjang, kubuang semua itu ke dalam tempat sampah.
"Aku yakin kau bisa melewati semua ini, Em. Aku juga tak memaksamu untuk melupakan Sam. Biar bagaimanapun juga, dia adalah suamimu yang harus kau dukung mentalnya."
Kulepas pelukanku pada Gilbert. "Apa aku harus menemuinya di penjara? Tapi Andre tidak pernah memberitahuku dengan alasan, itu pelajaran bagi Sam telah menyakitiku."
"Lalu?"
"Aku bingung," kataku. "Lagipula semenjak Elsa lahir, dia belum pernah melihat Ayahnya, kan? Atau besok saja kubawa anakku menemui Sam?"
"Besok? Biar kutemani saja, aku libur."
Aku tersenyum lalu memeluk Gilbert. "Terima kasih, G. Tapi, kau Nampak begitu buruk sekarang.”
“Ya, ada beberapa kendala di stasiun TV,” ucap Gilbert sambil tersenyum tipis. “Aku tak apa.”
“Kau yakin?” tanyaku khawatir.
Dia tersenyum sambil mengangguk dan menatap kedua mataku lekat. Seperti magnet dengan kutub yang berbeda kami pun semakin dekat menepis jarak yang memisahkan kami. Awalnya hanya sebuah kecupan biasa namun lama-lama menjadi sebuah hasrat yang menggebu-gebu. Harus aku akui, bahwa Gilbert mudah membangkitkan setan dalam diriku. Tapi, kadang aku merasa apa yang kami lakukan adalah salah. Aku sudah memiliki suami namun justru tinggal satu atap dengan lelaki lain dan berciuman panas dengannya.
Kesalahan besar yang begitu nikmat.
Kulepas ciumannya sambil tertawa saat mendengar suara tangis Elsa. Kami berdua sama-sama merona malu. Kugendong Elsa yang wajahnya terlihat cemburu padaku. Gilbert mencium pipinya lalu mencium Puncak hidungku. Jika seperti ini bukankah kami terlihat seperti keluarga kecil normal lainnya?
"Bagaimana setelah mengunjungi Sam, kita jalan-jalan? Aku ingin mengajak Elsa ke Central Park atau ke kebun binatang."
Aku mengangguk. "Ide bagus."
"Bagaimana jika aku ikut tidur denganmu?" usul Gilbert membuatku terkejut. "Jangan salah paham, aku hanya ingin kau tidak menangisi Sam lagi."
Kuanggukkan kepala lalu bangkit sambil menggendong Elsa. "Anakku tidur di tengah-tengah kita."
Dia memutar bola matanya lalu mengekori diriku. Tiba-tiba dia memelukku dari belakang sambil menggoda Elsa membuat anakku tertawa terpingkal-pingkal. Gilbert membantuku menata kasur untuk kami tiduri. Tak lupa dia mengambil bantal kecil milik Elsa lalu mengganti baju anakku dengan piyama kecil. Sedangkan aku membersihkan mukaku dengan skincare setelah gosok gigi. Siapa tahu bukan, jika ciuman itu berlanjut lagi?
Setelah pria bermata lentik itu selesai membersihkan diri, dia mengganti kausnya dengan singlet dengan potongan di kedua lengan. Kugigit bibir bawahku melihat bentuk perutnya itu. Oke harus aku akui jika aku wanita bodoh yang sudah bersuami namun masih saja melirik pria lain. Tapi, ibarat kucing betina jika disuguhi pejantan yang seksi, aku mau melakukan apa saja. Lagipula, Gilbert juga betah melajang, kan? Jadi apa salahnya?
Kurebahkan tubuhku di atas kasur sambil menidurkan Elsa. Gilbert bergabung. Dia memposisikan dirinya miring sambil menopang kepalanya dengan tangan kanan. Kedua matanya tak lepas memandangi diriku yang menyusui anakku.
"Aku iri dengan Elsa," celetuknya membuatku refleks memukul lengannya.
"Jangan m***m!" seruku menekan suara agar tidak berisik.
Dia tertawa lalu mencium kepala Elsa dengan sayang. "Kadang aku berpikir bahwa tidak seharusnya kau mengalami semua ini, Em. Kau terlalu baik untuk mendapat semua cobaan ini.”
"Ini hanya masalah waktu, Gilbert. Lagipula, akhirnya aku bisa bertahan, bukan?” Aku menarik napas sejenak mengelus rambut Elsa lalu berkata,”Aku bisa bertahan karena Elsa, hanya dia, Gilbert. Jika dia tidak datang kepadaku, mungkin aku sudah bunuh diri.”
“Jangan katakana itu, Em. Aku tak suka,” kata Gilbert seraya mengerutkan alis tebalnya. “Bunuh diri atau apapun itu takkan pernah menyelesaikan masalahmu. Justru masalah lain akan datang, apa kau siap dengan kehidupan di alam baka?”
Aku terkekeh. “Apa kau baru saja baca alkitab, huh?”
Dia tersenyum miring. “Semua kitab agama akan mengatakan hal yang sama, Em. Kau hanya perlu mengingatnya saja.”
Kami terdiam sejenak lalu aku teringat dengan mantan Gilbert tadi siang.
“Siang tadi, aku bertemu dengan seseorang di toko, Paula bilang dia adalah mantanmu.”
Pria di depanku menaikkan sebelah alisnya lalu tersenyum kecut. "Oh, dia. Kenapa?"
"Sejak kapan kau berhubungan dengannya? Bahkan kau tidak pernah bercerita kepadaku."
Dia nampak berpikir sejenak. "Semenjak SMA sebenarnya. Tapi ... Kami putus dua tahun lalu karena dia selingkuh dengan bos-nya sendiri. Lagipula untuk apa menceritakan wanita itu? Tidak ada untungnya, Em.”
Mengerutkan keningku lalu berkata, "Bagaimana kau tahu kalau dia berselingkuh?"
"Aku datang ke apartemennya saat kami akan kencan merayakan hari jadi kami yang ke ... aku lupa ke berapa. Intinya, aku memergoki dirinya dengan berhubungan intim dengan seorang pria."
"Ma'afkan aku, telah membuatmu mengingat hal itu."
Gilbert menggeleng sambil mengelus rambutku dengan tangan kiri.
"Itulah mengapa aku tidak suka membuat komitmen, Em. Komitmen membuatku sakit hati, komitmen membuatku terluka. Mungkin kau berpikir bahwa pria mudah jatuh Cinta, namun nyatanya ketika mereka menyukai gadis, dia akan mempertahankan gadis itu sebagai teritorialnya. Dan jika teritorialnya dijamah... "
"Kau menghajar pria itu?" potongku.
Dia mengangguk. "Tidak sebulan dua bulan aku berpacaran dengan mantanku. Tapi hampir delapan tahun, dan dia menghancurkannya dengan b******u bersama pria lain. Padahal hari itu aku ingin melamarnya, Em."
Aku turut sedih atas apa yang menimpa Gilbert. Hanya satu luka hati saja dia tidak mau menjalin komitmen dengan perempuan lain. Aku berpikir, apakah dia juga tidak mau memiliki komitmen denganku? Jika seandainya aku berpisah dengan Sam?
"Tapi," Gilbert membuka suara. "Sejak mengenalmu, aku merasakan sesuatu yang lain meski kadang aku masih takut mengakuinya. Aku takut hancur kembali seperti dulu. Tapi … di sisi lain, sisi egoku ingin sekali memilikimu, Em.”
Mulutku menganga mendengar ucapannya namun setiap kata yang diucapkannya begitu terukir dengan jelas di kedua iris mata Gilbert. Dia tidak berbohong.
“Kau ingin kita seperti apa, Gilbert?” tanyaku.
Jemari Gilbert menyentuh lenganku dan mengusap lembut di sana seperti sedang mengirimnya jutaan volt listrik di setiap sel tubuhku. Dia terdiam cukup lama namun dari kedua matanya, aku tahu dia menginginkan hubungan lebih dari ini.
“Aku … tidak tahu,” ucapnya lirih seraya mengunci diriku di dalam kedua mata birunya. “Aku takut semua ini….” dia tidak melanjutkan kalimatnya membuatku menaikkan sebelah alis.
Kulihat Elsa sudah terlelap tidur meski mulutnya masih menghisap dadaku. Kulepas perlahan, dadaku dari mulut Elsa tanpa membangunkannya. Setelah berhasil, kutarik tangan Gilbert menuju kamar lain yang dulu dipakai Eliza.
Entah godaan darimana, kami mulai bermain api. Kami berdua tahu bahwa ini salah bahkan bisa dibilang aku mengkhianati Sam. Tapi, saat ini tubuh kami tak bisa menolak ketika bersentuhan satu sama lain. Ada getaran dalam diriku ketika Gilbert menghentakkan dirinya membuatku berteriak. Semua rasa penat dan bayanganku terhadap Sam hilang sejenak berganti dengan wajah Gilbert dengan peluh keringat di wajahnya.
Dia tersenyum di atasku lalu merendahkan tubuhnya untuk mencium bibirku. Kedua mata biru sedikit abu-abu miliknya berkilat melihat diriku. Ada rasa malu saat dia menelusuri diriku dengan jemari panjangnya membuat sensasi gelitik.
Dia berguling ke sisi kananku sambil merengkuh tubuhku dengan begitu erat. Aroma keringatnya yang bercampur dengan sabun begitu memabukkan bagiku. Kucium dadanya dengan lembut lalu menaruh kepalaku di atas d**a bidangnya. Kami berdua terdiam membiarkan irama jantung kami menyelaraskan detaknya bagai melodi.
“Em…” panggil Gilbert seraya menyentuh rambutku.
“Jangan katakana apa pun untuk saat ini, Gilbert. Aku hanya ingin kita seperti ini untuk sementara.”
Kupejamkan kedua mataku sambil memanjatkan do'a dalam hati. Air mataku menetes kembali mengingat surat yang dikirim Sam.
"Kurasa aku harus pergi melanjutkan hidupku, Sam," lirihku.