Kepalaku berputar seperti dunia sedang membolak-balikkan tubuhku, kedua mataku bahkan tidak bisa melihat keadaan dengan jelas. Namun dentuman musik masih menyadarkanku bahwa aku masih di tempat yang sama. Kulihat gelas milikku sambil cegukan, entah sudah berapa botol kuhabiskan minuman yang tak seharusnya kuminum. Ah, persetan! rutukku dalam hati kesal. Ini semua karena David b******n itu. Aku menoleh, melihat banyak orang berdansa di tengah-tengah ruangan, mengangkat kedua tangan dan menggoyangkan pinggul mengikuti irama. Dengan sempoyongan, kulangkahkan kaki menuju lantai dansa. Beberapa orang menyambutku dan menggoda diriku, kulemparkan senyum singkat tanpa menerima ajakan mereka untuk menari bersama. Suara musik semakin kencang, sambil terpejam, aku menggerakkan seluruh tubuhku mengi

