SELAMAT MEMBACA
***
Sekar masih belum mau masuk meski bulik dan pakliknya sudah pergi dengan diantar oleh sopirnya Ndoro Karso.
"Ayo masuk, kita susun barang-barangmu di dalam." Ucap Ndoro Karso pada Sekar. Sekar hanya menoleh dengan pelan pada Ndoro Karso.
"Ayo Nduk," ajak Ndoro Karso lagi dengan sabarnya.
Akhirnya Sekar pun mengikuti kemana Ndoro Karso pergi. Kopernya di tinggal di luar, rewang Ndoro Karso yang akan membawanya nanti.
Awalnya Sekar berfikir jika dia akan dibawa menuju kamar yang semalam dia tempati tapi ternyata dia salah.
"Tolong dibantu Ndoro Putri menyusun pakaiannya." Ucap Ndoro Karso pada Mbok Sugeng yang kebetulan tengah membereskan kamar.
"Nggih Ndoro." Jawab Mbok Sugeng dengan patuh.
Ndoro Karso langsung berbalik dan menatap Sekar sebentar.
"Bereskan barang-barangmu dibantu Mbok Sugeng." Ucap Ndoro Karso pada Sekar. Lalu setelahnya keluar dari kamar tersebut.
Sekar tidak lagi bertanya kemana kira-kira perginya Ndoro Karso. Lebih tepatnya dia tidak peduli dan juga tidak mau tau.
Fokus Sekar sekarang beralih pada kamar yang dia tempati. Sekar bingung dengan kamar yang dia tempati saat ini. Berbeda jauh dengan kamar yang sebelumnya.
"Mari Ndoro Putri, yang mana dulu yang mau ditata?" Mbok Sugeng bertanya pada Sekar. Dan Sekar pun mulai membuka koper miliknya.
Koper pertama yang Sekar buka berisi pakaian. Mbok Sugeng langsung membereskannya dan mulai menatanya di lemari.
"Mbok ..." panggil Sekar pelan pada Mbok Sugeng yang tengah menyusun baju-baju Sekar di lemari seperti perintah sang Ndoro tadi.
"Nggih Ndoro, ada apa?" tanya Mbok Sugeng pada Sekar.
"Ini kamar siapa Mbok. Kenapa saya dibawa kesini, bukan kekamar yang saya tempati kemarin?" tanya Sekar dengan bingungnya. Kamar yang dia tempati saat ini berbeda jauh dari kamar sebelumnya. Kamar itu lebih besar jauh ketimbang kamar sebelumnya. Nuansa jawanya sangat kental dan membuat suasana kamar terlihat sangat mewah.
Bahkan ranjangnya sangat lembut ketika kulit Sekar menyentuhnya.
"Ini ya kamarnya Ndoro Karso, memangnya Ndoro Putri fikir ini kamarnya siapa?" Tanya Mbok Sugeng dengan sedikit heran. Apa dengan semua yang terlihat masih tidak bisa di tebak itu kamar siapa.
Sedangkan Sekar tentu saja merasa heran. Bagaimana bisa dia berada di kamar Ndoro Karso.
"Kok saya dibawa kesini Mbok. Kenapa bukan kekamar saya sebelumnya?" Tanya Sekar lagi dengan bingungnya.
Namun kebingungan Sekar, justru dijawab dengan kebingungan yang serupa oleh Mbok Sugeng. Ada apa sebenarnya dengan fikiran Ndoro Putrinya itu. Sebagai seorang istri bukankah sudah sewajarnya tinggal sekamar dengan suaminya. Apa kah hal tersebut masih harus dipertanyakan.
"Ndoro Putri kan sekarang garwo-nya Ndoro Karso. Bukankah sudah sewajarnya tinggal di kamar Ndoro. Tidak perlu beda kamar kan?" Jawab Mbok Sugeng lagi.
Namun, hal tersebut justru membuat Sekar semakin bingung. Apa tidak salah kalau dia tinggal di kamar Ndoro Karso. Apa tidak akan membuat kecemburuan bagi istri sang Ndoro yang lainnya. Lagi pula, ini akan membuatnya sangat tidak nyaman. Tolong, bawa dia pergi dari sana. Lebih baik pindahkan saja dia kekamar lain yang jelas bukan Kamar Ndoro Karso.
"Lalu kalau saya tinggal di sini. Istrinya yang lain tinggal di mana Mbok?" Tanya Sekar dengan herannya. Namun, sebesar apapun rasa heran Sekar, Mbok Sugeng jauh lebih heran lagi dengan pertanyaan sang Ndoro Putri.
"Ndoro putri ini bicara apa, istri Ndoro nggih Ndoro Putri sendiri. Memangnya istri yang mana lagi yang Ndoro Putri maksud?"
"Istri yang lain Mbok. Saya ini istri keberapanya Ndoro Karso?" Tanya Sekar lagi.
Mbok Sugeng yang mendengar itu tentu saja heran bercampur prihatin. Dia hanya menggeleng pelan sebelum bicara.
"Biar saya yang bicara Mbok, silahkan keluar." Entah kapan datangnya tiba-tiba Ndoro Karso sudah berdiri di depan pintu. Membuat dua orang yang tadi bicara langsung gelagapan gugup. Seolah tertangkap basah kedapatan menggunjing.
"Nggih Ndoro." Jawab Mbok Sugeng lalu ingin pergi meninggalkan Ndoro Karso dan Sekar.
"Hari ini saya tidak menerima tamu. Saya ingin istirahat bersama istri saya. Saya tidak mau diganggu sampai saya sendiri yang keluar dari kamar." Ucap Ndoro Karso sebelum Mbok Sugeng benar-benar pergi.
Mbok Sugeng yang mendengar ucapan sang Ndoro hanya mengangguk faham. Lalu pamit pergi. Sepeninggalnya Mbok Sugeng, Ndoro Karso langsung menutup pintu dengan rapat dan menguncinya. Dia bahkan melepaskan kunci dan menyimpannya di saku. Sekar yang melihat hal tersebut tentu saja merasa cemas. Sekarang dia terkurung berdua di kamar bersama sang Ndoro. Apa yang ingin dilakukan sang Ndoro, jangan bilang Ndoro Karso akan melakukan hal yang macam-macam padanya.
"Jangan takut Nduk, saya tau kamu punya banyak pertanyaan pada saya. Kamu bisa tanyakan langsung tidak perlu lewat rewang saya." Ucap Ndoro Karso dengan tenangnya. Dia duduk di kursi santai di seberang ranjang sedangkan Sekar, masih berdiri di tepi ranjang. Jarak mereka sedikit jauh karena saking luasnya kamarnya Ndoro Karso.
Namun, mendengar itu Sekar justru menggeleng. Tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Kamu fikir saya punya istri yang lain, begitu?" Tanya Ndoro Karso lagi. Meski Sekar tidak menjawabnya namun sang Ndoro bisa melihat tatapan Sekar yang mengiyakan ucapannya.
"Kamu itu satu-satunya istri saya. Istri saya ya hanya satu, kamu Sekar Lembayung. Kamu bukan salah satu istri saya tapi memang hanya kamu satu-satunya." Ucap Ndoro Karso dengan tegas dan sangat menyakinkan. Sedikitpun tidak ada keraguan di sana.
Sekar menatap Ndoro Karso dengan penuh keraguan. Apa benar yang diucapkan sang Ndoro itu. Dia tidak punya istri lain. Tapi kok rasa-rasanya tidak mungkin.
"15 tahun yang lalu saya memang pernah menikah. Tapi bercerai setelahnya. Sampai sekarang, baru kamu perempuan yang saya nikahi lagi." Ucap Ndoro Karso kembali menyakinkan. Dia melihat masih adanya keraguan dari tetapan mata Sekar.
"Sekarang sudah percaya kan Nduk cah ayu?" Tanya Ndoro Karso lagi masih dengan tatapannya yang fokus pada Sekar.
Sekar masih diam. Antara percaya dan tidak.
"Lembayung," panggil Ndoro Karso lagi.
"Nama saya Sekar, Ndoro," koreksi Sekar pelan. Meski Lembayung itu nama belakangnya tapi cukup asing di telinganya sendiri. Sekar lebih nyaman dipanggil nama depannya saja.
"Saya lebih senang memangilmu Lembayung."
Sekar tidak bisa protes atau mengatakan apapun. Dia memilih diam dan tangannya mulai sibuk menyusun alat riasnya di meja rias. Sebenarnya Sekar cukup penasaran untuk apa laki-laki yang katanya sudah menduda 15 tahun punya meja rias di kamarnya. Tapi ketika mengingat jika itu adalah Ndoro Karso, Sekar memilih menyimpan kembali pertanyaannya.
Dari tempatnya duduk Ndoro Karso memperhatikan semua yang dilakukan Sekar. Dari apa yang dia lihat, Ndoro Karso menangkap jika istrinya itu adalah perempuan yang senang berhias karena banyakanya alat rias yang ditata di meja.
"Setelah menyusun itu, kalau ingin mandi kamu bisa mandi di sana." Ucap Ndoro Karso lagi sambil tangannya menunjuk kearah ujung ruangan yang ternyata pintu kamar mandi.
Sekar yang mendengar itu mulai menyiapkan perlengkapan mandinya. Dan segera bergegas memasuki kamar mandi.
Ndoro Karso hanya tersenyum tipis melihat hal tersebut.
Hingga beberapa saat, pintu kamar mandi dibuka. Sekar dibuat terkejut karena ternyata Ndoro Karso masih berada di kamar. Dia fikir sudah pergi.
Sekar mengabaikan keberadaan Ndoro Karso seolah laki-laki itu tidak berada di sana. Sekar mulai duduk di depan meja riasnya dan mulai melakukan kegiatan yang dia senangi yaitu merawat tubuhnya.
Sekar itu tipe perempuan yang menyukai kecantikan. Dia suka baju-baju cantik dan berhias. Tidak heran jika Sekar memiliki kulit yang bersih dan cantik. Jangan lupa, Sekar juga memiliki tubuh yang indah. Apa selama ini belum digambarkan bagaimana sosok Ndoro Putri istri dari Ndoro Karso itu.
Semua yang dilakukan Sekar, semuanya tanpa terkecuali tertangkap jelas di mata Ndoro Karso. Ndoro Karso langsung membantin apa semua perempuan seperti itu. Melakukan rangkaian panjang sehabis mandi.
Bukan tidak sadar jika diperhatikan, namun Sekar memilik abai. Biarkan saja jika Ndoro Karso kesal melihat kegiatannya yang terlalu lama. Sekar tidak perduli.
"Suka dengan meja riasnya?" Tanya Ndoro Karso lagi pada Sekar. Sekar melihat sang Ndoro dari pantulan kaca. Tidak menoleh sama sekali dan tetap fokus dengan kegiatannya.
"Suka." Jawab Sekar singkat.
"Syukurlah kalau suka. Saya pesankan meja rias ini khusus untuk kamu."
"Terimakasih." Hanya itu yang diucapkan Sekar.
***