Di sela Ghibran menjelaskan perihal detail proyek di perusahaan, ponsel Ghibran bergetar. Memunculkan nama Gendis di dalam layar. Tak dapat Rifaldo pungkiri, jika manik matanya mendapati nama seorang wanita yang juga ia kenal. “Apa kau takkan menjawab panggilan masuk di dalam ponselmu itu, Kak?” Rifaldo mengeluarkan suara. Melirik ke arah sang kakak yang sibuk dengan beragam file dan laptop kerja di atas meja. “Kau tahu sendiri, ini kan masih jam kerja. Untuk apa aku menyahut panggilan telepon?” Ghibran menyahut datar. Manik mata indah itu masih berfokus pada setumpuk file di sana. Sementara itu, Rifaldo mendecap bibir. Lalu, tak lama kemudian dering ponsel kembali terdengar. Bedanya, saat itu Bilqis yang melakukan panggilan. “Hallo, sayang. Assalamualaikum,” Ghibran menyahut telepon d

