Elvan sudah berada di kamar, meletakkan undangan yang baru diberikan adiknya dengan tatapan kecewa. Lelaki itu merasa terkejut, dia perlu waktu mencerna semuanya, menyadari kalau perempuan yang dicintai sudah melangkah jauh bersama pria lain. Seharusnya dia tidak peduli karena hubungan bersama Nesya memang sudah selesai. Iya, seharusnya dia merelakan perempuan yang dicintai bahagia. Bukankah dia sudah gagal memberi kebahagiaan? Namun, ikhlas masih sulit dilakukan. Elvan masih percaya kalau Nesya akan kembali, suatu saat. Sayang sekali keyakinannya dibantah oleh kertas undangan. Dari tempatnya berdiri, dia mendengar suara Kayla marah-marah di luar kamar. "Aku kesal banget sama Mas Elvan, Ma. Lelet kaya siput akhirnya Mbak Nesya sama orang lain, aku tuh belum rela. Semua gara-gara Mas E

