Kenangan Lama

1162 Kata
Nesya tidak tahu lagi harus gimana. Seharian menghibur diri dengan jalan-jalan ke mal, menguras saldo ATM yang membuatnya meringis menunggu gajian bulan depan, tetapi kondisi hatinya belum juga membaik. Ekspresi menyebalkan mantan yang sialnya sulit dilupakan terus menari-nari di kepala. Dia merebahkan diri ke kasur mengabaikan panggilan sang mama, menutup telinga dengan batal agar tidak mendengar gedoran pintu yang makin keras. Dia menebak mamanya akan wawancara panjang melebihi proses masuk perusahaan. "Mama perlu bicara sama kamu, Nes. Setelah menghilang malah ngumpet di kamar!" Benar, kan? No, Nesya tidak mau menyulitkan diri menjawab pertanyaan sang mama yang tidak akan pernah puas. Dia dan Elvan sudah berakhir. Titik. Nesya rasa tidak ada gunanya memaksakan diri bertahan, sedangkan calon suami tidak ada timbal balik apalagi berusaha memperbaiki hubungan. Elvan tidak akan berubah, dia memilih kehilangan daripada menurunkan sedikit egonya. Mungkin hubungan tiga tahun belum cukup untuk meyakinkan Elvan Adhitama kalau dirinya layak diperjuangkan. "Nes, kamu enggak apa-apa, 'kan?" Suara mamanya di balik pintu mulai terdengar cemas. "Tenang aja, Ma. Aku mau tidur!" dustanya agar tidak diganggu, dia perlu waktu menenangkan diri bahkan mengabaikan benda di tas belanja, sekarang sudah berhamburan di kasur seolah tidak menarik lagi. Saat Nesya sedang menatap langit-langit kamar memikirkan nasib buruknya mencintai pria paling egois di muka bumi, ponsel yang tertindih-tindih tas belanja berdering, membuatnya mau tak mau meraba-raba permukaan kasur demi mengecek si penelepon. Dahinya langsung berkerut cukup dalam menemukan nomor asing menyala-nyala di layar. Mohon maaf kepalanya sudah nyaris meledak dan tidak ada waktu meladeni orang asing. Diletakkannya lagi smartphone, yang setelah deringan berhenti, langsung menelepon ulang seperti tukang tagih hutang. "Siapa sih, kurang kerjaan banget, ya," gerutunya sebal terpaksa menggeser layar sebelum menempelkan ke daun telinga. "Nes, ini saya Glen," ucap seseorang di ujung telepon membuat mata sipit Nesya berusaha melebar. Perempuan langsung bergerak duduk. "Duh, maaf kirain siapa." Nesya meringis takut Glen akan berubah pikiran menjauh lagi. "Apa saya ganggu kamu?" "Enggak, kok, Mas" Lalu terdengar embusan napas lega di seberang. "Saya cuma mau memastikan apa kamu baik-baik saja?" Ada jeda hening cukup lama saat Nesya memikirkan jawaban, kondisi hatinya memang berada di titik terburuk. Namun, membayangkan reaksi Elvan di meja makan, rasanya sia-sia bersedih sendirian. Belum tentu Elvan merasakan patah hati sama dalamnya. "Saya harap kamu tidak menangisi laki-laki seperti dia," ujarnya sebelum Nesya membuka mulut. "Apa kamu mau dinner bersama supaya lebih tenang?" Dinner? Nesya memejamkan mata sebentar, menimbang-nimbang tawaran Glen. Apa dia perlu dinner bersama pria lain saat hati dan pikirannya penuh oleh nama Elvan Adhitama? "Ehm ...." Nesya bergumam sambil mengigit bibir bawahnya. "Kalo kamu keberatan saya tidak memaksa," ujar laki-laki di seberang menimbulkan rasa tak enak di hati Nesya. "Oke, nanti malam aku tunggu, Mas." *** "Mau ke mana setelah mengurung di kamar keluar dandan begini," sindir Fernita yang sedang membawa piring berisi potongan buah apel, mengamati penampilan sang anak dari ujung kuku sampai rambut. "Nyesal juga Mama udah khawatir kamu nangis-nangis taunya keluar pakai dress salem, stiletto, dan make up cantik banget lagi." Ini pujian apa sindiran? Lagi pula stok air matanya sudah habis. Dia juga tidak sudi terus menangisi pria egois yang mungkin sudah melupakannya. "Jangan bilang kamu mau kencan buta, se-desperate itu cari pengganti Elvan, padahal---" "Enggak, Ma. Ya ampun, aku perginya sama mas Glen, kok." Nesya menyela dengan putus asa membuat mata mamanya melebar, lalu menatap penuh penghakiman seakan isi kepala disesaki prasangka buruk. "Kayaknya mas Glen udah jemput, aku pergi dulu, Ma," pamit Nesya begitu mendengar deru mobil dari halaman. Pukul delapan malam pria berkacamata yang makin tampan dibalut jas semi formal krem mengajak Nesya ke restoran bernuansa Prancis, tadi dia langsung melompat ke mobil Glen, memohon agar pria di kursi pengemudi tidak perlu turun pamit pada sang mama. Bukan bermaksud kurang ajar daripada akan melewati ujian panjang berujung acara gagal, Glen mau tak mau menuruti melihat ekspresi memelas di wajah Nesya. Nesya mengernyit memasuki ruangan dengan pencahayaan temaram, duduk di bangku kayu disambut pramusaji yang membawa hidangan beraroma lezat. "Saya sudah reservasi," ujar Glen menjawab kebingungan Nesya. Perempuan itu mengangguk-angguk. Lagi, dia teringat malam-malam romantis bersama Elvan, menghabiskan malam Minggu dengan makanan lezat yang memanjakan lidah. Ah, dia lupa kalau Elvan belum tentu merindukan masa-masa bersamanya. "Nes?" panggilan itu membuat Nesya mendongak, melihat Glen yang kini mengerutkan kening. "Apa kamu tidak suka tempatnya?" "Suka, kok," jawabnya memasang senyum terpaksa. Dia menyesap pelan minumannya berharap bisa melupakan sejenak bayangan Elvan yang seolah mengejeknya. Glen tersenyum hangat. "Soal kemarin malam maaf, ya, jadi terlibat." Nesya masih merasa tidak enak. "Tidak apa-apa, dia calon suami kamu?" tanya Glen yang sedang memotong daging di piring. "Kami udah enggak ada hubungan apa-apa lagi, ya, statusnya cuma mantan." Nesya mengangkat kedua bahu lalu mengalihkan pandangan ke arah lain agar tidak terlihat menyedihkan. Glen mengangguk-angguk, dia bisa melihat perempuan di depannya sedang tidak baik-baik saja. "Kalau kamu butuh teman bicara, saya siap. Termasuk menjadi tameng." Nesya langsung menatap laki-laki di hadapannya dengan syok. "Aku enggak mau melibatkan Mas Glen dan terkesan memanfaatkan." "Saya tidak keberatan." Nesya membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tapi seolah tertahan di ujung lidah. Dia masih tidak percaya laki-laki yang dulu selalu mengabaikan tiba-tiba bersikap baik dari pertemuan pertama setelah sama-sama dewasa. Glen berdehem, meraup wajah sebentar. "Saya tidak ada maksud apa-apa, hanya saja saya tahu perasaan kamu. Pisah bersama orang yang dicintai tidak mudah, tapi saya yakin kamu punya alasan kuat." *** Elvan masih duduk di bangku besi paling pojok, menghadap ke secangkir cappucino yang baru disesap sedikit. Dia mengamati orang-orang yang mengisi meja lain, mengobrol dengan akrab bahkan tertawa-tawa. Tempat ini merupakan salah satu kafe yang pernah didatangi bersama Nesya, melepas rindu mendengar suara perempuan yang tidak pernah kehabisan topik pembicaraan, lalu membiarkan Nesya menghirup aroma kopi di cangkir tanpa mau mencicipi. Seharusnya Elvan tidak masuk ke sini, apalagi memesan minuman yang biasa dipesan selagi bersama sang mantan. Mampir ke kafe ini hanya mengingatkan luka dengan munculnya kenangan bersama Nesya. Lamunan Elvan buyar dijeda oleh dering lagu kesukaan Nesya dari ponsel, lagi-lagi dia lupa belum menggantinya. Dengan mendesah lelah, ditengoknya nama sang mama berpendar-pendar di layar, membuat Elvan mau tak mau menempelkan ponsel ke telinga dengan malas. "Iya, Ma." "Mas, kamu lagi di mana? Mas tau enggak tadi Fernita telepon katanya Nesya jalan sama teman laki-laki. Kamu diam aja, Mas. Enggak menyusul ke sana?" Elvan berdecak. "Buat apa, Ma?" Dia mengumpat pelan dalam hati, hubungan mereka sudah berakhir tapi mama-mama di hidupnya masih terus mendukung balikan. "Kok buat apa? Nesya cintanya sama Mas masa mau dilepas gitu aja, susul ke sana sekarang, Mas." Suara Aira terdengar gemas di seberang. Elvan mengurut pelipis. "Ma, udah biarin. Aku enggak ada hubungan apa-apa lagi sama Nesya." Ya, sekalipun belum rela membayangkan perempuan yang dicintai jalan bersama pria lain, secepat itu? "Enggak ngerti Mama sama kamu, Mas. Jadi laki-laki enggak berusaha benget." Suara sang mama terdengar sebal di ujung telepon. Elvan meraup wajah dengan tangan, lalu menghela napas lelah. "Aku enggak tau mereka pergi ke mana, terus harus keliling Jakarta?" "Ya kamu telepon Nesya, kan, bisa!" Dan terlihat menyedihkan? Elvan sudah geleng-geleng.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN