Part 2 : Kepingan Masa Lalu

1413 Kata
Kayana saat itu masih sangat muda ketika datang untuk mengajar di sekolah menengah atas yang terkenal karena kemewahannya itu, karena dari mulai anak pejabat hingga anak konglomerat berkumpul di sana, biaya SPP-nya pun bahkan menyaingi biaya kuliah di universitas elite. Kayana pun sebenarnya seorang alumni yang beruntung bisa sekolah di sana karena sebuah beasiswa yang ia dapatkan karena kecerdasan yang ia miliki. Hingga di usianya yang masih enam belas tahun ia bisa lulus dari sana kemudian mendapatkan pendidikan lanjut berkat sekolah itu juga yang membiayainya. Mereka memberikan jaminan dengan syarat ia harus mengajar di sana setelah lulus. Begitulah awal mula Kayana berada di tempat mewah itu. Kayana yang saat itu adalah seorang calon Guru Matematika yang sedang menyusun tugas akhir, harus mulai mengajar karena penelitian yang sedang ia laksanakan sekaligus permintaan dari pihak sekolah. Mau tidak mau ia pun menyanggupinya dengan syarat ia hanya mengajar beberapa kelas sampai ia benar-benar lulus dan mendapat gelar sarjana. Sebelum masuk kelas Kayana memang sudah menyiapkan banyak hal, termasuk berbagai cara untuk menghadapi siswa, sehingga membuat ia merasa sudah yakin untuk menghadapi mereka semua. Namun ia tak menduga ia akan bertemu dengan sosok siswa se-aneh dan se-ajaib Jaden yang selalu memberinya kalimat-kalimat pujian, hingga rayuan. “Langitnya cerah ya Miss.” Kayana tersenyum. “Tentu saja, musim kemarau hampir tiba, biasanya akan selalu seperti ini.” “Tapi bagiku Miss satu-satunya yang bisa mencerahkan hatiku.” Mulanya Kayana menganggap bahwa hal itu bukan hal penting yang harus dipikirkan. Ia menganggap itu hanya kenakalan-kenakalan aneh siswa yang sedang puber. Namun lama kelamaan kelakuan Jaden semakin terasa aneh. Apalagi saat Jaden mulai sering mengantarkannya pulang dengan berjalan kaki padahal anak itu memiliki supir pribadi. Tidak-tidak ia bukan ingin diantar dengan mobil mewah itu, ia hanya heran. Kenapa anak laki-laki itu mau susah-susah mengantarnya jalan kaki? Tidak hanya itu, Jaden bahkan sering sekali menanyakan banyak hal yang cukup pribadi. Terkait kehidupannya dan keadaannya. Risih? Tentu saja. ia bahkan berniat menjauhi anak laki-laki itu. Akan tetapi ia sadar ... Jaden adalah putera dari penyumbang terbesar di sekolah itu, Ia bahkan secara tidak langsung di biayai oleh uang dari orangtua Jaden. Sehingga ia merasa sungkan, dan sedikitnya takut jika memperlakukan Jaden dengan buruk. “Miss tinggal bersama siapa di rumah?” “Sendiri.” “Kalau begitu Sabtu malam Jay main ya ... Sekalian belajar.” “Terserah saja ... Jika memang mau belajar.” “Memang tidak ada yang berkunjung ke rumah Miss? Pacarnya mungkin?” “Tidak.” “Kalau begitu, mau tidak jadi pacarku?” Kayana tak pernah menanggapinya serius. Ia bersumpah untuk itu. Tapi entah kenapa lama kelamaan ia justru selalu merasakan hal aneh di setiap kalimat yang siswanya itu berikan. Ia ingat, hari dimana ia wisuda. Kayana yang memang sudah hidup sendiri sejak muda karena ditinggal pergi orangtua tidak pernah berpikir seseorang akan datang di hari bahagianya itu. Tapi ternyata tanpa di duga Jaden datang dengan membawa buket bunga mawar merah dan mengenakan stelan jas yang membuat anak itu tampak lebih dewasa daripada usianya. “Happy graduation ... .” Kayana hari itu tersenyum bahagia, karena akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaan yang orang-orang rasakan. Kebahagiaan di sambut di depan pintu setelah seluruh rangkaian acara selesai. Kebahagiaan yang sebelumnya terasa semu, tapi saat itu benar-benar nyata. Tidak ... Bukan karena Jaden yang datang, tapi ia sangat bahagia karena setidaknya ... ada satu orang yang mengucapkan selamat padanya, ada yang memberinya apresiasi setelah ia bekerja keras. Pernah suatu waktu mereka berbicara singkat saat dalam perjalanan pulang, namun meski singkat tapi selalu Kayana ingat. Saat itu Jaden sudah duduk di kelas dua. “Miss.” “Hm.” “Teman Miss sudah menikah. Rencananya Miss kapan?” Kayana terkekeh pelan. “Kapan-kapan.” Jaden berjalan mundur, menatapnya dengan tatapan yang sangat intens. “Miss benar-benar tidak memiliki kekasih?” “Tidak.” “Padahal Miss sangat cantik, anggun dan juga dewasa. Aku saja suka.” Mata Kayana mengerjap beberapa saat, lalu terkekeh pelan. “Menikah tidak bisa diukur dari rupa seseorang Jaden. Bahkan usia pun tidak bisa dijadikan patokan. Miss rasa tak perlu terburu-buru untuk menikah. Menikah bukan perkara mudah dan bukan untuk satu atau dua hari. Tapi satu untuk seumur hidup.” “Jadi Miss benar-benar belum menemukan pasangan yang sesuai keinginan? Yang pas?” Kayana terkekeh seraya menggeleng pelan. “Tidak perlu buru-buru, lagipula aku masih muda. Dua puluh tahun bukan angka yang buruk bukan?” “Miss kalau begitu tunggu aku ya.” Kayana menaikan satu alisnya. Tunggu? Setelah beberapa saat ia terkekeh pelan. “Belajar yang bener aja dulu. Baru cinta-cintaan Jay. Oh ya ... Jaden ... Jangan pernah menebar janji seperti itu. Tak baik. Apalagi jika orang lain yang kamu ajak bicara menganggapnya serius. Itu berbahaya.” “Aku memang serius Miss. Dan aku ... mengatakan hal ini hanya padamu.” Percakapan itu selalu saja ia ingat. Tidak benar-benar ia ingat-ingat. Namun selalu teringat tanpa disengaja. Meskipun begitu, bukan berarti Kayana mempercayainya. Ia masih selalu menganggapnya lelucon yang tak penting. Dia pasti hanya ingin menghiburnya saja. Ya— hanya itu, tanpa maksud lain. Sampai suatu waktu akhirnya ia tau, jika Jaden memiliki kekasih yang bersekolah disekolah lain. Darimana ia tau? Ia tidak mencari tau. Namun dari teman Jaden yang mengatakan hal itu padanya, entah untuk tujuan apa. Ia juga tidak mengerti sama sekali. Kayana yang dasarnya tidak memikirkan itu, tak acuh saja. Toh ia juga tak nganggap semua hal yang di katakan Jaden dengan serius. Namun terasa ada yang aneh saja, ada sedikit yang janggal dan mengganjal dalam hatinya ketika ia mengetahui hal itu. Selama ini Jaden terus saja mengatakan hal yang tak masuk akal padanya, sementara dia memiliki kekasih. Bukankah itu lucu? Tapi sudahlah ... sekali lagi ia tak mengambil pusing. Ia tak ingin memikirkannya lagi. Perasaan Kayana sedikit lebih lega saat Jaden mulai memasuki kelas 3. Dimana ia tak akan mengajar dikelas itu lagi karena memang ditangani oleh guru lain. Pertemuan mereka pun semakin jarang bahkan mengobrolpun hampir tidak sama sekali, pertemuan mereka hanya sebatas tanpa sengaja berpapasan dijalan atau dilorong sekolah. Atau bahkan ketika lagi-lagi anak itu dengan sengaja mengantarnya dengan berjalan kaki. Tidak lebih dari itu. Hingga akhirnya tanpa terasa, acara kelulusan pun tiba. Jaden kini telah lulus. Dia sudah bukan siswa sekolah lagi. Kayana berpikir bahwa, ia mungkin akan sangat lega jika siswa yang begitu meresahkan itu lulus. Namun suatu kejadian membuatnya ragu. Apakah ia benar-benar bisa melupakan pemuda itu? Saat itu ... Jaden berjalan ke arahnya yang memang kebetulan sedang duduk sendiri di lorong, dengan membawa sebuah paper bag kecil ditangan kanan. Begitu sampai, pemuda itu mendudukkan diri di sampingnya kemudian memberikan paper bag tersebut. “Apa ini?” “Hadiah. Untukmu.” Kayana menerima paper bag tersebut kemudian memberikan sebuah senyuman. “Terimakasih Jaden. Tapi sebenarnya kamu tidak perlu memberikan hadiah seperti ini padaku.” Jaden memberinya sebuah senyuman tipis. “Tidak dibuka?” “Apakah harus?” Pemuda itu mengangguk masih dengan senyumannya. Kayana menghela napas panjang kemudian membukanya. Disana ada sebuah kotak bludru berwarna merah. Tunggu ... ini maksudnya apa? Kayana menatap Jaden penuh tanya seraya menutup paper bag itu kembali “Ini—.” “Buka dulu.” “Nanti saja.” “Sekarang.” Kayana membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering. Ia kemudian menghela napas panjang lalu menganbil kotak itu. “Buka.” Kayana mendengus pelan. “Iya.” Setelah itu ia membuka kotak tersebut. Namun ... Kayana mengerutkan keningnya lalu menatap Jaden. “Kosong?” Jaden tersenyum lalu mengangguk pelan. “Isinya kotaknya, 2 tahun lagi.” Tangan Jaden terangkat, lalu menggenggam tangannya, merematnya dengan erat. “Tunggu aku, ya? Aku akan segera kembali.” *** “Sekarang kamu mengingatnya Kayana?” tanya Jaden. Kayana mengerjapkan mata lalu menghembuskan napas perlahan. Namun belum juga membuka suara untuk memberikan tanggapan. “Maaf aku mengingkarinya, aku tidak menduga aku harus menghabiskan waktu selama ini untuk bisa kembali.” Ujar Jaden seraya menggenggam tangan Kayana dengan begitu erat. “Tapi sekarang ... aku sudah kembali Kayana ... aku akan menepati janjiku yang seharusnya lima tahun lalu aku tepati. Dan ini ... .” ujar Jaden seraya membuka paper bag tersebut, lalu mengambil kotak yang sama persis seperti yang lelaki itu berikan tujuh tahun lalu. Kemudian membukanya. Jika dulu kotak merah bludru itu kosong, kotak yang berada dihadapannya saat ini berisi sebuah cincin bertahtakan berlian yang sangat indah. “Kayana ... ini sebagai bukti keseriusan yang aku katakan padamu bertahun-tahun lalu.” Jaden menatap Kayana dengan tatapan penuh keyakinan. “Maukah ... kamu menikah denganku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN