Part 4 : Tekad Jaden

1592 Kata
  “Kamu baik-baik saja Miss Kayana?”   Kayana mengangguk kecil seraya mendudukan dirinya di balik meja kerja yang memang bersebelahan dengan meja Farrel.   “Seharusnya aku yang bertanya Mr. Farrel kamu tidak apa-apa? Seharusnya kamu tidak mencoba berurusan dengan Mr. Jaden tadi.” Farrel tersenyum tipis.   “Lalu kamu sendiri? Kalian... benar-benar pasangan?”   “Tidak. Bukan. Jaden adalah muridku beberapa tahun yang lalu. Kami tidak ada dalam hubungan seperti itu.” jelas Kayana diakhiri senyuman tipis.   “Oh... aku pikir mungkin dia benar-benar pasanganmu.”   “Tidak. Bukan. Sungguh. Bukan.” Bantah Kayana. Sungguh, ia tidak ingin siapapun salah paham dengan hubungannya dengan Jaden. Apalagi Jaden adalah anak pemilik yayasan, sementara ia hanyalah Guru yang sedang mengabdi. Ia tidak ingin karirnya yang telah ia bangun susah payah hancur begitu saja, hanya karena skandal seperti itu.   “Begitu ya? Tapi sepertinya dia sangat terobsesi padamu Miss Kayana.. Berhati-hatilah. Sebagai laki-laki aku rasa... dia cukup berbahaya untukmu.” Ujar Farrel.   “Ah... begitu ya... terimakasih sudah memperingatiku. Aku akan berhati-hati. Tapi Mr. Farrel,  sungguh aku tidak ada hubungan apapun dengan Mr. Jaden.”   Farrel terkekeh kecil. “Iya iya... kamu sudah mengatakannya Miss Kayana. Jangan panik begitu.”   “Eh?” Kayana mengerjapkan mata. “Itu... aku tidak panik, aku hanya berusaha mengonfirmasinya saja, aku takut tersebar beberapa berita aneh atau... apapun. Jadi aku...”   “Apa aku terlihat seperti orang yang akan menyebar berita aneh Miss?”   Mata Kayana mengerjap lagi. “Tidak... bukan begitu maksudku. Maaf.”   Farrel kembali tersenyum tipis. “Jangan pikirkan, anggap saja tadi aku tidak melihatmu bersamanya, jika itu mengganggumu. Oke?”   Kayana mengangguk kaku, setengah bingung. Entah harus merasa lega atau... apa? Ia sebenarnya hanya tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa lagi. Ia sungguh, hanya tidak ingin siapapun berpikir ia memiliki hubungan dengan Jaden.   Akan tetapi baik Kayana maupun Farrel tidak menyadari percakapan mereka justru didengar oleh seorang perempuan yang berada dibalik tembok pintu masuk. Perempuan itu tampak terdiam beberapa waktu, sebelum menghela napas panjang lalu memasuki kantor, memanggil keduanya.   “Mr. Farrel, Miss Kayana. Sudah ditunggu di auditorium. Acara akan segera dimulai.”   Kayana tersenyum tipis. “Oh? Miss Maya. Iya. Saya sudah bersiap ke auditorium.” Ujar Kayana lalu mendekat ke arah perempuan itu. Berjalan beriringan dengan Farrel yang ada di belakang mereka. “Miss Maya bagaimana kabarmu? Kabarnya kamu sakit saat libur semester kemarin?”   Maya terkekeh. “Aku jadi malu. Ya... kamu tahu sendirilah, aku suka makanan pedas. Jadi... ya begitu.”   Kayana tersenyum anggun. “Maaf aku tidak sempat menjenguk.”   Perempuan itu—Maya, dia seorang Guru Bahasa Inggris juga, partner kerja Farrel. “Tidak masalah Miss, aku tahu kamu begitu sibuk. Lagipula aku pulang ke rumah orangtuaku, jadi pasti kamu tidak tahu.”   “Oh ya Mr. Farrel kemarin aku berjalan-jalan ke toko buku dan aku ternyata menemukan novel yang sedang kamu cari! Tersisa satu, tapi syukurlah aku bisa mendapatkannya.” Ujar Maya penuh semangat.   “Novel? Novel yang mana?”   “Kejutan. Lihat saja nanti setelah selesai upacara.” Ujar Miss Maya riang yang hanya ditanggapi oleh anggukan kecil.   “Oh aku juga baru ingat Mr. Farrel. Saat tes kompetensi kita sempat membicarakan e-book Bahasa Mandarin kan? Kebetulan aku mendapatkannya dari Gendis, dia sedang les Bahasa Mandarin jadi dia mencari banyak sekali sumber untuk di pelajari, kebetulan aku meminta salinan buku itu darinya.”   “Wah! Benarkah? Bolehkah aku minta? Aku sudah berusaha mencari yang mudah dipahami untuk kupelajari tapi tidak aku temukan sama sekali.” Respons Farrel serata tersenyum lebar.   “Tentu. Nanti ya saat kita senggang kamu bisa memindahkannya dari laptopku.” Kayana melirik Farrel sesaat. “Kapan rencananya mau ambil kelas bahasa mandarin?”   “Tengah semester ini.”   Kayana mengangguk kecil, lalu tersenyum. “Semangat Mr. Farrel.”   Lelaki itu pun tersenyum lebar. Tampak sangat bahagia mendengar penuturan sederhana itu. Tanpa menyadari wajah muram Maya yang muncul sejak beberapa saat lalu, cemburu dengan tanggapan Farrel terhadap Kayana.   “Miss Maya, hei. Jangan melamun.” Kayana tersenyum, seraya merangkul lengan perempuan itu.   ***   Pukul 5 sore sekolah mulai sepi karena seluruh siswa telah meninggalkan area sekolah. Satu persatu tenaga pendidik dan kependidikan pun mulai membenahi meja masing-masing dan ada pula yang mulai meninggalkan area sekolah.   Sementara itu Kayana sedang merapihkan tas, membawa barang-barang yang perlu dibawanya dan mengamankan beberapa dokumen penting pada laci juga loker di belakang meja kerjanya. Ketika Kayana baru saja meraih tas sebelum beranjak, ponselnya berdering. Pertanda sebuah pesan masuk.   Dari nomor yang tidak dikenal.   Kayana, ini aku Jaden. Pulang bersamaku. Aku menunggumu di parkiran.   Kayana menghembuskan napas perlahan, hanya melihat tanpa minat pesan itu dari pop-up saja, setelah itu ia kemudian memasukan ponselnya kembali ke dalam tas tanpa ada niat membalas pesan tersebut. Setelah itu ia beranjak pergi keluar dari tempat itu.   Kayana berjalan menuju area parkir depan khusus kendaraan Guru, dengan sesekali menyapa rekan yang ia lewati dan juga siswa yang masih tersisa di area sekolah. Tanpa berpikir dua kali Kayana segera berbelok ke kiri, ke arah kendaraannya, mengabaikan Jaden yang bersandar pada mobil mewahnya di sayap kanan parkiran. Akan tetapi baru saja ia menekan kunci mobilnya mematikan alarm, langkah kaki Kayana memelan, iris matanya menangkap salah satu ban mobilnya yang ternyata kempes.   Ting!   Ponsel Kayana kembali berdering. Sebuah pesan lain dari nomor yang tidak di kenal.   Sudah kukatakan, pulang bersamaku. Ayo. Jangan terlalu lama berpikir.   Tangan Kayana mengepal sempurna. Apakah ini sengaja permainan lelaki itu? Tidak pernah satu kali pun kesialan seperti ini menimpanya. Tapi mengapa, di hari pertamanya kerja di semester baru, ia justru sudah menerima berbagai kesialan sejak pagi? Dari mulai bertemu dengan Jaden, Farrel yang menyaksikannya dan juga sekarang. Ban mobilnya kempes.   Tidak bisakah kesialan-kesialan lainnya datang saja di hari lain? Jangan hari ini! Atau lebih baik memang tidak pernah datang saja. Ia tidak mau kesulitan. Ia tidak mau terjebak dalam situasi canggung bersama Jaden lagi.   Ting!   Sebuah pesan kembali diterima Kayana.   Ayo Kayana, sudah hampir malam. Masalah kendaraanmu biar asistenku yang urus. Kamu pulang saja dulu, bersamaku.   Kayana menghembuskan napas. Jika ini bukan era modern, ia mungkin akan menerima tawaran itu atau memilih berjalan kaki. Tapi jaman sudah canggih, dan tentu saja ia tidak perlu harus merasa bingung ketika situasi seperti ini terjadi bukan?   Kayana segera menghubungi bengkel langganannya, lalu ia akan memesan taxi online agar bisa pulang, dengan lagi-lagi mengabaikan pesan Jaden yang kembali masuk ke dalam ponselnya.   Ting!   Jangan keras kepala Kayana, aku hanya bermaksud menolongmu.   Ting!   Jangan mengabaikanku.   Ting!   Kamu akan tahu akibatnya kalau terus mengabaikanku!   Kayana menghembuskan napas. Dia pikir memangnya ia akan peduli dengan ancaman seperti itu? Tidak! Ia bukan bocah ingusan yang akan gentar hanya karena ancaman seperti itu. Ia tidak takut. Sekalipun dia memiliki seribu satu cara untuk mendekatinya, ia pun memiliki lebih banyak cara untuk menghindar.   Ting!   Aku ke sana   Jemari Kayana yang sedang sibuk membalas pesan pemilik bengkel terhenti. Tubuhnya menegang, ketika langkah kaki seseorang terdengar mendekat. Kayana membasahi bibirnya sesaat, berusaha mengabaikan lelaki itu dan tetap pada pendiriannya.   Tidak. Ia tidak boleh gentar! Ia tidak boleh kalah oleh lelaki itu. Ia tidak boleh terlihat lemah   “Kenapa kamu sangat keras kepala Miss Kayana? Aku hanya berniat mengulurkan tangan untuk membantumu. Sebagai atasan, tentu saja aku sangat wajar peduli dengan karyawannya bukan?”   Kayana menghembuskan napasnya terlebih dulu, lalu mendongak dan memberikan senyuman. “Saya terima niat baik anda Mr. Jaden. Tapi saya bisa mengatasinya sendiri. Jika memang anda senang membantu karyawan anda, di sana. Ada salah satu Guru Senior yang tidak membawa kendaraan. Anda bisa mengantarnya terlebih dahulu.”   “Kayana.” Jaden menggeram.   Bertepatan dengan itu ponselnya berdering pertanda sebuah panggilan masuk. “Hallo.”   “Kak maaf, kami tidak bisa ke sana dalam waktu dekat, karena baru saja beberapa kendaraan masuk dan tidak ada karyawan tersisa. Sekali lagi maafkan kami Kak.”   Kesialan lainnya. Kayana menahan napas, berusaha menahan emosinya yang sudah hampir meledak.   “Baik. Tidak masalah. Terimakasih sudah memberiakan konfirmasi.”   “Sekali lagi kami memohon maaf Kak.”   “Iya, tidak masalah.”   Kayana mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha mengabaikan Jaden yang masih bertahan di sisinya. Iris matanya bergulir menatap ke segala arah, mencari pertolongan lain, selain dari Jaden.   “Kayana.” Panggil Jaden.   Kayana hanya diam, dengan masih menyisir parkiran. Ingin rasanya ia meminta tolong pada salah satu satpam, tapi mereka bahkan masih sangat sibuk berurusan dengan banyak jemputan siswa.   “Kay—.”   “Miss Kayana? Loh masih di sini?”   Senyuman Kayana merekah melihat kehadiran Farrel. Baguslah, ternyata harinya tidak terlalu sial.   “Oh, Mr. Jaden. Selamat sore.” Sapa Farrel lalu berjalan semakin dekat ke arah Kayana. “Kempes ya? Kau membawa ban cadangan?”   Kayana berpikir sesaat, kemudian membuka bagasi dan ternyata ada satu buah ban serep di sana. “Oh, ada!”   Farrel terkekeh. “Biar ku bantu gantikan ya? Sebentar, aku akan membawa perlengkapannya dulu.” Pamit Farrel kemudian beranjak pergi.   Kayana menghembuskan napas, berusaha untuk tetap tenang meskipun kenyataannya ia cukup terganggu dengan aura negatif yang terasa menguar dari arah kanannya, dari Jaden.   “Ternyata kamu memang tidak membutuhkan bantuanku ya?”   Kayana kemudian menoleh, menatap Jaden.   “Aku tahu, di matamu mungkin aku masih bocah kemarin sore yang belum bisa melakukan apapun Kayana. Kamu juga pasti berpikir, aku hanya anak manja yang belum bisa kamu andalkan sama sekali. Terimakasih kamu sudah memperjelasnya.” Ujar Jaden kemudian balik kanan, beranjak pergi menuju kendaraan mewahnya.   Kayana mematung, melihat tatapan sendu penuh kekecewaan yang dilayangkan Jaden padanya, dadanya serasa tercubit, merasa bersalah. Matanya kemudian mengerjap melihat kendaraan Jaden yang kini sudah meninggalkan area parkir sekolah.   Apakah ia baru saja melakukan kesalahan?            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN