Bohong jika Jaden berkata ia tidak terganggu dengan rencana sang ibu. Sesungguhnya keadaan hatinya saat ini begitu buruk, hancur dan sangat berantakkan. Pikirannya benar-benar kalut, ia ketakutan. Ia tidak ingin kehilangan Kayana, ia tidak ingin melewatkan kesempatan bersama orang yang sangat ia cintai sejak dulu itu. Tapi bagaimana? Jika ibunya sudah mengatakan seperti itu, sekuat tenaga ibunya pasti akan melakukan apapun agar harapannya terkabul. Dan lagi, jika sampai ibunya sudah turun tangan begini, itu berarti ibunya itu sudah mengetahui sesuatu tentangnya, atau bahkan tentang Kayana. “Jay, kok melamun? Sesuatu mengganggumu? Atau... sebenarnya kamu memiliki banyak pekerjaan?” Jaden tersenyum tipis. “Tidak Kay, aku hanya masih memikirkan kemarin.” Ujarnya seraya mengulurkan

