“Mungkin sebaiknya kamu mengganti mobil kamu agar tidak mogok lagi, Sinta,” Yura mengucap dengan nada datar ketika siang ini mereka berada di dalam mobil yang disopiri oleh Tono, menuju ke gedung tempat dimana ada pertemuan dengan perusahaan asing.
Hari ini perusahaan Yura dan juga perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor dan property diundang untuk bertemu dengan perusahaan asing. Tujuan pertemuan kali ini selain perkenalan dan makan siang tentu untuk membuka jalan kerjasama jika salah satu dari mereka membutuhkan partner dalam pembiayaan atau penyediaan bahan baku.
Sinta tersenyum dengan sindiran Yura.
“Mobil saya masih bagus, Pak. Kebetulan saja memang mogok,” jawab Sinta pelan sambil mengecek beberapa jadwal Yura beberapa waktu ke depan.
Yura tak menimpali karena mobil yang mereka kendarai sudah tiba di gedung pertemuan. Ada banyak mobil di area parkir, yang sepertinya mereka juga tamu undangan.
“Sepertinya ini memang acara besar, Sinta,” gumam Yura ketika mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju ke dalam gedung. Di depan ruangan yang digunakan sebagai tempat pertemuan, mereka mengisi buku tamu undangan.
Nyaris separuh undangan sudah hadir di dalam ruangan. Semua pemgusaha bidang kontruksi bangunan dan property terlihat berkumpul dan berbincang. Yura mengajak Sinta menuju sebuah meja yang ada di sudut ruangan. Menuju ke meja itu, Yura terlihat menjawab sapaan beberapa pengusaha yang mengenalnya dengan baik. Bahkan beberapa diantaranya pernah bekerjasama dengan Yura.
Tapi semua undangan tak begitu menarik, kalau saja mata tajam laki-laki itu tidak menangkap sekelebat gerakan perempuan. Yang kelebatnya saja sudah berhasil membuat Yura blingsatan aneh dan sangat tidak nyaman.
Yura tahu siapa perempuan itu.
Seketika dadanya menghitam diliputi oleh rasa kesal mengingat kekalahan tendernya beberapa waktu lalu. Karena perempuan itulah yang berhasil membuat Yura kehilangan proyek bernilai milyaran yang bahkan draftnya sudah tersusun rapi dalam proposalnya.
Dan yang membuat Yura semakin mendendam adalah ketika dilihatnya perempuan itu demikian cantik dan anggun melayani beberapa sapaan dan perbincangan yang Yura tahu sangat tak penting itu. Apakah ini artinya Yura cemburu?
Tanpa sadar dia tersenyum sinis ketika sebersit kalimat cemburu melintas di kepalanya. Tidak, tentu saja Yura tidak akan cemburu karena mereka bukan sepasang kekasih. Mereka hanya sepasang manusia yang kebetulan yang satu mendamba yang lain, sementara yang lain tak ingin berada dalam lingkup yang sama.
“Sepertinya aku harus ke kamar kecil, Sinta,” kata Yura sembari bangkit tanpa peduli tatapan Sinta yang penuh keheranan. Karena Sinta tahu, Yura sangat jarang ke kamar kecil dalam keadaan sekarang ini. Laki-laki itu sepertinya sangat mahir mengendalikan dirinya untuk tidak sering ke kamar mandi.
Dan Sinta hanya mengangguk sembari kembali menekuri teleponnya sekedar untuk mengecek kegiatan Yura esok hari.
Yura menyusuri lorong menuju ke kamar kecil yang sedikit lengang. Entahlah, tidak biasanya dia ingin ke kamar kecil. Dan langkahnya sudah hampir tiba di depan ruangan yang khusus untuk laki-laki ketika dari ruangan sebelah keluar seorang perempuan. Bukan, bukan seorang perempuan melainkan seorang gadis yang masih sangat belia.
Tanpa sengaja keduanya beradu pandang. Gadis itu mencoba menyunggingkan senyum menyapa, namun Yura tak mampu membalasnya, padahal dia sangat ingin melakukannya. Yura terpukau sejenak ketika menyadari bahwa gadis dengan dress corak bunga-bunga berwarna soft-pink itu terlihat demikian cantik meski dengan penampilan yang sangat sederhana. Bahkan tanpa polesan make-up sama sekali, tidak seperti Puri yang terihat demikian cantik dan sempurna dengan tambahan kosmetik.
Dalam keterpukauannya Yura mendesah pelan ketika menyadari bahwa ternyata Puri masih sering menguasai otaknya, bahkan setelah sekian tahun berlalu. Perempuan itu berhasil bertahta sombong di kepala Yura.
Gadis dengan dress bunga itu kemudian menarik kembali senyumannya ketika menyadari senyumnya tak bersambut. Dia lantas berjalan meninggalkan toilet, melewati Yura yang masih berdiri kaku. Aroma wangi yang menyegarkan menyapa hidung Yura ketika gadis belia itu melewatinya tanpa senyum. Yura terlena sejenak.
Gadis berbaju bunga-bunga itu kemudian berlalu meninggalkan ruangan toilet yang sepi dengan bergegas. Ada sedikit rasa tak nyaman ketika dia melihat tatapan Yura yang dirasanya tak biasa.
Seketika Yura terbangun dari keterlenaannya saat menyadari bahwa sesuatu dalam dirinya tak lagi bisa ditahan, sementara bayangan gadis belia dengan rambut terurai sebahu itu sudah lenyap di tikungan lorong toilet.
“Tumben lama, Pak?” sapa Sinta ketika Yura sudah kembali ke ruangan itu. Acara akan segera di mulai. Tapi Yura tak berniat membalas kalimat Sinta. Matanya mengedar, mencari seseorang yang sesungguhnya tak ingin dilihatnya.
Yura seharusnya sedikit lega ketika tidak mendapati seseorang itu. Meski di sudut hatinya yang lain, dia merasa kecewa karena tak mendapati wajah seseorang itu. Meski Yura sadar, bahwa melihat dia hanya akan mengorek kembali luka lamanya.
“Bapak tidak mau makan?” sapaan Sinta kembali menyeret lamunan Yura.
“Acara belum lagi dimulai dan kau membahas makanan, Sinta? Seharusnya kamu mencari pembantu di rumahmu agar kau tidak kelaparan saat bekerja.”
Mata Sinta mendelik, menatap Yura dengan pandangan tak suka. Entahlah, meski Sinta hanya seorang sekretaris tapi dia sebenarnya terlalu berani terhadap bossnya.
“Sebaiknya Bapak mencari asisten pribadi yang bisa mengingatkan setiap moment yang Bapak lalui agar tidak ketinggalan suasana bahwa acara sudah selesai dan waktunya makan siang,” Sinta menjawab lirih namun tak kalah tandas, membuat muka Yura memerah dan ikut melotot menatap Sinta. Mungkin nanti Yura akan membuat peraturan baru untuk membatasi omongan pedas seorang pegawai terhadap boss-nya.
Gerahamnya gemeletuk menahan amarah yang memang seharusnya dia tahan. Bagaimanapun, tak ada yang betah menjadi sekretarisnya selain Sinta. Perempuan ini, meski berpostur mungil tapi memiliki nyali besar jika harus menghadapi Yura. Dan diakui atau tidak, sebenarnya Yura yang meminta pada Rafael agar merelakan istrinya yang lembut namun di saat lain bisa menjadi sangat judes ―meskipun, oke Yura harus mengakui bahwa selain cerdas, Sinta juga tergolong perempuan yang cantik, hingga Rafael dengan senang hati melakukan kegilaan hanya untuk mendapatkannya― itu menjadi sekretarisnya di kantor. Meski latar belakang pekerjaannya adalah seorang akuntan, nyatanya Sinta piawai menghandle pekerjaan sebagai seorang sekretaris.
Tak ingin terus berdebat dengan Sinta, Yura memilih berjalan menuju meja prasmanan untuk mengambil makan siangnya. Beberapa rekan mengajaknya berbincang mengenai proyek-proyek yang dikerjakan perusahaan Yura.
Kembali ke meja dimana Sinta berada, Yura masih terdiam sementara sekretaris judesnya itu sudah selesai dengan makanannya. Makanan lezat itu seharusnya nikmat, tapi Yura hanya merasakan bahwa apa yang dimakannya kali ini sangat hambar. Sesekali pandangannya mengedar, seperti mencari sesuatu namun kadang khawatir akan menemukan yang dia cari.
Dan Yura nyaris tersedak ketika di sudut yang lain, dia melihat gadis dengan dress bunga-bunga lembut itu berada di ruangan ini. Tentu saja mengejutkan ketika mengetahui bahwa hanya dia yang berpenampilan sederhana siang ini. Semua yang hadir di ruangan ini mengenakan pakaian resmi, setidaknya mengenakan pakaian kerja, dan hanya gadis itu yang mengenakan dress bunga-bunga. Namun itu tak membuat si gadis kehilangan pesonanya. Perempuan muda itu indah dan enak dipandang. Terasa pas dan sangat pantas sebagai gadis muda, dengan wajah yang polos tanpa riasan.
Well, memang meski tanpa riasan tapi hal itu tak mengurangi selera cantiknya siang ini. Tapi yang lebih mengejutkan adalah ketika dengan sedikit paksa, seseorang menyeret langkah gadis itu untuk meningalkan ruangan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, perempuan yang menyeret langkah gadis belia ―dengan sedikit paksaan tentu saja― itu adalah Puri. Eksekutif perempuan yang pernah menampar Yura untuk kembali pada kenyataan bahwa Yura bukan siapa-siapa, dulu.
Dan otak Yura segera memaksa untuk berpikir. Siapa gadis belia yang langkahnya diajak paksa oleh Puri itu? Apa hubungan keduanya? Dan mengapa harus terkesan memaksa? Atau ini hanya penilaian Yura saja? Yura akan mencari tahu nanti.
Lalu tiba-tiba Yura mendapatkan ide untuk menjatuhkan Puri. Senyum Yura tersungging tipis, terlalu banyak rencana terumbar dari kepalanya.
“Apakah Bapak akan menginap di gedung ini?” pertanyaan sadis Sinta menghampiri telinga Yura, membuat laki-laki itu mengumpat ketika menyadari bahwa ruangan itu mulai ditinggalkan para tamu undangan. Dan sungguh, tak satupun acara yang masuk ke dalam kepala Yura, selain lamunan dan rencana-rencana yang membuatnya sinting sendirian.
Lalu dia terpaksa berjalan dengan langkah lebar, mengikuti Sinta yang sudah bergegas keluar karena tak ingin Sinta mengatainya berniat untuk menginap di gedung ini.
Sebelum melewati pintu ruangan luas yang mulai berantakan itu, Yura mengedarkan pandangannya. Menginap di gedung ini? Tanpa sadar Yura bergidik.
Menyebalkan sekali kata-kata Sinta tadi.
* * *