Silau matahari yang membangunkanku, menunjukkan pukul 5.30 pagi.
Aku amati wanita cantik dalam pelukanku yang masih nyenyak karena lelah, betapa baiknya Tuhan menciptakan dia untukku.
Wanita polos, sederhana di luar, namun istimewa bila mengenalnya.
Wajahnya yang imut, hidungnya yang mancung nan mungil, alis tebal tertata meski meskipun tanpa sulam.
Bulu mata lentik tanpa extension bahkan bibir cerinya yang kecil dan penuh, tak pernah bosan aku mengulumnya.
"Umh, Umh, Umh”, merasa terganggu karena ada yang bermain dan mengulum bibirnya.
Matanya abu-abunya mendelik seperti akan menembakkan laser kepada suaminya yang masih asik mengulum bibirnya.
"Pagi sayangku", sapa Robby. yang tak menyudahi kegiatannya, mengulum dan menghisap Ceri manis istrinya.
"humh" jawabnya, sambil mencebik yang sebal dengan Robby.
"Hahaha, gemesnya", goda Robby yang suka dengan reaksi imut istrinya.
*
"Tok, tok, tok, Room service!" seru waiters.
"Ya, sebentar!" Sambil menuju ke pintu dan membukanya.
"Terima kasih Mas, ini tipsnya," menyelipkan beberapa lembar uang.
"Terima kasih tipsnya tuan", sambil berpamitan pergi.
"Yuk sayang sarapan" ajak Robby.
"Suapin,..." manjanya.
Robby mengangkat tubuh Aisy yg tak seberapa beratnya.
"Kok di gendong sih?" memajukan bibirnya cemberut.
"Kamu makan itu, aku makan ini, hehehe" perlakuan m***m Robby terhadap wanita yang baru saja dinikahi.
Tanpa memperdulikan santapan dihadapannya, tangan Robby meremas lembut p******a Ai, "eungh.." keluar lenguhan dari bibirnya.
Sambil menyantap steak rare mediumnya, dan meneguk jus jeruk nya, Ai merasakan sensasi tersengat listrik saat p****g imutnya dipilin lembut oleh Robby.
"Hingh sayang, aku masih minum ini," rengeknya.
Tanpa peringatan, Robby sudah melumat bibir ceri itu yg masih mengalir sisa jus jeruk seteguk tadi.
"eumh, emh, umh, humh," saling mengulum, mencecap dan menggelitik rongga mulut dengan erotis.
"Hah, hah, hah," Ai yg kehabisan nafas setelah ciuman panjang.
"Sayang, disini basah" Tangan nakal Robby yg sedang bermain dengan lubang kenikmatan Ai.
"Slup, slup, slup" "ah, emh, hengh, euh" tak henti-hentinya Ai melenguh selaras dengan suara becek akibat perlakuan Robby kepadanya.
Sambil berciuman, Robby mempercepat gerakan keluar-masuk jarinya di lubang itu. Robby mengaduk-aduk v****a Ai dengan cepat, "clek, clek, clek, clek" sehingga Ai pun seperti terguncang hebat, bergetar dan melengkung kan punggung saat pelepasan hasrat yang membara, diiringi muncratnya cairan cinta Ai.
"Hah, sayang biarin aku bernafas dulu, hah, hah" Ai di sela sela nafasnya.
"Tapi sayang, juniorku sudah minta di sarungin" sambil mulai mengangkat p****t bulat Ai, Robby mencoba menekan p****t Ai ke kepala penisnya.
"Ugh, uhm, ehmmm" dengan ciuman Robby, Ai pun luluh dan menerima hujaman p***s Robby yang menyeruak masuk ke lubang vaginanya.
"Jleb!" Masuk sepenuhnya. Tidak sesusah saat semalam.
"uhmh, huhm, ugh" "hah, hah, hah" suara racauan Ai dan deru nafas penuh nafsu Robby yang selaras.
Semakin panas suasana, saat Robby menunggangi Ai dengan doggy-style.
"Jleb, Jleb, Jleb" hujaman p***s itu, yang tak pernah tahu kapan akan berakhir.
Jeritan nikmat Ai terdengar bagai musik pop-rock, membuat orang yang mendengarnya semakin bersemangat untuk menggenjot tubuhnya dengan cepat.
"Hah, hah, hah, kamu istimewa istriku, aku mencintaimu" racau Robby yang kalah dengan nafsunya.
"Sayang, terlalu dalam, ugh, agh, hugh" disela sela hujaman p***s yang nikmat, menusuk jauh kedalam rahimnya.
Perut rata itu terasa penuh karena hujaman p***s Robby yang dalam.
Perasaan yang mengaduk-aduk perutnya semakin tak tertahankan lagi.
Ai ingin melepaskan o*****e keduanya.
"Sudah mau keluar sayangku?" tanya Robby merasa menang.
"Ugh, jahat awas ya, rasakan ini!" ejeknya.
"Auw, mau patah rasanya sayang" ternyata Ai menguatkan cengkraman v****a sempitnya, sehingga semakin sempit dan Robby merasa terjepit.
Semakin cepat Robby menggenjot Ai, semakin kuat cengkraman v****a Ai.
Mereka pun sudah pada batasnya dan "ugh..." lenguhan mereka berdua menikmati orgasmenya.
*
Belum selesai mereka bersantai menikmati sisa-sisa percintaan mereka,
"I love you, baby. And if it's quite all right. I need you, baby. To warm these lonely nights. I love you, baby. Trust in me when I say"
suara nada dering smartphone Robby mengganggu Waktu istirahat mereka.
"Halo, Mama?" "Halo Rob, gimana mantu mama? sehatkan? kamu turun gih, mama di lobby, mau kasih sesuatu buat kesayangan mama!" percakapan Robby dengan ibunya.
"Sebentar lagi deh ma, aku turun" jawab Robby lesu.
"Iya, cepet ya, ajak juga kesayangan mama!" perintah ibu Robby untuk mengajak Ai turun bersama.
"Iya" kesal Robby yang terganggu karena ingin sedikit lama bersantai bersama Ai.
"Kenapa sayang?" tanya Ai khawatir.
"Enggak kenapa-kenapa, mama ngajak turun. Yuk kita siap-siap!" ajak Robby.
"Ya udah, aku mandi dulu ya, kamu sarapan dulu aja" tawar Ai dengan lembut.
"Enggak dong sayang, kita mandi bareng aja" sambil menarik tangan Ai menuju ke kamar mandi.
*
"Sayang aku mandiin ya," goda Robby.
"Enggak deh sayang, nanti lama!" Ai khawatir.
"Enggak kok, pasti cepet, hehehe" cengir Robby m***m.
"Tapi sayang,... auw!" belum selesai berkata, Robby sudah menyapukan puff penuh busa dengan lembut ke tubuhnya membuat Ai kegelian.
Berlanjutlah sesi kedua peperangan cinta antara Robby dan Ai. Yang terdengar hanya lenguhan dan jeritan nikmat mereka berdua.
*
"Mama!" sambil berteriak Ai menyapa ibu Robby.
"Kesayanganku, kamu sudah datang!" seru ibu Robby bersemangat.
"Mama, sudah lama nunggunya?" Ai yang setengah berlari memeluk ibu Robby.
"Enggak kok sayang, aku tahu kamu pasti dikerjain Robby terus terusan" goda ibu Robby sambil mencubit pipi Ai.
Pipi Ai yang tembam semakin merah karena malu.
"Ah Mama bisa aja," Ai tersipu.
"Baru kemarin berpisah, eh kayak enggak ketemu 5 tahun aja, heboh Banget" sindir Robby.
"Biarin lah Rob, emang mama kangen banget sama Ai kok!" ujar ibu Robby memandang Ai dengan penuh kasih.
"Iya nih, aku kang kangen mama!" cebik Ai.
"Iya deh, yang dunia milik berdua." tegas Robby.
"hahahaha" diiringi tawa Dwindari ibu Robby dan Ai.
"Mama ada apa nih ke sini?" tanya Ai.
"Ini nih, Mama bawain vitamin buat wanita, skin Care, s**u juga dan sesuatu yang sangat cantik buat kamu, biar Robby seneng" Dwindari dengan senyum nakal.
"Ini buat Ai tapi kok bikin seneng Mas Robby?" tanya Ai dengan polos.
"Hahaha, Mama emang tahu selera Robby" tertawa dengan bangga.
"Makasih ya ma, Robby sayang mama!" seru Robi riang sambil memeluk ibunya, meninggalkan Ai yang penuh tanda tanya.
*
"Makasih ya mas, aku memiliki keluarga karena kamu" ucap Ai dengan penuh terima kasih.
"Kami yang beruntung mendapatkanmu Ai" sambil mengusap kepala Ai Robby memeluknya.
Di dalam kamar yang sunyi mereka berdua dua saling berpelukan dan menceritakan impian untuk melanjutkan biduk rumah tangga mereka.
***