Ketika hati hanya bisa terdiam, diam memendam sendirian. Sebab kata tak mampu sekedar mengungkapkan rasa, yang begitu dalam.
Esa merasa lega mendengar perjodohan Evans dengan Meisha yang akhirnya gagal. Meski pun ada secerca harapan untuknya. Esa tak punya keberanian seperti halnya Meisha. Esa lebih cenderung memendam perasaannya. Bukan mencoba mengungkapkan nya. Ia hanya berani mengungkapkan perasaan suka itu kepada Vania sahabatnya. Kadang ia merasa iri dengan keberanian Meisha untuk memperjuangkan cintanya.
Esa berbicara dengan Vania di sela-sela pekerjaannya. Hari ini Vania sudah masuk kerja seperti biasanya.
"Van, kadang aku merasa iri melihat perjuangan Meisha. Yah, Meski pun akhirnya cintanya di tolak. Setidaknya dia sudah berjuang. Nggak kayak aku yang cemen ini!" Ungkap Esa jujur.
Vania meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja. Ia menatap Esa yang tampak berputus asa.
"Jangan bicara gitu dong, Sa. Kamu juga bisa kok, hanya saja kamu sedikit malu. Ayo dong semangat, kenapa sahabatku jadi lembek gini sih! Kayak bukan Esa yang aku kenal."
Vania mengusap pundak sahabatnya itu.
"Iya ya. Harusnya aku seneng karna Evans menolak Meisha. Kenapa jadi aku yang galau," ucapnya seraya menepuk jidatnya yang tertutup poni.
Kemudian, ia merapikan poninya kembali. Menarik napas panjang lalu mengeluarkannya lagi. Kini ia merasa lebih baik daripada sebelumnya.
Vania tersenyum melihat sahabatnya itu. Tak lama kemudian Vania merasa heran. Tiba-tiba pipi sahabatnya itu memerah tampak tersipu malu. Senyam senyum dengan sorot mata yang berseri-seri. Sorot mata Esa bukan tertuju padanya, melainkan tertuju jauh ke arah belakang nya. Dengan rasa penasarannya pun Vania menoleh ke belakang. Di lihatnya sosok pria yang selama ini sahabatnya kagumi itu, Evans Haidar. Pria yang sempat mereka bicarakan itu. Tengah berjalan menghampjri mereka.
Evans berhenti di hadapan mereka. Senyum simpul tergambar di wajah tampan yang ia miliki.
"Selamat siang"
Evans menyapa ke dua waiters yang tengah mematung di hadapannya.
"Siang," jawab Vania dan Esa secara bersamaan.
Esa lebih terlihat bersemangat.
"Kakimu sudah benar-benar sembuh, Van?" Sambung Evans.
Ia merasa senang melihat Vania sudah bekerja lagi.
Vania mengangguk membenarkan. Ia menoleh ke arah sahabatnya yang masih terpaku menatap sang pria pujaan.
"Bagaimana dengan kabarmu, Sa?"
Kali ini Evans berganti menyapa Esa yang tersenyum manis kearahnya.
"Ba-baik," sahut Esa sedikit terbata.
Vania menatap dingin ke arah Evans. Ia masih sangat jengkel mengingat Meisha menuding dirinya sebagai penyebab masalah yang mereka alami. Jika benar Evans menyukainya. Lantas bagaimana dengan persahabatannya dengan Esa. Jika Esa tau bisa perang dunia ke tiga. Vania berniat untuk mendekatkan Evans dengan Esa.
Tapi bagaimana caranya? Vania juga bingung.
"Ada yang bisa saya bantu? Atau mungkin mau saya bikinkan kopi."
Esa memberanikan diri untuk berbicara. Jantungnya terasa berdetak kencang. Ia mencoba untuk tenang. Dengan menarik napas panjang.
"Nggak kok. Aku hanya sedikit bosan duduk sendirian di ruangan ku. Makanya aku turun," ucap Evans dengan santai.
Sebenarnya pikirannya masih terkontaminasi dengan kejadian kemarin. Untung nya Meisha tidak berbuat macam-macam. Sebab dia anaknya nekat tan.
Vania meninggalkan Evans dengan Esa begitu saja. Tanpa berbicara satu kata pun. Ia masih kesal dengan kejadian kemarin. Kehadiran Evans di hadapannya membuatnya ingat akan hal itu.
Evans melihat punggung Vania kemana ia melangkah pergi, lalu masuk di sebuah ruangan.
"Apa aku mengganggu kalian?"
Evans merasa tak enak bila kehadirannya mengganggu mereka.
"Nggak kok. Saya malah senang merasa di perhatikan oleh seorang atasan. Itu artinya kamu peduli dengan para karyawan." Esa berbicara seadanya.
Entah yang baru ia katakan nyambung dengan pertanyaan Evans atau tidak. Yang jelas dirinya menahan rasa gugup saat ini.
Evans mengangguk mengerti.
Tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang berdeham seakan memberi isyarat akan kedatangannya. Evans dan Esa menoleh ke pusat suara itu. Rupanya Meisha sedang berdiri tak jauh dari mereka. Untuk apa lagi Meisha datang kesitu. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Meisha. Susah di tebak.
"Kau. Mau apa kesini?" Tanya Evans penuh curiga.
"Aku hanya ingin main-main saja," jawab Meisha santai.
Seakan tidak pernah ada masalah di antara mereka. Tetapi pikiran orang siapa yang tahu.
Evans membuang muka mendengar jawaban Meisha. Ia menyadari kedatangan Meisha hanya akan menambah masalah.
"Dimana wanita jalang itu? Aku tidak melihatnya."
Meisha masih menyebut Vania dengan sebutan jalang. Itu artinya Meisha masih menyimpan dendam.
Esa menatap Meisha penuh dengan tanda tanya. Siapa yang Meisha maksut jalang?
Evans merasa Meisha akan berulah lagi.
"Siapa yang kau maksut itu? Aku ingat kan jangan membuat kakacauan di sini."
Meisha melangkah mendekati Evans. Tangannya merapikan kerah kemeja Evans yang sudah rapi.
"Hei, tenang saja. Kenapa kau berpikiran seperti itu. Aku kan sudah bilang. Aku hanya ingin bermain-main," ucapnya tersenyum licik.
Evans menatapnya dingin. Tak percaya dengan apa yang Meisha katakan.
"Apa yang sedang kau rencanakan? Apa kau berniat membalas dendam karna aku menolakmu."
Meisha menatap Esa yang masih berdiri mendengar percakapan mereka.
"Apa kau tak punya pekerjaan hanya berdiri mematung disitu!. Gertaknya agar Esa pergi.
Tangan Esa menggenggam menahan kesal. Meisha sudah berbuat masalah dengan sahabatnya. Apa dia juga ingin membuat masalah dengannya juga! Jika saja tidak ada Evans di situ. Pasti dia akan melawan Meisha. Tapi apa boleh buat, daripada emosinya menyulut. Esa memilih untuk beranjak pergi.
"Untuk apa dia datang ke sini! Bukannya hubungan mereka sudah berakhir. Apa dia tetap bersikeras memaksa Evans untuk menerimanya?" Batin Esa bertanya-tanya dengan kehadiran Meisha saat ini.
Ia berjalan mendekati Vania yang tengah mengelap piring. Mengingat restoran juga belum terlalu banyak pengunjung. Ia melakukan pekerjaan itu.
"Kenapa kusut gitu. Senyum napa, Sa."
Vania melihat Esa kesal tak bersemangat.
"Meisha ada di depan. Bukannya hubungan mereka sudah berakhir. Tapi kenapa lagaknya seperti nyonya pemilik restoran!"
Esa geram dengan Meisha yang sok berkuasa. Padahal ya dia bukan siapa-siapa.
"Benarkah! Untuk apa dia kesini? Apa dia mau berulah lagi," ucap Vania tak kalah curiga dengan kehadiran Meisha saat ini. Apa belum puas dia menyalahkan dan mengataiku kemarin.
"Vania, tolong antarkan makanan ini ke meja nomor 6."
Seorang waiter memanggil Vania. Ia meminta Vania untuk mengantar pesanan ke meja pengunjung.
"Baik," sahut Vania segera mengantarkan pesanan itu.
Akan tetapi, Vania terkejut melihat Meisha yang tengah duduk di meja itu.
Vania mendesah.
"Rupanya kau," ucap Vania sembari menaruh makanan dalam piring itu ke atas meja.
"Kenapa kau kaget! Ini restoran siapa pun boleh datang," sahut Meisha ketus.
Kedua mata Vania dan Meisha saling menatap tajam.
Bersambung...