Menu makanan dan minuman yang mereka pesan, sudah terhidang di meja mereka. Aroma makanan yang terhidang, membuat Esa semakin lapar. Esa tersenyum dengan bibir dikulum. Udah nggak sabar ia untuk mengeksekusi ramen, okonomiyaki, yakitori dan beberapa makanan dan minuman yang lainnya.
Tanpa di persilahkan makan pun, Esa mulai memakan ramen yang ada di depannya. Ah, sungguh nikmat! tanpa sadar ia melihat Vania yang tengah menatapnya datar. Heran!
Di lihatnya Evans pun tengah melihatnya dengan tersenyum, lalu bertanya.
"Gimana makanannya? enak!"
Esa tersenyum dengan terpaksa. Ia baru sadar, Vania dan Evans belum menyentuh makanan atau pun minuman di depannya. Mereka malah terheran-heran mengamati dirinya, yang hampir menyantap ramen itu, tak bersisa.
"Enak kok," jawab Esa lalu meletakkan sumpit yang tengah berada di tangannya.
Ia Menatap Vania dan Evans secara bergiliran.
"Kalian kok belum makan?" sambungnya.
"Oh ya, ini juga mau makan. Ayo lanjutkan makannya. Van, ayo di makan!" sahut Evans.
Vania mengangguk mulai melakukan aktifitas makannya. Terlihat, ia tengah mengunyah dan merasakan makanan yang baru mendarat di dalam mulutnya. Tak lama lalu ia mengangguk, seakan mengatakan rasa makanan itu, enak! kemudian melanjutkan aktifitas makannya.
Selesai acara makan siang. Mereka nggak melanjutkan jalan-jalan, melainkan pulang ke rumah Vania. Mengingat motor Esa, juga masih ada disana. Evans duduk tenang mengemudikan mobilnya, dengan kecepatan di atas rata-rata.
Tak terasa mobil Evans tiba di depan rumah Vania. Vania dan Esa pun turun, tak lupa ia membawa paperbag yang berisikan baju pemberian Evans. Mereka berjalan memasuki rumah Vania.
"Silahkan duduk santai dulu. Aku buatkan minuman untuk kalian," ucap Vania melihat Esa dan Evans duduk, sedang dirinya masih berdiri.
"Nggak usah repot-repot, Van. Aku masih kenyang," sahut Evans.
"Iya Van, duduk sini sudah!" Imbuh Esa.
Ia menarik lengan Vania, hingga Vania mendaratkan pantatnya dengan cepat terduduk di sofa. Tepatnya di sebelah Esa.
Vania kaget, ia menyiku lengan Esa.
Esa tersenyum.
"Maaf!"
Seakan ia tau, Vania nggak suka dengan sikapnya barusan.
"Kalau begitu aku pamit Van, Sa. Kalian lanjutkan acara kalian," pamit Evans sejurus kemudian, ia berdiri sebelum Vania dan Esa menjawabnya.
"Lhoh! mau kemana? Disini aja dulu!" sahut Esa, memintanya untuk tetap tinggal.
Vania mengangguk setuju kepada Esa.
"Aku harus ke restoran sekarang! Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di kantor. Aku pamit ya!" jelasnya dengan wajah tersenyum.
"Baiklah. Hati-hati dijalan," icap Vania.
Evans berjalan menuju pintu.
"Vans!"
Langkah Evans terhenti mendengar Vania memanggil dirinnya.
"Thanks buat semuanya, hari ini!"
Vania tersenyum dengan pipi merah muda.
Evans mengangguk.
"Sama-sama," ucapnya
Sejurus kemudian Evans keluar melangkah menuju mobilnya.
Vania dan Esa mengantarnya sampai teras depan. Sejurus kemudian, tangan Esa malambai melihat mobil yang di kemudikan Evans keluar dari halaman rumah Vania, lalu menghilang di jalanan.
Vania dan Esa masuk kembali ke dalam rumah. Mereka kembali duduk di sofa ruang tamu.
"Van, ternyata Evans itu nggak pelit ya! buktinya, dia beliin kita baju, ntraktir kita makan. Kalau dia nggak pelit, nggak mungkin dong! dia begitu," cerocos Esa sambil mengeluarkan baju pemberian Evans dari paperbagnya.
Ya! itu pun di dasari dengan mulut Esa yang asal ceplas ceplos aja saat di maal, tadi.
Vania menghela napas panjang. Hanya diam mendengarkan sahabatnya mengoceh.
"Van! di ajak bicara kok diem aja. Nggak asyik!"
Esa mulai kesal melihat Vania.
"Ya habis. Kamu ngomong terus. Gimana aku jawabnya!" sahut Vania.
Esa nyengir.
"Ya maaf, soalnya aku lagi seneng pakek banget, tau nggak!"
"Iya tau!"
Esa tertawa ngakak, kini ganti Vania yang terlihat sebal.
"Ya udah, ke kamar kamu yuk Van. Aku pengen mencoba baju ini."
"Ya udah, ayuk!"
Vania meng-iyakan. Padahal tadi di mall juga udah di coba semua, itu baju.
"Tante Wulan, belum pulang ya Van?" tanya Esa setelah berada di kamar Vania. Sambil mencoba baju barunya di depan kaca.
"Kayaknya belum!" ucap Vania. Ia juga mencoba baju-baju miliknya.
***
Hari sudah larut malam sedangkan Esa belum bisa tidur. Pikirannya traveling membayangkan, ia sedang berjalan bersama Evans. Dengan tangan yang selalu bergandengan dan dengan wajah yang bahagia berseri-seri. Berharap.
Esa sangat mengharapkan itu semua terjadi dengan segera. Ia berpikir, Evans juga menyukai dirinya. Sejak kemarin, ia memberikan dia sesuatu. Bahkan ia juga berani terang-terangan ikut mereka jalan-jalan tadi. Mungkin itu hanya alasannya, untuk tetap dekat dengannya. Esa terlihat senyam senyum sendiri di dalam kamarnya. Sambil memeluk boneka Panndut miliknya.
Pun dengan Vania yang berada di kamarnya. Ia belum juga tidur, bayangan wajah Evans selalu hadir ketika dia mulai memejamkan mata. Perasaan yang aneh itu, muncul lagi setelah ia berusaha memendamnya. Berkali-kali tangannya mengusap kedua matanya, dan ingin memejamkan matanya. Namun, berkali-kali wajah tampan Evans yang tengah tersenyum menatap dirinya itu, muncul lagi.
"Apa yang terjadi. Kenapa wajahnya selalu muncul saat aku memejamkan mata. Ya Tuhan."
Akhirnya Vania nggak bisa menahan rasa kantuknya. Ia mulai memejamkan kedua matanya. Dan membiarkan, wajah Evans menemani tidurnya. Hingga wajah Vania terlihat tersenyum simpul, saat tertidur. Good night Vania. Semoga mimpi indah bersama Evans.
Pintu kamar Vania yang tak terkunci perlahan terbuka. Wulandari masuk, mendapati Vania yang tengah tertidur tanpa menggunakan selimut. Ia menarik selimut untuk menyelimuti putrinya. Ia mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang. Tangannya perlahan mengusap pipi Vania. Tanpa sadar Vania mengenggam tangan Mamanya, merasa nyaman.
Wulandari tersenyum. Anak gadisnya kini sudah beranjak dewasa. Tak terasa bulir bening jatuh membasahi pipinya. Mengingat perjuangannya membesarkan putrinya. Tanpa adanya suami yang menemaninya.
"Mas! Kamu mau kemana mas?"
Wulandari mencoba menghalangi suaminya yang tengah keluar dari rumah dengan membawa tas berukuran besar.
"Lepaskan! Aku harus pergi dari sini!"
Pria itu mencoba melepaskan tangan Wulandari yang menahan langkahnya.
"Kamu mau kemana mas? Ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tengah mengandung anak kita mas. Ingat itu mas!"
Wulandari terisak menangisi suaminya yang menghilang di balik pintu.
Ia mengusap perutnya yang terlihat besar. Ya! Dia tengah hamil tua. Tangannya mengusap perut besarnya. Dengan bersusah payah mengumpulkan seluruh kekuatan. Ia mencoba berjalan dengan langkahnya yang gontai mencoba mengejar suaminya, namun ia melihat suaminya sudah masuk kedalam mobil bersama wanita lain. Dan meninggalkannya begitu saja.
Sakit, hancur, remuk, kecewa jadi satu. Wulandari tak tau harus berbuat apa. Ia juga tak tau kesalahan apa yang sudah dilakukannya, hingga suaminya dengan tega meninggalkan dirinya yang tengah hamil. Demi wanita lain. Hanya bisa menangis pilu saat itu.
Tak ingin terus terpuruk dalam penderitaan. Wulandari mencoba bangkit, demi janin yang tengah ia kandung. Semua kekecewaan dan rasa sakit hati itu menjadikan Wulandari pribadi yang lebih kuat dan tangguh. Perjuangannya terbayar setelah ia melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik mirip dengan wajahnya.
Vania merasakan tetesan air terjatuh mengenai pipinya. Dengan berat ia membuka kedua matanya. Ia kaget melihat mamanya yang tengah menangis duduk mengenggam tangannya.
"Mama kenapa kok nangis?" tanyanya kaget ia langsung duduk, mengusap pipi Wulandari yang basah.
"Nggak apa-apa sayang. Mama hanya terharu melihat Vania sudah tumbuh dewasa. Dan pastinya tanggung jawab Mama menjaga Vania, bertambah besar," jawabnya tersenyum, ia memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.
Vania merasakan itu.
"Makasih ya, Ma. Selama ini, Mama udah sabar mendidik dan membesarkan Vania. Aku sayang banget sama Mama," ucap Vania lalu menyeka bulir bening di sudut matanya.
Wulandari mengangguk, ia semakin tak bisa menahan air matanya. Air matanya tumpah. Vania pun ikut terisak dalam pelukan sang Mama.
Kehidupan memang nggak selalu berjalan mulus. Kita hanya bisa berencana dan menjalani kehendak Tuhan.
Tanpa suami disisinya. Wulandari mampu lebih bahagia bersama putri tercintanya. Hingga ia akan benar-benar lupa. Dengan luka lara yang dulu sempat menghujam dirinya. Memaksa dirinya untuk bangkit walau dengan begitu beratnya.
***
Jaya Haidar Sasongko masih terjaga di ruang keluarga. Ia menyesap rokok yang ada di tangannya. Entah mengapa dia merokok saat ini. Setelah lama, ia memutuskan untuk berhenti merokok. Sejak riwayat penyakit jantung yang di deritanya.
Evans baru saja pulang dari restoran. Langkahnya terhenti mendapati sah Papa duduk dengan adanya rokok yang terselip di tangannya. Ia segera mendekati Papanya, membanting putung rokok itu, dan menginjaknya dengan sepatu hitamnya sampai hancur lebur.
"Apa-apaan ini, Pa! Ingat Papa harus jaga kesehatan. Tapi ini malah.. " Evans meremas rambutnya dengan kasar.
"Papa malah merokok! " ucap Evans mendengus kasar.
"Papa merasa stres," ucap Jaya haidar datar.
Ia menoleh menatap Evans yang tengah menahan emosi karena dirinya.
"Kapan kamu akan sadar! Papa hanya ingin kamu segera punya pasangan. Sudah saatnya kamu itu menikah. Ingat! usia papa sudah tak lagi muda. Terlebih papa mempunyai penyakit yang tidak bisa di remehkan," sambung Jaya Haidar panjang lebar. Ia menatap Evans dengan serius.
Evans menarik napas panjang lalu mengeluarkan lagi dengan cepat. Raut wajahnya menunjukkan arti ganda. Ia terlihat bosan mendengar keinginan papanya agar cepat mempunyai pacar. Yang kedua ia terlihat khawatir, dengan kondisi papanya. Yang sampai mengabaikan kesehatannya, seperti saat ini. Itu semua karena dirinya.
" Sabar dulu, Pa. Mencari pasangan itu nggak semudah mencari baju di toko. Dan tolong! jaga kesehatan Papa. Jangan seperti ini."
"Papa sudah berkali-kali mengingatkanmu. Jangan terlalu lama mengulur waktu. Papa nggak tau sampai berapa usia papa nanti."
Seketika hati Evans terasa tertusuk tombak mendengar papanya. Hatinya terasa hancur. Perasaan takut tiba-tiba datang menghantuinya. Ia hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata.
"Ku mohon. Pikirkan ini Evans. Jangan kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Kau pun perlu pendamping untuk saling melengkapi. Papamu ini juga sudah sangat ingin, menimang cucu darimu."
Jaya Haidar bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah meninggalkan Evans yang masih terdiam, tanpa melihat ke arahnya.
Bersambung...