Vania dan Evans masih berdiri di samping mobil Evans. Evans masih dengan kegemasannya menggoda Vania. Sedangkan Vania merasa sebal dengan Evans.
"Lebih baik kamu pulang saja. Esa juga nggak akan mau, kamu ngintilin, kita." Vania tetap bersikeras mengusir Evans.
"Eh, tante apa kabar?" Evans tersenyum mengalihkan pembicaraan begitu melihat Mama Vania keluar dari rumah.
"Duh! Mama keluar disaat yang nggak tepat. Acaraku mengusir Evans, jelas saja gagal!" Batin Vania tambah bergerundel. Akhirnya ia hanya diam saja.
"Ada nak Evans rupanya. Silahkan masuk nak Evans. Vania ajak masuk dong jangan ngobrol di sini. Nggak enak di liatin tetangga," ucap Wulandari.
Evans tersenyum tenang, akhirnya ada yang mendukung dirinya.
Vania hanya nurut perintah Mamanya.
"Ya udah, ayo masuk," ajaknya seakan nggak ikhlas.
"Ikhlas, nggak nih. Kok kayaknya terpaksa gitu." Evans meledek.
"Udah, nak Evans ayo masuk. Tante mau keluar dulu ya. Maaf nggak bisa nemenin ngobrol lama-lama," tutur Wulandari.
"Iya Tante nggak apa-apa," sahut Evans. Tersenyum melirik Vania.
Tak lama kemudian Wulandari meninggalkan mereka berdua.
Evans menggenggam tangan Vania dan menariknya berjalan menuju teras. Hingga Vania kaget akibat Evans menariknya dengan tiba-tiba. Namun, ia hanya nurut saja berjalan membuntuti Evans.
"Stop! Mau kemana?" cetus Vania ketika sampai di teras depan rumahnya.
"Masuk ke dalam, kan Tante Wulan tadi menyuruhku masuk!"
"Nggak usah! kita duduk di sini saja, bentar lagi, palingan Esa juga dateng."
Vania tak menginjinkan Evans masuk ke dalam rumah, sesuai perintah sang mama. Enak saja dia mau main masuk rumahnya begitu saja! meskipun itu perintah mamanya. Tapi itu kan tadi, saat mama Vania belum pergi. Sekarang, ya Vania lah yang berkuasa. Evans kini hanya nurut saja sama Vania.
"Baiklah. Kita duduk di sini saja," ucap Evans seraya mendudukkan diri di kursi teras.
"Kau mau minum apa?"
Sesebal sebalnya Vania, ia juga menghormati tamunya. menghormati kok ucapannya nylekit melulu. Dah lah! intinya Vania tidak mau, tamunya pingsan karna kehausan di rumahnya.
"Apa aja yang penting manis, semanis kamu."
Lagi-lagi Evans menggoda Vania. Eh, lama-lama Evans jadi kayak Dion. Tak apalah, yang penting dia tidak sama playboynya. Vania muak mendengar Evans, serasa ingin muntah.
"Nggak usah berlebih," sahutnya datar.
Meninggalkan Evans yang duduk menahan tawa, Evans gemas melihat Vania dengan ekspresi seperti itu. Vania berjalan menuju dapur bersih, untuk menyeduhkan kopi spesial buat Evans. Spesial! ya, itu benar. Dengan terkekeh, ia mengaduk kopi hitam di atas nampan. Sejurus kemudian, ia membawa kopi itu dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Evans.
"Silahkan di minum,"
Kali ini Vania menatap Evans dengan sumringah, disertai dengan senyum yang manis.
Evans membalas senyuman Vania, dengan ekspresi heran. Aneh! tiba-tiba saja Vania bersikap manis kepadanya.
Sementara itu, Esa baru saja datang di rumah Vania. Ia memarkirkan motornya di samping mobil Evans. Esa bingung, kenapa ada mobil Evans di sini. Ia membuka helm yang menutupi kepalanya. Sejurus kemudian, ia berjalan menuju teras. Dilihatnya Evans yang tengah duduk, sedangkan Vania masih berdiri.
"Hey, maaf aku telat!"
Suara khas Esa melengking, menyadarkan Evans dan Vania akan kedatangannya.
Vania langsung menoleh ke arah Esa.
"Esa! tumben kamu datangnya molor. Ada apa?"
Esa mendesah,
"Itu, motorku, pakek acara mogok di jalan. Untung ada cowok ganteng yang mau berbaik hati, membantu memperbaiki motorku. Kalau enggak! pasti aku udah capek nuntun motor, cari bengkel, tadi. Mana jam segini udah panas banget!" jawab Esa terlihat letih saat ini.
"Ya udah, sini duduk!"
Vania menarik kursi untuk Esa.
"Aku ambilin minuman, pasti kamu haus," sambung Vania.
Ia melirik kearah Evans, sebelum melangkah masuk kedalam rumah. Meninggalkan Evans yang hanya diam. Melihat Vania dan Esa.
"Motor kamu yang baru kemana, Sa?" tanya Evans begitu melihat motor butut milik Esa yang terparkir di sisi mobilnya.
"Emh, itu. Di pakai mama aku. Jadinya, aku pakai motor itu sekarang."
Esa menengok di mana motor bututnya terparkir. Lalu kembali menatap ke arah Evans.
"Omong-omong. Udah lama kamu di sini?" Esa bertanya balik.
Sebenarnya, Esa penasaran kenapa Evans datang ke rumah Vania. Namun, ia tidak berani bertanya langsung.
"Lumayan," jawab Evans tersenyum.
Duh! Senyumnya itu loh membuat hati Esa meleleh. Esa membalas senyum Evans.
Tak lama kemudian, Vania keluar membawa sebotol kaca yang berisi minuman sirup dingin rasa melon. Esa menelan ludah membasahi tenggorokannya yang kering. Melihat botol minuman yang di bawa Vania, terlihat begitu menggoda. Vania menuangkan minuman dingin itu kedalam gelas.
"Nih, di minum dulu, Sa."
Vania memberikan gelas berisi minuman dingin itu, kepada Esa.
Esa langsung meneguk segelas minuman dingin itu, sampai habis. Sepertinya Esa memang benar-benar haus.
"Omong-omong, enaknya kita jalan kemana Van?"
Esa meletakkan gelas kosong itu di atas meja. Vania menatap Esa datar. Tak lama kemudian menoleh ke arah Evans yang masih terdiam.
Pun dengan Esa, melihat Vania menoleh kearah Evans. Dia juga ikut menatap Evans.
"Evans, habis ini kamu mau kemana?" tanya Esa.
Merasa di ajak bicara Evans langsung mengusap dagunya.
"Oh, aku nggak ada rencana sih. Tadinya aku mau kerumah temenku yang rumahnya dekat sini. Tapi, ternyata orangnya nggak ada. Jadi, aku mampir kesini."
"Gimana kalau kamu ikut jalan kita aja?" ajak Esa.
"Boleh!" jelas Evans nggak nolak. Emang itu mau dia.
"Nggak! Ngapain ajak dia!" sahut Vania ketus menatap Esa.
Esa mengangguk pelan kepada Vania. Mengisyaratkan agar Vania, mengijinkan Evans bergabung dengan mereka.
Vania menggeleng.
Evans hanya diam memperhatikan kedua wanita yang seolah berbicara menggunakan isyarat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir mereka.
"Baiklah! Dia boleh ikut."
Vania berubah pikiran, begitu mengingat Esa ingin lebih dekat dengan Evans.
Esa tersenyum senang. Kedua matanya tampak berbinar.
Evans menghela napas lega, mendengar keputusan Vania. Akhirnya ia berkesempatan dekat dengan Vania. Terlebih Vania sebenarnya sedang cuti dari pekerjaannya. Jika Evans tak melakukan ini, pastilah ia merasa hampa, berada di restoran tanpa kehadiran Vania. Untung ada Esa!
Perlahan Evans menyesap kopinya. Namun, bukan meminumnya, Evans malah menyemburkan kopi yang sudah berada di dalam mulutnya.
Esa kaget, hampir saja ia kena semburan Evans.
Vania menahan tawa melihat ekspresi Evans, yang mengerutkan kening karena merasakan pahitnya kopi tanpa gula. Vania sengaja tak membubuhi gula sedikit pun dalam kopi Evans. Ya! itulah kopi special buat Evans. Tega bener Vania.
"Pahit! apa kamu lupa nggak kasih gula, Van?"
Evans mengusap mulutnya dengan tisu.
"Bukannya kopi itu akan terasa manis, jika kamu melihat sesuatu yang manis," jawab Vania dengan tatapan penuh arti.
Evans menatap Vania datar. Ia tau apa yang di maksut Vania. Evans menghela napas panjang, ia paham Vania tengah mengerjai dirinya saat ini.
Esa bingung sendiri memandang Vania dan Evans, saat ini. Ia menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Esa tampak terheran-heran. Apa yang sedang terjadi? Esa tak tau!
"Apa kamu baik-baik saja, Vans?" tanya Esa penuh perhatian.
Evans mengangguk.
"Tenang saja, aku nggak papa."
"Kamu membuatku kaget. Hampir saja, aku kena semburanmu tadi!" protes Esa.
"Sorry, aku nggak sengaja. Semua terjadi begitu saja, tanpa aku mau."
Esa mengangguk mengerti.
Vania tetiba terbatuk-batuk.
"Gimana kalau kita jalan sekarang,Sa." Ia mengingatkan tujuan Esa datang kerumahnya.
"Oh, iya sampai lupa. Ayo, kalau begitu!"
"Okke, bentar aku ambil tas dulu ya!" sahutnya kemudian.
Setelah Vania keluar dan mengunci pintu rumah. Esa berdiri melangkah menuju motornya, di ikuti Vania di belakangnya.
"Nih helm kamu, Van,"
Esa memberikan helm cadangan yang ia bawa kepada Vania.
"Untuk apa kalian memakai helm?" tanya Evans heran memperhatikan mereka.
"Ya pakek helm lah, kalau nggak kita bisa di tilang polisi!" jawab Vania dalam posisi mau memakai helm yang tengah ia bawa.
"Lebih salah lagi kalau kita boncengan bertiga."
Ya Tuhan! bagaimana bisa Vania dan Esa melupakan Evans. Ia kan juga mau ikut jalan bareng mereka. Seketika Vania dan Esa meringis menatap Evans.
"Trus gimana dong?" tanya Esa.
"Naik mobilku saja. Takutnya nanti pas kita masih di jalan hujan. Lihat saja, langit tampak mendung."
Tak ada piihan lain bagi Vania dan Esa. Akhirnya mereka nurut saja, apa kata Evans.
Evans masuk kedalam mobilnya. Di ikuti Vania dan Esa, masuk kedalam mobil Evans. Mereka duduk di bangku belakang.
"Apa-apaan kalian ini!" tegur Evans kepada kedua wanita cantik yang tengah duduk di belakangnya.
Kedua manik mata Vania dan Esa bertubrukan beberapa detik. Sejurus kemudian, mereka menoleh kearah Evans secara bersamaan.
"Ada apa? apa ada yang salah!" sambung Vania.
"Memangnya aku ini sopir pribadi kalian apa! Kalau kalian berdua duduk di belakang, sementara aku yang menyopir. Aku lebih terkesan, jadi sopir kalian." Evans menjelaskan.
"Ya nggak papa lah! lagian siapa juga yang mau liat," timpal Vania.
"Meski pun nggak ada yang liat. Pokoknya salah satu di antara kalian harus duduk di bangku depan."
Evans berharap Vania yang akan duduk di bangku sampingnya.
"Kalau begitu, biar Esa saja yang duduk di depan."
"Hah! Aku!"
Seketika pipi Esa berubah warna menjadi semu merah muda, dengan kedua mata cantik berseri-seri.
"Ya! Sa. Kamu saja yang duduk di depan." Vania tersenyum.
Tak lama kemudian, Esa pindah duduk di bangku depan. Esa terlihat begitu bahagia. Vania pun ikut senang melihat sahabatnya senang. Vania seakan lupa, bahwa ia pun pernah merasa nyaman berada di dekat Evans.
Bersambung...