Nosa berangkat terburu-buru tanpa diantar oleh Pak Budi. Nosa mengendarai mobilnya dengan kencang. Nosa menunjukkan wajah tegang. Entah apa yang dipikirkannya. Sekitar 15 menit perjalanan, Nosa menghentikan kendaraannya di sebuah sanggar senam. Seorang wanita cantik dan bertubuh langsing mengenakan pakaian senam berwarna hitam itu mendekati mobil Nosa. Kemudian membuka pintu mobil di sebelah kemudi.
"Sayang, kamu kemana aja sih dari kemarin. Dihubungi tidak bisa. Aku kan bingung?!" ucap gadis berwajah ayu itu yang ternyata bernama Gladis, kekasih Nosa. Gladis kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Nosa dan mengecup pipinya. Nosa sedikit terkesiap, tidak menyangka akan diberikan kecupan. Tak jauh berbeda, Gladispun merasa terkejut dengan sikap Nosa yang tidak seperti biasanya. Bahkan biasanya Nosa akan balas mengecup pipinya. Tapi kali ini seolah Nosa mencoba menghindari kecupan Gladis.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Gladis dengan alis dikerutkan.
"Oh, tidak ada apa-apa. Hanya kaget saja. Sudah lama menunggu?" Tanya Nosa mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Lumayan. Aku kan capek, sayang. Lagian, kenapa sih aku tidak boleh kerumah. Sesekali kita ngobrol dirumah kan enak, lebih santai." Ucap Gladis manja.
Nosa tersenyum mendengar ucapan Gladis.
"Capeknya terbayar, kan?" Tanya Nosa.
"Ya bukan begitu, Sayang. Kenapa sih denganmu hari ini. Dari kemarin ga ada kabarnya. Kiita makan siang bersama ya?!" ucap Gladis lagi.
"Maaf, hari ini tidak bisa. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan, tidak bisa ditunda. Saya antar pulang ya?" Nosa menolak tawaran Gladis secara halus. Wajah Gladis merengut, kecewa. "Lain kali kalau urusannya sudah selesai, saya akan menjemput kamu. Kita makan siang bersama. Oke?!" tambah Nosa lagi. Gladis kemudian tersenyum.
"Beneran lho Sayang. Nanti aku bisa marah kalau kamu tidak menepati janji." Ucap Gladis sambil memonyongkan bibirnya.
"Apa pernah saya tidak menepati janji?" Nosa bertanya balik.
"Ga pernah, sih. Malah aku yang sering tidak tepat janji." Jawab Gladis sambil meringis. Nosa hanya tersenyum melihat tingkah Gladis.
"Oh ya, Yang. Minggu depan ada jamuan makan malam untuk syukuran anugerah Top Model 2020. Datang ya, bersamaku?! Please?!" Gladis memohon kepada Nosa.
Nosa mengingat pesan mamanya Kaylila yang mengatakan akan berkunjung ke Malang di acara pernikahan sepupu Kaylila. Nosa mencoba mencari alasan untuk tidak mengantarkan Gladis.
"Sepertinya tidak bisa. Saya sudah ada janji temu yang tidak mungkin saya batalkan. Kamu dengan Andre saja ya. Biasanya juga sama dia kan?!" jawab Nosa.
"Tapi besok aku inginnya sama kamu, Sayang. Aku salah satu kandidat di kategori fotogenik lho." Gladis memohon lagi.
"Tetap tidak bisa, Gladis. Nanti kalau saya bilang bisa tapi ternyata tidak bisa, saya ingkar dong. Saya tidak bisa menjanjikan hal yang sudah pasti tidak bisa saya tepati. Kamu tahu itu, bukan?" Tanya Nosa lagi.
"Iya deh kalau begitu." Jawab Gladis kecewa.
Nosa melirik Gladis sambil tersenyum kecut. Nosa tidak tahu harus memulai darimana untuk mengatakan ke Gladis bahwa ia ingin menikahi Kaylila. Mulut Nosa terasa kelu.
Nosa yakin Gladis akan sangat kecewa. Nosa akhirnya mengurungkan niatnya untuk membicarakan tentang Kaylila pada Gladis. Nosa teringat Kaylila yang saat ini berada dirumahnya.
Mereka pun tiba di kediaman Gladis. Di sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun berada di kawasan elit di tengah-tengah kota. Nosa menghentikan mobilnya tepat di depan pintu pagar rumah Gladis. Nosa keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Gladis. Gladis tersenyum.
"Terima kasih, Sayang. Masuk dulu yok." Ajak Gladis.
"Tidak bisa, Gladis. Aku harus mengerjakan sesuatu. Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu ketat untuk berdiet. Tidak baik untuk kesehatanmu. Saya pamit ya." Ujar Nosa sekaligus berpamitan.
Nosa memastikan Gladis telah masuk kedalam rumahnya. Kemudian Nosa mengemudikan mobilnya kearah rumahnya sendiri.
"Kasihan Kaylila, tadi kutinggalkan dia tanpa mengatakan sesuatu. Dia pasti merasa tidak nyaman dirumah. Mungkinkah dia kesepian tanpaku?" Bisik Nosa dalam hati.
****
Sementara itu Genta yang masih dengan kemarahannya menantikan Kaylila didepan pintu pagar rumah Kaylila tampak putus asa. Kaylila tidak dapat dihubungi bahkan tidak kunjung pulang. Genta memutuskan mengecek Kaylila dirumah Della untuk yang ketiga kalinya.
Genta memarkirkan mobilnya berjarak tiga rumah dari kediaman Della. Genta mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan. Tiba di seberang rumah Della, Genta mengamati rumah Della.
Rumah itu tampak sepi. Tak nampak suami dan anak-anak Della yang tadinya ada di pekarangan rumah. Begitu pula suara celoteh anak-anak yang tidak terdengar sama sekali. Genta memberanikan diri mendekati rumah Della, mengamatinya.
"Kamu ngapain disini, Genta?" suara Della dari belakang membuat Genta terkejut.
"Ah, tidak ada apa-apa, Mbak." Ucap Genta.
"Kamu masih mencari Kaylila, kan? Ayo masuk, kita bicara di dalam." Ajak mbak Della yang ternyata dari toko yang letaknya tepat didepan Genta memarkir mobilnya. Genta tak bisa mengelak, kemudian mengikuti Della masuk ke teras rumah.
"Kok sepi, Mbak?" Tanya Genta basa basi.
"Anak-anak ikut ayahnya membeli perlengkapan sepeda si Kakak." Jawab Della cepat.
Setelah menghidangkan minum dan kue untuk Genta, Della duduk di kursi disamping Genta.
"Mbak tahu kok kalau kamu dari tadi mondar mandir di depan rumah mbak. Mau memastikan Kaylila tidak ada disini, kan? Kaylila dari kemarin sore tidak ada menghubungi mbak sama sekali. Mbak juga sempat bertanya-tanya apa terjadi sesuatu dengan dia. Kalian bertengkar lagi?!" Tanya Della langsung.
"Tidak bertengkar sih, Mbak. Hanya saja, ada sesuatu hal yang tidak diceritakan oleh Kaylila pada kita." Jawab Genta.
Kemudian Genta menceritakan dimulai kejadian makan siang di lesehan Jogja didepan kantor, kemudian tentang seorang pria yang mengantar Kaylila pulang dari acara jamuan makan malam, hingga kejadian tadi pagi. Saat Kaylila pergi meninggalkan Genta bersama dengan pria yang sama. Genta mengusap tangannya ke wajahnya, gusar.
Della yang mendengarkan cerita itu, kemudian mencoba menghubungkan dengan pembicaraan terakhirnya dengan Kaylila kemarin sewaktu di kantor. Della sedikit terkejut saat Genta menceritakan tentang laki-laki yang pergi bersama Kaylila. Della hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mengerenyitkan keningnya. Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada Kaylila.
"Jadi, kamu minta batas waktu selama dua tahun? Begitu?" Tanya Della pada Genta.
"Iya, mbak. Aku masih takut untuk memulai, Mbak. Aku butuh waktu. Kaylila juga biasanya tidak begini. Tapi entah mengapa sekarang seolah-olah itu menjadi permasalahan yang besar untuknya." Jawab Genta masih dengan kegusarannya.
"Mamanya meneleponnya, Genta. Mbak dengar sendiri waktu mamanya ngomong begitu. Karena kalau Kaylila tidak segera menikah, dia harus segera kembali ke Sumatra. Orangtuanya akan menjodohkan dengan laki-laki pilihan mereka. Kamu mau Kaylila menikah dengan orang lain?" Tanya Della to the point.
"Bukannya aku tidak mau, mbak. Tapi mbak tahu sendiri kan. Aku tidak siap secara mental. Aku tidak ingin ketidaksiapanku mempengaruhi masa depan perkawinan kami." Jawab Genta lagi.
"Aku tidak mungkin mengingkari. Aku niat serius dengan Kaylila. Aku pasti akan merasa kesepian tanpanya. Mbak tahu itu kan?" Della hanya mendengarkan isi hati Genta tanpa memutus omongan Genta.
"Yang membuatku penasaran, apa mungkin Kaylila memiliki orang lain selain aku? Mbak Della orang terdekat Della saat ini. Mustahil mbak tidak tahu tentang laki-laki itu." Lanjut Genta lagi berapi-api.
"Demi Allah, mbak tidak tahu siap laki-laki itu Genta. Sekarang bukan waktunya untuk bertanya-tanya. Ada baiknya kamu introspeksi, mengapa Kaylila bersikap begitu dengan kamu. Kamu juga harus memahami kondisi Kaylila, jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Biarkan Kaylila sendiri terlebih dahulu. Kalau dia sudah tenang, dia pasti akan berbicara dengan mbak atau denganmu secara langsung." Ucap Della tegas.
Genta terdiam, menundukkan kepalanya dan meremas kepalanya dengan kedua tangannya. "Sekarang, kamu pulang. Istirahatlah dulu. Nanti kalau Kaylila sudah memberi kabar, mbak juga akan mengabarimu. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Kamu mengerti?" Tanya Della.
"Baiklah, Mbak kalau begitu. Aku pulang dulu. Terima kasih mau meluangkan waktunya untukku. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Genta berjalan keluar pagar dengan langkah gontai. Della hanya mampu mengamati Genta dari kejauhan, merasa iba dengan keadaan Genta saat ini.
***