Assalamualaikum, Tante

1054 Kata
Terdengar nada sambung dari panggilan itu. Nosa menempelkan ponselnya ke telinga kirinya. Panggilan pertama tidak ada jawaban. Nosa menekan nomor itu lagi, dan untuk kedua kalinya tidak ada jawaban. Nosa lagi-lagi menekan nomor itu, kemudian terdengar suara sapaan disana. “Assalamu’alaikum, Tante.” Sapa Nosa. “Waalaikumsalam. Dengan siapa ini ya?” Tanya suara itu, yang sudah pasti suara dari mamanya Kaylila. Panggilan itupun di Loud speaker oleh Nosa. Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, menyadarkan lamunan Kaylila. “Mau ngapain, kamu Mas?” Tanya Kaylila yang kaget mendengar suara mamanya sedang berbicara dengan Nosa. Nosa dengan sigap menutup bibir Kaylila dengan tangan kanannya. Kaylila yang terkejut dengan gerakan itu, langsung terdiam mematung. Kedua matanya menatap wajah Nosa yang juga sedang menatapnya. “Perkenalkan nama saya Nosa, Tante. Salam kenal.” “Iya, Nosa siapa ya? Tante kok sepertinya tidak pernah kenal?” jawab mamanya Kaylila. “Saya baru dua hari mengenal Kaylila. Saya menyukainya, dan ingin serius dengan Kaylila. Apabila tante berkenan, saya ingin segera melamar Kaylila. Kapanpun tante ada waktu dan ingin bertemu serta berkenalan dengan saya, saya bersedia menemui tante dengan segera. Saya bisa meluangkan jadwal saja untuk dapat mengunjungi tante.” Kaylila hanya mampu membuka mulutnya, serta merta kaget dengan apa yang di katakan Nosa kepada mamanya. Kaylila ingin bersuara namun tangan kanan Nosa masih menutup mulutnya. “Oh, begitu. Bagaimana dengan Kaylila? Apakah dia juga berkenan dan mau Mas nikahi?” Tanya mama. Kaylila yakin, mamanya pasti terkejut dengan pernyataan Nosa yang mendadak. “Kebetulan saat ini saya sedang bersama dengan Kaylila sambil sarapan pagi. Kalau tante ingin berbicara dengan Kaylila, saya akan serahkaputri ibun telepon ini kepada Kaylila.” Jawab Nosa mantap. “Oh, tidak usah. Nanti saja tante yang akan menghubunginya langsung. Sebenarnya begini Mas Nosa. Tante pada dasarnya menyerahkan semua keputusan kepada Kaylila. Tante tidak bisa memaksakannya. Karena Kaylila bukan anak kecil lagi. Jadi, apapun keputusan Kaylila, tante yakin itu adalah pilihannya. Tante hanya bisa memberikan dukungan saja.” Kata mamanya Kaylila lagi. “Saya mengerti apa yang tante katakan. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk melamar Kaylila.” Kata Nosa. “Begini aja, Mas Nosa. Kalau berbicara di telepon memang kurang meyakinkan ya. Kebetulan minggu depan keponakan tante di Malang akan melangsungkan pernikahan. Kita bisa mengobrol lagi setelah tante tiba disana. Apakah begitu lebih baik?” Tanya mamanya Kaylila. “Kalau memang begitu keinginan tante, saya setuju. Tapi kalau seandainya tante ingin segera mengenal saya, sebelum tante datang ke Malang, saya bisa berkunjung kerumah tante di Sumatra.” Kata Nosa mantap. “Oh, begitu ya. Apakah tidak mengganggu jadwalnya nanti, Mas?” Tanya mamanya Kaylila. “Tentu saja tidak, tante. Karena akan di reschedule. Tante tinggal bilang saja kapan waktunya.” Jawab Nosa dengan pasti. “Baiklah kalau begitu. Tante perlu membicarakan ini juga dengan papanya Kaylila. Tante akan segera memberikan kabar lewat Kaylila. Oke?” kata mamanya Kaylila. “Baiklah tante kalau begitu. Saya tunggu kabar berita dari tante segera. Saya akhiri dulu ya tante. Terima kasih, assalamualaikum.” Kata Nosa mengakhiri pembicaraan. “Oke. Waalaikumsalam.” Jawab mamanya Kaylila. Kaylila merasakan seolah seluruh tubuhnya melemas. Kaylila segera menyandarkan punggungnya ke kursi dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Kamu memang benar-benar menyebalkan, Mas! Dan kamu benar-benar gila!” seru Kaylila dengan suara lemas. Nosa hanya dapat tersenyum. “Ayo, mari makan. Nanti keburu tidak enak nasinya.” Ucap Nosa tanpa rasa bersalah. **** Kaylila sudah tidak berselera lagi untuk menikmati sarapan pagi itu. Bukan karena menunya tidak menarik hatinya. Tapi lebih dikarenakan suasana hatinya menjadi tidak karuan. Nosa membuat Kaylila meleleh dengan tekadnya yang kuat. Kaylila tersanjung? Tentu saja. Wanita mana yang tidak akan tersanjung dengan sikap pria itu. Dengan pembawaan cuek dan sedikit menyebalkan itu ternyata mampu merontokkan pertahanan diri Kaylila. Pria yang baru dikenalnya dua hari telah mempermainkan hatinya. Pria yang semula menyebalkan di mata Kaylila ternyata malah bertindak seperti seorang laki-laki dewasa. Tidak seperti Genta. Kaylila kembali memikirkan tawaran yang diberikan Nosa. Sebenarnya Kaylila ingin mengiyakan tawaran itu. Namun, Genta-lah yang membuat Kaylila bingung. Lagipula, sehabis masa perjanjian itu, Kaylila akan memegang predikat ‘Janda’. Kaylila menggelengkan kepalanya. Kaylila mengamati Nosa yang sedang menikmati makan paginya dengan santai. Dia tampan sekali. Pemikirannyapun berbeda dengan Genta. Ataukah karena dia lebih matang dari segi usia? Atau karena dia terbiasa mandiri? Yaa Allah Gusti, apa yang harus kulakukan? Aku bimbang Yaa Allah. Disatu sisi, mama dan papa tentu harap-harap cemas karena usiaku kian bertambah, yang bukan usia remaja lagi. Disatu sisi, masih ada Genta, orang yang selalu da di hatiku. Orang selalu mengisi hari-hariku. Aku tak sanggup hidup tanpanya. Kaylila merasakan sakit di bagian kepalanya mengingat Genta. Entah mengapa, sejak mengenal sosok Nosa bayangan Genta tak lagi berseliweran mengisi pikirannya. Mungkinkah dikarenakan sosok Nosa memiliki pesona seorang pria dewasa yang tidak dimiliki oleh Genta? Kaylila tidak mampu menjawabnya. Yang jelas saat ini Nosa lebih sering berseliweran di pikiran Kaylila. “Kamu sudah kenyang?” Tanya Nosa membuyarkan lamunan Kaylila. “Ehh tidak, Mas. Hanya saja, sepertinya saya sedang tidak berselera.” Jawab Kaylila dengan suara pelan dan mata memelas, menunjukkan rasa bersalahnya. “Bagian yang mana sehingga membuatmu sedemikian merasakan kekecewaan? Bukankah saya telah menunjukkan keseriusan saya? Saya tidak pernah main-main dengan omongan saya. Jadi, apakah itu sudah cukup bagi kamu untuk meyakinkan diri?” Nosa mencoba meyakinkan Kaylila. “Bukan begitu. Saya hanya merasa ada sesuatu yang bukan pada tempatnya saja. Ah, entahlah. Kamu membuat saya pusing, Mas. Tidak tahu saya harus mulai darimana. Tidak tahu apakah jalan yang kita pilih ini benar adanya.” Kaylila menjelaskan gundah hatinya. “Yang pertama kita lakukan adalah, segera habiskan makan dan minumnya. Kita harus segera pergi dari sini.” Ucap Nosa tegas. “Pergi? Pergi kemana?” Tanya Kaylila. “Kamu tidak mau pulang? Mau tetap disini?” Nosa bertanya balik. “Kalau boleh jujur, saya tidak mau pulang, Mas. Antarkan saya kerumah Mbak Della saja, rekan saya sekantor. Saya ingin menenangkan diri disana.” Jawab Kaylila. “Yang mau mengantarkanmu pulang kerumahmu siapa? Kamu mau bertemu dengan Genta lagi? Asal kamu tahu saja sedari tadi Genta berseliweran di depan rumahmu, dan baru saja berlalu dari rumah Della.” Jawab Nosa santai, namun membuat Kaylila terperanjat. Bagaimana mungkin Nosa bisa mengetahui hal tersebut. “Apa, Mas? Genta berseliweran di depan rumah saya? Bagaimana mungkin Mas Nosa bisa tahu?” Tanya Kaylila bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN