Nosa benar-benar berada dalam titik terendah dalam hidupnya. Tidak pernah sekali pun ia mengalami hal ini. Merendahkan dirinya akan sebuah cinta pada seorang yang semakin hari semakin memenuhi benaknya. Kini, ia benar-benar melakukan hal itu. Bersimpuh di kaki Kaylila dengan permohonan yang sangat berat dilakukan oleh Kaylila. “Kumohon, katakanlah, Sayang. Aku akan mencoba untuk mengabulkannya untukmu.” Kaylila terdiam di posisinya berdiri di hadapan kaca besar di dalam ruangan. Tatapan mata penuh kepedihan yang terpancar dari sorot matanya. Ia mencoba memaknai permohonan dan tindakan berlebihan Nosa padanya. Yang ia tahu selama ini, Nosa bukanlah sosok lelaki yang dengan mudahnya merendahkan dirinya dengan mudah. Bahkan bila memungkinkan ia hanya akan bersikap angkuh dalam setiap kese

