Hanya Waktu

1011 Kata
“Mbak ga papa?” “Iya mas, ga papa kok, cuma kaget aja.” Pemilik Honda Mobilio itu keluar dari mobil. Seorang pria, tampan, bertubuh tinggi, atletis, dibalut kemeja berwarna abu-abu muda press body, dan celana hitam, menampilkan siluet d**a bidangnya dengan kisaran usia sekitar 30 tahunan. Penampilannya yang modis, sungguh menawan. Membuat Kaylila terpana. Kaylila segera menepis rasa kekagumannya. “Maaf, mbak, saya tidak melihat kalau mbak mau menyeberang.” Suara bass pria ini terdengar seksi di telinga Kaylila. Tanpa ba bi bu, Kaylila langsung mengomel, meluapkan emosinya yang sedari tadi tertahan karena Genta. “Mas ga lihat apa kalau saya mau menyeberang? Saya segede ini lho mas. Kalau saya sekecil burung, baru mas nya bilang begitu. Lain kali kalau berkendara hati-hati, lihat-lihat dong. Biar tidak menyebabkan kecelakaan dan merugikan orang lain. Masak mobil bagus begini ga ada lampu sign dan klakson sih. Atau masnya yang sengaja ya mencoba menabrak saya. Sungguh menyebalkan sekali.” “Apa mbak? Saya tidak hati-hati? Seharusnya saya yang bilang begitu. Saya sudah menyalakan lampu sign, dan menglakson lho mbak. Tapi mbaknya yang tidak mengindahkan, dan sekarang saya yang mbak salahkan karena tidak hati-hati? Yang benar saja.” “Lho kan emang mas yang salah, dan korbannya itu saya lho mas, bukan masnya. Coba deh dipikir dengan baik ya mas. Yang rugi itu sebenarnya siapa. Jangan mencoba menempatkan diri mas sebagai korban. Sekali lagi, saya korban disini.” “Maaf, saya tidak punya waktu melayani omelan mbak, ini kartu nama saya, bila terjadi sesuatu silakan hubungi nomor itu, sekretaris saya yang akan mengurus sisanya. Saya terburu-buru.” “Apa? Maksudnya masnya mau melimpahkan kesalahan mas sama sekretaris mas? Yang harus tanggung jawab itu mas lho. Jangan pura-pura ga ada waktu. Anda benar-benar bikin saya kesal.” Si Pria yang ternyata di ketahui bernama Nosa hanya bisa berkacak pinggang sambil matanya menatap ke atas, kesal sekaligus marah menjadi satu karena wanita di hadapannya ini menghalanginya dengan omelan yang menjengkelkan. Cantik cantik gini galak, cerewet pula. Ada ternyata makhluk yang begini. “Udah deh mbak, saya tidak mau panjang lebar. Silakan hubungi nomor saya kapanpun. Saat ini saya tidak bisa meladeni omelan mbak. Terima kasih.” Kaylila ingin melanjutkan omelannya lagi, namun si pria tampan segera masuk ke mobil setelah sebelumnya memberikan kartu namanya kepada Kaylila, kemudian langsung melajukan mobilnya. Kaylila bertambah kesal dan menggemeretakkan giginya. “Menjengkelkan sekali.” “Mbaknya tidak apa-apa kan?” Mas penjaga parkir menanyakan keadaan Kaylila. Tanpa Kaylila sadari, mas penjaga parkir sedari tadi berada disampingnya. “Oh, ga papa kok mas. Maaf, sudah merepotkan. Saya pamit dulu.” “Syukurlah kalo begitu, saya bantu menyeberang jalan mbak.” “Terima kasih, mas.” **** Kaylila tiba di depan kantor yang berseberangan dengan warung lesehan. Jalan dengan dua jalur sudah mulai padat dengan seliwerannya kendaraan, yang berpacu karena jam makan siang telah berakhir. Kaylila masuk ke dalam kantor menuju ruangannya di lantai 3, satu lantai namun berbeda ruangan dengan Pak Wibisono, Pimpinan perusahaan. Kaylila adalah sekretaris pimpinan di perusahaan jasa ini. Sudah dua tahun Kaylila bekerja, dan Pak Wibisono selalu puas dengan hasil kerja Kaylila yang selalu sempurna. Sampai di lantai 2, Kaylila berpapasan dengan Mbak Della, teman sekantornya, dan juga teman dekatnya. Melihat wajah Kaylila yang tidak seperti biasanya, Mbak Della menyapa Kaylila. “Wajahmu kenapa Kay? Kok kayaknya suntuk amat sih? Bukannya barusan kamu makan bareng sama Mas Genta? Harusnya bahagia dong. Bukannya muka ditekuk begitu.” “Gimana ga ditekuk mbak, barusan habis ada cowo keren yang menyebalkan. Aku lho ditabrak, tapi dia ga mau mengakui kalau habis menabrakku. Aku sampai terjatuh. Untung ada mas tukang parkir yang membantuku.” Mbak Della melotot sambil membuka mulutnya. “Apa?? Kok bisa? Tanggung jawab ga orangnya? Kamu gimana, mana yang luka, mana yang sakit, sini kuobatin.” Mbak Della memang sudah seperti saudara bagi Kaylila, wajar bila dia begitu khawatir dengan kejadian yang menimpa Kaylila. “Aku ga papa sih mbak, ga ada yang lecet, cuma pinggulku aja aga nyeri terbentur bagian depan mobilnya. Dia sih langsung pergi habis ngomelin aku, yang katanya menuduh dia. Katanya terburu-buru. Dia cuma ninggalin kartu nama doing. Untungnya cakep tuh orang, lumayanlah untuk cuci mata. Hahahaha…” Kaylila tertawa sambil nyengir, wajahnya sudah tidak ditekuk lagi. Sepertinya dia sudah melupakan kemarahannya dengan si pria tampan yang menabraknya. “Huh, dasar kamu ini. Mata keranjang juga, ga bisa lihat barang bagus. Inget lho, kan udah ada Genta. Nanti bisa-bisa kalian berantem lagi gara-gara cowok lain.” Kaylila hanya terdiam mendengar celoteh mbak Della. Kaylila masih mengingat tentang pernyataan Genta yang meminta waktu selama 2 tahun untuk melamarnya. “Kenapa lagi? Berantem lagi sama Genta?” “Mbak Della menikah umur berapa mbak? Aapakah Mbak Della yang ingin dilamar atau Mas Arif yang langsung melamar mbak tanpa diminta?” Mbak Della mengerutkan keningnya. Mbak Della selisih 7 tahun umurnya dengan Kaylila. Mbak Della sudah menikah selama 7 tahun dan memiliki sepasang putra putri yang sangat lucu. Terkadang bila sedang bosan, mbak Della mengajak anak-anaknya keluar untuk sekedar bermain di Playgroun mall terdekat, dan tidak tidak lupa selalu mengajakku, karena Mas Arif yang selalu dinas luar, jarang bisa diajak jalan-jalan menemani. “Mbak menikah waktu umur 23 tahun, punya anak pertama si lanang umur 24 tahun, dan punya anak si gadis umur 25 tahun. Mas Arif yang melamar mbak, langsung menemui orangtua mbak. Mbak sendiri kaget waktu mas Arif dating bersama keluarganya tanpa pemberitahuan, langsung melamar. Kaget sih, sekaligus senang banget rasanya.” Wajah mbak Della berseri-seri bahagia mengingat kisah cintanya. Bahagia sekali mbak Della bisa menikah dengan orang yang sangat dicintainya. Apakah aku juga bisa begitu? Batin Kaylila. “Wah, pasti bahagia banget ya mbak, rasanya. Ga bisa dibayangin deh.” “Kenapa kok tiba-tiba bertanya begitu? Ada masalah sama Genta?” Tiba-tiba telpon di meja mbak Della berbunyi, mbak Della segera menjawabnya. “Baik, Pak. Saya sampaikan sama Kaylila.” Mbak Della menutup telponnya sambil netranya memberikan isyarat kepada kaylila bahwa Pak Wibisono memanggilnya. Kaylila segera beranjak menuju ruangan Pak Wibisono di lantai 3. “Nanti dilanjutkan ya mbak.” “Oke.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN