Kisses

1149 Kata
Ayu keluar dari dalam kamar mandi, setelah beberapa saat lalu ia bergantian kamar mandi dengan Alvin. Saat keluar, Ayu tidak mendapati ada Alvin di kamarnya. Padahal biasanya pria itu di jam seperti ini sudah tidur atau sedang bermain ponsel di atas kasur. “Mas Alvin pergi ke mana?” gumam Ayu sembari melangkah mendekati meja riasnya untuk mengambil ponselnya yang ia simpan di sana. Ayu kemudian duduk di atas kasur, bersandar pada kepala ranjang, lalu membuka ponselnya dan mulai melihat sosial media sejenak. Selang beberapa saat kemudian, Ayu mematikan layar ponselnya, lalu kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas. Setelah itu, Ayu melihat ke arah pintu kamar yang masih belum menunjukkan adanya tanda-tanda kalau Alvin akan kembali ke kamar. “Mas Alvin enggak mungkin masih marah sama aku, ‘kan?” lirih Ayu, yang seketika itu berpikir kalau Alvin mungkin saja tidur di kamar lain karena masih marah padanya. Ayu pun akhirnya beranjak dari atas kasurnya, lalu ia keluar dari kamar. Perempuan itu mencari sosok Alvin di setiap kamar. Dari mulai kamarnya dan Riki dulu, dan kemudian kamar tamu yang ada di lantai bawah. Namun, dari dua kamar kosong yang ada di rumah itu, Ayu sama sekali tidak mendapati adanya sosok Alvin di sana. Ayu menghela napasnya pelan, lalu tujuan terakhirnya adalah memeriksa garasi mobil, memastikan apakah mobil suaminya itu masih ada atau tidak. Karena jika tidak ada, itu artinya Alvin pergi dari rumah tanpa memberitahunya, dan jika itu benar, Ayu pasti akan merasa semakin gelisah. Tapi untungnya, mobil Alvin ternyata masih ada di rumah, Ayu sedikit merasa lega. Ia kemudian menutup pintu yang terhubung ke garasi mobil dan kembali mencari Alvin di dalam rumah. “Mas?” Ayu mulai memanggil nama Alvin. Namun, sebanyak apa pun Ayu memanggil, Alvin sama sekali tidak menyahuti panggilannya. Sampai kemudian, Ayu melihat sebuah pintu yang membuatnya penasaran sejak dulu, pintu itu berada tepat di samping ruang kerja Alvin—yang sebelumnya—Ayu sudah masuk ke dalam ruang kerja itu dan Alvin tidak ada di dalam sana. Ayu pun lantas mendekati pintu itu, dengan ragu ia membuka pintu tersebut, lalu masuk ke dalam ruangan yang mirip seperti sebuah perpustakaan pribadi. Ruangan itu benar-benar penuh dengan buku-buku yang dirawat dengan sangat baik. “Mas?” lirih Ayu, pandangannya tertuju pada sosok Alvin yang tengah duduk di bawah lantai sambil bersandar pada salah satu rak buku. Alvin duduk di sana sembari mengenakan earphone-nya. Pandangannya pun tampak fokus pada komik yang dibacanya. Ayu tidak pernah melihat Alvin seperti ini, pria itu seperti seorang remaja yang sangat menikmati hidupnya, terlihat sangat santai sampai tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Mengetahui kalau Alvin tengah menikmati kesendiriannya, Ayu memilih untuk kembali ke kamarnya dan tidak ingin mengganggu suaminya itu. Tapi, saat Ayu baru saja ingin melangkah, suara Alvin tiba-tiba menginterupsi. “Mau pergi ke mana?” kata Alvin, yang membuat Ayu langsung menoleh padanya. “Mau balik ke kamar, Mas,” jawabnya. “Duduk sini,” suruh Alvin, tanpa menoleh ke arah Ayu, tapi tangan pria itu tampak bergerak menepuk tempat di sampingnya, menyuruh Ayu untuk duduk di sana. Ayu tak ingin Alvin marah lagi, karena itu ia segera melangkah menuju sisi Alvin, lalu duduk dengan nyaman. Saat Ayu sudah duduk di sampingnya, Alvin terlihat menggeser tubuhnya, menempel pada Ayu yang terkejut dengan tingkah suaminya itu. Alvin bahkan membagi komiknya agar Ayu juga ikut membacanya. Tidak hanya itu saja—Alvin juga memasangkan salah satu earphone-nya ke telinga Ayu, membuat Ayu bisa mendengarkan alunan musik klasik yang tengah diputar oleh suaminya itu. Ayu ingin bertanya, sebenarnya apa yang sedang Alvin lakukan. Tingkah pria itu mirip seperti anak SMA yang tengah bermanja dan ingin menghabiskan waktu seharian penuh dengan pacarnya di sudut perpustakaan yang senyap dan sepi. Tapi di lain sisi, Ayu merasa senang dengan tingkah Alvin ini, ia benar-benar seperti kembali muda lagi, menikmati masa di mana dulu sempat ia sia-siakan karena terlalu larut bersedih karena kehilangan ayahnya. Lama waktu berlalu, Alvin masih betah membuka lembar demi lembar komiknya, tapi tidak dengan Ayu, kepala perempuan itu tiba-tiba sudah membentur lembut pundak Alvin, Ayu tertidur di samping suaminya itu. Alvin menoleh, menatap Ayu yang benar-benar tertidur pulas di sampingnya. Senyum Alvin mengembang ketika ia melihat wajah Ayu yang tampak sangat polos itu terlihat sangat menggemaskan hatinya. Alvin kemudian menutup komiknya, lalu meletakkan komik itu ke lantai. Setelah itu perlahan Alvin melepas earphone yang masih terpasang di telinga Ayu, ia bergerak pelan agar tidak membangun istrinya itu. Setelah menyimpan earphone-nya ke dalam saku celana, Alvin pun mulai mengangkat tubuh Ayu pelan-pelan, berharap Ayu tidak terbangun dari tidurnya. Alvin menggendong Ayu dan membawa istrinya itu ke dalam kamar mereka. Sesampainya di kamar, Alvin meletakkan tubuh Ayu perlahan ke atas kasur. Kemudian, ia menyelimuti tubuh Ayu dengan selimut. Sesaat, Alvin tampak diam di tempatnya, menatap wajah Ayu cukup lama, sampai kemudian dorongan batinnya sebagai seorang laki-laki membuncah tak dapat Alvin bendung. Tiba-tiba wajah Alvin mulai bergerak mendekati wajah Ayu. Bibir Ayu  terlihat sangat menggoda hati Alvin, membuat pria itu kesulitan menolak godaan nafsunya yang sudah memuncak sampai ubun-ubun. Cup. Singkat, tapi terasa membekas selamanya. Alvin kemudian menjauh dari wajah Ayu. Alvin tampak memegangi dadanya yang terasa berdebar aneh, sangat cepat dan seolah adrenalinnya terpacu kuat. “Mas Alvin.” Alvin terlonjak kaget ketika suara itu tiba-tiba terdengar menyeruak masuk ke dalam telinganya. Ayu terbangun, entah sejak kapan. “Ka-kamu dari tadi enggak tidur?” tanya Alvin, yang sudah dilanda cemas. Takut Ayu akan meledeknya karena ciumannya tadi. Ayu diam untuk beberapa saat, lalu ia bergerak mengubah posisi tidurnya menjadi duduk di atas ranjang. “Tadi saya ketiduran ya, Mas?” Ayu malah balik bertanya dengan raut polosnya. Tapi, justru itu yang membuat Alvin merasa lega. “I-iya, tadi kamu ketiduran. Dan karena saya masih punya sisi kemanusiaan, saya bawa kamu ke kamar. Baik ‘kan saya sama kamu,” kata Alvin, membanggakan dirinya sendiri, seperti biasa. “Maaf udah repotin kamu, Mas,” lirih Ayu. “Enggak masalah,” jawab Alvin, terlihat cuek walau sebenarnya sedang salah tingkah karena teringat dengan kelakuannya tadi, yang mencuri kesempatan dalam kesempitan, merengut ciuman pertama Ayu di saat perempuan itu tertidur. “Pasti aku berat, ya?” Ayu kembali bertanya. “Berat?” “Iya. Bukannya Mas Alvin gendong aku sampai kamar?” tanya Ayu lagi. “Siapa yang gendong kamu, ge’er kamu. Orang tadi saya seret kamu,” kilahnya. “Tapi ....” Ayu tampak tak percaya. “Ah, udah, jangan banyak tanya,” sungut Alvin, yang kemudian melangkah menuju pintu kamar. “Mas mau ke mana?” tanya Ayu. “Mau minum, haus, panas, gerah,” tukasnya, terlihat kesal tanpa alasan. Ayu diam tak menanggapi lagi. Kemudian, Alvin pun keluar dari dalam kamar, lalu menutup pintu kamar itu cukup keras. Setelah kepergian Alvin, tangan Ayu tiba-tiba bergerak menyentuh bibirnya, lalu ia merasakan jantungnya berdegup kencang, wajahnya pun tampak bersemu merah. “Tadi itu bukan mimpi, ‘kan?” lirihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN