"Terimakasih Sayang." Alvin dengan tulus mengucapkan hal itu pada Meri. Ia awalnya cukup skeptis dengan jawaban mari saat ia akan menceritakan semua ini, namun siapa yang sangka bahwa sikap Meri begitu dewasa dalam menyikapi permasalahan yang tengah menimpanya. Bahkan gadis itu memberikan kepercayaan penuh padanya untuk mengambil keputusan. Sepertinya dia benar-benar tidak salah dalam memilih istri kali ini. Sudah cantik, baik hati, nggak neko-neko, dewasa, dan pengertian. Sebuah paket komplit yang akan dia syukuri dengan senang hati. Meri tersenyum tipis, meski masih ada beberapa hal yang masih mengganjal dalam hatinya. Hanya saja senyum tersebut tidak bertahan lama, ketika ia mendengar suara dering ponsel milik Alvin yang tiba-tiba bergetar. Meri hanya melirik sekilas nama yang tertera

