Bab 4

1028 Kata
Pagi yang cerah membuat Jian semakin bersemangat untuk melakukan perjalanan ke wilayah perbatasan barat. Tak lupa Go-jun pun turut mengantar kepergian putri kesayangannya. "Hati-hati putriku, jaga kesehatanmu di sana." Pesan Go-jun pada Jian yang sudah duduk manis di dalam kereta kuda. "Ayahku yang tampan, Ayah tenang saja, aku besar Ayah. Aku pasti akan baik-baik sampai urusanku selesai nanti." Jawab Jian yakin, membuat Go-jun terkekeh. "Baiklah. Soo-young, aku harap kamu menjaga Ji-an dengan baik di sana." Soo-young menganggukkan kepalanya. Setelah itu, kereta kuda melaju meninggalkan kediaman Go-jun. Jian mengeluarkan kepalanya dari jendela, berniat melambaikan tangan sebagai bentuk perpisahan pada sang ayah. "Bye.. Bye.. Ayah jaga juga kesehatanmu. Aku akan pulang dengan selamat." Teriak Jian kencang, yang dibalas Go-jun dengan senyum lebar. Semua orang hanya bisa tersenyum geli melihat nona mereka berteriak-teriak pada ayahnya. Bahkan Jian pernah berteriak di ruangan Go-jun memanggilnya untuk makan siang bersama. Pemandangan itu juga tidak luput dari rekan kerja Go-jun yang tengah berada di sana. Dan tentu saja Jian menjadi malu setelahnya. Berbeda dengan Go-jun yang justru merasa senang karena putrinya menjadi lebih dekat dengannya, bisa dibilang Jian menjadi lebih penurut sekarang. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kereta kuda yang ditumpangi Jian dan juga rombongannya tiba di sebuah desa kecil yang dijadikan perbatasan antara kerajaan Timur dan kerajaan Barat. Menurut film yang tonton, kerajaan Barat adalah kerajaan yang berada di sisi Barat kerajaan Timur. Kerajaan itu bisa bilang sangat makmur, karena memiliki Raja yang baik dan bijaksana. Tapi diceritakan juga, Raja itu memiliki seorang anak yang cukup dingin dan kejam pada siapapun. Tidak terkecuali pada ayah dan ibunya sendiri. Sebuah tangan tiba-tiba mengambang dihadapan Jian. Membuat wanita itu terbangun dari lamunannya. "Nona, mari saya bantu turun." Ajak Soo-young. Jian menghela napas sebentar dan bangkit dari duduknya. Wanita itu lebih memilih melompat turun dari kereta kuda dengan senyuman lebar, tatapannya memindai ke sekeliling. Menurutnya desa itu sangatlah indah. Karena masih asri dan berada tak jauh dari hutan. Orang-orang di desa itu juga tampak ramah menyapanya. "Nona, penginapan kita berada di sana." Tunjuk Soo-young pada sebuah rumah kecil sederhana di ujung sana. Jian mengangguk, tapi bukanya berjalan ke penginapan, ia malah melangkah ke arah pasar tradisional yang tidak jauh dari tempatnya. Wanita itu berlari kesana dengan wajah senang. Mungkin karena Jian memakai pakaian bangsawan, ia pun banyak mendapat tatapan penasaran dari orang-orang. Jian hanya membalas dengan mengangguk dan tersenyum manis. Ia berjalan menghampiri seorang penjual tteok, karena wangi dari makanan itu membuatnya ingin segera mencicipi makanan itu. Tteok sendiri adalah kue atau makanan khas Korea yang terbuat dari tepung beras, terutama beras ketan, yang dipukul, dibentuk, dikuskus atau digoreng. Menurut google. "Aku mau satu kotak." Pinta wanita itu pada seorang penjual paruh baya. "Baik Nona." Jawab si penjual. "Silahkan Nona." Penjual itu memberikan satu kotak tteok dengan aneka bentuk pada Jian. Wajah Jian seketika berbinar senang. "Terimakasih. Ini uangnya, sampai bertemu lagi." Jian memberikan satu koin, lalu bersiap melangkah pergi. "Maaf Nona, sepertinya saya belum pernah melihat anda di desa ini." Pertanyaan si penjual membuat langkah Jian terhenti, ia kembali menoleh ke arah penjual itu. "Oh iya. Perkenalkan, aku Yeon Ji-an." Jian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun, ekspresi penjual itu terlihat kaget setelah mendengar nama itu. Wajahnya langsung pucat pasi, bahkan dahinya sudah mengeluarkan banyak keringat dingin. "Apakah nama Ji-an semengerikan itu?" Jian membatin dengan alis bertaut. "Ho... Hormat saya Nona Yeon Ji-an." Pria itu seketika membungkuk, menundukkan kepala hingga 90°. Jian yang semakin bingung, balas menundukkan kepalanya. Sementara penjual itu masih setia menunduk tidak berani menatap Jian lagi. Jian pun tak ingin ambil pusing, wanita itu langsung pergi ke arah penginapan. Soo-young datang menghampirinya. "Nona dari mana saja? Saya sudah mencari anda kemana-mana." Jian tersenyum. "Hanya membeli tteok, kamu mau?" tawarnya, namun Soo-young menggelengkan kepalanya. "Oh, baiklah biar saja makanan ini jadi milikku seorang." Jian pun memakan tteoknya kembali dengan tenang. Di tempat lain, si penjual tteok sedang merasa ketakutan. Pria itu memanggil temanya, yang juga seorang penjual di sebelahnya. "Ada apa?" tanya temanya, penasaran. "Putri penasehat Kerajaan, Yeon Ji-an ada di sini. Habislah kita!" Setelah itu, berita tentang Yeon Ji-an yang berada di kota perbatasan seketika menyebar luas. Bahkan seluruh penduduk di sana tidak ada yang tidak berani keluar rumah, saking takutnya. Desa yang sebelumnya ramai, menjadi hening seketika. Sedangkan pelaku yang menjadi dalang ketakutan penduduk desa, malah sedang asik membaca buku di kamar penginapan. Wanita itu sedang asik rebahan sambil menggoyangkan kakinya di atas ranjang. "Uhh, aku jadi mau pergi ke Kerajaan Barat." Jian menutup bukunya setelah selesai membaca. Ia membaca buku tentang kerajaan Barat dari awal berdiri. Tapi dibuku itu hanya beberapa sejarah yang di tulis, tidak secara keseluruhan, mungkin hanya ditambah sedikit gimik agar terdengar lebih menarik. Jian tadi tidak sengaja menemukan buku itu di lemari baju penginapan. Saat ia hendak mengambil pakaiannya. "Kenapa aku lupa nama anak pembangkang di Kerajaan Barat! Siapa namanya yah? Aku harus berusaha mengingatnya. Karena dia juga Yeon Ji-an mati." matanya terpejam untuk mengingat, namun tentu saja ia lupa dengan nama anak dari Raja Kerajaan Barat. Diceritakan anak dari kerajaan barat itu juga mencintai Ha-na, karena wanita itu pernah mengobatinya saat terluka di hutan. Kala itu anak raja itu kabur dari kerajaan saat berusia sebelas tahun. Dalam pelariannya, ia hampir saja diterkam serigala buas di hutan. Namun, beruntung ia tolong oleh ayahnya Ha-na dan Ha-na lah yang mengobatinya. Saat itu lah putra kerajaan barat akhirnya jatuh cinta pada Ha-na, karena kebaikan hati wanita itu. Setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka bertemu lagi, namun saat itu Ha-na sudah mencintai Hae-jun, yang sudah resmi menjadi tunangannya. Putra kerajaan barat yang mengetahui hal itu merasa tak terima, pria itu berusaha merebut Ha-na dari Hae-jun dengan berbagai cara seperti yang dilakukan Ji-an. Namun sayang, usahanya gagal, karena Ha-na tetap jatuh ke pelukan Hae-jun. Meski begitu ia tetap memperjuangkan cintanya, bahkan ia ikut andil dalam kematian Ji-an yang ingin membunuh Ha-na. Dengan cara menyusup ke penjara dan menguliti Ji-an yang saat itu sudah di tahan, untuk digantung keesokan harinya. Jian tiba-tiba bergidik ngeri, mengingat bagaimana Ji-an di kuliti dalam penjara tanpa belas kasihan, oleh anak kerajaan barat yang kejam itu. "Aku juga harus menjauh dari pria itu, dan jangan sampai bertemu dengannya." Ucap Jian dengan tangan terkepal erat. ************ ************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN