"Wahhh!! Kenapa di sini indah sekali?!" Jian berdecak kagum, sesaat setelah mereka tiba di sebuah taman luas.
Di sana terdapat danau kecil, dikelilingi pohon dan bunga-bunga yang bermekaran.
"Nona memang sangat suka berada di taman ini." Sahut Soo-young di belakang Jian.
Jian tak menjawab, ia hanya diam memandang lurus ke depan.
Melihat danau yang sangat jernih, terlintas dalam benaknya untuk menceburkan diri. Tapi mungkin itu akan ia lakukan lain kali, mengingat ia harus berkeliling lagi, agar ia hafal setiap sudut kediaman Yeon Ji-an.
"Ayo lanjutkan!" Jian berjalan kembali, diikuti Soo-young yang setia di belakangnya.
Saat ia melewati dapur, semua pelayan dan penjaga langsung menghentikan aktivitasnya.
Wajah mereka tampak pucat pasi. Melihat sang majikan yang tiba-tiba berdiri di depan pintu dapur.
Semua pelayan yang ada di sana menunduk takut, mengingat bagaimana mereka yang sering disiksa oleh Jian jika melakukan kesalahan dalam bekerja.
Bahkan sampai pernah ada yang disiksa seharian di dalam gudang.
"Kenapa semua orang di sini terlihat tegang?" batin Jian.
Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu berjalan santai menuju kearah para pelayan.
Mereka semakin bertambah gemetar ketakutan. Dan dengan santainya, Jian mengambil salah satu pisau tajam yang tergeletak di atas meja.
"Ya ampun, apa Nona Ji-an akan memotong tangan seseorang?"
"Aku yakin dia akan menghukumku."
"Astaga, Nona Ji-an memegang pisau! Apa dia akan membunuhmu semua orang yang disini?"
Bisik-bisik para pelayan mulai terdengar. Hingga tiba-tiba seorang pelayan paruh baya berlutut dan bersimpuh di kaki Jian.
"Eh..." Jian terkejut, ia mundur ke belakang.
"Maafkan kami Nona Ji-an. Jangan hukum kami." Wanita paruh baya itu terisak, diikuti semua pelayan yang lain.
"Jangan hukum kami Nona." Ucap semuanya kompak dan ikut bersimpuh di kakinya.
Jian menjadi bingung, dia hanya mau memasak karena lapar. Kenapa semua pelayan bersimpuh di hadapannya.
"A... aku hanya mau memasak, ada apa dengan kalian?!" ucap Jian bingung.
Kepala semua pelayan terangkat, mereka menatap satu sama lain ikut merasa bingung.
"Berdiri kalian!" titah Jian, membuat semua pelayan berdiri, mereka menunduk cemas.
Jian menghela nafas panjang. "Kamu. Cepat tunjukan bagaimana cara memasak di sini!" tunjuk Jian, pada pelayan paruh baya yang masih kebingungan.
Soo-young menghampiri nonanya. "Maaf Nona, anda tidak diizinkan memasak di dapur."
"Terserah aku. Sekarang ayo kita masak makanan sesuai keinginanku. Yang lain, siapkan bahan-bahan masakan yang aku perlukan di gudang." Perintah Jian tegas.
Semua pelayan yang masih kebingungan, langsung melakukan tugasnya dengan cepat. Menyiapkan bahan-bahan sesuai dengan perintah Jian.
Setelah itu, Jian mulai memasak makanan yang ada di zamannya. Yaitu, ikan goreng, sayur asem, sambal dan lalapan.
Soo-young dan pelayan yang lain, hanya diam memperhatikan, tidak mengerti apa yang tengah dimasak nona mereka.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya Jian selesai memasak. "Tara... bagaimana masakannya? Wangi bukan?"
Semua pelayan mencium aroma masakan Jian, dan menganggukkan kepala mengiyakan. Karena memang masakan yang dimasak Jian, di buat dengan rempah-rempah mahal.
"Baiklah. Soo-young, bawakan masakan itu kekamarku. Sisanya untuk kalian semua." Ucap Jian, lalu keluar dari dapur menuju kamarnya.
Semua pelayan menghela napas lega.
"Aku penasaran bagaimana rasanya, bukankah Nona Ji-an tidak bisa memasak?" semuanya menatap satu sama lain dan mengangguk.
"Emhh rasanya enak. Bumbu apa yang nona Ji-an pakai?" tanya salah satu pelayan, yang tengah mencicipi salah satu ikan goreng yang Jian masak.
"Aku juga mau mencobanya!" teriak yang lain penasaran.
"Aku juga!"
**
**
Sementara itu di kerajaan, semua orang sedang mengadakan pesta besar-besaran untuk pertunangan pangeran Hae-jun dan Ha-na. Semua rakyat menyambutnya dengan suka cita.
Tapi penasehat kerajaan yaitu ayahnya Ji-an sama sekali tidak merasa bahagia. Mengingat bagaimana putrinya sangat mencintai Hae-jun, sampai nekat melakukan tindakan bunuh diri, kemarin.
"Apakah Ji-an tidak datang ke acara pertunangan Hae-jun?" seseorang tiba-tiba datang mengagetkan Go-jun, ayahnya Ji-an.
"Dia sedang sakit, jadi tidak bisa hadir di acara ini." jawab Go-jun bohong, membuat kedua alis temannya bertaut.
"Bukankah kemarin dia baik-baik saja, aku bahkan melihatnya sedang menyiksa salah satu pelayannya." ucapnya jujur.
Go-jun hanya bisa mengangguk.
Hal itu sudah menjadi rahasia umum bahkan seluruh kerajaan mengetahui bahwa putrinya sering menyiksa para pelayannya.
Pria itu bahkan bingung kenapa putrinya bisa berbuat sekejam itu. Namun terlepas dari semua yang di perbuat putrinya, ia tetap menyayangi Jian dengan sepenuh hati.
"Dia memang sedang sakit, maaf Han aku harus kembali ke kediamanku." Pamit Go-jun, yang sudah tidak nyaman berada di tempat itu.
Han hanya bisa terdiam saat menatap kepergian Go-jun.
Ia sebenarnya sangat tahu apa yang terjadi pada Ji-an. Bahkan soal percobaan bunuh dirinya kemarin dengan melompat dari tebing ke dalam lautan lepas.
Beruntung, Ji-an berhasil di selamatkan oleh seseorang yang belum diketahui identitasnya sampai sekarang.
Bahkan Go-jun sampai sekarang masih mencari identitas penolong putrinya. Untuk bisa membalas budi padanya.
Namun, seperti angin, orang itu masih belum ditemukan sampai hari ini.
**
**
Saat tengah malam, Go-jun memasuki kamar putrinya. Melihat Jian yang terlihat sudah tidur nyenyak. Ia pun mendekat perlahan dan duduk di sampingnya.
Matanya yang sayu dan lelah, menatap putrinya cukup lama. Satu tangannya bergerak, membelai puncak kepala gadis itu dengan raut wajah sedih.
"Ji-an, Ayah berjanji akan membuatmu tetap bahagia bagaimanapun caranya." Ucap Go-jun dengan sungguh-sungguh.
Ia mengecup kening Jian pelan, bangkit dari ranjang dan beranjak keluar dari kamar dengan perasaan tak karuan.
Mendengar suara pintu yang tertutup, Jian membuka mata. Kepalanya menoleh ke sana kemari menatap sekeliling, namun tidak menemukan keberadaan siapapun di kamarnya.
"Apa mungkin itu hantu?" Jian menggaruk kepalanya bingung.
"Entahlah, mungkin setan." gumamnya seraya menggedikan bahu dan kembali ke alam mimpi yang sempat tertunda.
**
**
Matahari sudah menampakkan dirinya, burung-burung juga ikut berkicau riang. Menandakan dimulainya kehidupan baru manusia seperti hari-hari sebelumnya.
Sraakk!!
Soo-young membuka tirai besar kamar nonanya, membuat si pemilik kamar menggeliat kurang nyaman dengan cahaya yang langsung mengenai wajah cantiknya.
"Jangan dibuka dulu, Ma. Aku masih ngantuk!" teriak Jian, wanita itu menutup kepalanya dengan selimut.
"Pasti Nona Ji-an merindukan ibunya?" batin Soo-young sedih, ia melangkah menghampiri nonanya.
"Maaf Nona, sekarang sudah waktunya anda bangun, Tuan Go-jun sudah menunggu anda untuk sarapan pagi ini." Soo-young berusaha membangunkan Jian yang memang sangat sulit untuk bangun di kehidupannya dulu.
"Sebentar lagi, aku masih ngantuk, Mama." Jian mengulang ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Nona, saya Soo-young pelayan anda." Jian seketika terkesiap, wanita itu bangkit dari tidurnya, menatap sekeliling layaknya orang linglung.
"Benar, ternyata ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Astaga! Aku masih disini! Gila!!" jeritnya dalam batin.
"Astaga baiklah. Aku akan mandi sebentar." Jian menurunkan kakinya, beranjak dari ranjang menuju ke arah kamar mandi.
Soo-young pun mengikuti Jian, karena memang ini tugasnya, memandikan nonanya setiap pagi.
"Kamu mau ke mana!? Cepat keluar!!" teriak Jian kencang karena kaget melihat Soo-young ikut masuk ke kamar mandi.
"Ini tugas saya Nona ..." jawab Soo-young yang syok mendengar teriakan Jian. Karena yang ia tahu, nonanya harus dimandikan olehnya.
"Tidak... tidak. Mulai sekarang aku akan mandi sendiri, aku bukan anak kecil, Soo-young. Keluarlah!" usir Jian menghembuskan napasnya.
Soo-young hanya bisa membungkuk patuh, dan keluar dari kamar mandi.
"Dasar, zaman yang aneh." Jian mendesah frustasi dan bersiap melakukan ritual mandinya.
**********
**********