*** Tak hentinya duka menyapa keluarga Givanno. Entah sampai kapan mereka bisa hidup dalam kebahagian. Ujian dan cobaan seakan menertawakan hidup mereka. Hidup yang mempermainkan dan mengombang-ambing. Mungkin pernyataan Albert Camus tentang Absurdisme memanglah benar. Harapan dan kenyataan itu jauh berbanding terbalik. Ketika manusia menginginkan kebahagiaan, Kemalangan pun datang. Di sinilah Givanno, Di dapur rumahnya sambil menatap kosong bagian luar rumah itu melalui jendela segi empat kecil. Memikirkan nasib malang yang menimpanya dan juga anak-anaknya. Taylor, aku tidak kuat lagi. Aku membutuhkanmu. Masalah ini begitu berat untukku .. - Gumam pria itu. Tangan kanannya kembali menata roti panggang yang menjadi sarapannya kali ini. Dia harus kuat, agar bisa melindungi anak-anaknya.

