*** Victoria kembali bernaung di bawah pohon, Meratapi hidupnya yang malang. Kenapa dia seperti ini. Kenapa rasa bersalah itu harus ada? Kenapa gengsi harus diciptakan? Kenapa dia terlalu pesimis? Kenapa bertemu ayahnya harus dipersulit dengan kumpulan adjectif bodoh di kepalanya itu. Gadis itu kembali mengingat memori kebahagiaannya. Andai waktu itu bisa terulang kembali. Andai semuanya bisa seperti dulu lagi. Andai kebahagiaan bisa menghampiri hidupnya. Flashback on "Ayo, Nak. Kamu pasti bisa!" Seru Givanno pada putrinya. Sudah seminggu Victoria melakukan terapi yang dijadwalkan ayahnya. Gadis kecil itu berusaha untuk berjalan dengan alat bantu dari dokter. "Kakiku sakit, Papa. Sangat sakit jika digerakkan." Balas Victoria dengan raut wajah sedih. Melihat gadis kecil itu pesimis, Ériq

