Selama alat ini bergerak, aku tetap memeluk erat lehernya. Aku pun tidak berani membuka mataku. Aku tidak mau melepasnya sama sekali. Aku sangat merasa ketakutan.
“Tenang aja, alat ini kuat,” kata Andrew mencoba menenangkan aku.
“Beneran?” tanyaku.
“Apa kamu mencari cari alasan, buat bisa memeluk diriku. Bilang aja kamu mau aku peluk, atau kamu mau aku cium juga?” dia berbisik jail.
“Cih…” spontan aku melepaskan pelukannya, dan berbalik memunggungi dirinya.
Aku memutuskan untuk melihat ke arah jendela hotel dan berpegangan pada besi yang berada di pinggiran alat ini. Namun, begitu alat ini sudah menuruni dua kamar. Tiba-tiba ada sebuah jendela kamar yang terbuka. Dan begitu terkejutnya diriku, ternyata ada pasangan kekasih yang sedang bercinta di atas tempat tidur. Dan aku bisa melihat jelas dari sini.
“Aaaaa….” Aku langsung memutar balik badanku, dan kembali membuat alat ini berguncang dengan kencang.
“Ada apa, sih?” tanya Andrew kesal.
Aku tidak menjawab, hanya menutup mataku dengan sebelah tangan. Sedangkan, tangan yang lain tidak sengaja mencengkram lengan Andrew dengan sangat kencang. Alat ini bergerak sangat lambat. Mungkin, saat ini Andrew juga sudah melihat adegan yang seharusnya tidak dilihat.
“Kayak belum pernah seperti itu. Tadi kita kan juga seperti itu,” goda Andrew.
“Kamu!” Aku melotot ke arah Andrew.
“Hahahaha…” Dia tertawa dengan sangat puasnya setelah menggoda diriku.
Aku langsung memutar kembali badanku. Namun, tiba-tiba Andrew langsung menahan pinggangku dalam pelukannya.
“Apa apaan, kamu!” kataku terkejut.
“Dari pada kamu gerak gerak terus. Nanti kalau kita jatuh gimana?” katanya kesal.
“Katanya alat ini kuat,” kataku.
“Kamu ya! Mau aku gigit rasanya mulut yang terus menjawab ini,” katanya.
Aku langsung menggigit bibirku, dan diam seribu bahasa. Saat ini, aku tidak bisa bergerak kemana pun. Dia bisa saja meneruskan niatnya. Walau dia sudah melihat seluruh tubuhku, tetapi aku tetap harus menjaga ciuman pertamaku dan keperawanan ku untuk laki-laki yang akan menjadi suamiku kelak. Semoga saja, suamiku masih mau menerimaku, walau aku pernah berada dengan seorang laki-laki lain di dalam satu kamar. Dan laki-laki itu juga bilang, kalau dia tidak melakukan apa apa terhadap diriku. Semoga saja itu benar.
Andrew masih memelukku sangat erat. Alat ini juga bergerak sangat lambat. Masih tersisa satu lantai lagi, agar kita sampai di lantai dua puluh. Aku mulai merasakan hangatnya pelukan Andrew di saat kami sama sama terdiam menunggu alat ini terus bergerak ke bawah. Tanganku, juga merasakan otot dadanya yang bidang. Entah mengapa, bayangan liar saat di tempat tidur tadi tiba-tiba muncul di otakku. Jantungku pun berdetak lebih kencang. Aku melamunkan sesuatu yang seharusnya aku lupakan.
“Hei, mau sampai kapan kamu memegang dadaku,” kata Andrew.
Aku tidak sadar, bahwa tangannya sudah tidak lagi berada di pinggangku. Dan alat ini pun, sudah berhenti bergerak. Aku pun memutarkan badanku, dan melihat seorang laki-laki yang sedang menahan tawanya.
Ternyata, kita sudah sampai di lantai dua puluh. Tiba-tiba, Andrew mengangkat diriku dan memasukan kakiku lebih dulu ke dalam kamar, sehingga aku dengan mudah masuk ke kamar melalui jendela ini. Sedangkan dia, tanpa bantuan siapa pun, dengan mudahnya masuk.
“Kenapa ngeliatin aja? Aku ganteng ya?” katanya dengan sangat percaya diri.
“Ih, PD.” Aku langsung memalingkan mukaku.
“Hai, Nona,” sapa seseorang yang sudah lebih dulu berada di kamar ini.
“Hallo,” kataku.
“Perkenalkan nama saya Farale. Saya asistennya tuan Andrew,” katanya memperkenalkan dirinya.
“Hai, saya Ajeng,” kataku.
“Ternyata asistennya lebih sopan dari pada bosnya,” lanjutku sambil melirik ke tempat Andrew. Dan dia tidak senang dengan yang aku katakan.
“Apa! Emang benar,” kataku kepada Andrew.
“Kamu ya, dasar cewek resek,” katanya kesal.
“Dasar cowok m***m,” kataku tidak mau kalah.
“Cewek resek. Mudah-mudahan aku enggak bakal berurusan lagi sama kamu,” katanya.
“Ih, siapa juga yang mau ketemu lagi sama kamu?”
Kami sama sama membuang muka. Farale yang melihat tingkah kami hanya tersenyum menahan tawa. Tentu saja dia takut dimarahi oleh Andrew jika dia mentertawakan bosnya sendiri.
“Aku mau pergi,” kataku sambil berjalan menuju pintu keluar.
“Gih, dah,” kata Andrew.
Tiba-tiba aku menghentikan langkahku. Aku belum merasa benar-benar aman di luar sana.
“Kenapa lagi?” tanya Andrew yang menyadari aku menghentikan langkahku.
“Mmmm… di luar enggak ada wartawan kan?” tanyaku.
“Enggak nona, sudah aman,” jawab Farale.
“Mmmm… masalah foto-foto yang diambil sama wartawan tadi?” tanyaku lagi.
“Tenang aja, sudah saya bereskan,” kata Farale dengan percaya diri.
“Kan aku bilang juga apa! Kamu tenang aja. Kalau ada masalah, kamu bisa menghubungi aku,” kata Andrew.
“Semoga itu tidak terjadi. Jadi aku enggak bakal ketemu sama kamu,” kataku dan langsung meninggalkan kamar ini.
***
Aku masih belum bisa merasa tenang. Aku terus mondar mandir dengan perasaan hati yang gelisah. Apalagi, Kak Kiki belum juga kembali ke kamar. Aku khawatir kak Kiki akan membocorkan semuanya kepada Ayah. Tetapi, aku yakin Kak Kiki tidak akan melakukan hal itu.
“Dit… dit… dit…” seseorang seperti sedang memencet tombol untuk membuka kamar hotel tempat aku berada.
Tidak lama kemudian, terlihat Kak Kiki di balik pintu yang terbuka.
“Kak Kiki,” teriakku sambil berlari memeluknya.
“Kakak, aku takut,” kataku.
“Kamu kenapa bisa seperti ini, Jeng?” tanya Kak Kiki.
“Aku enggak tahu, Kak. Semalam aku cuma pergi ke kafe sama teman-temanku. Kita enggak ada yang minum minuman keras. Bahkan, kami lanjut pergi karaokean sampai jam dua belas malam. Saat itu Jessy dan Oppi pulang duluan, karena mereka sudah sangat lelah. Dan terakhir, aku masih bertiga dengan Alya dan Cerly. Tapi setelah itu aku lupa, Kak. Aku juga sempat melihat Alya dan Cerly tertidur di sampingku. Dan kemudian semua berubah menjadi gelap,” kataku menceritakan kejadian semalam.
“Trus, kenapa kamu bisa ada di samping Pak Andrew?” tanya Kak Kiki.
“Kakak kenal dia?” tanyaku heran.
“Dia alasan kakak datang ke Bandung. Dia katanya mau mengadakan transaksi ilegal di sini. Tapi ternyata, dia malah didapati lagi bersama dirimu di tempat tidur. Bahkan, tanpa busana,” kata Kak Kiki.
“Sumpah Kak, aku enggak ngapa-ngapain sama dia,” kataku.
“Kamu yakin?” Sepertinya Kak Kiki tidak yakin, jika aku dengan Andrew tidak melakukan apa-apa.
“Beneran Kak. Dia bilang seperti itu,” kataku dengan sedikit ragu.
“Berarti kamu sendiri enggak ingat semalam kamu sudah diapain sama dia?” Kak Kiki mengambil kesimpulan sepihak.
“Iya sih, Kak. Tapi…” Aku tidak mengerti memberikan pembelaan seperti apa lagi.
“Mmmm… Kamu lihat seprai kamu tadi ada darahnya enggak?” tanya Kak Kiki.
“Enggak perhatiin sih Kak, tapi kayaknya enggak deh.”
“Kamu yakin?”
“Kayaknya,” kataku sambil mengingat-ingat. Aku tidak sempat melihat sesuatu yang ada di kasur karena tertutup dengan selimut.
“Mmmm… itu kamu sakit enggak?” tanya Kak Kiki sambil menunjuk ke daerah kewanitaanku.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak merasa sakit sama sekali. Sama saja seperti biasanya.
“Huff, baguslah kalau begitu,” kata Kak Kiki terlihat lega.
“Kenapa Kak?” tanyaku bingung.
“Artinya kamu masih disegel,” kata dia lagi.
“Maksudnya?”
“Yang pasti aku bisa tenang sekarang,” katanya sambil duduk santai di atas sofa.
“Gimana bisa tenang? Nanti kalau Ayah sampai tahu gimana Kak?” tanyaku yang masih merasakan kecemasan.
“Tenang aja, sebelum semua wartawan pergi dari hotel tadi. Semua kamera kami di sita dan isi filmnya diambil paksa. Jadi tidak ada yang tersisa,” jelas Kak Kiki.
“Trus, laporan Kakak gimana?”
“Tenang aja, ada transaksi yang sempat aku rekam semalam. Tapi aku belum yakin, itu transaksi apa. Karena tempatnya sangat gelap.”
“Bukannya kakak bilang kamera kakak diambil dan dibuang semua isinya?”
“Sebelum meliput kejadian di hotel tadi. Kakak sudah pindahkan hasil yang semalam. Jadi yang itu masih aman,” katanya sambil tersenyum.
“Kakak memang bener-bener rajin, langsung merapihkan kerjaannya,” kataku bangga.
Kak Kiki hanya tersenyum menanggapinya.
“Kak.”
“Ya, ada apa?” tanya Kak Kiki.
“Rahasia in ini sama Ayah dan Bang Jaka ya?” pintaku.
“Tenang aja, Kakak enggak akan membocorkan kejadian malam ini sama semuanya,” kata Kakak.
Aku langsung memeluk kakak iparku itu.
“Aku sayang kakak,” kataku.
“Lain kali hati-hati ya sayang. Jangan sembarangan minum dan makan sesuatu yang sudah lama kamu tinggalkan. Kakak yakin, pasti ada seseorang yang memasukan obat tidur ke makanan atau minuman kalian semalam,” kata Kak Kiki.
“Siapa Kak? Enggak ada orang lain yang masuk ke dalam ruangan kita. Cuma seorang pelayan yang dua kali masuk nganterin pesanan. Cuma dia aja yang masuk, selain kita berlima,” kataku.
“Bisa jadi dia. Kamu masih ingat wajahnya?” tanya Kakak iparku itu.
“Masih, Kak.”
“Ayo kita pergi ke sana lagi buat mencari tahu,” ajak Kak Kiki.
“Ayo, Kak.”
Aku dan Kakak pergi ke tempat karaokean kami semalam. Dan sebelum sampai ke tempat itu, aku juga menanyakan keadaan dua orang temanku yang juga ikut pingsan semalam. Tetapi, ternyata mereka berdua kembali ke rumah mereka masing-masing. Seseorang mengantar mereka dengan menggunakan jasa mobil online. Kata orang rumah, mereka juga diantar sampai pintu rumah oleh supirnya.
Aku semakin merasa aneh, mengapa hanya aku yang ditemukan di tempat yang aneh. Sedangkan, kedua temanku sampai ke rumah mereka masing-masing dengan selamat.
“Maaf, Mbak. Apakah orang ini bekerja di sini?” tanya Kak Kiki langsung bertanya kepada salah satu pelayan tempat karoke, sesaat setelah kita sampai di sini.
Tadi di kamar Kakak sempat membuat sketsa gambar orang dengan ciri-ciri yang aku sebutkan. Kak Kiki sangat pandai menggambar. Wajah yang dia gambar sangat mirip dengan perempuan itu.
“Enggak,” katanya.
“Yakin Mbak?” tanya Kak Kiki meminta orang itu mengingat kembali.
“Yakin, Kok. Saya kenal semua yang kerja di sini,” kata pelayan itu.
Aku dan Kak Kiki saling bertukar mata. Kami berdua tidak menemukan jawaban yang kami inginkan.
“Mmmm… tapi.” Tiba-tiba pelayan itu kembali lagi, dan seperti ingin menyampaikan sesuatu.
“Kenapa Mbak?” tanyaku.
“Semalam, memang ada beberapa orang yang menjadi pelayan sementara. Mereka cuma kerja semalam aja. Kalau tempat ini sedang ramai, biasanya bos suka menerima pelayan sementara. Dan biasanya setiap malam minggu suka ada pelayan tambahan,” jelas pelayan itu.
“Mmmm… apakah pelayan yang kerja itu setiap minggu sama?” tanya Kak Kiki.
“Enggak. Setiap minggu selalu berbeda,” katanya.
“Oke, Mbak. Makasih ya,” kata Kak Kiki sebelum pelayan itu meninggalkan kami.
Itu artinya kami tidak bisa mencari tahu, siapa yang merencanakan ini semua. Orang yang merencanakan ini, pasti tahu kalau tempat ini setiap malam minggu selalu menambah pelayan sementara. Namun, siapakah orang itu.