Chapter 5

1023 Kata
Malam harinya Jessica belum tertidur karena menemani Alex bekerja. Lelaki itu menyandarkan punggungnya pada dashboard tempat tidur seraya memangku laptop. Jessica pun hanya diam memperhatikan. Alex sudah memintanya untuk tidur sejak tadi. Hanya saja Jessica menolak dengan alasan belum merasa mengantuk. Padahal yang sebenarnya adalah dirinya sedang menanti momen agar bisa meminta Alex datang ke acara panti asuhan. "Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan." Alex menutup laptopnya kemudian meletakkan itu di atas nakas. Kini atensinya sepenuhnya ia berikan hanya untuk Jessica. Mendengar hal tersebut, Jessica hanya bisa memberikan senyumnya. Baguslah jika Alex sudah dapat mengerti dirinya sejauh itu. "Jadi, katakan apa yang membuatmu mau menungguku?" "Mommy ingin kau ikut hadir dalam acara panti asuhan." "Aku tidak tahu apa-" "Mommy ingin kau datang. Aku juga." Alex kemudian memberikan senyumnya. Jika Jessica sudah memintanya dengan tatapan mata seperti itu maka Alex tentu saja akan berusaha melakukannya. Ia akan mengatur jadwal nantinya agar bisa hadir dalam acara tersebut. Selama ini dirinya memang selalu saja sibuk untuk mengurus perusahaannya. "Baiklah. Aku akan datang." "Terima kasih banyak." "Hanya itu yang bisa kau berikan karena aku mau datang." "Apa maksudmu, Lex? Kenapa pamrih sekali?" Alex terkekeh kemudian mendekatkan dirinya kepada Jessica. Cup.. Alex mengecupnya tepat di atas bibir Jessica. "Terima kasih kembali." "Dasar lelaki," ledek Jessica. "Jadi katakan padaku, apa saja yang kau lakukan hari ini?" "Aku dan Mommy hanya berkebun sejak sore. Saat siang kami mencari tahu bagaimana mendesain letak bunga-bunga baru yang akan ditanam di taman. Lalu paginya kami pergi ke makam Kak Chelsea." "Aku sungguh khawatir jika kalian benar-benar kecelakaan." Jessica kemudian mendekatkan tubuhnya untuk memeluk Alex. Berniat untuk menenangkan lelaki itu dengan pelukan hangatnya. "Berhentilah khawatir, Lex. Aku dan Mommy sudah baik-baik saja." Alex kini memeluk Jessica juga kemudian memberikan kecupan di kening perempuan itu. "Bicara tentang panti asuhan, bagaimana jika membuat bayi?" ajak Alex. "Astaga, Alex!" pekik Jessica ketika Alex tahu-tahu sudah mengubah posisi menjadi di atas Jessica. ----------- "Makanlah, Laura." Laura hanya menatap malas makanan dalam piring yang baru saja diberikan oleh Justin. Ini sudah hari kedua semenjak dirinya tahu bahwa ia sedang hamil saat ini. Suatu kenyataan yang benar-benar membuatnya merasa frustrasi. "Pergilah, Justin." Pintanya dengan suara lemah. Ia tidak makan selama dua hari. Wajahnya benar-benar pucat dan ia terlihat sangat lemah. Kenyataan bahwa dirinya tengah mengandung anak Alex membuatnya tidak bisa berpikir jernih selama dua hari ini. Ia bahkan tidak bisa tidur dan tidak bisa makan. Laura benar-benar tidak bisa bernapas dengan tenang. "Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini." Laura sudah muak mendengarkan ucapan itu sejak kemarin. Sejak kemarin ketika Justin datang dan mengetahui keadaan Laura tidak baik-baik saja, dirinya menjadi cemas dan tidak bisa meninggalkan wanita itu. "Apa yang sebenarnya membuatmu begini, Laura?" Justin tidak mengetahui apapun mengenai dirinya yang sedang mengandung. Laura bahkan baru mengetahui itu kemarin pagi saat dirinya merasa janggal karena beberapa bulan ini sudah terlambat datang bulan. Ternyata dia tengah mengandung dan usia kandungannya dua bulan. Tentu saja hal itu membuat Laura benar-benar terkejut dan merasa bingung. "Pergilah," pinta Laura lagi. Semenjak Laura memutuskan hubungannya dengan Alex, dia memang merasa sedih dan sakit hati. Justin lah yang selalu berusaha menghibur dan menemani dirinya selama ini. Meski Laura tidak pernah memintanya dan bahkan berusaha mengusir agar lelaki itu menjauh. Justin tetap saja selalu datang ke mansionnya ini. Laura sebenarnya tinggal di sebuah apartemen. Mansion ini adalah hadiah pemberian dari Alex. Lelaki itu memberikannya sebuah mansion agar lebih mudah jika ingin menghabiskan waktu bersama Laura yang merupakan seorang model. Mansion ini menjadi satu-satunya tempat yang aman dari paparazzi juga wartawan.  Setelah hubungannya dengan Alex berakhir, Laura seolah terhenti dari profesi modelnya dan hanya menghabiskan diri di mansion ini. Meluapkan perasaan sedihnya dan menangis sepanjang hari. "Aku akan selalu berada bersamamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Sekarang katakan padaku. Apa yang membuatmu menjadi seperti ini?" Ditanya seperti itu, Laura justru menjatuhkan air matanya. Jika saja Laura bisa memutar waktu, sungguh dirinya benar-benar menyesal karena telah melepaskan Alex begitu saja. Ia terlalu baik saat itu untuk memutuskan hubungan dengan Alex. Ia pikir dirinya akan rela mengakhiri hubungan dengan Alex dan bisa melanjutkan kehidupan seperti biasa. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dirinya justru semakin merasa sakit hati dan menyesal. "Apa Alex hidup bahagia dengan istrinya itu?" tanya Laura. "Apa maksudmu?" "William sepertinya sama hancurnya denganku." Kabar terakhir yang Laura ketahui mengenai lelaki itu adalah dirinya pindah ke Paris untuk mengurus bisnisnya. Tentu saja alasan itu dapat ditangkap menjadi sebuah alibi saja bagi Laura. Laki-laki itu pasti sama sakit hatinya dengan Laura. Laura sendiri ingat apa yang dikatakan lelaki itu beberapa hari setelah pernikahan Alex dan Jessica. "Dia sedang menjalin hubungan dengan model di Paris. Dan dia sangat sibuk dengan kehidupan bisnisnya. Aku baru tahu bahwa kau begitu tertarik dengan sepupuku yang bernama William. Apa kau menyukai dia sekarang?" tanya Justin. "Bukan urusanmu." "Makanlah. Aku tidak ingin kau sakit." "Aku sudah sakit setiap hari." "Katakan apa yang membuatmu menjadi sakit?" "Sudah ku katakan bahwa apapun itu menyangkut diriku, bukan urusanmu, Justin. Pergilah." Nada suara Laura meninggi. "Aku mencintaimu." Ucapan itu sudah pernah diucapkan oleh Justin. Meski pada awalnya Laura merasa terkejut namun sekarang dirinya sudah tidak merasa terkejut lagi karena telah terbiasa. Satu-satunya alasan Justin masih peduli padanya dan selalu menemaninya adalah karena rasa cinta lelaki itu. "Pergilah. Kau pantas mendapatkan perempuan lain yang lebih baik dari aku." "Aku bukanlah lelaki baik, Laura. Aku tidak pantas mendapatkan perempuan yang baik." Laura kemudian tersenyum masam. "Jadi maksudmu aku adalah perempuan yang tidak baik dan pantas untuk lelaki yang tidak baik sepertimu?" "Kau tahu kita sama-sama tidak baik." Laura menghela napasnya lelas. "Pergilah, Justin." "Makanlah. Apapun yang membuatmu menderita, jangan pernah biarkan tubuhmu menjadi sakit. Kau akan terluka lebih banyak." Air mata Laura semakin menetes mendengarkan ucapan Justin. Dirinya sudah terluka terlalu banyak sejak merelakan Alex untuk menikah dengan perempuan lain. Ia lantas mengusap air matanya dan menatap piring berisi makanan yang dibawakan oleh Justin. Benar apa yang dikatakan lelaki itu. Setidaknya Laura tidak boleh membiarkan dirinya sakit. Ada anak di dalam kandungannya yang harus tetap hidup dan lahir dengan selamat. Laura tidak akan membiarkan dirinya terluka lebih banyak lagi. Itu sebabnya dia akan berusaha mendapatkan kebahagiaan. Hal pertama yang harus dia lakukan adalah memastikan tubuhnya sehat untuk menjalani hidup. Laura kemudian tersenyum tanpa sadar ketika sebuah ide muncul di pikirannya. Ia lantas menatap Justin. Seharusnya Laura bisa memanfaatkan lelaki itu untuk membantunya. Justin pasti akan melakukan apa saja untuk dirinya karena ia begitu mencintai Laura. Sama seperti Laura yang dulu rela melakukan apa saja karena begitu mencintai Alex. "Apa kau bisa membantuku?" tanya Laura kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN