Malam Dingin

2038 Kata
Bibir merah jambu itu tepat mengenai daun telinga Larrisa. Dengan jahil, Eliot sedikit memberatkan suaranya agar terdengar hingga ke kalbu gadis yang tengah gematar melawan godaan Eliot. Larrisa terjatuh ke lantai dengan keadaan hampir setengah sadar. Badannya lemas tidak bisa berdiri tegar. Matanya tidak berkedip bahkan bernafas pun sulit. Tungkai kakinya tidak bisa menopang berat badannya lagi. Drug! Eliot terkejut dengan respon gadis itu. Dia mengira bahwa Larrisa si gadis keras kepala dan angkuh itu tidak akan tertindas dengan jahilnya Eliot. Justru Larrisa tampak ketakutan bahkan wajahnya sedikit pucat. Eliot sempat panik melihat Larrisa. Namun dia mengulurkan tangannya hendak membantu gadis itu berdiri. Larrisa mengepal tangannya, meremas karpet lembut tempat badannya tersungkur terjatuh. Dia ragu menjatahkan tangannya untuk menerima bantuan Eliot. Dia takut jika uluran tangan itu hanyalah cara Eliot selanjutnya untuk menindas dirinya. Larrisa menunduk tak menatap Eliot yang tepat berdiri di depannya. Hanya kaki tinggi pria itu sajalah yang kini bisa ditatap. Larrisa tidak berniat untuk berdiri dan pergi dari tempat itu. Dia hanya ketakutan dan tak memikirkan hal lain. Di dalam otaknya hanya ada penindasan yang telah dilakukan oleh Eliot. Setiap kali dia mengingat suara dan belaian mengerikan dari tangan Eliot, disaat itu pula dia merasa gematar ketakutan. Tak sengaja, Eliot melihat tangan Larrisa begitu bergetarnya dan nafasnya terdengar sangat terburu-buru. Eliot kini tersadar jika gadis itu memang sangat ketakutan karena ulahnya. Dia tidak menyangka bahwa efeknya akan separah itu. Dia hanya bercanda dan mempermainkan gadis itu, tak disangka Larrisa sangat ketakutan. Eliot kemudian jongkok menyetarakan tinggi badannya dengan Larrisa. Kemudian dia memegang kedua bahu Larrisa dengan lembut. Matanya benar-benar menunjukkan rasa perhatian pada gadis itu. Seraya berkata," Maaf, yah. Aku terlalu usil, jangan takut, aku tidak akan menyakitimu." Deg! Eliot tidak menyangka bahwa mulut kasarnya dapat mengutarakan kata-kata seelok itu. Setelah itu, Eliot menggengam tangan kecil Larrisa yang tengah mencengkam karpet lembut itu. "Mari ku bantu." Eliot menarik pelan tangan Larrisa, menuntunnya berjalan dan membantu duduk di sofa yang jaraknya hanya sejengkal. Melihat Larrisa yang masih diam terpaku dengan tatapan kosong itu, membuat Eliot merasa iba dan terpukul. Benaknya terus menyalahkan diri karena terlalu berlebihan menganggu Larrisa. Meski dia tak berniat menjahili hingga sejauh itu, tapi Larrisa sudah terlanjur risau dengan tampang menyedihkan. Eliot mengambilkan air hangat di dapur lalu diberikannya pada Larrisa. Dia menyuruh gadis itu untuk menenangkan diri dan meminum air hangat yang baru saja diambilnya. Glek! Larrisa menghabiskan segelas penuh berisi air hangat itu. Dia menyapu bibirnya yang basah karena terkena air yang baru saja diteguknya. "Pelan-pelan," nasehat Eliot. Seketika darahnya kembali berjalan. Ujung tangan dan kakinya kembali pada s**u yang normal, setelah tadi membeku ketakutan. "Tidak bisakah kita pulang sekarang?" tanya Larrisa dengan mata memelas. Deg! Jantung Eliot bergetar melihat mimik menggemaskan Larrisa. Lipstik merah yang sedikit tersapu hingga pipinya membantu Eliot merasa terpanggil untuk menyentuh wajah gadis itu. Matanya terpusat menatap bibir penuh milik Larrisa dan memandanginya begitu dalam. Cepat-cepat dia menghentikan isi kepalanya yang mulai menjalar. "Ini semua rencana kakekku. Dia memutus transportasi dan membawa mobil dari sini. Dia hanya meninggalkan dua tiket kereta dua hari mendatang," katanya sambil menunjuk dua lembar kertas yang tepat berada di atas meja. "Dua hari? Apa kita harus menunggu sampai dua hari di sini?" tanya Larrisa semakin pusing. "Hmm," angguk Eliot. "Kita pulang besok saja. Lagian ayahku akan mencariku, aku belum berpamitan padanya. Dia pasti khawatir." Eliot tersenyum. "Ayahmu sudah mengizinkan." Larrisa benar-benar tidak menyangka, ayahnya tidak pernah membiarkan dia pulang begitu larut, bahkan untuk menginap di rumah Karlina, Tuan Steven sulit memberikan izin. Tapi karena menyangkut perjodohan itu, ayahnya malah membiarkan dirinya menginap selama dua hari bersama pria yang sudah mengambil ciuman pertamanya. "Tapi aku akan pulang besok pagi!" tegas Larrisa dengan mimik wajah serius. "Pasangan mana yang tak senang dibiarkan berdua di villa yang jauh dari pusat kota?" Larrisa terdiam. Benar yang dikatakan oleh Eliot. Jika dia pulang sendiri tanpa Eliot, ayahnya akan curiga. Begitu juga dengan Tuan Erdogen, dia pasti akan mempertanyakan hubungan Larrisa dan Eliot. Tidak mengetahui solusinya, Larrisa hanya bisa menerima nasibnya. Dia hanya perlu menjaga dirinya agar sejauh mungkin dari Eliot. Dia tak ingin terjadi kecelakaan di dalam villa itu. Apalagi posisinya mereka hanya berdua saja, Eliot bisa kapan saja berniat buruk terhadapnya. Meski mulut pria itu mengatakan tidak selera melihatnya, bagaimanapun Eliot adalah seorang pria. Tetap harus diwaspadai. "A-Aku akan tidur," ucap Larrisa sambil mencoba bangkit dari duduknya. Tuk! Kakinya sempoyongan tak bisa berdiri dengan baik. Kepalanya terasa pusing dan sejenak pandangannya gelap dan buram. Dia memegang pelipisnya dan mencoba memperbaiki pandangannya yang tengah buram itu. Eliot langsung menopang tubuh Larrisa dan berniat memapah gadis itu hingga kamar. Gadis itu sangat shock sampai hampir pingsan begitu. "Lepaskan!" Larrisa menepiskan tangan Eliot. Dia tidak ingin jika pria itu menyentuh dirinya. Dia masih terbayang bagimana teganya pria itu menindasnya, mulai dari saat perjalanan ke villa itu hingga sampai di villa. Dia terus ditindas. Meski dia sudah merasa mampu untuk berjalan sendiri, tubuhnya berkata lain. Larrisa hampir tersungkur karena terlalu memaksakan diri. Tubuhnya benar-benar melemah, bahkan untuk mengendalikan dirinya, dia tak mampu. Untungnya Eliot dengan sigap menahan tubuh Larrisa sehingga gadis itu tak jadi terjatuh. "Kau keras kepala." Eliot mengangkat tubuh ringan Larrisa dan menggendong gadis itu hingga kamar. Meski Larrisa sedikit memberontak dengan tenaga lemah itu, Eliot mengencangkan dekapannya dan tidak peduli dengan ocehan Larrisa. "Lepaskan aku!" "Berisik!" Larrisa langsung terdiam. Dia terdiam dengan suara amukan Eliot. Kini hanya suara detak jantung Eliot yang dia dengar. Hanya wangi tubuh Eliot yang dapat dia endus. Setelah sampai di kamar villa itu, Eliot meletakkan Larrisa hingga ke atas ranjang. Tanpa basa-basi, pria itu pergi meninggalkan Larrisa, tak lupa dia juga menutup rapat pintu kamar itu. "Seharusnya dia menyelimuti ku juga," decak Larrisa sambil menjatah selimut tebal yang tersedia di atas kasurnya yang empuk berlapis spray berwarna biru tua. Larrisa memejamkan matanya baru beberapa menit. Sesaat setelah matanya mulai terlelap, samar-samar dia mendengar siul burung di malam hari. Langsung dia membuka matanya dan terperanjat dari tidur yang hampir segera pulas. Dia menoleh ke arah jarum jam dan melihat pukul menunjuk angka sebelas. Seakan darahnya berhenti mengalir, Larrisa merasa ketakutan bak akan segera mati. Dia mulai merasakan lesu di sekujur tubuhnya dan tidak bisa bernafas dengan tenang. Dia kembali teringat akan kisah ibunya yang telah lama meninggal dunia. Kala itu saat malam gelap gulita, hanya ada angin yang menemani dia, ayahnya, dan juga ibunya yang sedang terkapar lemah di atas kasur. Semua tegang, tak satu pun bersuara kecuali burung gagak yang mengitari atap rumah mereka tiada henti. Larrisa tak percaya mitos, karena zaman sudah canggih. Hanya orang bodoh dan jadul lah yang meyakini tahayul tak berdasar tersebut. Namun apa dikata, ternyata ibunya meninggal selepas perginya burung gagak itu. Sungguh menyedihkan, percaya tak percaya gagak itu seolah mengirim kabar tentang kematian ibunya. Sama seperti kali ini, suara burung bersiul terus terdengar semakin jelas dan mendekat. Dia tak tahu jelasnya mengapa burung gagak itu mengelilingi atap villa tersebut. Hanya dia dan Eliot di tempat itu. Dia panik sejadi-jadinya. Tak tahu harus apa. Dia mengira bahwa salah satu diantara mereka akan mendapatkan petaka. Larrisa takut sendirian. Meski sudah mencoba untuk mengenangkan diri. Namun suara siulan burung itu terus berada di telinganya. Dia berusaha keras agar suara itu tak menggoyahkan benaknya, ternyata dia tak sanggup. Larrisa berlari kencang ke arah kamar yang terbilang dekat dari kamarnya, dan mengetuk pintu tersebut. Tok-Tok-Tok! Eliot tengah duduk bersantai di dekat jendela kaca sambil menatap pepohonan rindang di samping villa itu. Sungguh menyejukkan mata. Dia banyak mendapatkan ketenangan di villa itu. Seketika buyar ketika suara ketukan pintu itu mengusik lentera redup yang sudah hampir padam itu. Dia menoleh dengan mata sinisnya. Untung dia bersengaja tak mengunci pintunya karena merasa harus memantau gadis itu. Ternyata perkiraannya benar. Baru beberapa menit, gadis itu sudah mengetuk pintu. "Masuk, tidak dikunci!" balas Eliot dari dalam kamar. Larrisa lantas masuk begitu saja tanpa berpikir panjang. Dia sudah hampir mati ketakutan mendengar suara burung yang berkicau terus-menerus dan menghantui pikirannya. "Ada apa?" tanya Eliot. Dia sudah melihat gadis itu dengan muka kaku pasih tidak berwarna lagi. "Kenapa lagi?" tambah Eliot semakin serius. "Aku- Aku mendengar gagak." Larrisa menunjuk arah atas. "Lalu?" Larrisa mendekat ke arah Eliot dengan mata berkaca-kaca. "Memang terlihat bodoh, tapi aku takut mendengar suara itu," katanya memelas. Tanpa sadar tangannya mengenggam Eliot seolah memohon sebuah tameng perlindungan. Telapak tangan dingin dan lembut itu bergetar dengan hebatnya. Eliot pun menyelipkan rasa empati melihat gadis itu. Dia menggenggam tangan Larrisa balik lalu mengelus kepala gadis itu lembut. Dia tersenyum lalu berkata untuk menenangkan Larrisa. Entah trauma perih apa yang pernah dialami gadis itu hingga tangannya sampai gemetaran dan dingin. "Tidak apa-apa. Villa ini dekat dengan hutan, wajar bila banyak burung di sini," ucap Eliot yang tak henti mengelus kepala gadis itu. "Apa aku boleh tidur di sini?" tanya Larrisa. "Aku takut sendiri," tambahnya lagi memberi alasan. Meski terbilang gila, Larrisa tak punya pilihan lain. Dia sudah takut sendiri di kamar itu, belum lagi hawa tempat itu sangat dingin, membuat keadaan semakin mencekam. Dengan ragu, Eliot menyetujui permintaan Larrisa. Sembari teringat bagimana gadis itu menolak dirinya dengan keangkuhan, ternyata dia hanya seorang gadis manis yang penuh ketakutan. Hanya casing saja yang kuat, dalamnya begitu lembut dan rapuh. Larrisa langsung membaringkan badannya di atas bed empuk itu lalu menutup sekujur tubuh hingga tak sehelai rambut pun terlihat dengan selimut. "Ka-Kau jangan tinggalkan aku!" teriak Larrisa dengan suara kedap karena selimut yang melapisi tubuhnya. Eliot tersenyum melihat gadis itu. Bak anak kecil yang sedang ketar. "Tentu saja," jawab Eliot. Dia berjalan ke arah kasur dan tidur tepat di samping gadis itu. Dia menopang kepalanya dan menatap Larrisa dengan tingkah menggemaskan itu. Dia terus tersenyum seolah terhibur dengan gadis itu. Tak pernah dia mengalami hal seperti ini, seakan di dalam hatinya ada sedikit gejolak yang terus mengajaknya untuk dekat dengan gadis itu. Dia sedih ketika gadis itu sedih, dia merasa sakit saat gadis itu kesakitan, bahkan dia ingin melindungi gadis itu ketika ketakutan. Sungguh aneh baginya, namun dia tak tahu pasti alasannya. Dia hanya terus mengikuti kemauan hatinya dan tak pernah memberikan pembatas atas perasannya. Larrisa merasa ada yang mendekat ke arahnya, dan tahu bahwa Eliot naik ke atas ranjang itu. Dia membuka selimut itu memeriksa keadaan apa yang tengah menghampiri dirinya. Dep! Wajah Eliot tepat di sebalah matanya. Manik hitam mereka masing-masing bertemu dalam titik yang sama. Mereka saling menatap. Terdiam beberapa detik bersama lantun dinginnya malam. Senyuman Eliot begitu hangat, tapi membuat gundah Larrisa semakin bertambah. Dia meremas selimut putih tebal itu, dan menutup tubuhnya rapat. Seolah melindungi diri dari Eliot. Bagimanapun Eliot adalah seorang pria, tentu tak wajar bila tidur satu ranjang. Namun keadaan begitu darurat, dia masuk ke dalam kandang singa, seolah menyerahkan diri. Larrisa merasa menjadi gadis rendah karena dengan tidak tahu malunya meminta untuk tidur dengan seorang pria padahal dia masih bersih dan suci. Tak pantas menurutnya. "Ke-Kenapa kau menatapku begitu? Dan… kita tak sepantasnya tidur seranjang seperti ini." Suara Larrisa terdengar pelan seolah sedang bergumam. Eliot terlentang lurus mengubah posisinya. Dia merapikan bantal sesuai tinggi lehernya. Lalu kemudian memejamkan mata. "Ini ranjang ku, tentu tidur di sini. Lagian kau yang memintaku untuk tidak meninggalkanmu. Aku akan tidur di sini," jelas Eliot tak terbantahkan. Larrisa hanya bisa menelan ludah mendengar penjelasan Eliot. Dia ingin sekali pergi dari kamar itu, tapi burung gagak itu terus saja berkicau menakuti dirinya. Harapannya hanya ingin malam ini berlalu cepat, dia sungguh tidak bisa tidur dengan cekaman berlipat ganda. Di tengah malam yang hampir berlalu, Larrisa telah terlelap dalam tidurnya, meski tak sepenuhnya pulas. Dia begitu peka dengan gemercik suara lain meski sepelan apa pun itu. Tap! Sebuah tangan jatuh tepat di atas perutnya. Begitu hangat, hingga enggan untuk melerai. Matanya terbuka langsung dan terbelalak besar karena tangan milik Eliot yang hampir mendekapnya. Dengan pelan Larrisa menjauhkan tangan itu, dan kemudian menggeser tubuh kekar Eliot menjauh darinya. Bahkan sampai pria itu hampir terjatuh ke lantai. Tanpa rasa bersalah, Larrisa mendorong pelan sekali lagi tubuh Eliot yang sudah berada di ujung kasur. Dengan teganya Larrisa mendorong dengan tangan kecilnya itu. Bruk! Eliot terjatuh dengan keadaan tidur pulasnya. Dia tak terbangun sedikit pun, bahkan pria itu terus saja terlelap tanpa terusik sedikit pun. Meski Larrisa yang sudah mendorong Eliot hingga terjatuh dari kasurnya sendiri, Larrisa memberikan selimut itu pada Eliot. Dia menutupi tubuh Eliot dengan hangatnya kain tebal tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN