Tentang Rasa

706 Kata
__HIDDEN_ Rafa masih diam di dalam mobilnya, sudah hampir lima belas menit berlalu, namun dirinya masih merenung, memikirkan rasa bersalahanya pada Alia yang tidak tau apapun. Sejujurnya, Rafa juga sempat bertanya-tanya, menenak-nebak kenapa Alia menerima khitbahnya dulu, padahal Rafa yakin untuk orang yang baru lulus kuliah pastinya Alia lebih mengutamakan karirnya. Tapi kenapa gadis itu mau menikah dengan Rafa? Apa alasan sebenarnya. Apa persahabatan Alia dan Amira sedekat itu hingga Alia rela menikah dengan Rafa, satu bulan mengenal Alia, menurut Rafa gadis itu asik, punya pemikiran luas, enak diajak ngobrol dan cerdas. Rafa kembali menatap rumah minimalis didepannya, rumah yang rasanya baru kemarin ditinggali bersama almarhum istrinya, sekarang diisi dengan sahabat dari almarhum Amira. Jujur, Rafa tidak mencintai Alia, itu pasti sudah terlihat jelas, Rafa rasa Aliapun tau itu, meski begitu Rafa berlaku baik pada Alia, memperlakukan Alia layaknya istrinya meski akal sehatnya sadar kerap kali sosok Alia nampak sebagai Amira dimatanya. Tanpa sadar, Rafa menorehkan luka pada Alia. Akhirnya Rafa turun dari mobilnya, menenteng tas kerjanya, melonggarkan dasi yang sejak pagi mencekiknya, ketika membuka pintu dan mengucapkan salam Rafa menemukan Alia berjalan kearahnya, dengan mata bak bulan sabit dibalik cadar nudenya. Gadis itu mengambil tas kerja Rafa, menyalaminya, sungguh idaman sekali. Jika dibandingkan dengan Amira, sosok Alia lebih terasa memuja Rafa. "Mas sudah makan malam?" Nada itu lembut, menyejukan. "Belum, kamu masak?" "Iya, mau Al siapkan, atau mas mau mandi dulu?" Jujur ya, Alia sangat memanjakan Rafa, gadis itu melayani setiap kenginan Rafa, begitu perhatian Rafa selalu menatap binar mata Alia yang tampak mencintainya, Rafa juga pernah menatap seseorang seperti itu dulu, saat remaja. Tapi tidak mungkin Alia mencintai Rafa secepat itu rasa-rasanya. "Mas mau mandi dulu, agak pegal." Rafa tersenyum, kelihatan sih dari raut wajah Rafa yang sudah lelah. "Al siapkan air hangat." Rafa meraih tangan Alia, "Tidak usah, mas bisa sendiri kok. Kasian kamu juga capek." Rafa tau hari ini Alia sibuk, dia pergi ke rumah sakit membahas kontraknya, lalu menemani Thomas mengurus kafenya. "Enggak kok mas, mas Rafa kan enggak bisa mandi air dingin kalau malam, biar Al siapkan air hangatnya ya." Alia kemudian berjalan menaiki tangga dengan gesit, tidak merasa direpotkan sama sekali, malah terlihat senang melayani keperluan Rafa. Rafa duduk di kursi, mengusap rambutnya ke belakang "Astaga, dia terlalu baik." _HIDDEN_ Mereka selesai makan malam, baik Rafa maupun Alia sudah siap-siap untuk tidur, namun Rafa malah meminta Alia menemaninya duduk di balkon, katanya ingin mengobrol sebentar. Alia sedikit tidak nyaman saat Rafa hanya menatapnya dengan pandangan yang Alia tidak pahami, terliahat ada rasa bersalah dimata Rafa. Rafa berdehem, sadar Alia tidak nyaman akibat tatapannya, angin malam berhembus, sedikit menyejukan, pemandangan komplek yang sepi sedikit menenangkan keduanya. "Apa kata Mr Edgard Al?" "Alia dikasih kesempatan magang satu bulan disana," "Sykurlah." Keduanya diam lagi, entah kenapa suasananya sedikit canggung. "Al, boleh mas tanya beberapa hal?" Alia hanya mengangguk, jatungnya terasa sedikit deg-degan. "Mas tau kamu mau menikah dengan mas karena Amira, tapi apa sampai hari ini tidak ada penyesalan saat kamu sudah menikah denganku?" Alia menggeleng pasti, jika saja Rafa tau, delapan tahun Alia berhayal, bermimpi untuk ada diposisinya saat ini, menjadi istri seorang Rafa Fauzan Kamil, jika saja. Rafa tersenyum, setidaknya Alia tidak terpaksa "Kamu juga pasti tau mas tidak mencintai kamu, begitupun kamu yang tidak mencintai mas kan?" Huh, lagi. Kalau saja Rafa tau, ratusan kali Alia cari pengganti, ratusan kali Alia cari cara agar cinta pada Rafa tidak ada lagi, Alia mati-matian melenyapkan rasa itu ketika rasanya Rafa semakin jauh untuk digapai, semakin hanya jadi ilusi bagi Alia. "Al tau mas, kak Amira itu baik sekali orangnya, Alia tau mas pasti sulit melupakan dia. Tapi Alia mengerti." Alia tersenyum sendu diakhir kaimatnya. "Maaf." Rafa menunduk dalam, merasa bersalah ketika membuat hal itu terlihat jelas. "Al," Rafa mendongak meraih tangan Alia "Kita memang tidak saling mencintai, tapi mas akan berusaha, nanti kalau mas sudah mencintai kamu...Bersediakah kamu lepaskan cadarmu Al?" Astaga, sosok Rafa yang ada didepan Alia saat ini begitu manis, meminta Alia membuka cadar ketika dirinya sudah yakin mencintai Alia, kapankah hari itu akan tiba? Akankah hari itu ada? "Tentu saja Mas." Meski Alia tidak tau berapa lama waktu yang diperlukan, meski Alia tidak tau Rafa bisa msncintainya sebesar Alia mencintai Rafa hari ini, Alia hanya perlu menunggu. Lagi. Meski sosok Rafa sudah suaminya, ternyata apa yang menjadi milik Alia hari ini, ternyata tidak benar-benar miliknya. Mereka akhirnya memiliki kesepakatan, memulai lagi, dari awal. Semoga saja mereka bisa menjalaninya. _HIDDEN_ Flashback Inggris, Oxford University "Aku bisa gila tau gak Al, Mr Albert ngasih tugas sulit banget. Otak aku mau melepuh rasanya!" Teriakan Rara cukup nyaring, beberapa orang menoleh namun kembali sibuk, Oxford, entah bagaimana Alia bisa secerdas ini hingga bisa berada di kampus ini. Alia tertawa kecil, setiap hari Rara sepertinya selalu saja bermasalah dengan Mr Albert, "Yaudah, sabar. Kamu balik sana kerjain tugas." Rara berdecak, rentanya tadi dia ingin istirahat, setidaknya ke kafe atau jalan-jalan sedikit, nyatanya para dosen itu senang sekali memberikan tugas. "Oke, oke. Selamat jalan-jalan." "Mana ada, Thomas mau mampir. Dia kangen katanya." Rara kembali cemberut. "Salam pada musuhku itu, maaf aku tidak bisa menganggunya hari ini." Alia tertawa, mereka berpisah, kembali ke apartemen masing-masing, dulu Alia tinggal di asrama, tapi setelah menceritakan betapa kacau kehidupan asrama Thomas memaksa Alia pindah ke apartemen sederhana yang cukup nyaman, Thomas yang menanggung biaya apartemen itu. Mana bisa Thomas membiarkan adik kesayanganya bercampur dengan para gadis penyuka s**s bebas, jorok, dan sering membuat keributan. "Baby," Thomas memeluk Alia ketika gadis itu meletakan plastik berisi wine dan steak. Alia memeluk Thomas erat. "Hai, aku bawakan wine kesukaanmu, mau makan steik malam ini?" Alia mendapatkan daging steik dari restoran muslim, pemiliknya orang Turki yang tinggal di Amerika. "Im kinda hungry. Sayang kamu enggak bisa minum wine lagi." Alia tersenyum, dia sedang semester 4, menghabiskan dua tahun untuk menempuh pendidikan dengan jurusan kedokteran, dokter bedah tepatnya. "Maaf Tom, oh ya ada salam dari Rara," Thomas menatap Alia curiga, "Apa kata gadis barbar itu?" Alia tertawa, selalu saja kakak dan sahabatnya itu tidak pernah akur "Maaf dia tidak bisa mengganggumu hari ini karena sedang mengerjakan tugas." "Oh, sepertinya otak paspasannya mulai kesulitan." "Yahh, dia berteriak di tengah kampus dan membuatku malu." Thomas bergidik"Makin tidak jelas saja tingkahnya." Alia menyiapkan makan malam, mereka bercakap capak, hingga makanan mereka habis lalu ponsel Alia berdering. "Hai Raraku.." Alia mencoba menggoda sahabatnya itu. Rara menggeram disebrang sana "Mck, aku sedang tidak ingin bercanda ya. Aku ada info penting.." Nada suara Rara berbeda, gadis itu terdengar marah, siap meledak. "Oke, oke. Apa?" "Ini soal kak Rafa, kakak kelas itu?" Nama itu, astaga. Efeknya pada jantung Alia sungguh luar biasa. "Jawab dulu, kamu masih mencintai dia?" Rara bertanya hati-hati. Alia bersemu, Thomas mulai menatap aneh adiknya "Iya, sayangnya masih, kamu enggak lupa kan gara-gara siapa aku masuk Islam." Ah ya, Rara merasa bodoh, setahun setelah kelulusan banyak hal yang terjadi pada Alia, mungkin itulah masa terberat gadis itu. "Al, aku takut kau kecewa, kau tau kan aku kenal banyak teman sekelasnya kak Rafa. Tapi aku juga harus tau ini agar kamu tidak terus-terusan mencintai dia sendirian." Jantung Alia berpacu,jarang sekali mendengar Rara seserius ini "Tolong katakan Ra, aku...siap." "Astaga, semoga saja....Al maafkan aku." Rara menelan ludahnya kasar "Kak Rafa akan menikah, dengan kak Amira, tetanggamu disemarang dulu." Alia diam, jantungnya sakit, bednafaspun sulit, matanya memanas, kecewa, sakit hati, marah, semuanya menguasai Alia, "Al, kau baik-baik saja." "Aku,,,,aku tidak tau Ra. Rasanya sangat sakit." "Al, ada apa. Kenapa menangis?" Thomas mendekat, kebingungan kenapa air mata Alia luruh begitu saja, gadis itu tampak linglung, putus asa dan kecewa jelas tertera. Alia menangis keras setelahnya, cintanya kandas, tapi yang lebih sakit adalah bahkan setelah itu rasa cinta Alia pada Rafa tidak kunjung pudar. TBC.. KEEP VOTE AND COMENT FOR NEXT UPDATE. SEE YA.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN