Anara menghapus kasar bulir air mata nya, dengan gerak cepat ia berlari menerjang tubuh givano yang terpaku melihat nya menangis, anara tak peduli dengan buku-buku yang ia bawa terjatuh. Karena, kini ia hanya memerlukan pelukan itu saja. "hiiks.... Hiiks...." isak Anara pilu, detak jantung Givano berdetak tak karuan, ia terlalu syok dengan apa yang ia lihat saat ini. Istri kecil nya menangis kenapa? Tangan givano mulai mengelus rambut anara berusaha menenagkan, kemudian ia mengurai pelukan anara dan menangkup kedua pipi yang memerah itu. "Heii...kenapa istri kecil?" tanya givano lembut, bahkan sangking lembut nya Anara semakin menangis kencang. "Huweeeeee!!!!" EDAN!!! KOK MALAH TERIAK! Givano kembali memeluk Anara agar suara cempreng wanita itu sedikit mereda. Hati nya bergedik sa

