Keysa langsung terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Dion. "Terus, lo kasih?"
Dion menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Enggaklah, ngaco! Yang ada nanti gue langsung dijodohin sama orang yang dipilih kedua orang tua gue!"
Keysa menganggukkan kepalanya, di dalam hati ia berucap, ‘Huft! Untung aja cowok yang ada di depan gue ini enggak bego-bego banget!’
“Permisi, Mbak! Ini semua pesanannya ya,” ucap seorang pelayan laki-laki yang membawa lima piring sekaligus, dengan menu makanan yang bervariasi.
Dion saja sampai tak dapat berkedip melihat makanan sebanyak itu. “Punya lo semua?” tanya Dion memastikan.
Dengan sangat bangganya, Keysa menganggukkan kepala, lalu menjawab, “Iya! Tapi inget, lo yang bayar!”
“Santai aja! Paling habis berapa,” jawab Dion dengan nada sombongnya.
Keysa mengedikkan bahunya, lalu mulai memakan salah satu makanan yang ada di piring, sambil menunggu Dion untuk kembali berbicara. “Lo enggak mau ngobrol sama gue? Katanya ada yang mau diomongin! Masa iya lo liatin gue makan terus, enggak boleh! Jadinya gue yang malu.”
“Gue enggak pengen ngomong banyak sih ke lo! Cuma mau bilang aja, jangan sampai mama tau, kalau kita itu pura-pura. Karena, hanya lo sendiri cewek yang gue ajak ke rumah dan dapat sambutan hangat dari nyokap.”
Dengan sangat bangganya, Keysa mengibaskan rambutnya ke belakang, lalu berucap, “Ya iyalah! Siapa dulu, Keysa gitu loh!”
“Emangnya lo mau, kalau kita berlanjut sampai ke jenjang nikah?” tanya Dion, yang membuat Keysa diam tak dapat menjawabnya.
“Kenapa diem? Kan gue cuma nanya doang, Keysa!”
Mendengar teriakan Dion yang merasa merusak pendengarannya, Keysa langsung menyentil dahinya pelan lalu berucap, “Berisik tau gak!” Sambil mengusap-usap telinganya itu.
“Dih, lebay!” ucap Dion yang langsung mendapat tatapan tajam dari Keysa. Namun, Dion justru malah tertawa.
“Ngapain jadi bahas kek gini sih?” protes Keysa yang langsung mendapat tatapan bertanya-tanya dari Dion.
"Emangnya kenapa? Ada masalah?" tanya Dion yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Keysa.
“Hah? Masalahnya di mana? Yang kek gimana masalahnya tuh?” tanya Dion yang masih belum paham.
“Yaelah! Bener-bener bego ya lo, Dion!” ujar Keysa, sambil menggelengkan kepalanya.
Dion semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Keysa. Ia terus menatap Keysa yang tengah sibuk makan dengan tatapan yang mempunyai arti meminta penjelasan.
“Udah enggak usah dipikirin!” ucap Keysa, sambil mengibaskan tangan kanannya di depan wajah, saat menyadari bahwa Dion sedari tadi menunggu penjelasan darinya.
“Enak enggak sih makanannya?” tanya Dion, karena sedari tadi melihat Keysa memakan pesanannya itu dengan sangat enak sekali.
“Eits! Enggak boleh enak aja! Makanan yang lain kan masih banyak!” ucap Keysa, sambil menepis tangan Dion yang berusaha mengambil makanan tersebut.
Dion melihat ke arah meja, memang benar banyak sekali makanan yang tertata rapi, tetapi ia ingin makanan yang tengah dimakan oleh Keysa itu.
“Sedikit aja dong, Key!” pinta Dion dengan wajah memelas. Namun, Keysa tetap pada pendiriannya, kalau tidak ya tidak. Malahan Keysa sama sekali tak menatap wajah Dion.
“Gue mau nanya sesuatu boleh?” tanya Dion hati-hati.
Keysa menghentikan kegiatan makannya, lalu melirik ke arah Dion dan menjawab, “Boleh. Asal jangan yang macam-macam!”
Dion meringis, ia jadi berniat untuk mengurungkan pertanyaan yang sebenarnya menjadi tujuan utamanya bertemu dengan Keysa.
“Dion! Katanya lo mau ngomong!” tegur Keysa yang langsung dijawab anggukan kepala.
“Eum ... gue mau nanya, laki-laki yang tadi siang itu siapanya lo?” tanya Dion, sambil menatap wajah Keysa dengan serius.
Keysa langsung mengernyit mendengar pertanyaan yang meluncur dari Dion. “Laki-laki tadi siang? Yang mana?” Keysa memilih untuk berpura-pura tidak mengingatnya.
“Yang waktu itu lo ninggalin gue, Key. Dan lo pergi sama laki-laki itu. Dia siapanya lo?” jelas Dion, sambil menatap wajah Keysa penuh harap. Semoga saja Keysa tak memiliki perasaan apapun dengan laki-laki tersebut.
“Oh! Maksud lo Kak Delon?” tanya Keysa memastikan.
Dion memilih untuk mengedikkan bahunya acuh. “Jadi itu namanya Delon?”
“Memangnya kenapa?” tanya Keysa heran.
“Hubungan lo sama dia apaan, Key?” Keysa kembali menghentikan kegiatan makannya. “Kan gue udah bilang, jangan nanya yang macam-macam!”
“Macam-macam gimana? Gue nanya kek gitu doang. Kenapa lo jadi sewot?” Dion merapikan rambutnya, lalu melihat ke arah pintu masuk, tepat sekali Delon dengan wanita yang lain lagi tengah masuk ke dalam kafe, dengan tangan yang saling bertautan.
Keysa menghembuskan napasnya kasar, lalu menjawab dengan sangat pelan, “Kita cuma temen.”
“Tapi, bentar lagi juga kita bakalan jadi sepasang kekasih kok,” sambung Keysa dengan sangat antusias.
Dion mengernyit heran mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Keysa. “Dari mana punya pikiran kek gitu? Kenapa bisa terlalu berharap banget sama dia?”
“Gimana ya, gue bukannya terlalu berharap, tetapi perhatian dan juga sikap Delon ke gue. Itu semua udah nunjukin bahwa dia sayang banget sama gue,” Jawab Keysa dengan sangat percaya dirinya, apalagi dengan senyuman yang terlukis di bibirnya. Itu menandakan bahwa Keysa menaruh harapan besar pada sosok Delon di hidupnya.
“Gue mau nanya lagi nih, pernah enggak sih lo mikir, kalau semua yang lo anggap tanda-tanda rasa cinta yang dikasih Delon ke lo, itu Delon lakuin sama cewek-cewek lain di luaran sana?” tanya Dion, sambil melihat sekilas ke arah Delon dan perempuan yang tengah berbincang dengan saling menggenggam tangan.
“Kok lo malah ngomong gitu sih, Dion! Lo nggak suka kalau gue seneng?” tanya Keysa sambil melepaskan sendok dan garpu yang sedang dipegangnya.
Dion langsung menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, “Maksud gue bukan gitu, Key. Gue baik sama lo, gue enggak mau kalau lo sampai ngerasain sakit hati yang lebih lagi, saat tau kenyataan yang sebenarnya.”
“Gini deh, giliran gue yang nanya sama lo. Emangnya kenapa sih lo bisa nanya kek gini ke gue?” tanya Keysa lagi, kini manik matanya menatap wajah Dion dengan sangat serius.
Menarik napas dalam-dalam terlebih dulu, lalu mengembuskan secara perlahan. Dion pun menjawab, “Kemarin, gue liat si Delon sama cewek lain, dan dengan sikap mesra yang ia berikan ke cewek itu. Gue bukannya mau suuzon, tetapi yang buat gue yakin banget yaitu Delon yang nyempetin waktu buat nyium kening cewek itu.”
Keysa terdiam, memikirkan apa yang diucapkan oleh Dion. Hatinya mempercayai Dion, tetapi kepalanya justru menggeleng keras, dan matanya yang berangsur mengeluarkan air mata. Ingin sekali Dion langsung menarik Keysa di dalam pelukannya. Namun, hal itu sangatlah tidak mungkin.
“Mau bukti?” tanya Dion yang dijawab dengan sangat antusias oleh Keysa.
“Yakin? Nanti lo ada niat buat ngelakuin hal macem-macem lagi,” ujar Dion yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Keysa.
“Enggak, Dion! Sini, mana buktinya?” Keysa berdiri dan berniat mengambil ponsel milik Dion yang ada di saku.
Namun, tangan Dion menghentikan pergerakan Keysa, lalu tanpa menatap Keysa, Dion berucap,” Liat dengan mata yang jernih, siapa pasangan yang tengah bermesraan itu! Di belakang lo.”
Keysa menuruti perintah dari Dion, ia melihat ke arah meja tersebut. Betapa terkejutnya, saat yang didapati adalah Dion yang tengah menciumi punggung tangan wanita lain beberapa kali.