Bab 2

998 Kata
Chapter 3 ** ** ** "Ya biar Istriku tau, suaminya ganteng" kekeh Syauqi. "Serah deh Mas, buruan makan. Nanti keburu dingin, aku mau mandi juga. Mas makan saja disini," Syadza bersiap beranjak, namun dihentikan oleh perintah dari yang tak boleh dibantah. "Eh! Siapa yang nyuruh kamu ninggalin meja makan, duduk!" Syadza memutar bola matanya malas, AC di ruang makan hanya menyentuh suhu 21° saja. Semakin panas ketika memikirkan jika Syauqi akan berpenampilan tampan di hadapan banyak orang. Tiba-tiba rasa sebal memenuhi pikirannya. Wajahnya berubah masam. "Yang ikhlas Sya, nemenin suami makan," kekeh Syauqi. Ia tau jika istrinya sedang tidak bersahabat bercanda. "Hemm..." Syauqi begitu menikmati makan yang disuguhkan, sesekali melirik istrinya yang bermuka masam. "Ngga baik di depan suami wajahnya begitu Sya," "Ngga baik berpenampilan berlebihan selain untuk istri," jawab Syadza jengah dan langsung meninggalkan Syauqi yang tertawa keras. Suami tak paham kondisi, batin Syadza. Syadza meringkuk di balik selimut, pikirnya mendesak ke arah cemburu. Batinnya, mengapa juga Syauqi harus tampil se tampan itu di depan banyak wanita kantoran yang dominan berpakaian tapi telanjang, maksudnya adalah menggunakan pakaian yang ketat. Dan ia tidak menyukai itu, beberapa kali ketika ia sengaja mengantar makanan, ia dapati wanita-wanita kantor diam-diam mengambil gambar suaminya, menggoda dengan sengaja dengan suara yang dibuat-buat. Semakin kesal ketika banyak sekali pesan watshapp dari wanita kantor tanpa kepentingan, seperti... "Selamat malam pa Syauqi, semoga mimpi indah dan semoga bertemu besok," Itu masih lumayan dimaafkan oleh dirinya, Jika ini? Menurut kalian bagaimana? "Pa Syauqi, Istirahat yang cukup yah. Supaya bisa mengurus istri dengan baik dan saya siap jadi yang ke dua kok pa," Wah-wahh, wanita mana yang tidak kalang kabut, batin Syadza. Sesekali ia ingin memberi tahu dunia jika Syauqi adalah miliknya, tapi ia sadar jika semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Termasuk suami yang begitu ia dambakan, Syauqi adalah milik Allah. Dengan baik Allah titipkan Syauqi untuk dirinya sebagai jembatan meraih Ridho dan surga-Nya. Lantas, hak mana yang bisa ia kuatkan sebagai argumen jika Syauqi adalah miliknya. Syauqi adalah titipan Allah, itulah intinya. Meskipun dunia telah tau jika cinta mereka sudah berjujung pada pelabuhan, meskipun semesta telah tau jika sampan kecil telah sampai pada pelabuhannya tetap saja Allah maha tau jika Takdir tak selamanya baik. Mengingat semua itu, Syadza hanya bisa meringkuk di balik selimut sesekali menghembuskan nafas kasar, menahan sesak di d**a, dan menahan tangisan. Cemburu itu lumrah, tapi jika yang dicemburui tidak peka Syadza tidak mau. Ya, seperti ini. Ia masih mendengar kekehan Syauqi di ruang makan tanpa mau mendatanginya dan merayu agar panas dalam d**a mereda. Benar-benar menyebalkan batin Syadza. "Ekhm," Tak lama ia berbaring, suara berat itu terdengar. Tanpa perduli, Syada menutup matanya. "Sayang..." panggil Syauqi terkekeh di depan Istrinya yang berbaring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Batin Syauqi, pasti panas sekali, terlebih cintanya itu lupa menyalakan pendingin ruangan. "Sya..." Syadza diam, tak menjawab. Ia sedang merajuk. "Berpenampilan terbaik kan merupakan ikhtiar Mas supaya mereka yang berkerja sama dengan perusahaan kita tidak memandang rendah," ujar Syauqi memberi pengertian. "Mas ngga ngerti!" Ngga ngerti apa lagi ini, batin Syauqi. "Maksudnya gimana Sayang?" tanyanya lembut. Menyentuh puncak kepala Syadza yang tertutup selimut tebal. "Buka dulu selimutnya, memangnya tidak panas?" "Ya panas lah, mas ngga ngerti." "Ngga ngerti apa lagi? Sudah dijelaskan, berpenampilan baik itu kan bagus sayang, asal tidak berlebihan," "Ck," Syadza segera bagun, membuka selimut yang menutupi dirinya, duduk dan menata tajam suaminya yang terkekeh. "Mas!" "Mm, kenapa?" "Aku tuh ngga bisa," "Ngga bisa apa, hum?" "Mas itu ngga ngerti, banyak akhwat yang ambil gambar. Tadi juga kenapa semepet – sempetnya nanyain tentang polihami? Kamu ngga diem – diem nikahin perempuan lain kan? "Pffft...." Syauqi tertawa kecang, mendudukan diri di samping istrinya yang bergeser seolah tak mau berdekatan dengannya. "Jangan ketawa," "Okeoke, jadi? Mau istriku ini apa?" "Ya apa aja. Mas, sebelum kita menikah. Aku pernah memberi persyaratan jika aku tidak mau dipoligami. Bukan aku menentang poligami, melainkan aku merasa tidak mampu. Jika memang Mas ingin menikah lagi, cerikanlah aku terlebih dahulu. Demi Allah, aku lebih ridho, Mas... Semoga Mas tidak lupa," Ucap Syadza dengan mata yang berkaca, ia membayangkan apabila Allah berkehendak agar ia berbagi apakah jiwanya sanggup. Sementara Syauqi tersenyum, membawa kekasihnya ke dalam pelukannya. Ditepuk punggung istrinya memberikan ketenangan. "Nangis saja nggapapa," ujar Syauqi. Beberapa detik kemudian terdengar isakan kecil dari bibir pucat wanita perindu Surga. **** "Kamu cemburu?" tanya Syauqi, "Mmm," jawab Syadza singkat. "Alhamdulillah," ucap syukur Syauqi sembari memeluk erat kekasihnya. "Mas bahagia ketika si cantik ini cemburu," "Huh? Kenapa?" "Cemburu adalah salah satu sifat Allah. QS. Al Araf ayat 33. Ats-Tsauri meriwayatkan dari Hammad bin Ibrahim, dari Abdullah yang telah mengatakan, "Sesungguhnya Allah benar-benar cemburu karena orang muslim, maka hendaklah dia pun cemburu karenanya," "Sesungguhnya Allah SAW itu pencemburu, maka hendaklah seseorang di antara kalian pun punya rasa cemburu,". Syadza tak bergeming, ia semakin mengeratkan dekapannya pada sang kekasih. "Kok Mas bisa hafal sampai periwayatannya?" ujar Syadza takjub. "Makanya belajar!" "Ehe, terus?" "Perhatikanlah kecemburuan Aisyah terhadap Khadijah. Kecemburuannya begitu kuat meskipun wanita mulia itu sudah meninggal dunia. Demikian kecemburuan Aisyah RA karena kecintaannya pada Rosulullah SAW yang begitu kuat. Maka, betapa bahagianya Mas ketika tau jika istriku begitu cemburu," "Maaf Mas, aku berlebihan," "Tidak sama sekali, terimakasih banyak sudah cemburu. Insyaallah dengan baik Mas akan jaga hati untuk kamu. Kita ikhtiar bersama dan mohon ampun pada Allah," "Mm," "Besok Ahad, kita jalan-jalan ya?" "Wahh! Siapp!" Syadza tersenyum senang... "Ya sudah, mandilah. Jangan lupa keramas, rambutmu bau pengap," perintah Syauqi. "Mas! Aku baru keramas loh!" "Hahaha, tapi bau ngga sedep Sya," "Ck, nyari gara-gara ini sama istri," "Hahaha..." Syauqi langsung melindungi dirinya dengan bantal sebelum istrinya mencubit pinggangnya. Teruntuk Allah... Rasanya kotor sekali jika aku lupa bersyukur dengan nikmat-Mu Rasanya aku manusia paling hina jika aku tak jatuh cinta kepadamu... Demi Engkau yang memberkahi hidupku dengan kebahagiaan... Aku sangat betrimakasih pada-Mu... Cinta-Mu dan lindungan-Mu selalu ku dambakan Wahai kekasih Kami... Wahai yang selalu Kami rindukan... Lindungi Jaga Dan Ridhoi kami... Agar kami selalu bahagia atas karuniamu... Allah, aku mencintaimu sehingga aku mencintainya... *** BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN