Dari asa
Aku uraikan tentang duka
Tentang aku yang terdiam tak bersua
Entah bagaimana aku bercerita
Yang aku tau saat ini inginku hanya dia
Dari jiwa penuh luka
Aku memilih berlayar kembali turunkan jangkar di tengah samudera
Tinggalkan separuh jiwa yang tak lagi perduli perihal cinta
Aku terluka
Tapi aku tak butuh kain kasa
Aku hanya butuh prakata cinta
Tapi tiada lagi hal semacam serupa
Aku terkapar penuh lebam dalam jiwaku
Karena kekasih yang tak lagi mengasihi dara seperti aku
Tuan, sudikah engkau kembali membuatkanku jubah ternyaman di dunia sebelum aku kembali ke tangan Tuhan?
Karena jiwaku yang mulai menyerah terhadap catatan ciptaannya
-Dari Istrimu-
***
Chapter 8
** ** **
"Afwan Ustadzah, sudah waktunya Ustadzah pulang... Takutnya dicari suami Ustadzah," tutur Hanin dengan sopan.
Mendengar kata Suami, ia terluka. Seolah busur panah menancap d**a kirinya dan membuatnya hancur.
"Bisakah saya minta tolong Hanin?" ujar Syadza.
"Insyaallah Ustadzah,"
"Antarkan saya ke alamat ini, saya tidak pulang ke rumah..." tutur Syadza sembari menunjukan alamat rumah Hafidz dan Tania. Keduanya menikah tiga bulan setelah pernikahan Syauqi dan Syadza.
"Naam Ustadzah,"
"Bisa? Jika tidak bisa, antarkan saja saya ke stasiun kereta. Tampaknya terlalu jauh jikalau kalian mengantar saya. Pasti berat," kata Syadza dengan penuh harap.
"Tak apa Ustadzah, kami bisa. Bahkan bagi kami, jarak jauh tak masalah dibandingkan dengan ilmu yang Ustadzah berikan pada kami,"
"Maasyaallah Tabarakallah..."
Syadza tersanjung dan takjub dengan sikap Hanin yang begitu menghormati gurunya. Tak jarang di zaman IT yang maju, banyak sekali murid yang berperilaku tak seonoh pada gurunya. Padahal ia tak tahu bagaimana bergunanya ilmu yang ia dapatkan.
"Tak apa Hanin, antarkan saya ke Stasiun saja."
"Naam Ustadzah, biar kami pesankan tiketnya."
"Jazzakillah khairan katsir Hanin,"
"Afwan Ustadzah,"
"Ayo kita bersiap," tutur Syadza sembari melangkah meninggalkan roftoop dan berusaha mengalihkan pikirannya terhadap Syauqi.
Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit. Tiga orang mahasiswa sekaligus santri berpamitan di depan gerbang stasiun karena tugasnya telah selesai. Syadza tersenyum, memeluk ketiganya penuh cinta, tak lupa mengucapkan rasa terimakasih karena mengantar dan memesankan tiket untuknya.
Hanin dan kedua temannya pergi, senja mulai tampak. Langit sendu berwarna orange begitu memikat. Desiran angin serta suara ranting tampak jelas. Tangan wanita bercadar itu saling bertautan menahan gejolak tak biasa dalam hatinya.
Rindu namun tak ingin kembali.
Itulah yang ia rasakan, berkali-kali ponsel dengan merk terkenal itu menyala menampakan notifikasi email, sms, watshapp dan telepon dari Syauqi tapi tak ia hiraukan. Hatinya masih belum siap mendengar tutur suaminya itu.
Yang jelas, ia terluka. Sangat terluka... Cintanya telah di duakan tanpa sepengetahuannya. Bukankah itu mengerikan.
Senja semakin tampak, warna jingga mulai pudar berganti gelap. Suara kereta api menggema di seluruh stasiun.
Tuhan...
Aku ingin pergi namun tak hilang di mata kekasih
Tuhan...
Aku begitu rindu namun jiwa tak sudi menatap mata kekasih
Tuhan...
Sampaikan salamku...
Aku hanya pergi sejenak
Tak akan lama
Yakinkan padanya untuk bertahan sejenak
Aku hanya ingin berdamai dengn egoku
Yakinkan padanya aku akan kembali...
Tuhan, aku mencintainya
Namun lukaku mengalahkan segalanya...
-Aira Syadza.
Aku tak punya banyak kalimat untuk menceritakan bagaimana menderitanya diriku.
Maaf...
***
"Assalamualaikum!!! Abanggg, Taniaaa. Ada tamu nih,"
Suaranya terdengar keras. Setelah menempuh perjalanan dua setengah jam menuju kampung halamannya. Ia merasa lebih baik, akhirnya bisa kembali ke kampung halaman tanpa menunggu libur mudik lebaran bersama Syauqi. Selama keduanya menikah, Syauqi tak pernah mengizinkan Ia pergi dan menempuh perjalanan lebih dari satu jam seorang diri. Bagi Syadza itu berlebihan sekali, tapi begitulah bentuk cinta Syauqi padanya.
Setelah menyerukan salam, tak kunjung ia dapat jawaban. Syadza membuang nafasnya kasar, ia sudah lelah baik fisik dan batinnya, tapi mengapa sepasang kekasih yang menghuni rumah sederhana di hadapannya tak kunjung membukannya. Dengan berat hati dan tenaga seadanya, ia kembali menyerukan salam.
"Assalamualaikum!! Abaaaang, Taniaaa. Ini Aisya, bukain bangg,"
Layaknya remaja berumur dua belas tahun, ia berkali kali menghentakan kalinya pada keramik putih berukuran besar. Memberi kesan mewah yang menyenangkan.
"Ahh, Abang ngga seru." Ia menggerutu sendiri di depan pintu. Tak kunjung di buka.
Beberapa menit kemudian suara knop pintu membuat bibirnya melengkung indah, matanya berbinar dan saat itu juga ketika Hafidz terlihat di ambang pintu, Syadza langsung berhambur memeluk saudara se persusuannya itu.
"Yeyyyy! Akhirnya dibuka," kekeh Syadza dalam dekapan Hafidz.
"Aisya, kamu berat dan Abang sesek nafasnya. Lepas gih Sya," keluh Hafidz berusaha melepas rengkuhan Syadza.
"Jawab salam dulu ngapa Bang, ngeluhnya bentaran gitu, wajib loh..."
"Waalaikummusallam Sya, Syauqi mana? Kok tumben sendirian? Emang boleh? Biasanya posesif banget si bos muda itu?"
Syadza kikuk seketika. Ia melepas pelukannya dan berjalan ke arah Tania yang sudah melambaikan tangan padanya. Dengan gembira ia berjalan lalu menjawab tanya dari Hafidz.
"Syauqi sibuk Bang, lupa kali sama istrinya yang gemesin ini hihi," ia tertawa memenuhi ruangan. Tawa yang begitu konyol baginya.
"Uhhh, kok bisa anak kamu sama bang Hafidz lucu begini, bagi dong..."
Syadza mengambil alih Fatimah yang berada di gendongan Tania.
Alhamdulillah, Allah mempercayai Hafidz dan Tania terlebih dahulu dibandingkan dirinya. Pasangan yang menikah tiga bulan setelah Syauqi dan Syadza itu langsung dititipi amanah oleh Allah dua minggu setelahnya. Subhanallah, apa yang Allah sudah tentukan maka tidak ada yang mustahil. Sebelumnya banyak yang mengatakan jika Tania tengah mengandung sebelum menikah, namun setelah usia kandungannya diketahui. Fitnah semacam itu langsung saja hilang. Memang hidup itu tak akan selurus jalan Tol.
"Jangan nyerah berdo'a Sya. Allah pasti kasih yang terbaik untuk kalian," nasehat Tania sembari membantu melepaskan masker yang menutupi wajah Syadza.
"Iya, aku ngga akan pernah berhenti berharap sama Allah. Entah tentang anak, hidupku, suamiku dan segalanya. Tapi kadang aku juga merasa jika Allah tak pernah melihat aku. Hingga aku berada dititik lemah, aku meragukan Allah. Huh, begitulah aku. Kamu tau sendiri kan Tania."
Tania terkekeh. Ia berjalan ke dapur diikuti Syadza. Sembari membuat teh hangat, obrolan masih saja berlanjut.
"Ya, itulah menusia. Ingat? Kata Ustadzah Maryam waktu kita kajian satu minggu sebelum kita pulang ke kampung. Manusia itu terkadang tidak waras. Terdengar kasar ya memang. Tapi realitanya begitu, ketika bahagia ia tak ingat Allah. Tapi ketika dilanda musibah, ia menyalahkan Allah. Anehnya kita."
Syadza mengangguk benar. Batinnya untung Tania tidak menanyakan hal serupa seperti Hafidz.
"Eh, Syauqi dimana? Kok tumben kalian sendiri-sendiri?" tanya Tania mendadak.
Batin Syadza apes. Ia berbalik mencoba menghindar, berakting sibuk dengan bayi yang tengah berada di dekapannya.
"Aira Syadza, kamu lupa kalo aku punya indra ke tujuh?"
"Hahaha, oke-oke. Tapi syaratnya, aku harus tidur denganmu malam ini dan aku mandi dulu oke."
Tania hampir tidak setuju, itu artinya Hafidz tidak bersamanya malam ini.
"Aku janji hanya malam ini Tania,"
Tania berpikir keras.
"Oke! Setuju,"