9. Ku Menunggu

1064 Kata
"Gendong?" dengan bibir menjebi-jebi seperti bayi yang menjeda tangis saat tantrum, Agnia memastikan maksud Anggara yang berjongkok. "Iya!" sahut sang suami, singkat. "Gak mau ah, takut encoknya om kumat!" seru gadis itu dengan merengut. Seketika, Anggara berpaling kesal dan langsung mengusap wajah sang istri. "Enak saja, saya ini rajin nge-gym!" sanggah Anggara tak terima. "Tetep aja Om dah tuir, buktinya tadi ada-" ucapan Agnia terpotong saat menggendikkan bahu, tubuhnya tiba-tiba melambung keudara. Tanpa memberi peringatan, Anggara langsung menggendong gadis itu walau kini dengan gaya bridal. "Om!" tentu saja itu membuat Agnia terpekik, tangannya pun reflek mengalung dileher sang suami. "Baju kamu kotor dan basah, saya cuma kasian sama bi Ita yang ngebersihin lantai." sergah Anggara mencoba menyembunyikan alasan sebenarnya, yang ia sendiri pun kurang paham. Seketika wajah Agnia makin memberengut memandangi wajah suaminya dari dekat tanpa bersuara, mancing banget buat dicakar. Sesampainya dikamar, ia hanya mengucap terimakasih sebelum pria itu benar-benar pergi, dan iapun bergegas bebersih untuk menyempatkan diri bertemu putri kesayangan. "Pokoknya, kaka harus minta dibeliin sepeda listrik sama papa!" bujuk Agnia merayu gadis remaja itu agar mau merengek untuknya. "Loh, bukannya kemarin kata papa gak boleh!" Caca yang pintar ternyata masih ingat keputusan sang papa saat Agnia mengajukan permintaan yang sama. "Itu kan kemarin, ka! Siapa tahu besok berubah pikiran kalau kaka yang minta!" "Ayodong ka, biar kita bisa boncengan berdua!" lanjut Agnia merayu mengimingi. Gadis remaja yang bersamanya hanya bisa terdiam dengan anggukan kecil ragu-ragu. Pertanda bahwa dirinya bersedia sekali lagi membujuk sang papa, yang kali ini mengatasnamakan dirinya. Pagi menyapa, suasana dikediaman mewah Anggara tentulah sangat sempurna karena memang sudah tertata sedemikian rupa. Kegiatan harian yang rutin dilaksanakan membuat rumah yang berpenghuni tiga orang itu terlihat sangat sibuk. Walaupun sebenarnya, mereka yang paling sibuk adalah para asisten rumah tangga. Akan tetapi, semenjak ada Agnia, ruangan dapur itu menjadi wilayah kekuasaannya apalagi saat menjelang waktu sarapan. "Pagi kaka!" sapa Agnia dengan senyuman hangatnya menyambut kehadiran Hasya sambil menyuguhkan s**u kocok lengkap dengan sandwich isi telur ceplok diatas meja. "Pagi bunda..." balasnya menghampiri dimeja makan. Hasya sudah siap dengan seragam sekolah, pun dengan Agnia beserta menu sarapan mereka. Akan tetapi, kursi yang biasa ditempati Anggara ternyata masih kosong. Gadis remaja itu teringat pada pesan Agnia semalam, dan ia juga sudah siap dengan segala jurus rayuan maut demi mewujudkan keinginan ibu sambung. Karena itulah, ia mencari-cari dan menanyakan keberadaan Anggara. "Bun, papa mana?" Meanwhile "Hahahaha..." "Emesh banget sugar daddy encok!" "Terus aja terus, gua doain bokerlu mampet, b*****t!" Anggara tak bisa menutupi perasan menggelitiknya ketika mendengar cerita Aarav saat jatuh didepan seorang gadis yang ditaksir, sampai-sampai cidera pinggang tersebut membuat prianya terbaring dirumah sakit. Aarav pun tak kuasa untuk tidak melontarkan sumpah serapah atas gelakan tawa Anggara. Dasar vakyu, padahal ia berharap Anggara mengerti dan jadi penyemangat, tapi sialan, sugar daddy yang baru uji coba itu malah menertawakan tanpa rasa bersalah apalagi iba. "Habisnya cerita lo kocak." Anggara masih terkikik didalam toilet. Karena mendengar pantulan suara berisik dari kamar mandi papanya, Hasya yang baru masuk kekamar sang papa langsung mengetuk pintu. "Pa... papa ngapain?" Menyela kehebohan Anggara seorang diri di bilik kecil tersebut, suara Hasya tiba-tiba membuat Anggara tersentak. "Kaka yang ngapain nyariin papa?" Anggara terpaksa berteriak dari dalam. "Bukannya kalo lagi ditoilet gak boleh ketawa-tawa?" komentar Hasya dengan polos. "Siapa yang ketawa ka, papa masih sakit perut nih, jangan ganggu!" kikuk setelah tertangkap basah, Anggara terpaksa memberi alasan lain. "Yaudah, papa jangan lupa sarapan, Caca sama bunda mau berangkat!" terang Caca pada akhirnya. "Hmm... sorry ya ka, kalian sama pak Purnomo dulu!" terpaksa sambil pura mengedan Anggara meminta putrinya kesekolah bersama supir keluarga. "Iya pa!" Masih ada hari esok, Hasya berlalu dan otomatis upaya minta dibelikan sepeda listrik untuk bunda terpaksa dipending, namun begitu Agnia tak kecewa. . . . "Nia, abis ini lo mau kemana?" Tiara sengaja datang menghampiri Agnia saat jam kuliah telah berakhir. Agnia masih sibuk mengemasi barang-barang, ia hanya menanggapi perkataan sahabatnya hanya dengan menggendikkan bahu. "Dih, lu denger omongan gue gak?" seketika Tiara berteriak karena jengkel dengan respon Agnia. Sontak, beberapa teman yang juga masih berada diruangan itu menutup telinga dengan headseat, tak tahan dengan suara cempreng Tiara, pun dengan Agnia yang sigap menutup kedua telinganya dengan tangan. "Denger kok gue!" kesal Agnia sedikit meninggikan intonasinya. "Trus napa lu kayak gitu, apa ada yang disembunyiin dari gue?" tudingnya seraya menunjuk dengan mata memicing. "Dasar teman gak tahu diri!" Agnia mencebik, ia menggantung tali tas dipunggung kemudian beranjak pergi meninggalkan Tiara sambil memutar mata malas. "Eh, sorry deh, kemarin itu gue ada keperluan mendadak!" Tiara heboh, ia akhirnya sadar mengapa sampai dicueki. "Terusin aja ngilang-ngilang, sekalian lu ngilang ke mars, gue gak peduli." Agnia makin menanggapi ketus. "Sorry banget, Nia," Tiara terus mengejar si gadis berhijab pashmina yang berjalan cepat menyusuri koridor sambil mencoba meraih tangan gadis itu, walau keberadaannya sama sekali tak dihiraukan. "Tapi by the way, kemarin lu gimana pulangnya." Tiara pun baru ingat jika kemarin sore Agnia tak memegang uang sepeserpun. Karena mereka sudah berjalan bersisian, Agnia pun berhenti melangkah dan memandang Tiara seraya mendengkus. "Bukan urusan lo!" sentak Agnia yang kesal. Drrttt Debat kedua gadis itu langsung berakhir ketika terdengar sebuah suara getaran. Tiara bergegas memeriksa tas dan melihat layar ponselnya, namun ternyata milik Tiara sama sekali tidak menunjukkan adanya aktifitas apapun, ia beralih melihat ke arah Agnia yang hanya terdiam memperhatikan. "Bukan punya gue..." ucap Tiara ketus memberitahu. Barulah Agnia menyadari ternyata getar panggilan itu dari ponsel miliknya. Iapun makin dibuat terkejut karena panggilan tersebut berasal dari Dokter Aarav. Alamak, simpang siur yang bukan-bukan bisa saja terjadi kalau sampai Tiara tahu. "Minggir, gua mau angkat telpon dari CEO!" seru Agnia jauh-jauh menghindar sebelum menerima telpon, tak peduli sekesal apa ekspresi sahabatnya. "Selamat sore pak!" sapa Agnia. "Sore!" suara lembut Aarav pun menyejukkan jiwa. "A-ada apa ya pak?" tanya Agnia terbata, ia khawatir jika Aarav menagih hutangnya kemarin, sementara uangnya saat ini hanya tersisa dua puluh ribu. "Saya pikir hari ini kamu datang jengukin saya." ucap Aarav tanpa berbelit dan langsung pada intinya. "Eh..." Agnia langsung tersentak merasa diultimatum. "Emm maaf pak, saya lupa!" ucapnya kemudian, ia menggaruk tengkuk yang tidak gatal, walau tak enak hati tapi gadis itu tetap berusaha berkata jujur, yang menjelaskan jika fokusnya hanya tertuju pada mata kuliah. "Gak papa, itu artinya kamu bersungguh-sungguh dalam pelajaran." puji Aarav sembari mengangguk maklum diseberang sana. "Gak juga pak!" diujung telepon, Agnia pun ikut cengengesan dan malu malu. "Jadi kapan kamu kesini?" "Hah??"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN