Bab 1

747 Kata
Perjodohan di zaman modern seperti sekarang rasanya sudah sangat jarang. Namun, sebagai anak tunggal, Sandra dituntut untuk hidup sesuai ekspektasi orangtuanya. Ah, Sandra tahu tidak semua orang seperti orangtuanya. Hanya saja, seperti inilah nasibnya. Alih-alih memilih suami yang sesuai kehendaknya sendiri, kedua orangtuanya malah sudah repot-repot menyiapkan calon suami untuknya. Namanya Fajar Sanjaya. Usianya terpaut 6 tahun dengan Sandra. Setahu Sandra, Fajar memiliki bisnis pergudangan, yakni di bidang distribusi makanan yang penghasilannya menjanjikan sehingga istrinya kelak akan hidup tanpa khawatir kekurangan harta. Ya, orang bilang Fajar adalah tipe suami idaman, kesuksesan yang diraihnya adalah hasil jerik payahnya sendiri, padahal orangtuanya termasuk berada. Selain itu, rupanya Fajar juga terkenal memiliki pribadi yang santun. Dengan dalih perjanjian kedua orangtua Fajar dengan kedua orangtua Sandra 24 tahun silam, terciptalah suatu keputusan yang mengikat Fajar dengan Sandra. Keputusan yang orang-orang sebut dengan nama perjodohan.. Beruntung? Ah, mungkin orang-orang berpikir Sandra adalah wanita paling beruntung. Namun, tanpa mereka sadari sebenarnya Sandra merasa takut. Bagaimana tidak, selama ini Sandra menganggap bahwa pernikahan terjadi jika dua insan saling mencintai. Namun, kalaupun ia benar-benar menikah dengan Fajar ... bukankah tidak ada cinta di antara mereka? Sangat mengerikan, bukan? Bagaimana jika mereka tidak cocok sehingga mengecewakan kedua orangtua masing-masing? Ah, tapi apa mau dikata. Sandra tetap harus bertemu Fajar hari ini. Lanjut atau tidaknya perjodohan ini, mereka harus tetap bertemu. Sejujurnya Sandra pernah bertemu Fajar satu kali, yakni saat dirinya masih SMA. Saat itu Sandra sama sekali belum tahu kalau pria itu sudah diputuskan menjadi calon suaminya. Lagi pula Sandra tidak pernah mengingat-ingat wajah orang yang menurutnya asing, itu sebabnya ia menganggap hari ini adalah pertemuan pertamanya dengan Fajar. Sandra baru tahu tentang perjodohan mereka tepat satu bulan yang lalu, saat orangtuanya memberi tahu hal ini. Juga, Fajar mengirimkan pesan w******p untuk pertama kalinya dan mengatakan tentang semuanya. Sampai pada akhirnya, di sinilah Sandra berada. Irama dari high heels yang Sandra pakai terdengar teratur seiring langkahnya mendekati meja paling pojok dekat jendela tempat Fajar menunggunya. Entahlah, Sandra sendiri tidak sepenuhnya menerima perjodohan ini. Namun, tak bisa dimungkiri jantungnya malah berdegup sangat cepat. "Permisi," sapa Sandra, membuat Fajar yang semula sibuk dengan ponselnya kini mendongak. "Sandra, ya?" Sandra pun mengangguk. "Ini ... Mas Fajar?" Fajar langsung meletakkan ponselnya di meja. "Iya, silakan duduk." Sandra pun melakukan apa yang Fajar persilakan. Ditatapnya wajah Fajar yang ternyata berkali-kali lipat lebih tampan dari foto profil WA-nya. "Maaf kalau bikin Mas Fajar nunggu." "Enggak, kok. Saya di sini belum ada sepuluh menit." "Hmm, syukurlah kalau begitu." Selama beberapa saat, mereka memesan minuman. Hanya minuman. Lalu, setelah pelayan meletakkan minuman pesanan mereka di meja. Keduanya pun saling berpandangan sejenak. Menunggu siapa yang akan memulai pembicaraan lebih dulu. "Saya langsung aja, ya." Rupanya Fajar yang membuka pembicaraan. Sejujurnya Sandra agak canggung. Tapi tetap saja ia harus menjawab, "Iya, Mas. Silakan." "Kamu setuju sama perjodohan ini?" Selama beberapa saat Sandra terdiam. Sejujurnya ia sudah memiliki pacar. Namun, ia sudah cukup pasrah dengan keputusan orangtuanya. Menurut Sandra, kedua orangtuanya tidak mungkin memilih pria sembarangan sebagai calon suaminya. Seandainya Fajar bukan pria baik-baik, tentu saja orangtuanya tidak mungkin melanjutkan perjodohan ini. Untuk itu, Sandra sudah memutuskan ... jika Fajar setuju, ia pun sama. Terlebih Fajar mendekati sempurna. Memiliki suami seperti pria di hadapannya ini, Sandra rasa bukanlah keputusan yang buruk. Sandra bahkan belakangan ini berusaha mencari cara agar bisa putus baik-baik dengan pacarnya. "Aku sendiri masih bingung, Mas. Ditambah lagi, sejujurnya aku nggak pernah membayangkan menikah di usia sekarang." "Kalau saya setuju," ucap Fajar yang membuat Sandra terkejut. Ya, ia tidak menyangka pria di hadapannya itu bersedia secepat ini. "Eh?" "Iya, saya setuju kita menikah." Sontak Sandra makin gugup. "A-aku sebenarnya ikut keputusan Mas Fajar saja. Kalau Mas setuju, mungkin beginilah takdirnya," jawab Sandra pasrah. Ya Tuhan, sungguh ia sangat gugup. Selain itu, jika perjodohan ini resmi dilanjutkan, Sandra harus benar-benar mencari cara untuk memutuskan hubungannya dengan Romi, sang pacar. "Kamu punya pacar?" tanya Fajar kemudian. Lagi-lagi Sandra terkesiap. "Se-sejujurnya punya, Mas. Tapi kalau perjodohan ini dilanjutkan ... aku akan mengakhiri hubungan kami." "Enggak usah." "Eh? Maksudnya gimana, Mas?" "Saya juga punya pacar." "Hah? Aku benar-benar nggak ngerti, Mas." Ya, tentu saja Sandra tidak mengerti. Jika Fajar sudah memiliki pacar dan enggan memutuskannya, bukankah perjodohan ini seharusnya dihentikan? Namun, kenapa Fajar ingin melanjutkan sampai ke jenjang pernikahan? Sumpah demi apa pun Sandra tidak habis pikir. "Maksudnya kita menikah. Tapi kamu jangan putus sama pacarmu. Silakan menjalin asmara sesukamu. Saya juga tetap akan berhubungan dengan pacar saya." Sandra semakin terkejut. "Apa?! Lalu untuk apa kita menikah, Mas?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN