Pandu menghentikan mobilnya, menarik rem tangan, segera turun dari mobilnya dan berlari kecil untuk membukakan pintu mobil untuk Tari. Tari tersenyum kecil, Pandu manis, tapi wajah itu tak tersenyum sedikit pun, sangat konyol. Tak menggandeng, Pandu hanya berjalan bersisian dengan Tari, berdehem, tenggorokannya kering mendadak, “Aku ... senang kamu mengambil keputusan yang tepat.” “Keputusan apa?” “Hm ... putus dengan Rizky.” Pandu mengangguk ke pekerja yang menyambutnya, sengaja datang ke salah satu hotel papanya, dia hanya ingin memberi Tari kenyamanan setelah mendapatkan izin dari bunda Tari kalau ingin mengajak putrinya ke luar tadi. Pandu di antar ke kamar khusus yang biasa digunakan oleh papanya, kamar tipe kelas satu ini membuat Pandu langsung nyaman saat menjatuhkan diri, mereb

