Tak ada yang menyenangkan. Pandu tetap tak bisa berpaling dari Rio, ditambah dengan sosok itu yang tak terlalu menganggapnya ada, menyapa semua orang sesukanya, membuat Pandu semakin ingin mengamuk saja.
”Ternyata yang ini juga enak. Pandu, kamu mau?” Tari menyodorkan garpu dengan daging kalkun di ujungnya.
Pandu melirik, membuka mulut untuk menerima suapan itu. “Ya, rasanya enak.” Pandu menoleh ke mamanya, “Apa masih lama, Ma? Aku lelah.” Ingin segera pergi dari pesta yang memuakan ini.
“Habiskan makananmu, Pandu. Setelah ini kita pulang.”
Benar saja, Pandu mengemudi mobil sekarang. Sesampainya di rumah, segera masuk ke kamar, tak peduli dengan Tari yang banyak pertanyaan sedari tadi.
***
Tari baru saja membantu mama Pandu menyiapkan sarapan. Setelah ini dia akan meminta Pandu untuk mengantarnya pulang.
“Apa kalian banyak bicara semalam?” tanya mama Pandu.
“Awalnya iya, Ma. Sebelum Rio datang.”
“Rio?”
Tari tersenyum, “Model yang mengisi acara semalam. Sepertinya dia teman Pandu, entah apa yang mereka bicarakan, Pandu sepertinya sedang merencanakan sesuatu.” Tari cukup mengawasi Pandu. Sepertinya Rio teman yang lebih dekat dari pada Rizky.
Mama Pandu tersenyum, “Bangunkan dia. Kita sarapan dan membicarakan hal lain lagi setelah ini.”
Tari mengangguk. Ke kamar Pandu, melihat Pandu sudah siap dengan pakaian rapinya, “Sarapan sudah siap.” Ucapnya sambil duduk di ranjang Pandu. Rapi untuk ukuran pria dewasa, selimutnya juga sudah dilipat, tak ada jejak kotor di seprei yang terpasang.
“Aku akan ke luar setelah ini. Kamu pulang jam berapa?” Pandu sedang sibuk menata belah rambut.
“Aku ikut denganmu saja. Antar aku pulang dulu, Rizky ... mengajakku jalan-jalan siang ini.”
Pandu mengangguk, “Ayo!” mengajak Tari untuk turun, segera sarapan, dan mengantar Tari pulang. Meski mengatakan ke mamanya untuk pergi ke suatu tempat. Tak ingin mamanya mengkhawatirkan hal yang tidak disukai. Pandu segera mengantar Tari pulang, tanpa mampir atau bahkan mengatakan apa pun, setelahnya dia melesat cepat ke rumah Rio.
Satpam yang sudah mengenalnya dengan baik, membukakan gerbang untuknya, Pandu hanya tersenyum simpul. Masuk, mencari Rio yang ternyata sibuk dengan roti dan selainya di meja makan. “Aku lapar.” Mengambil roti di tangan Rio tanpa permisi, memakannya dengan cuek. Dia akan mengganggu Rio hari ini.
“Tidurmu nyenyak?” Rio mengambil roti lagi, mengolesnya dengan selai coklat yang digabung dengan irisan alpukat.
Pandu tak menjawab pertanyaan itu, menghabiskan rotinya, dan berniat meraih kembali roti milik Rio.
“Pandu!” Rio menjauhkan rotinya, menatap Pandu dengan sinis. Saat Pandu terkekeh, Rio tahu semua hanya godaan Pandu yang memang sengaja.
Pandu berdiri, mendekat ke Rio yang duduk di seberang meja, “Cepat, aku ingin mengajakmu berenang hari ini.” Menepuk pundak Rio, berlalu ke ruang TV. Dia akan menunggu Rio dengan melihat kartun saja, tahu kalau Rio biasanya akan lama saat bersiap-siap.
Tari...
Sudah ganti baju dan berdandan. Ke kafe Rizky dengan mengenakan pakaian berwarna sama dengan Rizky.
“Aku bisa menjemputmu, Sayang.” Rizky membuka tangan, memeluk Tari yang baru saja tiba di kafenya. Sangat cantik, Rizky suka melihat Tari yang seperti ini.
Tari tersenyum, memeluk Rizky, melumat bibir itu lebih dulu, “Kita berangkat sekarang?” saat Rizky mengangguk, Tari pun tak jadi duduk. Ikut ke mobil, memasang sabuk pengaman, tak bertanya entah Rizky akan mengajaknya ke mana. Setelah mobil itu berhenti di dermaga dengan kapal tak terlalu besar, sepertinya Rizky sengaja menyewanya untuk acara kencan ini. Tari menoleh, “Sayang?”
“Happy birthday ...” Rizky membuka ke dua tangannya, “Tari ... .”
Tari tersenyum lebar, menutup bibirnya dengan ke dua tangan, masuk ke pelukan Rizky, “Terima kasih, Sayang.” Tari tidak menyangka akan dapat kejutan menyenangkan ini. Dia tak pernah mengingat kapan tanggal lahirnya, di keluarga tak terlalu penting merayakan semua ini. Rizky memang baik, hanya saja tangannya yang terlalu ringan, membuat Tari kadang lelah menghadapi kekasihnya ini.
“Ayo naik! Hari ini milikmu.” Rizky mengajak Tari, kapal yang mulai dijalankan, musik yang diputar dengan volume cukup, Rizky mengajak Tari untuk berdansa ala kadarnya. Bersama dengan angin yang membawa terbang rambut, dan burung yang mengitari.
Meski cukup terik, Rizky tetap akan membuat Tari nyaman di sini bersamanya.
Tari terus memeluk. Musik yang tadinya sendu, mulai bertempo cepat, Rizky mengajaknya duduk. Hidangan yang menggiurkan ada di depan mata, Tari merasa jadi ratu hari ini. “Terima kasih, Sayang.” Entah itu ucapan yang ke berapa kalinya. Tari suka saat Rizky seperti ini.
“Makanlah.” Rizky mengambil garpu, menikmati pasta, sesekali tersenyum ke Tari. Dia merencanakan hal baik hari ini.
Banyak yang Tari perbincangkan, hingga sampai di satu pertanyaan di mana sudah dia rangkai agar tidak mengundang curiga. “Pandu dan Rio, kamu juga kenal, Sayang?” tanya Tari setelah membahas tentang Pandu yang didahului oleh Rizky sendiri, meski Tari yang memancingnya tadi.
“Ya. Mereka teman gym. Aku dulu juga sering gym, tapi sepertinya waktuku akan terbuang percuma, jadi ... aku sudah tidak ke sana lagi.” Rizky melahap lagi makanannya. Ada udang di piringnya, sengaja menusuk, dan menyuapkannya ke Tari.
Tari tersenyum, membuka mulutnya, udang yang manis itu memanjakan lidah.
“Biarkan saja Pandu dan Rio, jangan mencari masalah dengan mereka.”
Tari mengerutkan kening, “Maksudmu?” pernyataan itu ambigu menurutnya.
Rizky terkekeh, “Rio itu pacarnya Pandu, mangkanya mama dan papanya sibuk mencarikan istri untuk Pandu agar Pandu kembali ke jalan yang benar. Ya ... seperti itu, gay.”
Tari menelan ludah. Di balik semua perjodohan ini, banyak hal yang tak dia ketahui. Harusnya dia mencari tahu lebih dulu, bukan malah langsung menerima seperti ini. Seolah tak habis pikir, apa Pandu benar-benar seperti itu? Rio sangat baik, ke duanya juga biasa saja, Tari menggeleng, menepis pikirannya yang mulai kotor.
“Silakan.”
Saat pelayan mengantarkan puding, Tari tersenyum, mengambil sendoknya, menyendok puding, dan berniat untuk menikmatinya. “Apa ini?” gumamnya menemukan benda aneh di dalam puding itu. “Rizky?” dia tahu, hanya ingin memastikannya saja.
Rizky pun terkekeh, mengangguk dan mengambilnya. Mencucinya dengan air putih di depannya, dan mempersembahkannya ke Tari lagi, “Menikahlah denganku.” Pintanya sambil mengacungkan cincin di dalam puding tadi ke Tari. Senyumnya mengembang sempurna, dia sangat yakin dengan Tari, kekasih hatinya itu.
Tari tersenyum, tak mengangguk atau bahkan menggeleng. Meski begitu, dia tetap mengulurkan tangan kirinya, mempersilakan Rizky menyematkan cincin itu di jari manisnya. Soal Pandu, dia akan memikirkannya lagi nanti setelah semua ini selesai. Hari ini Tari benar-benar akan menikmatinya hanya dengan Rizky saja, tak mau pusing karena dia akan mencari tahu kebenaran tentang Pandu dan Rio lebih dulu.