"Aku juga kaget dan bingung waktu mendengarnya, Indah. Padahal kan kau teman baiknya. Tapi sepertinya... bagi Kak Eca, orang lain hanyalah alat saja. Kalau sudah tidak berguna atau malah menjadi beban, dia akan membuangnya begitu saja. Kasihan sekali kau, Indah... kau sudah bekerja keras merekam semuanya, tapi malah dianggap sampah olehnya."
Kata-kata itu menusuk tepat ke dalam hati dan pikiran Indah yang lemah. Ketakutan mulai merayap masuk ke dalam benaknya. Ia tahu betul betapa kejam dan egoisnya Eca. Jika Eca benar-benar memutuskan untuk menyalahkannya dan melempar semua kesalahan padanya, Indah sadar ia tidak akan mampu melawan.
"Tidak... tidak boleh begitu..." gumam Indah dengan wajah ketakutan. "Aku tidak mau dipersalahkan sendirian. Aku tidak mau masuk penjara lagi. Aku harus menyimpan semua bukti ini. Ini satu-satunya pelindungku. Kalau ada apa-apa, aku bisa menggunakan rekaman ini untuk menyeret mereka semua turun bersamaku!"
Alice tersenyum licik di dalam hati. Benih kecurigaan dan kebencian itu sudah tertanam dengan sempurna. Sekarang, ia hanya perlu menunggu waktu sampai benih itu tumbuh menjadi pohon besar yang menghancurkan hubungan mereka dari dalam.
Selanjutnya, giliran Nuvi. Nuvi selalu merasa dirinya hebat dan ditakuti karena tubuhnya yang besar dan kuat. Ia bangga bisa memukuli orang lain hingga terluka dan menangis. Tapi Alice tahu, di balik kebanggaannya itu, Nuvi sebenarnya merasa rendah diri karena ia tidak pintar dan sering dianggap bodoh oleh teman-temannya sendiri. Ia hanya diperlakukan baik karena kekuatannya, bukan karena ia dihargai sebagai teman.
Suatu hari saat jam istirahat, Nuvi sedang bercerita dengan bangganya tentang bagaimana ia memukuli seorang siswa laki-laki yang berani menatap mereka salah. Eca dan yang lainnya tertawa mendengarnya, sesekali melontarkan lelucon yang sedikit menghina kebodohan Nuvi. Nuvi hanya tertawa saja, meskipun di dalam hatinya ia merasa sakit hati dan marah, tapi ia tidak berani melawan.
Alice yang melihat itu segera mendekati Nuvi saat ia sedang sendirian di kantin.
"Wah, Kak Nuvi memang paling hebat dan kuat sekali," puji Alice dengan suara keras dan jelas, agar orang-orang di sekitar bisa mendengarnya. "Kalau tidak ada Kak Nuvi, pasti kami sudah diinjak-injak dan dihina oleh orang-orang jahat di sekolah ini. Aku sangat kagum padamu, Kak. Kau adalah pelindung kami yang paling gagah berani."
Nuvi tersenyum lebar, dadanya dibusungkan bangga mendengar pujian itu. Tidak pernah ada orang yang memujinya dengan tulus dan antusias seperti ini. Biasanya, Eca dan yang lainnya hanya memanfaatkannya saja.
"Tentu saja, Alice! Selama aku ada di sini, tidak ada satu pun yang berani menyakiti kalian," jawab Nuvi dengan bangga.
Namun, ekspresi wajah Alice berubah seketika menjadi sedih dan ragu. Ia menoleh ke kiri dan kanan seolah takut didengar orang lain, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Nuvi.
"Tapi... Kak Nuvi, ada satu hal yang membuatku sedih dan bingung," katanya pelan dan ragu-ragu. "Kemarin aku tidak sengaja mendengar Kak Eca bicara sama Tati dan Ilfa. Katanya... Kak Nuvi itu memang kuat dan berguna, tapi kau bodoh sekali dan mudah diatur. Katanya, kau itu seperti anjing besar yang galak — berguna untuk menakut-nakuti orang lain, tapi tidak punya otak dan hanya bisa diperintah-perintah sesuka hati mereka. Katanya... begitu mereka sudah tidak butuh lagi kekuatanmu, mereka akan membuangmu begitu saja karena kau sudah tidak berguna lagi."
Wajah Nuvi seketika memerah padam karena marah. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat di lehernya menonjol karena menahan amarah yang meluap-luap.
"Mereka... mereka bilang begitu?" geram Nuvi dengan suara berat dan menakutkan. "Mereka menganggapku anjing bodoh yang hanya bisa diperintah? Padahal aku sudah melakukan segalanya untuk mereka! Aku sudah memukuli orang, aku sudah mengerjakan perintah mereka, dan aku selalu setia pada mereka! Tapi balasannya mereka menghinaku di belakangku?"
"Maafkan aku, Kak Nuvi..." kata Alice pura-pura takut dan menyesal. "Aku tidak bermaksud membuatmu marah atau sedih. Aku hanya merasa kasihan padamu. Kau begitu kuat dan hebat, tapi mereka malah memperlakukanmu seperti sampah."
"Cukup!" bentak Nuvi dengan keras, membuat siswa-siswa lain di kantin menoleh kaget. "Aku tidak bodoh! Dan aku bukan anjing mereka! Kalau mereka menganggapku begitu... lihat saja nanti. Aku akan membuat mereka menyesal telah menghinaku!"
Alice tersenyum puas melihat kemarahan Nuvi yang meledak-ledak. Kini, Nuvi sudah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja dan menghancurkan siapa saja di dekatnya.
Pola yang sama terus dilakukan Alice terhadap anggota lainnya. Kepada Ilfa, yang suka mengadu domba dan licik, Alice membisikkan bahwa Eca sebenarnya tidak percaya padanya dan sedang merencanakan cara untuk menyingkirkannya karena takut kepandaiannya akan menyaingi kedudukannya. Kepada Tati, yang sangat mengagumi dan setia buta pada Eca, Alice memberi tahu bahwa Eca sebenarnya menganggapnya terlalu kasar dan tidak berpendidikan, dan berencana menggantikan posisinya sebagai tangan kanan dengan Alice sendiri.
Dalam waktu singkat, suasana di dalam kelompok itu berubah drastis. Di permukaan, mereka masih terlihat bersahabat dan kompak. Tapi di balik itu, rasa curiga, kebencian, dan ketidakpercayaan mulai tumbuh subur di hati masing-masing anggota. Mereka saling memandang dengan tatapan curiga, saling menyindir, dan mulai berbicara di belakang satu sama lain.
Hanya Eca yang belum disentuh secara langsung. Alice sengaja membiarkan Eca merasa aman dan berkuasa, membiarkannya berpikir bahwa dia masih menjadi ratu yang dihormati dan ditakuti. Semakin tinggi seseorang terbang, semakin sakit rasanya saat jatuh ke bawah. Alice ingin memastikan saat waktunya tiba, jatuhnya Eca akan menjadi yang paling menyakitkan dan mengerikan dari semuanya.
Sementara itu, Agnes yang melihat semua perubahan itu dari kejauhan semakin merasa ngeri dan takut. Ia melihat bagaimana kelompok yang dulu sangat kuat dan kompak itu perlahan-lahan hancur dari dalam hanya dalam waktu singkat sejak kedatangan Alice. Ia melihat senyum misterius Alice setiap kali pertengkaran atau kesalahpahaman terjadi di antara mereka, dan semakin yakin bahwa gadis baru itu bukanlah manusia biasa. Ia membawa malapetaka dan kehancuran ke mana pun ia pergi.
Suatu hari, saat Alice sedang berjalan sendirian di lorong sekolah, Agnes memberanikan diri mendekatinya dengan hati berdebar kencang.
"Kau... kau sebenarnya siapa?" tanya Agnes dengan suara gemetar, matanya menatap tajam ke arah Alice. "Sejak kau datang, semuanya berubah buruk. Mereka saling curiga, mereka saling benci... apa kau yang melakukan semua ini? Siapa kau sebenarnya?"
Alice berhenti melangkah, lalu perlahan menoleh ke arah Agnes. Senyum manis yang biasa ia tampilkan menghilang, digantikan oleh ekspresi wajah yang dingin, datar, dan menakutkan. Matanya menatap Agnes tajam, seolah bisa menembus ke dalam jiwa gadis itu.
"Kau terlalu banyak bertanya, Agnes," jawab Alice dengan suara rendah dan dingin yang membuat bulu kuduk Agnes berdiri. "Tapi karena kau gadis yang baik dan pernah menjadi korban mereka, aku akan memberimu sedikit nasihat. Duduklah diam-diam dan nikmati pertunjukannya. Karena apa yang terjadi sekarang hanyalah permulaan saja. Cerita ini baru saja dimulai, dan bagian yang paling seru serta mengerikan masih menanti di depan mata. Bersiaplah... karena kau akan melihat bagaimana neraka tercipta di sini."
Setelah mengatakan itu, Alice kembali tersenyum manis seperti biasa, lalu melanjutkan langkahnya dengan santai, meninggalkan Agnes yang terpaku diam dengan wajah pucat dan tubuh gemetar ketakutan.
Bersambung...