PP (Extra Part - 17)

1767 Kata

Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Hanya tinggal Daniel yang masih terjaga untuk menemani puterinya. Gadis malang itu, kini sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP setelah petang tadi dokter menyatakan kalau kondisinya sudah cukup stabil. Daniel menatap wajah pucat itu dengan penuh kasih, serta kerinduan yang amat dalam. Ia menatap mata yang masih terpejam itu dan sesekali menyentuhnya. 'Harusnya Papa bisa mengenali kamu jauh lebih cepat. Mata kamu mirip dengan mata Papa, sayang,' monolog Daniel dalam hati. Ia juga menyentuh bibir sang puteri. Ia jadi teringat, bagaimana manisnya ketika bibir itu membentuk senyuman.  'Senyuman kamu perpaduan senyuman Mama dan Papa. Bodohnya Papa yang tidak bisa meyakini kalau kamu anak Papa,' imbuhnya. Sebenarnya, bukan sepenuhnya salah Daniel. Da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN