Hari berganti begitu cepat, tanpa terasa satu minggu pun berlalu. Tepat di hari ini, Mika yang sebelumnya sudah menerima lamaran dari pria yang sering di panggilnya abang itu, akan segera melangsungkan acara pertunangan mereka di salah satu Hotel berbintang di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.
Berdiri tepat di depan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota, Mika yang saat ini berada di lantai delapan kamar Hotel itu, tersenyum kecut memandang ke langit yang pagi ini begitu cerah.
"Daddy dan mommy... apa kabar kalian di atas sana ? Mika kangen. Malam ini Mika akan tunangan dengan abang. Sekarang Mika mengerti yang mommy katakan waktu itu, memang hanya abang yang bisa menjaga dan membuat Mika bahagia. Mika juga ingat kata - kata terakhir daddy, bahwa seiring berjalannya waktu, rasa cinta Mika pasti akan tumbuh dengan sendirinya untuk abang. Maafkan Mika ya dad, karena waktu itu menolak keputusan daddy. Mika sayang kalian. Seandainya kalian ada disini sekarang... hari ini pasti akan terasa lebih indah." ujar Mika lirih.
Mika segera menghapus air matanya saat mendengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.
"Itu pasti abang," gumam Mika sambil berjalan menuju pintu kamar.
"Hai non, sudah sarapan belum ?" tanya Rendy kemudian mencium kening calon istrinya itu.
"Hai calon suami. Sudah, tadi Mika sengaja turun ke restoran untuk sarapan." jawab Mika sambil memeluk Rendy.
"Kenapa sarapannya ngga minta dibawa ke kamar hhmm ?" tanya Rendy sambil mencubit pelan pipi Mika.
"Mika ngga ingin sarapan sendirian di dalam kamar." jawab Mika masih dengan tangannya yang memeluk leher Rendy.
"Nanti kalau kita sudah menikah, kita akan melakukan apapun bersama. Anyway, calon istri yang cantik ini sebentar mau makan siang dimana ?"
"Mika ngga mau kemana - mana, di kamar saja. Lagipula sebentar lagi tante Ana pasti datang bawa gaun Mika, nanti Mika minta tante Ana temenin Mika makan siang disini. Grace dan Leti juga akan datang kok tapi agak siangan katanya, setelah jam makan siang soalnya mereka ngantor dulu setengah hari."
"Ngga apa - apa kan kalau abang tinggal sebentar ? Abang harus ke kantor, ada meeting dengan para pemegang saham. Abang janji setelah meetingnya selesai, abang langsung kesini"
"It's okay, kan calon suami harus kerja keras buat nafkahin calon istrinya." ujar Mika sambil menahan senyum di wajahnya.
"Baiklah calon istri... kalau begitu calon suami berangkat kerja dulu." balas Rendy lalu kembali mencium kening Mika.
"Take care calon suami."
Mika kemudian melepas pelukannya pada Rendy dan membiarkan pria itu pergi dari kamarnya.
Beberapa menit kemudian ponsel Mika berdering menampilkan nama 'tante Ana' di layar ponselnya. Dengan cepat Mika menggeser tombol hijau dengan icon gagang telepon yang terangkat itu.
[Halo tante Ana,]
[Halo Mika sayang.. tante minta maaf nak, sepertinya tante tidak sempat mengantar gaun kamu ke hotel sekarang. Baru saja tante mendapat kabar kalau suami tante masuk rumah sakit dan tante harus pergi melihatnya sekarang. Masalahnya semua kurir di butik tante sudah jalan membawa pesanan yang lain] jelas tante Ana dengan nada rasa bersalahnya.
[Oh begitu... tidak masalah tante, nanti Mika minta teman Mika yang mengambil gaun itu di butik tante. Semoga om cepat sembuh ya tante]
[Iya nak... terimakasih ya sayang. Tante doakan acara pertunanagan kamu dan Rendy sebentar malam berjalan dengan lancar.]
[Amin. Terimakasih tante.]
Setelah memutus sambungan teleponnya dengan tante Ana, Mika kemudian segera menelepon Leti sahabat baiknya untuk memintanya mampir ke butik tante Ana mengambil gaun yang akan di pakainya sebentar malam, sebelum sahabatnya itu datang ke hotel.
[Halo Let, kamu masih di kantor kan ?] tanya Mika saat panggilan teleponnya diangkat oleh Leti.
[Halo Mika, iya nih baru aja nyampe. Ada apa ?]
[Begini Let, tante Ana ngga bisa bawa gaun aku soalnya suaminya masuk rumah sakit, semua kurirnya juga udah jalan. Aku minta tolong kamu mampir ke butiknya buat ambil gaun aku, bisa ngga ?]
[Oh gitu, bisa dong. Nanti sebentar aku mampir ke butik tante Ana, sebelum ke tempat kamu. Tapi setelah jam makan siang yaa.]
[Iya ngga apa - apa... thank you Leticia Isabela Lefta... see you, byeeee...]
[My pleasure Mikayla Putri Hartawan, byeeee...]
*
*
*
Sementara itu, Dafa yang baru saja tiba di kantornya, tanpa sengaja mendengar seorang wanita yang menggunakan seragam karyawan perusahaannya, sedang berbincang melalui ponsel yang ada di tangan kanannya dengan seseorang yang namanya tidak asing di telinga Dafa. Wanita itu sedang berdiri di depan lift karyawan sambil menunggu pintu lift itu terbuka.
Ya, wanita itu adalah Leti sahabat Mika. Sedangkan Dafa yang baru saja ingin memasuki lift khusus petinggi perusahaan yang berada tepat di seberang lift karyawan, sengaja berlama - lama disana karena penasaran dengan percakapan wanita itu. Saat mendengar wanita itu menyebut nama Mikayla Putri Hartawan, dengan cepat Dafa melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.
"Ternyata benar wanita itu sedang berbicara dengan Mika putrinya Alex." batin Dafa.
Tiba di dalam ruangannya, Dafa bergegas mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan telepon pada Doni.
[Halo bos]
[Don, sekarang juga kamu ke butik tante Ana dan ambil gaun disana atas nama Mikayla Putri Hartawan. Bawa ke Hotel XXX yang ada di kawasan Thamrin. Mika pasti sedang sendirian di kamarnya. Selanjutnya, lakukan sesuai rencana. Ingat Don, jangan sampai meninggalkan jejak.]
[Baik bos.]
Sepertinya dewi fortuna selalu berada di pihak Dafa, karena hotel yamg Mika tempati saat ini merupakan salah satu hotel milik Dafa, sehingga sangat mudah buat Doni untuk melancarkan aksinya.
*
*
*
Dengan cepat Doni melaju ke butik tante Ana untuk mengambil gaun milik Mika, sesuai dengan yang di perintahkan Dafa. Bodohnya Mika, dia tidak dengan detail memberi tahu tante Ana kalau yang akan mengambil gaunnya nanti adalah Leti sahabatnya.
Dengan menggunakan topi dan masker yang menutupi separuh wajahnya, Doni masuk ke butik itu dan meminta gaun milik Mika pada petugas butik yang berdiri di belakang counter resepsionis.
"Saya ingin mengambil gaun atas nama Mikayla Putri Hartawan." ucap Doni dengan suara yang dibuatnya sedikit berat, berbeda dengan suara aslinya.
"Oh iya sebentar saya ambilkan." jawab petugas itu kemudian mengambil gaun yang dimaksud tanpa sedikit pun merasa curiga pada Doni.
"Ini, silahkan." ucap petugas itu sambil menyerahkan sebuah gaun panjang yang tergantung di hanger dan di bungkus rapih dengan covernya.
"Terimakasih." balas Doni lalu segera meninggalkan butik itu.
Doni kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Hotel yang dimaksud Dafa. Disana sudah ada beberapa anak buahnya yang bersiap membantu melancarkan aksinya.
"Bersiap di posisi masing - masing." perintah Doni pada anak buahnya saat tiba di hotel.
Mengerti dengan perintah bosnya, mereka pun segera pergi ke posisi yang dimaksud. Dua orang bersiap di dalam mobil range rover sport berwarna hitam dan dua lagi masuk ke dalam hotel menuju lantai koridor dimana kamar Mika berada. Setelah dengan mudah mendapatkan informasi nomor kamar dari manager hotel, Doni segera berjalan masuk ke dalam melalui pintu darurat.
Ya, semuanya bisa dengan mudah Doni lakukan karena pemilik hotel itu adalah bosnya sendiri. Dafa bahkan memerintahkan manager hotel itu untuk mematikan seluruh cctv yang ada di hotel selama satu hari penuh.
Setelah sampai di depan kamar Mika, Doni segera mengetuk pintu kamar itu. Tanpa sedikit pun rasa curiga, Mika yang baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan jubah mandi dan handuk yang tergulung di kepalanya, membuka pintu kamar itu.
"Nona Mikayla Putri Hartawan ?" tanya Rendy.
"Iya saya sendiri. Siapa ya ?"
"Saya kurir dari butik, ingin mengantar gaun pesanan anda." ucap Doni yang sedang memerankan perannya sebagai kurir dari butik tante Ana.
"Ooh... silahkan masuk, tolong gantung di dalam lemari." ujar Mika sambil membuka lebar pintu kamar untuk Doni.
"Padahal tadi kan tante Ana sendiri yang bilang kalau semua kurirnya sudah jalan. Mmmm... mungkin sudah ada kurir yang kembali ke butik. Sudahlah, yang penting gaunnya sudah sampai disini. Nanti aku telepon Leti lagi deh, kabarin dia kalau gaunnya sudah ada." batin Mika.
Mika masih tetap berdiri di depan pintu menunggu Doni keluar dari dalam kamarnya. Setelah sesesai menggantung gaun itu di dalam lemari, Doni pun berjalan keluar sambil mengambil sapu tangan di saku celananya.
"Terimakasih." ucap Mika yang akan menutup pintu kamarnya, namun tiba - tiba Doni menahan pintu itu dan dengan cepat menutup mulut dan hidung Mika dengan sapu tangan yang ada di tangannya.
Ya, Doni membius Mika. Dengan kedua tangan nya, Mika berusaha untuk membuka sapu tangan itu, namun sekuat apapun dia berusaha, tangan kecilnya tidak mampu melawan tangan kuat Doni. Perlahan, tubuh Mika mulai merasa lemas dan matanya terasa sangat berat.
Beberapa detik kemudian, Mika akhirnya tidak sadarkan diri. Doni lalu menggendong Mika dan menaruhnya di kursi roda yang sudah di siapkan anak buahnya, tepat di koridor lantai kamar Mika. Dengan cepat mereka mendorong kursi roda itu, membawa Mika keluar melalui lift karyawan.
Di parkiran belakang hotel itu, tepatnya parkiran khusus karyawan, anak buah Doni yang lainnya sudah bersiap dengan mobil yang mesinnya sengaja sudah mereka nyalakan. Dengan bantuan kedua anak buahnya, akhirnya Doni berhasil keluar dari sana membawa Mika yang masih tidak sadarkan diri di kursi roda. Dengan sangat hati - hati, Doni menggendong Mika dan menaruhnya ke dalam mobil.
"Tugas kalian selesai. Kalian boleh pergi sekarang." ujar Doni pada kedua anak buahnya yang tadi membantunya membawa Mika keluar dari hotel.
"Jalan sekarang." perintah Doni pada anak buahnya yang berada di balik kemudi.
*
*
*
Sejak beberapa menit yang lalu, Dafa sudah berdiri di depan private jet miliknya, menunggu kedatangan Doni yang akan membawa Mika. Sesuai dengan perkataan Dafa sebelumnya, bahwa dia akan membawa Mika pergi ke luar negeri. Kali ini tujuannya adalah Paris. Ya, Dafa akan membawa Mika ke kota yang sering disebut City of Love itu.
Tak berapa lama, Doni datang dengan membawa Mika yang berada di kursi roda karena masih belum sadarkan diri.
"Apa semua berjalan dengan baik ?" tanya Dafa memastikan aksi Doni tidak meninggalkan jejak atau membuat orang lain curiga.
"Aman bos." jawab Doni yakin.
"Bagus. Kita pergi sekarang." ucap Dafa yang kemudian mengangkat tubuh Mika dari kursi roda dan menggendongnya ala bridal style. Hal itu membuat Doni yang melihatnya merasa aneh karena selama dia bekerja dengan Dafa, tidak pernah sekali pun dia melihat bosnya itu menggendong seorang wanita mesra seperti saat ini.
"Apa kau akan tetap berdiri disana, Don ?" kesal Dafa saat melihat Doni yang seperti orang bodoh mematung di tempat.
"Ah iya maaf bos." jawab Doni salah tingkah kemudian menyusul Dafa naik ke dalam private jet itu.
Dafa membawa Mika ke kamar yang berada di dalam sana, membaringkannya ke atas ranjang yang berukuran cukup besar dan muat untuk dua orang. Dafa kemudian membuka handuk yang masih melingkar di kepala Mika dan menyelimuti gadis itu dengan selimut sampai ke batas d**a.
Dafa mengambil sapu tangan di dalam saku celananya, lalu digunakannya untuk menutup kedua mata Mika. Tidak hanya itu, Dafa juga membawa kedua tangan Mika ke atas ranjang dan memborgolnya dengan borgol yang sudah dia siapkan di sana.
Semua yang di lakukan Dafa, tidak luput dari pandangan Doni.
"Apa aku tidak salah lihat ? Seorang Dafa Dominic Johanson seperhatian itu pada wanita yang bahkan tidak mengenalnya ?" batin Doni yang merasa aneh melihat tingkah laku bosnya saat ini.
Bagi orang lain apa yang dilakukan Dafa pada Mika saat ini pasti terlihat jahat, tetapi berbeda dengan Doni yang melihatnya sebagai bentuk perhatian.
"Kenapa kau masih berdiri di situ, Don ? Apa yang kau lihat ?" tanya Dafa dengan tatapan tajamnya membuat Doni salah tingkah.
"Ah itu... tidak ada bos. Aku hanya merasa ada yang aneh dengan mu, bos ?" jujur Doni sambil duduk karena sebentar lagi jet itu akan segera lepas landas.
"Aneh ?" tanya Dafa sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Mungkin perasaan aku saja bos, karena selama ini aku belum pernah melihat bos seperhatian itu pada seorang wanita selain nona Lifia tentunya." jelas Doni yang malah tidak ditanggapi oleh Dafa.
"Permisi Tuan Dafa, lima menit lagi pesawat akan segera lepas landas." lapor seorang pramugari yang sedang bertugas disana. Seperti biasa, dengan wajah dingin yang terlihat angkuh, Dafa menjawab pramugari itu dengan menganggukan kepala.