Bab 72 Sampah Giva tersenyum bahagia keesokan harinya. Meskipun tubuhnya terasa remuk karena gairah mereka berdua, tapi Giva bersyukur karena saat membuka mata yang ia lihat pertama kali adalah pria yang ia cintai. Bahwa apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi semata melainkan kenyataan indah di masa dewasanya. Baru saja Giva hendak bangun, tapi tangan Gerry mencengkram perut telanjangnya dengan erat. “Jangan pergi ke mana pun!” gumam Gerry dengan suara parau. “Aku mau ngecek Gisha, Ger,” alasan Giva membuat Gerry mendesah pendek. “Gisha udah gede, kamu enggak perlu khawatir. Dia enggak akan nangis seperti balita saat tahu ayah ibunya enggak berada di dekatnya.” Giva mengusap rambut Gerry yang berantakan kemudian mengecup pipi Gerry dengan lembut. “Oke, Ayah.

