Bab 13 Wira

1545 Kata
Bab 13 Wira   Giva tertawa saat Wira bicara dengan logat Bali yang sangat fasih. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Alhasil dia hanya mampu tertawa saking bingungnya.      “Kamu dari tadi ketawa aja. Kenapa?”      Giva menggeleng. Mereka kini sedang duduk di tepi pantai sambil memakan es krim. “Oh ya Mas...”      “Panggil Wira saja,” potong Wira lalu tersenyum.      “Wira apa enggak apa-apa kalau harus nemenin saya ke pantai begini? Pahatan kamu bagaimana?”      “Enggak apa-apa, aku bisa lanjut besok. Kamu mau tambah es krimnya?”      Giva menggeleng. Suapan terakhir dan akhirnya es krimnya habis tak bersisa. Rasa dingin terasa di dalam mulutnya.      “Gi, aku boleh tanya sesuatu?”      “Tanya apa?” balas Giva sambil menoleh ke samping. Menatap Wira.      “Kamu tinggal di Bali bersama siapa?”      “Suamiku, Wira. Nanti kapan-kapan aku kenalin kamu ya ke Gerry.” Giva tersenyum tipis.      Wira terdiam. Kepalanya yang tadi menatap Giva segera menunduk lesu. Sejak pertama kali melihat Winda yang membawa Giva ke sanggar, dia diam-diam sering melihati Giva. Dengan tampang serius dia selalu mencoba mengukir wajah Giva ke dalam memori otaknya.      “Wira, kok diem aja?” tanya Giva dengan nada riang. “Omongan Winda emang bener ya kalau kamu sebenarnya orang yang asyik.”      Wira tertawa kecil lalu mengacak rambut Giva. “Memangnya kamu kira aku bagaimana?”      “Mukamu itu loh, Wir. Menyeramkan.”      “Apa kamu bilang?” Wira berkacak pinggang sambil melotot. Wajahnya yang sempat tersenyum sudah seperti kuburan lagi. Angker.      “Enggak kok, cuma bercanda hehe….”      “Oh bercanda?” Wira berdecak lalu tanpa disangka-sangka sebelumnya oleh Giva, Wira menggeletiki pinggangnya. Membuat wanita berkuncir kuda itu tertawa terbahak-bahak.      “Ampun, Wira! Hahaha ... Lepasin, Wira, geli,” Giva sampai terlentang dan Wira masih terus menggelitiki pinggang Giva. Sesekali tangannya berada di atas perut Giva dan menggelitiknya. Wira sama sekali tidak sadar bahwa ada kehidupan lain di dalam perut yang ia jamah.      Wira akhirnya menyerah sendiri dan melepaskan Giva. Rambutnya perlahan berterbangan lagi saat angin pantai bertiup kencang. Sangat adem di sini! Di bawah pohon kelapa di tepian pantai.      “Makan siang nanti kamu ikut aku ya, Gi?”      “Jangan, Wir! Aku pulang saja. Barangkali kamu mau balik ke sanggarnya Pak Bayu,” balas Giva sungkan.      “Pokoknya kita makan siang bareng di rumah makan spesial.”      “Spesial gimana?” Giva bingung sendiri.      “Kita langsung jalan aja yuk!” Wira bangkit. Berdiri. Lalu membantu Giva berdiri juga. Mereka berjalan santai ke tempat parkiran motor di mana Wira memarkirkan motornya.      Dalam perjalanan Wira dan Giva sama diamnya. Mereka sampai ke rumah makan 15 menit kemudian. Berjalan masuk, Wira menghampiri seorang wanita paruh baya bersama Giva.      “Bu,” ujar Wira lembut lalu mencium punggung tangan ibu paruh baya itu. Giva melakukan hal yang sama lalu tersenyum.      “Tumben kamu ke sini jam segini, Wira?” tanya Ibu Ayu, ibu kandung Wira itu tersenyum ke arah Giva. “Siapa yang kamu bawa ini?”      “Temen Wira, Bu. Giva namanya. Tinggal di rumahnya Pak Megha itu loh, Bu, temen SMU Bapak.”      “Oh Pak Megha pensiunan TNI itu, Wir?”      Wira mengangguk membenarkan.      Giva tersenyum ke arah Ibu Ayu dan mereka saling menatap dengan lembut.      “Dari mukanya kayak bukan orang Bali? Dari mana Nak Giva ini?”      Giva tertawa kecil. Canggung. “Dari Jawa, Bu.”      “Oh ... Ke sini mau makan? Ayo duduk! Wira, Nak Giva ajakin duduk. Kasihan kalau berdiri terus. Nanti Ibu buatin makanan andalan di sini.”      Setelah mengangguk, Wira mengajak Giva untuk duduk. Mereka kembali mengobrol dengan sesekali diselingi gurauan. Sampai akhirnya Ibu Ayu datang dan membawakan makanan ke atas meja.      “Kelihatan enak,” ujar Giva tanpa sadar.      Ibu Ayu tersenyum. Sambil membereskan letak piring, Ibu Ayu membalas ucapan Giva. “Semoga suka ya, Nak!”      “Iya, Bu, makasih.”      “Kalau begitu Ibu tinggal dulu ya. Nanti Ibu ganggu kamu sama Wira ngobrol lagi,” tawa Ibu Ayu mengiringi kepergiannya.      “Ayo dimakan! Jangan dilihatin terus, Gi!”      Giva tertawa kemudian mulai mengambil sendok dan mulai menyendok sup kental di depannya.      Wira menunggu tanggapan Giva mengenai masakan ibunya. Giva mendongak dengan senyum merekah. “Enak banget! Sup apa ini, Wir?”      “Sup kentang,” jawab Wira sambil tersenyum tipis. “Ayo dihabiskan, Gi!”      Giva mengangguk dan mulai memakan supnya. Dia sangat suka dengan sup buatan ibu Ayu. “Nanti kapan-kapan saya harus bawa suami saya ke sini! Dia pasti bakal suka makanan di sini.”      Wira pun hanya bisa tersenyum tipis.   ***        “Gi, aku pulang!” Gerry berteriak cepat setelah menutup pintu depan. Dia kini berjalan menuju rumah. Sambil memanggil Giva, Gerry pun naik ke bale. Dia turun lagi setelah meletakan plastik makan malamnya di atas tiang penyangga bale, menuju ke dalam rumah.      “Gi, kamu ke mana sih?” Gerry menggerutu karena Giva tidak juga menyahut. Saat masuk ke dalam kamar dia hanya mampu menggeleng samar karena melihat Giva yang sedang memunggunginya dengan telinga tersumpal headphone. “Pantesan enggak denger dari tadi udah teriak-teriak.”      “Sayang,” Giva melonjak kaget saat merasakan pelukan Gerry di belakangnya. Dia bahkan melepaskan headphone dari telinga Giva lalu bermanja-manja. Ia sedang ingin.      “Bawa makan malam kan?” Giva meskipun risih tetap bertahan dengan pergerakan tangan dan bibir Gerry. “Aku udah lapar, Ger.”      “Aku bawa makan malam,” ujar Gerry asal. Bibirnya kini merajalela di leher Giva. Semakin membuat Giva risih. Dia sempat berpikir apakah semua suami-istri akan melakukan hal seperti ini jika sedang berduaan?      “Kita makan malamnya kapan, Ger? Aku lapar.”      Setengah menggeram akhirnya Gerry mengalah. Dia melepaskan Giva lalu membantunya bangun. Mereka pun melaksanakan acara makan malam bersama. Tanpa suara. Baru selesai makan dan mencuci piring, mereka pun bersama lagi dan saling mengobrol. Lebih tepatnya Gerry yang berbicara dan Giva yang mendengarkan.      “Kalau kontrak kita di sini habis kita pindah ke rumah yang lebih layak ya, Gi!” tutur Gerry mengganti topik pembicaraannya yang beberapa saat lalu masih membahas tentang kehidupannya di sebagai karyawan perkantoran hotel.      “Padahal aku suka tinggal di sini. Aku udah lumayan deket sama beberapa orang sini juga,” jawab Giva terdengar sedih.      Gerry jadi tak tega. “Kamu yakin, Gi? Rumah ini sempit loh? Aku juga enggak kebagian kamar kalau kamu masih enggak mau juga tidur bareng aku.”      “Ya udah aku aja yang tidur di sini. Kamu tidur di kamar, kita gantian! Digilir deh!” kesal Giva tiba-tiba.      “Aku mana tega, Sayang. Membiarkan kamu tidur di sini. Apalagi udah mau musim hujan. Udara setiap malam kerasa dingin banget, Gi. Aku yang laki aja merasa kedingan, apalagi kamu.”      “Aku....”      “Udah enggak usah keras kepala deh. Kamu tuh semalam tidur di sini bisa sakit. Kalau kamu sakit janin kamu juga bakal ikutan. Kamu enggak kasihan apa sama Dede? Aku menyerah. Kita tinggal di sini saja kalau itu mau kamu.”      Giva terdiam. Dia merasakan angin yang cukup kuat berhembus dan menerbangkan rambutnya yang malam itu ia biarkan tergerai.      Gerry melepaskan kancing kemejanya lalu beranjak dari bale. Menuju kamar mandi. Tanpa bicara apapun lagi pada Giva.      Suara siraman air yang cukup keras, hujan segera turun dengan derasnya. Langsung lebat. Giva bergerak ke tengah bale dan memeluk dirinya. Perasaan tidak tega terbesit dalam benaknya. Gerry selalu memperhatikan dirinya. Bagaimana dia bisa tega membiarkan Gerry di sini? Yang setiap malamnya akan lebih dingin lagi.      “Huuu, dingin banget!” Gerry berlarian kecil. Tubuhnya yang sudah basah kini terkena tetesan air hujan. Dia menghampiri Giva di pondok bale. “Kamu kok belum masuk ke dalam? Di sini dingin, Gi.”      Gerry terpanah saat merasakan pelukan Giva. Begitu tidak terduga. Membuat tubuhnya yang basah dan belum terlapisi apa-apa kini mengenai baju tidur Giva yang berwarna merah. “Kamu kenapa, Gi? Aku ada salah lagi ya?” keluh Gerry. “Yang tadi kan aku udah mengalah.”      Giva melepaskan pelukannya dengan mata memerah. Gerry makin merasa bingung dan bersalah. “Gi....”      “Kamu jangan tidur di sini, Ger. Kita tidur di kamar aja ya! Aku enggak tega kalau kamu tidur di sini. Kita berbagi tempat tidur saja, Ger!” Giva menunduk. Perasaannya mendadak sensitif.      Pelan. Gerry mengangkat dagu Giva dengan jemarinya. Melihat wajah yang penuh air mata itu, membuat hati Gerry meringis. Giva menangis tanpa suara. Dia menangisi dirinya sendiri. Yang selama ini tidak pernah peka dengan apa yang dilakukan Gerry untuknya. Yang demi dirinya rela tidur di luar dengan dingin malam yang menyelimuti. Yang demi dirinya harus rela menahan sakit di tubuh karena harus tidur dengan beralaskan kayu jati.      Dihapusnya air mata itu dengan jari Gerry. Pelan-pelan. Ketika kedua mata itu membuka, Giva berhambur di pelukan Gerry. “Makasih ya, Ger! Kamu selalu melakukan apapun buat aku. Kamu selalu peduli. Bahkan aku sendiri seperti enggak peduli sama diriku sendiri. Tapi kamu ... Kamu selalu mengingatkanku. Selalu menjaga aku. Tapi aku ... Dengan begonya enggak pernah sadar dengan apa yang kamu lakuin.”      Gerry memeluk Giva. Apakah kini Giva sudah sadar tentang perjuangannya selama ini untuk mencintai Giva? “Aku melakukan semua itu karena aku sayang sama kamu, Gi. Aku sayang bayi kita. Aku rela berkorban apa saja demi kamu. Cuma satu permintaanku, Gi! Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku! Apapun yang terjadi!”      “Aku enggak akan pernah meninggalkan kamu, Ger. Aku ... aku sayang kamu, Ger. Aku sayang sama kamu. Dua bulan bersama cukup membuatku yakin kalau kamu orang yang tepat untuk aku cintai. Kamu bukan lagi Gerry yang dulu suka main-main. Aku sayang kamu, Gerry Laskar Prianto.”      Malam bergemerisik hujan itu terasa syahdu. Saat dua insan saling mengungkapkan perasaannya. Saling bicara cinta. Saling sadar bahwa mereka saling mencintai.      Angin yang dingin pada malam itu menjadi saksi bahwa kehangatan akan menyelimuti mereka yang saling mengasihi.      Di pondok bale itu pun kini menjadi saksi bisu bahwa ada dua anak manusia yang kini saling memadu kasih. Saling merangkul dalam kesyahduan malam yang nyata.      Dengan senyuman yang tertoreh di wajah mereka. Mereka pun saling menyatu. Tidak peduli dengan sekitar mereka. Ketika cucu adam dan hawa jatuh cinta. Beginilah indahnya.   ***   BERSAMBUNG>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN