Bab 8
Pekerjaan Baru
Gerry hampir frustasi saat dia lagi-lagi ditolak oleh perusahaan yang ia coba masukan lamaran pekerjaan. Dari jam tujuh pagi sampai jam dua belas hasilnya nihil.
Ia menyebrang jalan setelah menengokan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kakinya kembali berjalan di trotoar lalu masuk ke gerbang restoran.
“Silahkan, Mas!” Seorang pelayan yang menunggu di pintu masuk menyapanya dengan ramah. Nampak dari mata wanita itu bagaimana dia terpesona pada penampilan Gerry.
Gerry tersenyum lalu berhenti. “Mbak, maaf di sini apakah ada lowongan pekerjaan! Saya bisa bekerja apa saja.”
Pelayan wanita itu nampak berpikir sejenak lalu mengangguk. “Ayo, Mas! Biar aku antar ke ruangan manajer. Sepertinya jika tidak salah memang ada lowongan sebagai pelayan,” katanya sambil terus berjalan mengantarkan Gerry.
Setelah mengetuk pintu ruangan manager, Gerry dan perempuan yang mengantarkannya masuk ke dalam. “Permisi, Mbak Yuna!”
Wanita yang mengenakan blazer berwarna merah muda itu terlihat sedang duduk di bangku manager. Setelah melihat pegawainya, ia pun melepaskan kacamatanya. Dia memperhatikan Gerry sebentar lalu bertanya pada karyawannya menggunakan isyarat mata.
“Ini ada orang mau nyari pekerjaan, Mbak,” jawab pelayan wanita yang mengantarkan Gerry tadi.
Manajer bernama Yuna Ismayanti itu mengangguk lalu mempersilahkan duduk pada Gerry, sedangkan pelayan yang mengantarkannya tadi kembali bekerja.
Yuna mulai membuka dokumen lamaran kerja yang dibawa oleh Gerry. Membacanya sebentar lalu mengangguk-angguk. “Nama kamu?”
“Gerry Laskar Prianto, Bu.”
Yuna mengangguk. “Di surat lamaran pekerjaan kamu hanya bekerja sekali?”
“Sebenarnya saya kuliah, Bu. Tapi harus berhenti baru-baru ini.”
“Kenapa berhenti?”
“Maaf, Bu, tapi ini masalah pribadi. Yang pasti bukan karena di DO atau saya melakukan tindak kriminal.”
“Kamu dari Jakarta? KTP kamu masih domisili Jakarta. Jika saya....”
“Saya akan segera mengurusnya, Bu. Tolong pekerjakan saya, Bu. Saya yakin bisa bekerja dengan baik di sini! Saya akan melakukan yang terbaik.”
Yuna melihat Gerry beberapa lama. Dari CV ia bisa tahu kalau Gerry pernah bersekolah di sekolahan yang bonafit. Ada juga riwayat pekerjaan di perkantoran sebagai HRD di Priantomulyo Company. Dia tidak yakin Gerry bisa bekerja di sini. Apalagi yang dibutuhkannya di restoran hanyalah sebagai seorang pelayan biasa. Bukan pekerjaan di balik komputer dan meja kerja.
“Saya akan kasih kamu waktu percobaan selama 3 bulan jika kamu tidak sesuai untuk menjadi pegawai di sini dengan terpaksa saya akan memberhentikanmu.”
Gerry mengangguk. “Terima kasih, Bu.”
“Kamu akan bekerja sebagai pelayan. Saya akan beri kamu seragam kerja yang harus kamu pakai setiap jam kerja kamu di sini. Jam kerja di restoran ini hanya terbagi menjadi 2 sift. Satu, dari jam 8 sampai jam 16.00 sedangkan sift kedua yaitu dari jam 15.00 sampai jam 23.00. Setiap bekerja tidak boleh bermain ponsel dan ponsel pun harus dalam keadaan mati. Setiap minggu kamu mendapatkan satu hari jatah liburan pada hari senin, selasa, rabu, kamis, atau jum’at. Pada hari sabtu dan minggu semua karyawan wajib masuk.”
“Kapan saya bisa mulai bekerja, Bu?” tanya Gerry, setelah mengangguk paham dengan ucapan Yuna.
“Saya belum selesai menjelaskan, Gerry!” tegas Yuna. “Seluruh karyawan di sini tidak memanggil saya dengan panggilan ‘Bu’ jadi kamu bisa panggil saya Yuna atau Mbak Yuna karena usia kita hanya terpaut 2 tahun.”
“Baik, Bu. Maaf, Mbak Yuna.” Gerry mulai salah tingkah.
“Baiklah, kamu bisa mulai bekerja hari ini. Apa kamu siap?”
“Baik, Mbak.”
Yuna tersenyum tipis. Dia suka dengan semangat karyawan baru di restorannya. “Kamu bisa pakai ini di kamar mandi saya,” ujarnya sambil menyerahkan seragam kaos pada Gerry.
Setelah menerimanya, Gerry pun memakainya. Dia ke luar dan segera diajak Yuna melihat-lihat restoran dan memberitahukan apa tugasnya di sana.
“Ari, kenalkan ini Gerry! Tolong kamu bantu dia mengerjakan tugasnya sebagai karyawan West Restoran. Saya masih ada kerjaan. Kenalin juga ke teman-teman yang lain,” ujar Yuna kepada seorang pelayan restoran yang berada di meja kasir.
Ari mengangguk patuh. Setelah menunggu Yuna pergi, dia bersalaman dengan Gerry. Memperkenal diri. “Ari Budiman, panggil aja Ari,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Gerry, Mas,” ucap Gerry mencoba sopan.
Ari tersenyum lebar. “Panggil aja Ari. enggak usah sok jaim kalau kerja di sini, kita semua udah kayak keluarga kok. Anggap aja gitu, hehe ... Umur lo berapa, Ger?”
“Aku 21, Ri.”
“Wah kita seumuran. Di sini yang kerja ada 22 orang. Terdiri dari dua regu kesebelasan. Alamak bahasa gue. Nah berhubung lo masuk di sini ya kayaknya sih gantiin Endra yang kemarin baru hengkang dari sini, jadi lo masuk kesebelasan Cocerebiz.”
Gerry menyipitkan matanya. Merasa bingung, apaan sih cecoceco itu?
“Hehe, Cecogabiz itu singkatan dari Cowok Cewek Keren Abiiizzz....” Mendengar jawaban dari Ari, Gerry makin melongo seperti orang bloon. “Hahaha, lo kok enggak ketawa sih, Ger! Nah gue kasih tahu ke elo nih yee ... Yang kerja di sini kebanyakan orang Jawa jadi lo tenang aja, lo enggak bakal ditodong sama temen lain pakai pertanyaan bahasa Bali.”
“Nah itu yang lagi berdiri bersihin meja di pojokan namanya Saep, panjangannya sih Saepudin. Asli orang Bandung!” Ari mulai menunjuk seseorang. Memperkenalkan anggota tim kesebelasan “Cocerebiz”.
Gerry yang hanya diam terus memperhatikan Ari.
“Kalau yang lagi berdiri di pintu masuk restoran namanya Inge. Panjangannya Inge Triningtias Sudibyo, asli dari Yogya, temen kuliah gue di sini.”
Gerry tersenyum. Ternyata Inge-lah yang sudah mengantarkannya tadi.
“Nah yang lagi ngepel. Indra sama Toni. Yang megang sapu namanya Sigit. Tuh 3 cewek yang lagi nganterin pesenan namanya Tari, Eva, sama Ambar. Yang satu lagi namanya Juwita, kayaknya lagi di belakang. Nah kalau yang masak-masak itu kesebelasan “Cocoganget” alias cowok-cowok ganteng banget. Najis gue ngomongin grup mereka! Haha.”
“Aku mulai kerja apa ya, Ri?”
“Bentar, gue panggilin Toni. TOON!!”
Toni yang merasa dipanggil segera menoleh. Menatap Ari yang nampak berdiri bersama karyawan baru. Dia mendekat bersama Indra yang satu tugas dengannya. “Wih, anggota baru nih!” ujar Toni sesampainya dihadapan Ari dan Gerry.
“Kenalin, Bro! Ini Gerry, dia yang gantiin Endra mulai hari ini.”
“Gerry.” Perlahan Gerry, Toni, dan Indra saling berjabat tangan, saling berkenalan.
“Gerry parteneran sama Indra aja, Ri! Gue tuker tempat biar bisa partneran sama Inge.”
“Halah kagak. Gerry bakal jadi partner Inge. Tapi seminggu ini gue minta dia ngerjain yang ada di sini. Pokoknya lo harus nyobain jadi tukang pel, tukang sapu, tukang catet pesenan pelanggan, tukang anter pesenan, dan kasir. Nah, perlu lo tahu kalau yang megang pel itu Toni sama Indra. Kalau yang bagian sapu-sapu Sigit, nanti juga lo kadang-kadang ikutan bantuin catet dan anter pesanan ke pelanggan.”
Meskipun bingung tapi Gerry hanya mengangguk kecil. Lama kelamaan juga dia hapal dengan semua bagian-bagian yang harus ia kerjakan.
***
Gerry pulang pukul 16.00. Hari pertama bekerja tidak begitu melelahkan. Dia bahkan bisa kembali ceria seperti dulu, seperti dulu di mana dia belum mengenal apa itu cinta, siapa itu Giva. Tak lupa Gerry membawakan makanan dari restoran dengan percuma. Dia sangat bersyukur dan berharap Giva akan menyukainya.
“Gi, aku pulang!” pekik Gerry bersemangat. Tidak ada sahutan. Gerry mulai berdebar. Dia takut, apa Giva … pergi?
Tapi prasangkanya salah. Gerry tersenyum lega saat melihat Giva sedang berbaring di ranjangnya. Gerry mendekat lalu duduk di sebelah Giva yang sedang tertidur.
Dengan pelan Gerry membangunkan Giva. “Gi, udah mau maghrib. Bangun yuk! Aku bawa makan malam buat kamu.”
Giva terbangun dengan mata yang masih ia sipit-sipitkan. “Kamu ke mana aja, Ger?”
“Aku kerja, Gi,” Gerry menyahut senang. Giva bangun lalu mengambil handuk dan mempersiapkan baju ganti.
“Kamu kerja di mana sih, Ger?”
“Pokoknya aku kerja halal. Kamu kalau mandi jangan lama-lama ya, Gi! Udah mau maghrib.”
Giva mengangguk lalu bergerak ke luar dari kamar, menuju kamar mandi yang berada di luar rumah.
Gerry memperhatikan sekelilingnya. Dia mengambil handphone Giva saat matanya tertuju pada meja kecil di samping lemari bajunya. Tidak bermaksud lancang tapi Gerry mulai mengecek hape itu. Untung saja Giva tidak memberi password pada ponselnya jadi Gerry bisa leluasa membuka.
Sedikit kepo akhirnya Gerry membuka aplikasi f*******: milik Giva. Benar saja dia langsung log in pada akun f*******: Giva. Masuk ke beranda, Gerry memicing tidak terima saat melihat status-status biadab orang-orang tentang Giva. Mereka menuduh Giva yang tidak-tidak. w************n? Berengsek! Berani-beraninya mereka menghina Giva.
Gerry menggeram kesal lalu segera ke luar dari kamar. Dia berdiri di depan pohon mangga yang ada di depan rumah lalu meninju batangnya. Amarahnya tersulut dan pelampiasannya benar-benar menyakitkan, tapi Gerry tidak peduli. Tangannya sudah mulai mengucurkan darah. Sangat banyak. Tapi Gerry belum mau berhenti.
“GERRY! JANGAN!” Giva menarik Gerry sekeluarnya ia dari kamar mandi. Dengan wajah yang lebih fresh sehabis mandi dia pun segera memeluk Gerry. “Kamu kenapa sih, Ger? Jangan lukai diri kamu kayak gitu.”
“Minggir, Gi! Aku lagi marah sekarang!”
“Kamu marah kenapa? Enggak! Pokoknya kamu enggak boleh mukulin pohon lagi.”
“Gi….” Gerry melepaskan pelukan Giva lalu kembali berjalan mendekati pohon.
Giva buru-buru menghampiri lalu menghadang di depan Gerry. “Kamu pukul aja aku! Enggak usah pohon yang enggak bersalah yang kamu pukul,” teriak Giva keras.
Gerry mengepalkan tangannya. Dia kemudian mengarah pukulannya ke depan hingga Giva hanya mampu memejamkan matanya. Ketakutan.
Pelukan itu terasa hangat. Gerry memukul pohon di samping kepala Giva lalu memeluknya. “Kalau aku mukul kamu, aku enggak akan pernah memaafkan diriku sendiri, Gi!”
“Ger, kamu kenapa?” Giva bertanya sekali lagi.
Gerry melepaskan pelukannya lalu menatap Giva. Mulutnya hendak terbuka tapi dia kembali bungkam dengan pelukan erat yang kembali ia sasarkan pada Giva. “Aku sayang kamu, Gi. Aku sayang kamu! Aku enggak akan tega dan rela ketika kamu dihina atau dilecehkan seseorang.”
“Kamu ngomong apa sih, Ger?”
“Pokoknya aku cinta mati ke kamu, Sayang. Jangan tinggalin aku apapun yang terjadi! Aku akan usahin semaksimal aku untuk bahagiain kamu. Agar kamu terus ada di sisiku, Gi.”
“Gerry....”
“Gi, aku tahu kamu belum siap sama sekali. Tapi aku cuma minta satu hal dari kamu. Kamu cintaiku aku ya, Sayang. Kalau kamu enggak bisa? Tolong lakuin ini demi anak kita. Demi anak kita, Gi.”
“Gerry....”
Lagi-lagi Giva tak mampu melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Gerry melumat bibir Giva. Merasakan kelembutan itu. Hingga akhirnya Giva dengan pasrah membalas ciuman mesra dari Gerry. Meskipun dia masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi hingga kemarahan Gerry tersulut seperti tadi.
***