Pelajaran pun sudah berakhir dan sekarang waktunya untuk pulang. Sasa bersiap pulang dengan membereskan buku dan pulpen.
"Gue duluan Zan." pamit Sasa terburu-buru.
"Iya hati-hati." balas Zanna mengangguk.
Sasa berjalan di sepanjang koridor dengan tergesa-gesa. Ia khawatir Alvaro menunggunya lama. Saat akan sampai di parkiran ada kakak kelas yang berjalan berlawan arah dengan Sasa dan seperti menunjukkan betapa arogannya kakak kelas itu. Berjalan namun dengan mata sinis tanpa ada senyum sedikitpun.
Saat didekat Sasa kakak kelas itu sengaja menyenggol bahu Sasa, sedangkan Sasa hampir terjatuh dan melihat kakak kelas itu. Bukannya minta maaf tapi kakak kelas itu hanya melihat sebentar dan pergi begitu saja.
"s**t!" umpat Sasa.
"Untung gak jatuh gue, malu banget kalau jatuh di tempat umum." gerutu Sasa.
Sasa tidak memikirkan itu dan segera mengambil sepedanya yang di parkiran. Setelah itu menuju tempat biasa bertemunya dengan Alvaro seperti biasa.
"Al." panggil Sasa.
Alvaro menoleh tersenyum. "Ayo." ajak Al.
"Nunggu lama ya?" tanya Sasa tidak enak.
"Enggak kok." balas Alvaro tersenyum.
"Maaf ya?" ucap Sasa tidak enak.
"Santai. Ayo." ajak Alvaro.
Sasa mengangguk.
"Tangannya mana?" ujar Alvaro.
Segera Alvaro menggengam tangan Sasa dan menariknya. Seperti biasa Alvaro memakai motor dan Sasa memakai sepedanya.
"Sampai dipertigaan biasanya ya Al." ucap Sasa.
"Kenapa gak sampai rumah?" tanya Alvaro.
"Aku takut ibuku tau." ujar Sasa lesu.
"Belum boleh pacaran?" tanya Alvaro
Sasa mengangguk. "Sepertinya iya." balasnya lesu.
"Ya udah gapapa." balas Alvaro tersenyum.
"Marah?" tanya Sasa.
"Enggak, kenapa harus marah?" balas Alvaro terkekeh.
"Udah gak usah dipikirin." lanjutnya lagi.
Dan akhirnya mereka sampai di tempat biasa mereka pisah. Rasanya waktu cepat sekali jika bersama dengan orang yang di sayang. Mungkin banyak yang bilang mereka itu Cinta Monyet. Ya, Sasa juga merasa begitu. Ia tidak terlalu memikirkannya dengan serius, untuk penyemangat. Ah entalah, Sasa juga tidak tahu.
"Makasih ya?" ucap Sasa tersenyum.
Alvaro mengangguk tersenyum. "Iya hati-hati." balasnya.
Sasa mengangguk. "Iya, kamu juga." balasnya.
Sasa mengayuh sepedanya dengan pelan sambil menikmatinya. Tersenyum sendiri jika ia mengingat bahwa ia sudah resmi berpacaran dengan Alvaro.
"Ahhh rasanya bahagia sekali." gumam Sasa tersenyum.
"Jadi begini rasanya orang pacaran." kekeh Sasa.
---
Sampai di rumah Sasa memasukkan sepedanya digarasi. Masuk dengan muka yang bahagia.
"Assalamualaikum." ucap Sasa.
"Waalaikumsalam." balas Hanna dari dalam.
Sasa masuk masih menggunakan sepatunya, berjalan menuju ruang tamu menemui Hanna dan disitu ternyata ada Cia juga. Sasa mengambil tangan Hanna dan menciumnya.
Hanna tersenyum. "Gimana sekolahnya Sa?" tanya Hanna.
"Seperti biasa bu." balas Sasa kini duduk di sofa dekat Hanna.
"Sepatunya kok gak dilepas didepan?" ucap Hanna.
"Lupa bu." cengir Sasa.
"Mikirin apasih kok sampai lupa gitu?" tanya Hanna.
"Kok kelihatannya seneng gitu. Ada apa?" lanjutnya.
"Gapapa kok bu hehe." balas Sasa.
"Ya udah makan dulu sana." suruh Hanna.
Sasa mengangguk. "Cia udah makan belum?" tanya Sasa.
Cia mengangguk. "Dah." balasnya.
"Ayo makan lagi sama kakak." ajak Sasa.
Cie menggeleng. "Ga au, anti Cia endut." (Gak mau, nanti Cia gendut) balasnya.
"Gapapa, malah cute kok." kekeh Sasa.
"Ute apa kak?" (Cute apa kak?) tanya Cia.
"Imut. Gemes kalau gendut tuh." balas Sasa.
"Cia dah mut, ga au endut anti jeyek." (Cia udah imut, gak mau gendut nanti jelek) kata Cia.
"Dasar gembul." balas Sasa sambil mencubit pipi gembul Cia.
Cia melotot tajam kearah Sasa, seperti siap akan menerkam mangsanya. "Akakkk jeyek ihhhhhh!" (kakak jelek ihhh) teriak Cia.
Sedangkan Sasa menjulurkan lidahnya mengejek. Cia mendengus kesal, matanya masih menghunus gerak-gerik Sasa. Melotot tajam kearah Sasa. Bukannya takut, Sasa malah terkekeh.
Sasa masuk ke kamar ganti seragam dengan kaos oblong dan celana santai. Setelah itu mengambil ponselnya yang berada di nakas dan tiduran di tempat tidur.
Sasa membuka ponselnya ada notifikasi 1 pesan dari Alvaro Item, Sasa segera membuka pesan itu.
Alvaro Item
Udah sampai rumah belum?
Sasa tersenyum membaca pesan singkat itu, sederhana hanya menanyakan sudah sampai atau belum. Namun itu yang membuat Sasa bahagia, serasa di perhatikan sekali. Segera Sasa membalas pesan itu dengan semangat.
Udah. Kamu udah sampai dari tadi?
Alvaro Item
Iya lumayan. Makan belum?
Belum.
Alvaro Item
Makan dulu, nanti sakit.
Iya, kamu juga jangan lupa makan :)
Alvaro Item
Siap syg.
Membaca pesan itu spontan Sasa berdiri dari tidurnya dan melompat-lompat di tempat tidur dengan girang. Tiga kata yang mampu membuat Sasa melambung tinggi, lebih tinggi dari awan.
"Al bilang syg." batin Sasa menjerit.
Ia berhenti melompat, napasnya memburu seperti habis dikejar setan. Sasa menstabilkan napasnya. Hatinya bergemuruh senang. Senyumnya tidak pernah luntur sedari tadi. Setelah napasnya sudah teratur ia berjalan ke ruang makan untuk makan seperti apa yang di suruh Alvaro tadi.
Sasa mengambil makan dan memakannya dengan mood yang sangat sangat sangat baik. Bibirnya tidak berhenti tersenyum. Memikirkan pesan Alvaro yang terakhir.
"Syg." jerit Sasa dalam hati.
"Akak ila!" (Kakak Gila) cecar Cia yang tiba-tiba berada di dekat Sasa.
Sasa terpelonjak kaget. "Astagfirullah Cia ngagetin aja." ucap Sasa.
"Mau ngapain?" tanya Sasa.
"Cucu." balas Cia.
"Kakak bikinin dulu, Cia duduk sini tungguin kakak." ucap Sasa.
Cia mengangguk. Sasa membopong Cia di tempat kursi ruang makan.
"Jangan kemana-mana. Okay?" ujar Sasa.
Cia mengangguk tersenyum. "Angan ama-ama kak." (Jangan lama-lama kak) kata Cia.
Sasa mengacungkan jempolnya. "Sip." balasnya.
Sasa sekalian membawa piring bekas makannya tadi. Untung saja pas sudah habis makannya. Sekalian saja Sasa cuci piringnya dan membuatkan s**u Cia. Selesai membuat s**u Sasa berjalan menuju tempat Cia tadi.
"Cia." panggil Sasa.
"Ayem." (Dalem) balas Cia.
Sasa menyodorkan susunya. "Habisin ya?" suruh Sasa.
"Iapppppp." (Siappppppp) balas Cia sambil minum s**u itu hingga tandas.
"Ahhhh antap kak." (Ahhhh mantap kak) kata Cia.
"Sekarang waktunya tidur siang." ucap Sasa mengingatkan.
Cia mengangguk. "Idur ama akak ya?" (Tidur sama kakak ya?) pinta Cia.
Sasa tersenyum menoel hidung Cia gemas. "Ayo kakak temenin." ucap Sasa sambil menggendong Cia kekamarnya.
Sampai di kamar Sasa menidurkan Cia di kasurnya. "Jangan ngompol." ucap Sasa mengingatkan.
Cia terkekeh sambil mengangguk.
"Akak tadi apa enyum-enyum ndiri?" (Kakak tadi kenapa senyum-senyum sendiri?) tanya Cia.
"Lagi bahagia." balas Sasa tersenyum karena teringat pesan dari Alvaro yang terakhir.
"Agia apa kak?" (Bahagia kenapa kak?) tanya Cia.
"Kepo." balas Sasa cepat.
"Tidur, jangan lupa berdoa dulu." ucap Sasa mengingatkan.
Cia mengangguk dan membaca doa tidur. Beberapa menit kemudian sudah hening, Cia sudah mimpi sampai korea mungkin. Lama kelamaan Sasa ikut tertidur di dekat Cia.
---
Sore hari dua manusia kecil dan besar itu masih asyik dengan tidurnya. Ya, Sasa dan Cia masih asyik dengan mimpinya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 sore.
Hanna masuk ke kamar Sasa dan membangunkannya.
"Sa bangun, udah sore. Sholat dulu." ujar Hanna sambil menepuk lengan Sasa dengan lembut.
Sasa mengolet. "Jam berapa bu?" tanyanya.
"15.30, buruan sholat dulu." balas Hanna.
Sasa mengangguk. "Iya bu." jawabnya.
Hanna tersenyum dan keluar dari kamar Sasa.
Sasa turun dari kasurnya berjalan kearah kamar mandi dengan mata yang masih merah sehabis tidur. Sampai di kamar mandi Sasa wudhu dan kembali ke kamar untuk menjalankan ibadah.
Setelah selesai beribadah Sasa kembali tiduran di kasur sambil bermain ponsel. Ternyata ada satu notifikasi pesan dari Alvaro Item.
Alvaro Item
Sore Sasa, lagi ngapain nih?
Sasa tersenyum membaca pesan singkat itu.
"Ternyata Alvaro alay juga." batin Sasa terkekeh.
Segera Sasa membalas pesan itu.
Sore juga Al. Tiduran aja, kamu?
Alvaro Item
Sama aku juga baru tiduran.
Udah sholat?
Alvaro Item
Udah. Kamu?
Udah juga.
Alvaro Item
Jangan lupa besok berangkat ekskul pencak silat.
Iya berangkat kok.
Alvaro Item
Aku main bola dulu sama temen-temen.
Iya hati-hati
Alvaro Item
Jangan lupa bahagia. Love you ❤
Iya kamu juga. Love you too ❤
"Aaaaaaaaaaaaaaa." Sasa menjerit dalam hati.
Ternyata begini rasanya pacaran. Bahagia sekali. Sasa meletakan ponselnya di meja dekat kasur, berjalan mengambil handuk dan mandi.
Selesai mandi Sasa duduk di ruang tengah, tempat berkumpulnya keluarga. Cia yang sedang bermain bonekah dan Ayah Ibu yang sedang menonton televisi, sedangkan Farrel? Ia sedang bermain dengan temannya. Sasa menghampiri mereka tidak lupa membawa ponselnya.
"Cia." sapa Sasa duduk di dekat Cia.
"Apa?" balas Cia.
"Main apa dek? Kakak boleh ikut gak?" ujar Sasa.
"Onekah. Oleh ini kak." (bonekah. Boleh sini kak) balas Cia.
Sasa dan Cia bermain bonekah dengan sesekali tertawa bersama. Oh indahnya keluarga ini. Pukul 18.00 malam, adzan magrib tiba.
"Sholat dulu Sa." suruh Hanna.
"Iya bu." balas Sasa berjalan ke kamar mandi untuk wudhu. Setelah itu kembali ke kamar dan sholat sendiri.
Selesai sholat Sasa tiduran di kasurnya. Mengambil ponselnya di nakas. Ada notifikasi satu pesan. Sasa tersenyum nama Alvaro Item tertera dilayar ponselnya.
Alvaro Item
Sasa aku udah pulang.
Mandi dulu gih.
Alvaro Item
Udah dong. Dah harum nih.
Masa si? Kok aku nggak mencium bau-bau harum itu.
Alvaro Item
Mungkin hidungmu baru bermasalah, jadi gak bisa mencium betapa harumnya seorang Alvaro.
Sasa terkekeh membaca pesan itu.
Wkw mungkin emang lagi bermasalah. Udah sholat belum?
Alvaro Item
Ah masa? Udah dong.
Tau ah.
Alvaro Item
Gitu aja ngambek wkw. Jangan ngambek, nanti tambah cantik
Tambah ngambek nih.
Alvaro Item
Eh enggak lho cuma bercanda. Jangan ngambek dong.
Aku juga cuma bercanda
Alvaro Item
Awas ya kamu kalo ketemu.
Apaa?
Alvaro Item
Tunggu aja kalo ketemu wleee.
Ga takut wleee.
Dan mereka bertukar pesan sampai malam, sampai mereka berdua tertidur dengan sendirinya.
Pagi menjemput Sasa yang sedang tertidur pulas. Hanna sudah membangunkannya namun sangat susah sekali. Hanna menyuruh Cia membangunkan Sasa, pasti akan cepat bangun.
"Cia." panggil Hanna.
Cia datang menghampiri Hanna.
"Tolong bangunin Kak Sasa ya?" suruh Hanna.
Cia mengangguk. "Cip." (Sip) balasnya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
Cia berlaru ke kamar Sasa, pipinya ikkut bergerak kesana kemari. Sampai di kamar Sasa, Cia segera naik ke kasur Sasa.
"Akakkk angunnnnn." (Kakakkkk bangunnnn.) ujar Cia mengguncang badan Sasa.
Sasa hanya bergumam.
"Akakkkkk cekoyahhhhh." (Kakak sekolahhh.) teriak Cia menggelegar di telinga Sasa.
"Ihh Cia jangan keras-keras. Cempreng banget sih." sarkas Sasa.
Cia mengigit lengan Sasa.
"Akhhhh sakitttt Ciaaaaa." teriak Sasa.
"Aku bilangin Ibu biar dimarahin." dengus Sasa.
"Ibu ang cuyuh angunin wlee." (Ibu yang nyuruh bangunin wlee.) ujar Cia sambil menjulurkan lidahnya mengejek.
"Sasa udah jam 06.30." teriak Hanna dari dapur.
Sasa melotot kaget. "Kok Ibu gak bangunin dari tadi sih." decak Sasa sambil berlari ke kamar mandi.
5 menit kemudian Sasa keluar dengan tergesa-gesa. Memakai seragamnya dengan cepat dan merapikan rambutnya. Untuk wajah Sasa polos tidak menggunakan makeup. Seragam saja sangat tertib di masukkan. Cupu sekali Sasa. 20 menit kemudian Sasa keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa.
"Bu Sasa berangkat dulu." pamit Sasa.
"Minum dulu susunya." ucap Hanna.
"Nanti telat bu." balas Sasa khawatir.
"Masih jam 06.30 ini Sa." ucap Hanna terkekeh.
Sasa melihat jam dan ternyata benar, baru pukul 06.30. Sasa mendengus kesal.
"Makannya kalau dibangunin tuh dengerin. Apa harus Cia terus yang bangunin?" ujar Hanna terkekeh.
Sasa mendengus kesal. Cia yang di dekatnya tertawa keras.
"Diem." sarkas Sasa.
Sedangkan Cia malah menjulurlkan lidahnya mengejek.
"Minum dulu susunya." suruh Hanna.
Sasa mengambil s**u itu dari tangan Hanna dan meminumnya hingga tandas.
"Sasa berangkat Bu." pamit Sasa mencium tangan Hanna.
"Assalamualaikum." salam Sasa.
"Waalaikumsalam. Hati-hati." balas Hanna.
---
Sasa berjalan di sepanjang koridor sendirian, namun di belakang ternyata ada Alvaro. Alvaro mendekat, mensejajarkan langkahnya dengan Sasa.
"Selamat pagi." ucap Alvaro.
Sasa menoleh dan tersenyum mendapati Alvaro. "Pagi." balasnya.
"Jangan lupa bahagia." ucap Alvaro tersenyum.
Sasa mengangguk. "Jangan lupa tersenyum Alvaro." balas Sasa tersenyum.
"Nanti pulang bareng." ajak Alvaro.
Sasa menganggauk. "Iya." balasnya.
Alvaro masuk kedalam kelasnya, sedangkan Sasa masih berjalan kearah kelasnya yang berada di pojok. Sasa melihat Zanna sudah stay di dalam kelas.
"Zanna." panggil Sasa.
Zanna menoleh kearah suara. "Apa?" balas Zanna.
"Pagi amat berangkatnya." ujar Sasa duduk di dekat Zanna.
"Kepagian bangunnya." balas Zanna.
"Kasian." balas Sasa tertawa.
"Tidak perlu di sesalkan. Semua sudah terjadi." kata Zanna sok bijak.
"Sok bijak banget lo." balas Sasa.
"Iya ya? Gue kok bijak banget sih." ujar Zanna bingung.
"Zan." panggil Sasa.
"Apaaa ihh?" decak Zanna.
"Aelah santuy. Mau nanya nih?" tanya Sasa.
"Nanya apaan?" balas Zanna.
"Kalau bawa motor tuh pada di taruh mana sih?" tanya Sasa.
Zanna menggedikkan bahunya. "Entah."
"Tanya bagas aja. Dia kan suka bawa motor." ucap Zanna.
"Okay deh nanti gue tanya." balas Sasa.
"Kenapa emangnya? Lo mau bawa motor?" tanya Zanna.
"Pengen sih." balas Sasa.
Zanna hanya manggut-manggut mengerti.
Bagas datang tepat bell berbunyi. Sasa mengampiri Bagas di tempat duduknya. Avaro yang duduk di dekat Bagas disuruh pindah dekat Zanna.
"Gas." panggil Sasa.
"Paan?" balas Bagas.
"Lo kalo bawa motor parkir mana?" tanya Sasa.
"Belakang sekolah. Kenapa emangnya?" kata Bagas.
"Lo mau bawa motor?" lanjutnya lagi.
"Pengen." balas Sasa.
"Alvaro juga parkir disana." ucap Bagas.
"Lo pacaran sama Alvaro kan?" kekeh Bagas.
Sasa malu. "Tau dari mana?" tanya Sasa.
"Beritanya sudah menyebar." kekeh Bagas.
"Masa sih?" tanya Sasa tidak percaya.
"Iya." balas Bagas.
"Kok bisa pada tau ya?" tanya Sasa bingung.
"Banyak Lambe Turah disini." kekeh Bagas.
Guru datang dengan membawa tas dan buku. Sasa segera beranjak kembali ke bangkunya. Avaro juga balik ke tempat duduknya.
"Thanks Av." ucap Sasa.
"Sans." balas Avaro.
Pelajar di mulai dengan biasa, seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Namun ada penyemangat yang membuat Sasa semangat sekolah. Tau sendiri kan siapa orangnya?