Sore hari di temani senja orange yang sangat indah, Sasa dan Gita bersepeda bersama melewati Lapangan Sorobayan.
Nagita Dewi, sebut saja Gita. Cewek tomboy tapi cantik, gigi gingsul memberi kesan manis di wajahnya.
Saat Sasa dan Gita sedang bersendau gurau, tiba-tiba ada sebuah motor menyalip dengan ugal-ugalan tepat di samping Sasa.
Bremmm... Bremmm...
Deg.
Sasa terpelonjak kaget, ingin sekali Sasa merutuki pengendara motor itu. Untung saja jantungnya tidak copot di jalan.
"Alvaro." panggil Gita keras. Banyak pasang mata yang melihat kearah Sasa dan Gita. Malu sekali rasanya, untung saja teman. Kalau bukan udah Sasa buang ke pulau selat sunda.
Cowok itu melirik sekilas kearah Sasa dan Gita dengan senyum mengembang di bibirnya. Umm, manis sih... Tapi badboy!
"Lo kenal Git?" tanya Sasa.
Gita mengangguk semangat. "Namanya Alvaro Ardana Adinata. Ganteng banget ya?" ucap Gita dengan senyum gilanya.
"Dih item gitu kok ganteng." balas Sasa sinis.
"Ih dia ganteng tau. Lo aja merem liatnya. Senyumnya aja manis bikin gue meleleh." ucap Gita dengan gaya bucinnya.
"Iuhhh es kali meleleh." judes Sasa.
"Awas lo ya kalau sampai suka sama Varo." ucap Gita menunjuk kearah Sasa.
"Gak bakal suka cowok item kayak dia." balas Sasa remeh.
"Awas jilat ludah sendiri." ucap Gita meningatkan.
"Ayo lanjut sepedaan. Nggak guna ngurusin cowok." balas Sasa melanjutkan bersepeda di susul Gita.
Awan semakin petang, malam semakin menyambut. Waktu menunjukkan pukul 17.00 sore.
"Pulang yuk, udah mulai malem nih." ajak Gita.
"Ayo." balas Sasa.
Sasa maupun Gita pulang kerumah masing-masing. Sampai di rumah Sasa langsung mandi, tidak tahan dengan keringat yang menempel di tubuhnya. Setelah mandi Sasa makan lanjut tidur.
---
Pagi hari pukul 06.00 Sasa masih setia dengan kasurnya. Tidak peduli waktu terus berjalan. Matanya terpejam erat, tidak peduli sinar matahari mulai memunculkan sinarnya dari celah jendela.
"Sasaaaaa." panggil Hanna (Ibu Sasa) dari dapur.
Sasa hanya bergumam tidak jelas.
"Sasa bangun udah jam 06.00 pagi. Cepetan mandi, nanti telat sekolahnya." teriak Hanna.
Sasa hanya menggeliatkan badannya. Ingin bangun namun kasurnya posesif sekali, tidak ingin di tinggal oleh Sasa.
"Kasur Sasa mau bangun, jangan posesif gini dong." gumam Sasa.
Felicia muncul dari pintu kamar Sasa.
"Akak banun cekoyah." (kakak bangun sekolah) ucap Cia memukul lengan Sasa.
Sasa hanya bergumam saja.
Melihat Kakaknya hanya bergumam saja Cia naik keatas kasur Sasa. Cia mengigit tangan Sasa.
"Akkhhh sakit Ciaaaaaa." teriak Sasa.
"Akak ih au, andi canah." (Kakak ih bau, mandi sana) ucap Cia menutup hidungnya.
"Bodo." gerutu Sasa
Cup.
Sasa langsung mencium pipi gembul Cia dengan kilat, dan segera bergegas lari kekamar mandi untuk mandi. Sasa yakin Cia pasti akan marah, makanya Sasa langsung pergi.
"Ihhh akakkkkk auuu!" (Ihhh kakak bau!) teriak Cia kesal.
Cia turun dari kasur dengan muka marah berlari ke dapur mengadu kepada Hanna.
"Akak akal bu." (Kakak nakal bu) adu Cia dengan muka marahnya, bukannya takut tapi malah gemas.
"Kakak cuma bercanda sayang." ucap Hanna mencubit pipi Cie gemas.
"Cia yaper, mau mamam." (Cia laper, mau makan) kata Cia cemberut.
"Tunggu di meja makan sayang, ibu buatin makanannya dulu." ucap Hanna.
Cia sudah di ruang makan sambil duduk diam cemberut.
Sasa keluar dari kamarnya sudah rapi dengan baju seragam putih birunya. Ya, Sasa baru memasuki Sekolah Menengah Pertama.
Sasa duduk di dekat Cia. "Ihh dedek jelek kalau cemberut gitu." ledek Sasa.
"Akak yebih jeyek." (Kakak lebih jelek) ejek Cia.
"Serah Cia dah, yang penting Cia bahagia. Oh iya, Kak Farrel mana dek?" tanya Sasa.
"Au ah, cayi ndiri." (Tau ah, cari sendiri) ucap Cia cuek.
"Ibu... Sasa berangkat sekolah dulu, udah jam 06.40" pamit Sasa.
Hanna berjalan kearah Sasa. "Kamu enggak makan Sa?" tanya Hanna.
"Enggak bu, nanti makan di kantin aja." balas Sasa mencium tangan Hanna.
"Ini di minum dulu susunya." suruh Hanna sambil memberikan s**u coklat kesukaan Sasa.
"Siap!" balas Sasa senang.
Segera Sasa menghabiskan susunya hingga tandas tak tersisa.
"Udah habis. Sasa berangkat dulu ya bu." pamit Sasa sambil mencium tangan Hanna.
"Iya hati-hati." jawab Hanna tersenyum.
Sasa mengambil sepedanya di garasi, Sasa berangkat sekolah menggunakan sepeda, hitung-hitung sambil olahraga. Jarak rumah dengan sekolah tidak terlalu jauh jadi Sasa bisa tenang mengayuh sepedanya.
SMP Negeri 2 Srandakan, tepat di depan gerbang Sasa membacanya. SMP yang dari dulu di incar dan akhirnya bisa masuk sekolah di incarannya itu.
Sasa tersenyum sambil berjalan di koridor sekolah. Ia terbelalak kaget, cowok itu, cowok yang kemarin itu ternyata juga sekolah di sini dan sekarang tepat di depannya. Namun cowok itu melewatinya dengan senyum, lebih tepatnya senyum smirk.
"Gila manis banget senyumnya." batin Sasa.
Sasa memukul kepalanya. "Gak jadi manis. Jelek jadinya." gumam Sasa kesal.
Bisa-bisanya ia membatin begitu. Bodoh! Segera ia berjalan menuju kelasnya dengan cepat. Sampai di kelas langsung duduk dengan wajah kesal.
Zanna Kirana sebut saja Zanna, ia teman sebangku Sasa. Senyumnya sangat manis, cantik, dan yang pasti pintar sih dari pada Sasa. Maklumlah dari bandung.
"Kenapa muka lo?" tanya Zanna.
"Emang muka gue kenapa?" balas Sasa.
"Kayak pakaian yang belum di setelika, kusut!" kekeh Zanna.
Sasa melotot ke arah Zanna. "Sembarangan lo, cantik gini di samain sama pakaian kusut." sungut Sasa.
Zanna terkekeh mengangkat dua jarinya membentuk huruf v. "Pisssss." kata Zanna nyengir bagai kuda.
Ting... Ting... Ting...
Bell masuk berbunyi. Semua murid sudah masuk kedalam kelas. Guru pun sudah masuk dan memulai pelajarannya.
Guru itu menerangkan matematika dengan cepat membuat Sasa susah menangkap materinya. Pasrah, ia sudah lelah memahami matematika, namun matematika tidak pernah memahami Sasa.
Sasa menompang dagunya di atas meja. Sasa menyenggol lengan Zanna.
"Zan." panggil Sasa lirih.
"Apaan?" balas Zanna menoleh kearah Sasa.
"Lo paham ga?" tanya Sasa.
Zanna menggeleng.
"Terus lo ngapain dari tadi merhatiin papan tulis?" tanya Sasa.
"Biar ga di suruh maju." kata Zanna dengan cengir kuda.
"Kantin aja yuk." ajak Sasa.
"Kok lo ngajakin gue dosa sih. Ya udah ayok, lemah iman gue." balas Zanna.
Sasa dan Zanna berjalan kedepan. "Misi pak, mau izin kekamar mandi." ucap Sasa.
Guru itu mengangguk kemudian Sasa dan Zanna keluar dari kelas.
Lega!
"Akhirnya bisa keluar dari Aljabar." ucap Sasa merengangkan tangannya.
"Iya nih, otak gue juga udah capek." kata Zanna.
Sampai di kantin mereka duduk di paling pojok dan itu akan menjadi tempat mereka.
"Lo mau pesen apa?" tanya Zanna.
"Bakso sama es teh." balas Sasa.
"Okay!" ucap Zanna pergi memesan makanannya.
"Bu bud..." teriak Zanna.
"Eh, neng Zanna bolos ya?" tanya Ibu kantin, yang bernama Bu Budi.
Zanna menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Hehe iya bu, Zanna lapar." ucap Zanna.
Beberapa menit kemudian Zanna membawa nampan yang berisikan dua bakso dan dua es teh.
"Thankyou!" ucap Sasa.
Zanna mengangguk.
Kemudian mereka makan bersama, sesekali tertawa dengan ucapan lucu Sasa.
Tiba-tiba ada tiga cowok datang. Sasa tersedak makanannya melihat cowok itu, Alvaro! Dunia memang sempit sekali.
"Lo kenapa Sa?" tanya Zanna.
"Gapapa." balas Sasa.
"Lo kenal?" tanya Zanna sambil menggerakan bola matanya ke arah tiga cowok itu.
Sasa menggeleng.
"Oh kirain kenal." balas Zanna.
Tiga cowok itu duduk di samping Sasa dan Zanna, dan Alvaro duduk di samping Sasa membuatnya salah tingkah. Ya wajarlah kalau cewek duduk di dekat cowok yang tidak di kenal. Apalagi manis sekali senyumnya. Sasa juga manusia biasa kalik!
"Lo pesen apa?" tanya cowok yang entah tidak tau namanya.
"Bakso sama es jeruk." balas Alvaro.
"Gue juga." ucap cowok yang satunya.
Cowok itu pun langsung pergi memesan makanan yang di pesan temannya tadi.
"Eh ada ciwi-ciwi Al." ucap cowok itu sambil melirik Sasa dan Zanna.
Alvaro hanya diam!
"Kenalin, gue Kenzo Julian, panggil aja Kenzo." ucap Kenzo memperkenalkan.
"Zanna." balas Zanna.
"Sasa." balas Sasa juga.
"Ini temen gue, Alvaro." ucap Kenzo.
Sasa dan Zanna mengangguk tersenyum.
Teman satunya datang membawa nampan berisi makanan yang mereka pesan.
"Wahh makanan sudah datang." ucap Kenzo.
"Giliran makan aja cepet." balas cowok itu.
"Eh kenalin ini juga temen gue, eh buka temen sih, tapi musuh menyerupai teman. Namanya Rasya Kalandra." ucap Kenzo memperkenalkan.
"Panggil aja Rasya." lanjut Rasya.
"Zanna." balas Zanna.
"Sasa." balas Sasa.
Mereka lanjut makan bersama dengan nikmat. Ternyata cowok itu sangat cuek, beda dari Kenzo dan Rasya.
Acara makan sudah selesai. Sasa menyeruput esnya sampai tandas.
"Haus buk." ucap Kenzo.
Sasa hanya tersenyum kikuk. Entahlah, ia bingung mau jawab apa. Sasa gak pernah sedekat ini dengan cowok, pacaran aja gak pernah. Jomblo dari lahir.
---
Sore hari yang cerah dengan awan orange menemani Sasa, Gita dan Tatiana. Sebelumnya perkenalkan teman Gita yang bernama Tatiana.
Tatiana Amelia panggil aja Ana, teman kecil Gita dan ternyata juga sekelas dengan Sasa.
Mengapa Sasa tidak bermain dengan teman sebangkunya alias Zanna? Ya karena rumah mereka jauh, beda dengan Gita dan Ana, rumahnya tidak terlalu jauh dengan Sasa.
Mereka bertiga sedang makan di dekat Lapangan sorobayan.
"Eh lo sekelas sama gue ya?" ucap Ana.
"Iya. Tapi kita baru kenal sekarang" balas Sasa terkekeh.
"Iya gimana sih kalian, temen sekelas gitu gak kenal." kata Gita.
"Yeee sekelas orangnya juga banyak kali, semua itu butuh proses." kata Sasa.
"Alibi." sarkas Gita.
"Ha? Apa? Alibaba?" kekeh Sasa.
"Ha ha ha lucu!" ketawa Gita dengan nada di buat-buat.
Bremm... Bremm... Bremm...
Mereka kompak menoleh ke arah motor itu. Semua menatap kagum kecuali Sasa.
"Alvaro." teriak Ana.
Sasa melongo tak percaya, ternyata Ana juga mengenal Alvaro. Gila famous sekali cowok itu.
"Jangan teriak-teriak dong, budeg nih kuping." sarkas Sasa.
"Yaelah santai dong, gitu aja marah-marah." kekeh Gita.
"Sorry." cengir Ana.
"Ganteng banget sih Alvaro." puji Ana.
"Emang, ganteng parah Ya Allah." balas Gita drama.
"Drama banget sih kalian, gitu aja ganteng. Item woy item. Aelah gitu aja ganteng." ucap Sasa jutek.
"Lo aja liatnya merem sa." balas Gita dan di setujui Ana.
"Gue chat gak di bales anjirrr." curhat Ana.
"Untung gue di bales." kata Gita somong.
"Bullshit." sarkas Ana.
"Ya udah sih kalau gak percaya." kekeh Gita.
"By The Way Alvaro satu sekolah sama kita kan? Dia kelas mana woy?" tanya Ana antusias.
"7A, dia kan pintar." balas Gita.
"Masa sih?" ujar Sasa tidak percaya.
"Iya, Rata-ratanya pas masuk aja 28.00" ucap Gita.
"Idaman." balas Ana.
"Siapa tau covernya aja yang bagus." kata Sasa.
"Ngaco lo. Coba dulu makanya." ucap Gita.
"Kita taruhan dapetin Alvaro kuy." ajak Ana.
"Kuy lah, siapa takut." balas Gita.
"Gila lo, gak mau gue." tolak Sasa.
"Kenapa? Lo takut kalah?" ejek Ana.
"Okay deal." balas Sasa berjabat tangan dengan teman-temannya.
"Yang kalah traktir bakso Bu Budi 1 minggu." ujar Ana.
Semua mengangguk. Sasa ragu, pacaran saja tidak pernah, gimana mau deketin cowok.
Nanti tanya mbah google aja. Gampang! Batin Sasa dengan senyum smirknya.
Makanan mereka sudah jadi dan mereka makan bersama tanpa ada pembicaraan.
--
Malam harinya Sasa tidak bisa tidur, ia memikirkan taruhannya tadi. Memikirikan bagaimana caranya bisa mendapatkan cowok itu. Bahkan ia tidak mempunyai pengalaman akan hal itu.
Oh iya, Sasa tadi punya ide untuk tanya mbah google dan sekarang ia sedang mencari di google cara mendapatkan cowok.
Gila sih, niat banget gue. Batin Sasa.
Cara mendapatkan cowok :
1. Ajak mereka ngobrol.
2. Mulailah berbicara tentang apa saja.
3. Luangkan waktu untuk mengenal teman-temannya.
4. Cari tahu apa yang sebenarnya yang di inginkan cowok itu.
5. Tuliskan semua hal yang kamu sukai dari dirimu sendiri dalam sebuah daftar.
Sasa mengeryit bingung lalu mematika ponselnya.
"Ribet banget sih." kesal Sasa.
"Apa gue minta nomornya aja ya." tanya Sasa pada dirinya sendiri.
Sasa mengambil ponselnya lagi dan mengetikkan sesuatu kepada temannya, Gita.
Gita.
Gitazu.
Paan coy?
Em.. Minta nomornya Alvaro.
Gitazu.
Eh anjirr buat apaan? Punya gue itu. Lo dah mulai suka ya.
Bawel. Lo lupa kita taruhan? Ya buat gue deketin lah.
Gitazu
Aa bego, gue lupa.
087838226555
Siap-siap traktir 1 minggu ya, gue udah chatan sama dia nih.
Liat aja nanti.
Gitazu
Okay. Jangan marah kalau kalah.
Santai, lo tuh yang siapin hati. Nanti ancur kalo gue yang menang.
Gitazu
Ah bacot lo, bikin gue kezel aje.
Sasa tersenyum melihat chat terakhir Gita. Ia tak membalasnya, hanya membaca saja.
Sasa menyimpan nomor Alvaro ke ponselnya.
Alvaro Item
Nama itu tertera di kontak ponsel Sasa. Ia bingung mau chat apa untuk memulainya.
"Apa aku bilang hai aja ya?" gumam Sasa.
"Ih ga jelas banget kalau hai." ralat Sasa.
"Em... Apa malem gitu aja ya?" tanyanya lagi.
"Itu lebih ga jelas. Udah tahu kalik dia kalau udah malem." ralatnya lagi.
Selanjutnya Sasa memilih untuk mengirim pesan yang berisi.
Alvaro.
Sasa menunggu balasan pesan dari Alvaro, namun nihil. Sasa sudah gelisah, mau di taruh mana mukanya kalau pesannya gak di balas. Sebenarnya ia malu mengirim pesan duluan. Tapi mau gimana lagi? Sudah terlanjur deal. Sedangka Gita sudah mulai tukar pesan lebih dulu.
Sasa berdecak sebal, bisa-bisa dia kalah dari Gita, ya memang sih Gita tuh cantik, manis dan giginya gingsul, ya nyaris sempurnalah karena manusia tidak ada yang sempurna, hanya Allah yang sempurna. Tapi, tidak perlu sempurna untuk di cintai, cukup jadi diri sendiri.
20 menit kemudian, Sasa sudah mulai bosen menunggu balasan.
Drrttt...
Ponsel Sasa bergetar, segera ia melihat siapa yang mengirim pesan, dan ternyata...
Alvaro item
Siapa?
Segera Sasa membalas pesannya, semoga saja berlanjut, dalam hati Sasa kegirangan.
Temennya Gita.
Alvaro item
Namanya?
Sasa.
Alvaro item
O.
Tahu?
Alvaro item
Tempe.
Ishh maksudnya lo tau gue ga?
Alvaro item
Gak.
"Anjirr padahal dulu udah pernah kenalan di kantin deh." batin Sasa mengingat.
"Bodo ah penting gue harus puter otak nih biar tetep lanjut." batin Sasa semangat.
Sasa mulai membalas pesan dari Alvaro lagi.
Makanya kenalan kalau ga tau.
Alvaro item
Ga penting.
Sasa mencoba menegarkan hatinya, untung kuat, Sasa kuat!
Dingin banget.
Alvaro item
Hah?
Sikap lu dingin.
Alvaro item
Gajelas.
Apa perlu gue jelasin?
Alvaro item
Gapenting.
Yausah sih santai.
Alvaro item
Gue dari tadi juga santai.
Hm.
Alvaro item
Btw lo temennya Gita?
Iya. Kenapa emang?
Alvaro item
Gue mau nembak dia, bantuin. Istirahat pertama ajak ke kelas gue. Lo satu sekolah sama gue?
Ok.
Alvaro item
Thanks.
Sasa tidak membalas pesannya, ia mengerucutkan bibirnya sebal. Ia kalah lebih dulu dari Gita. Kalau sudah begini mana mungkin Sasa bisa mengambil hatinya. Pasti jelas Gita yang menang.
---
Pukul 06.40 pagi Sasa sudah sampai sekolah. Hanya ada beberapa orang yang di kelas, bisa di hitung jari. Memang ia berangkat lebih awal. Entahlah, hatinya sedang tidak mood hari ini mengingat pesan tadi malam. Tapi ia juga harus membantu cowok itu, mau gimana lagi? Sasa kan cewek yang baik, walau hatinya ambyar.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul 07.00 hanya kurang 5menit. Banyak murid berdatangan satu persatu. Sasa masih setia duduk di bangkunya, sedangkan Zanna baru saja berangkat dan duduk di sampingnya.
"Sa." panggil Zanna.
"Hm." balas Sasa ogah-ogahan.
"Napa muka lo?" tanya Zanna.
"Napa emangnya?" balas Sasa.
"Kusut!" kekeh Zanna.
Sasa hanya memutar bola matanya malas.
"Serius lo kenapa sih?" tanya Zanna.
"Bete gue." kata Sasa.
"Kenapa, cerita sama gue?" tanya Zanna.
"Gapapa." balas Sasa.
"Gapapa bukan jawaban anjirrr." kesal Zanna.
"Bodo." ketus Sasa.
Ting... Ting... Ting...
Guru masuk kedalam kelas dengan membawa tas dan buku di tangannya. Kacamata tak lupa di sampirkan di saku baju atas. Guru itu memakai kacamatanya.
"Assalamualaikum." salam Pak Budi--nama Guru itu.
"Waalaikumsalam." jawab murid serempak.
"Selamat pagi anak-anak. Apa kabar?" tanya Pak Budi.
"Pagi. Baik pak!" jawab murid serempak.
Lalu KBM di mulai. Pak Budi mulai menjelaskan tentang sejarah di Indonesia dan pahlawan yang telah gugur mendahuluinya.
"Fokus." kata Zanna.
"Hm." balas Sasa malas, moodnya sangat buruk hari ini.
---
Ting... Ting... Ting...
Bell istirahat pertama berbunyi, segera Sasa beranjak dari duduknya menghampiri Gita yang di belakangnya.
"Ikut gue Git." ucap Sasa.
"Kemana?" tanya Gita.
"Udah sih ikut aja." ucap Sasa kesal.
"Iya iya." balas Gita mengikuti Sasa.
Sampai akhirnya mereka sampai di kelas 7A. Gita mengernyit bingung.
"Ngapain kesini?" tanya Gita.
"Masuk sana." balas Sasa.
"Ngapain?" tanya Gita.
"Ditunggu Alvaro itu." kata Sasa
"Gak ah, malu gue." balas Gita.
Segera Sasa menyeret Gita ke dalam kelas Alvaro, untung teman-teman Alvaro sudah pada ke kantin. Hanya tinggal Alvaro yang ada di kelasnya. Mungkin udah di rencanakan.
"Alvaro gue tutup pintunya, cepet ngomong!" teriak Sasa.
"Iya." balas Alvaro dari dalam.
Gita memberontak dari dalam, pintunya di gedor2 agar terbuka. Sedangkan Sasa mencegah pintunya dari luar agar tidak terbuka.
Di dalam kelas Alvaro hanya diam memandang Gita yang memberontak ingin keluar. Alvaro menghela napas kasar. Alvaro maju mendekat kearah Gita, namun Gita enggan menatapnya. Gita malu melihatnya, ini sangat mendadak. Gita masih tetap memberontak.
"Buka." teriak Alvaro dari dalam.
Segera Sasa membuka pintu itu dan keluarlah Gita dari kelas dengan muka merah menahan malu, segera Gita keluar berlari ke kelas.
Sasa masih di depan pintu itu dengan Alvaro.
"Gimana?" tanya Sasa.
"Gak jadi." balas Alvaro.
"Kenapa?" tanya Sasa bingung.
"Dia kayaknya gak suka sama gue." balas Alvaro.
"Dia suka sama lo kok." ucap Sasa.
"Gimana sih lo? Dah gue bantuin malah nyerah gitu aja." lanjut Sasa.
"Percuma. Dia gak butuh gue." balas Alvaro.
"Tapi dia suka sama lo." kata Sasa.
Bukannya menjawab Alvaro malah masuk kedalam kelasnya tanpa berterimakasih dengan Sasa.
"Anjirrr gatau terimakasih banget sih." kesal Sasa.
Sasa kembali ke kelas dan bell berbunyi.
Ting... Ting... Ting...
Sasa menghampiri Gita di kelas.
"Kenapa lo kabur?" tanya Sasa.
"Anying gue malu." balas Gita kesal.
"Kesempatan lo terbuang sia-sia, bentar lagi gue yang dapet dia. Siapin uang traktiran selama 1 minggu." ucap Sasa dengan senyum smirknya.
Gita hanya mendengus kesal, sedangkan Ana yang di sampingnya hanya diam. Ana tidak mendapat kesempatan apapun, di balas chatnya saja tidak.
---
Malam harinya Sasa tiduran di kasur sambil bermain ponsel. Ia tidak belajar, malas. Ya, dia pemalas sekali kalau di suruh belajar.
Drtt...
Ponsel Sasa bergetar. Sasa membuka aplikasi w******p melihat siapa yang mengirim pesan. Mata Sasa terbelalak kaget, Alvaro Item. Segera Sasa membuka isi pesan itu.
Alvaro Item
Hai.
Hai.
Alvaro Item
Lagi ngapain?
Tiduran aja.
Alvaro Item
Dah makan?
Udah.
Dan chat mereka berlanjut sampai pukul 00.00. Sasa semakin semangat mendekati Alvaro. Ia mempunyai peluang untuk memilikinya.