Part 07

2303 Kata
Malam pun tiba dengan cepat jika sedang bersama pacar. Untung saja Sasa sudah pulang sebelum adzan isya'. Walau tadi sempet di marahin, eh bukan di marahin, lebih tepatnya di nasehatin. Sebelum pulang mereka tadi mampir ke masjid dan sholat bersama. Kini Sasa sudah berada dirumahnya, bahkan sudah berada di atas kasurnya yang pastinya dengan perasaaan bahagia. Manusia mana yang tidak bahagia habis jalan dengan pacar yang dicintainya? Senyum sendiri sekarang sudah menjadi hobi Sasa. Perasaan bahagianya tidak dapat ditutupi. Sasa tiduran di atas kasurnya sambil mendengarkan musik. Sasa menyukai lagu berbau mellow. Seperti sekarang ia mendengarkan lagu dari stinky ~ mungkinkah. Saat reff ia ikut bernyanyi, walaupun suaranya asli parah banget. Tapi tidak ada yang mendengarkan, Sasa tidak peduli. Mungkinkah kita kan selalu bersama Walau terbentang jarak antara kita Biarkan kupeluk erat bayangmu Tuk melepaskan semua kerinduanku. Saat menyanyikan reff lagu itu Sasa jadi teringat ucapan Alvaro saat di Paralayang tadi. "Apa mungkin? Apa bisa? Sedangkan gue masih termasuk anak kecil, belum matang dan belum dewasa. Ini lebih pantas di sebut "Cinta Monyet". Tapi mau bagaimana lagi? Gue tidak bisa menghindar dari perasaan cinta, dan gue tidak bisa memilih untuk mencintai seseorang, karena pada dasarnya cinta itu muncul secara tiba-tiba." Batin Sasa. "Ternyata memang benar, jangan terlalu membenci, karena benci itu bisa menjadi cinta." Gumam Sasa terkekeh. Ia teringat saat pertama kali bertemu dengan Alvaro. Saat sedang bersepeda dengan Gita. Bahkan ia mengatai Alvaro Item. Jika mengingat itu Sasa malu sendiri, karena menjilat lidah sendiri. Drttt... Ponsel Sasa bergetar, tanda ada pesan masuk. Sasa mengambilnya dan melihat siapa yang mengirim pesan itu. Ternyata Alvaro Item. Alvaro Item Selamat malam sayang, selamat beristirahat, terimakasih untuk hari ini. Im very happy ❤ Sasa tersenyum membaca pesan singkat itu, segera Sasa mengetik balasan untuk Alvaro. Selamat malam juga sayang, iya kamu juga istirahat, iya sama-sama aku juga bahagia hari ini ❤ Alvaro Item Tidur sayang, besok sekolah. See you and Love you ❤ Iya kamu juga tidurnya jangan malam-malam. Love you too ❤ Alvaro Item Iya ini langsung tidur. Nice dream Sasa tersenyum bahagia membaca pesan singkat dari Alvaro. Sasa mengedit nama Alvaro Item menjadi Alnata. Nama itu singkatan dari nama panjang Alvaro Ardana Adinata. Setelah mengedit nama Alvaro menjadi Alnata, Sasa segera mematikan musik dan menaruh ponselnya di nakas. Sasa berbaring di kasur, membenarkan selimutnya dan tidur dengan mimpi yang indah bersama Alvaro. --- Pagi hari yang cerah secerah wajah Sasa. Ia sangat bersemangat untuk berangkat sekolah. Sekarang Sasa mempunyai semangat untuk sekolah, siapa lagi kalo bukan Alvaro. Mengingat Alvaro tidak akan ada habisnya. Segera Sasa mengambil sepeda yang ada di garasi. Loh katanya Sasa ingin menggunakan motor? Ralat. Sasa masih takut jika tidak ada temannya. Sasa mengayuh sepedanya dengan semangat. Sampai di sekolah Sasa menaruh sepedanya di parkiran seperti biasa. Ternyata Zanna belum berangkat. Sepedanya belum ada di sana. Sasa berjalan ke kelasnya menuju koridor sekolah. "Sa." panggil Nasya. Ia berada di belakang Sasa. Sasa menoleh. "Eh Nasya." balas Sasa. Nasya memakai seragam yang tidak sesuai aturan sekolah. Baju dikeluarkan dan ketat, sepatu tidak sepenuhnya hitam, rambut panjang terkurau indah. Namun tetap keren, ya gimana lagi? Nasya itu sangat cantik. Pakai baju apa saja cocok. Sasa mensejajarkan langkahnya dengan Nasya. "Sendirian aja?" tanya Nasya. "Iya hehe." balas Sasa. "Alvaro mana?" tanya Nasya. Sasa mengedikkan bahu. "Entah, mungkin belum berangkat." balas Sasa. "Ehemmm..." dibelakang ada suara deheman. Spontan Sasa dan Nasya menoleh. Ternyata.... Alvaro! "Sejak kapan lo dibelakang kita?" tanya Nasya. "Sejak tadi." balas Alvaro. "Cariin Sasa tuh." ucap Nasya sambil menunjuk Sasa. Sasa melotot kaget. "Ehh eng..gak." balas Sasa grogi. Alvaro mendekati Sasa dan langsung mengenggam tangan Sasa. "Ayo aku anter ke kelas." ucap Alvaro. "Eh gak usah repot-repot." balas Sasa gugup. "Ga usah gugup gitu." kekeh Alvaro. "Anjirrrr jadi nyamuk gue." gerutu Nasya. "Ayo, daripada disini nanti digigit nyamuk tuh." kekeh Alvaro lalu mrnggeret Sasa dan mengantarkan kekelasnya. "Dancok." umpat Nasya. Nasya melenggang pergi ke kelasnya dengan wajah kesal. Kini Sasa dan Alvaro sudah sampai didepan kelas Sasa yang berada di paling pojok. "Sana masuk." suruh Alvaro. Sasa mengangguk. "Makasih." balasnya. Alvaro mengangguk tersenyum. Sasa masuk kelas dengan senyum yang mengembang. Alvaro segera kembali kekelasnya. "Aaaaaaa." jerit Sasa. "Apasih lo kunti." cemoh Avaro. "Syirik aja deh." sinis Sasa. Avaro mendekati bangku Sasa dan duduk di dekatnya. "Nih buku yang lo pengen." ucap Avaro memberikan bukunya. Mata Sasa berbinar plus melotot kaget. "Eh banyak banget ini." balas Sasa. "Apasih yang gak buat lo." kekeh Avaro. Avaro itu kadang jail, nyebelin tapi kadang juga baik. Untuk cewek normal dia termasuk cowok yang tampan guys. "Sa ae lu bambank!" ucap Sasa. "Btw ini gue bayar berapa?" tanya Sasa. "Gratis buat lo." balas Avaro. "Eh yang bener lo? Gak enak gue sama lo." ucap Sasa tidak enak. "Dienak-enakin aja Sa." kekeh Avaro. "Ini 1 pack lho Av. Banyak banget, pasti mahal." ucap Sasa. "Santuy." kekeh Avaro. "Tawa mulu lho bambank!" cerca Sasa. Zanna datang dengan heboh. "Wahh smash." teriak Zanna. Zanna mendekati Sasa. "Gue minta satu dong Sa." pinta Zanna dengan cengiran. "Ambil aja." balas Sasa. "Tapi jangan yang Bisma sama Morgan." Lanjut Sasa. "Yahhh." ucap Zanna lesu. "Yaudah Rafael aja deh." final Zanna. "Ambil aja." suruh Sasa. Zanna mengambil buku yang bergambar Rafael. "Av pergi sono." usir Zanna. "Baru dateng main usir aja lo." cemoh Avaro bangkit dari tempat duduknya. "Jangan gitu Zan, dia yang beliin nih buku." kata Sasa. Zanna duduk di tempat duduknya. "Bodoamat, yang penting kan nih buku udah di kasih elo." cecar Zanna. "Dasar Onyet." cibir Avaro yang kini keluar dari kelasnya. "Jangan gitu, kasian tauk." ucap Sasa. Zanna nyengir kuda. "Maklum baru PMS." kekeh Zanna. Sasa menepuk jidatnya. "Pantesan." balasnya. --- Bell istirahat berbunyi. Sasa dan Zanna segera ke kantin. Perutnya sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Dari tadi meronta ingin diisi. Sasa dan Zanna berjalan cepat ke kantin. Sampai di kantin Zanna yang memesan makanannya. "Seperti biasa Zan." ucap Sasa. Zanna memesan makanannya, sedangkan Sasa mencari tempat duduk, dan duduk di tempat biasanya, pojok! Sasa menunggu Sasa sendirian. Ada kakak kelas datang yang berlagak sok menguasai. Ia menatap sinis kearah Sasa, namun Sasa berlagak bego tidak melihatnya. Sasa takut, untuk pertama kalinya ada yang menatapnya sedemikian, padahal Sasa tidak merasa membuat salah dengannya. Wajar saja takut, Sasa baru saja lulus SD yang gak tau apa-apa tiba-tiba ada yang terlihat membencinya. Untung saja Zanna cepat datang membawa makanan mereka. Sebenarnya Zanna sudah mengetahui jika kakak kelas itu menatap Sasa sinis, makanya Zanna menyuruh Bu Budi untuk cepat-cepat membuat makananya dan segera kembali tempat duduk dekat Sasa. "Zan itu siapa sih?" lirih Sasa sambil makan makanannya. "Kakak kelas yang dari tadi natap lo sinis? Dia Tasya dan yang di sampingnya itu Siska." balas Zanna lirih. "Lo ada masalah apa sih sama dia kok natap lo segitunya?" lanjut Zanna. Sasa mengedikkan bahu. "Entah, gue juga gatau." balas Sasa. "Yaudah bodoamat dah. Mending kita makan." final Zanna. Sasa mengangguk dan segera menyantap makanannya. Di saat mereka makan Clara dan Arum datang. "Kak." panggil Clara ke kakak kelas yang sok berlagak itu, Tasya. "Eh hai Clar." balas Tasya. "Kok belum pesen kak?" tanya Arum. "Ini mau pesen." balas Tasya. "Oh ya udah gue pesen duluan ya kak." pamit Clara. Clara dan Arum memesan makanan mereka. Clara melihat Sasa dan Zanna. "Hai Sasa, hai Zanna." sapa Clara. "Hai kak." balas Sasa dan Zanna. "Gercep amat udah makan aja." kekeh Clara. "Eh iya kak, ayo makan." ajak Sasa. "Bentar, baru pesen." balas Arum. "Oh iya kak." balas Sasa. "Lanjut makan gih." ucap Clara. Sasa dan Zanna mengangguk. Sedangkan Tasya dan Siska tidak jadi beli makanan dan segera pergi. Kini Sasa, Zanna, Clara dan Arum sibuk dengan makanannya masing-masing. Tidak ada obrolan antara mereka berempat. Yang lebih dulu selesai Sasa dan Zanna, karena memang mereka duluan yang makan. Avaro datang dengan cengirannya dan duduk di sebelah Sasa. "Hai girl." sapa Avaro terkekeh. "Hai." balas mereka kompak kecuali Clara. "Ngapain kesini?" selidik Clara. "Boker." balas Avaro tanpa pikir panjang. "Astagfirullah inginku berkata b*****t! Gue lagi makan njir!" sarkas Clara. "Cewek itu gak boleh ngomong kasar." balas Avaro. "Bodoamat." sinis Clara. "Eh btw bayarin gue ya? Hehe. Avaro ganteng." pinta Clara dengan cengirannya. Terdengar dengusan Avaro. "Kalo minta bayarin aja sok muji!" kata Avaro. Cengiran itu nampak dari gigi Clara. Sedangkan Sasa dan Zanna cuma melihatnya saja. "Gue juga Av." kekeh Arum. "Semuanya aja sekalian Sasa, Zanna." dengus Avaro. "Oke, gue setuju." balas Sasa dan Zanna terkekeh. Semuanya terkekeh kecuali Avaro yang mendengus kesal. Avaro berjalan membayar semua makanan mereka dengan muka kesalnya. Avaro keluar dengan muka masamnya, uangnya amblas oleh cewek-cewek itu. Padahal mereka siapa? Bukan siapa-siapanya Avaro, terkecuali Clara, ia saudaranya. Namun tidak apa, toh Avaro juga anak tunggal, jadi dia bisa minta uang kapan saja. Orangtuanya bekerja hanya untuk Avaro. "Thankyou Avaro ganteng." ucap Clara. "Terimakasih Avaro tampan." ucap Arum. "Makasih Avaro." kekeh Sasa. "Suwun Av." kata Zanna. "okay your welcome." balas Avaro yang kini duduk di sebelah Sasa. "Sok inggris lo Av." ejek Sasa. "Whatever." balas Avaro jengah. Lagi-lagi semuanya terkekeh dengan tingkah Avaro. "Temen cowok lo pada kemana? Sediri mulu." tanya Clara. Avaro mengedikkan bahunya. "Entahlah." balas Avaro santuy. "Jangan-jangan lo gak punya temen Av?" tuduh Sasa. Sontak semuanya tertawa lagi, sedangkan Avaro lagi-lagi mendengus kesal. "Tau ah males, dari tadi dibully terus. Gue cabut bye!" ketus Avaro. "Ih gitu aja ngambek." ledek Clara. Avaro menggandeng Sasa dengan PDnya. Sontak Sasa terbelalak kaget. "Apaan sih Av, lepas!" gertak Sasa. "Eh lupa malah kebawa." ucap Avaro sambil melepaskan Sasa dan pergi begitu saja. Semuanya tertawa lagi, terkecuali Sasa yang menahan kekesalannya. Sasa duduk seperti semula. Didekat Clara. "Kak." panggil Sasa. Semuanya menoleh, Clara dan Arum. "Iya?" balasnya. "Gue mau tanya boleh gak?" ucap Sasa. "Boleh lah." balas Clara. "Apaan emang?" tanya Arum. Mereka fokus mendengarkan yang akan diucapkan Sasa. "Itu tadi kak Tasya sama kak Siska, kakak kenal deket?" tanya Sasa. "Oh itu, iya kami kenal." balas Clara. "Kenapa emang dek?" tanya Arum. "Dia kalo liatin Sasa sinis banget kak." ucap Zanna. Sasa mengangguk mengiyakan. "Padahal gue gak pernah ngrasa ada salah. Saat ini gue fine-fine aja kak gak pernah buat masalah." ucap Sasa. Clara berdehem sebelum membalas ucapan Sasa dengan serius. "Dia emang gak suka sama lo. Dia pernah mau labrak lo, tapi gue bilang jangan kak, dia baik kok. Dia temen gue. Sebenarnya dia hanya iri saja." jelas Clara. Deg. Jantung Sasa berpacu dengan cepat, ternyata Tasya dan Siska sangat membencinya. "Kalau Siska, dia suka sama Alvaro. Makanya dia gak suka sama lo karena lo pacarnya Avaro." lanjut Arum. Deg. Lengkap sudah masalah Sasa. Terlihat wajah Sasa yang mendadak pucat dan gelisah. "Santuy, masih ada gue." ucap Zanna menenangkan. "Lo gak salah, jadi gak usah takut." lanjut Zanna. Sasa mengangguk lemah. "Masih ada gue juga sama kak Arum dek, sans dong." ucap Clara menenangkan. Sasa tersenyum. Ternyata masih banyak yang menyayangi Sasa. Hanya saja selama ini Sasa tidak terlalu memperhatikan. Ting... Ting... Ting... Bell masuk sudah berbunyi menandakan bahwa istirahat sudah selesai dan diganti dengan pelajaran. "Kak duluan ya." pamit Sasa dan Zanna. "Iya, hati-hati." balas Clara dan Arum. Sasa dan Zanna berjalan kekelasnya dengan santai, mengingat guru yang mengajar selanjutnya juga santai, tidak killer. Kelas mereka berada di paling pojok. Mereka melewati toilet, dan Deg. Sasa kaget melihat Tasya dan Siska yang tiba-tiba muncul dari toliet. Sasa gugup dan takut, tapi ia mencoba biasa saja seperti tidak tahu apa-apa. Sasa tersenyum kearah mereka, tapi mereka membalas dengan senyum sinis, melewati Sasa dan Bruk. Dengan sengaja Tasya menabrak bahu Sasa dengan keras. Belum reda sakitnya, bruk. Siska menabrak bahu Sasa dengan sengaja dan keras. "Akhhh." rintih Sasa sambil memegang bahunya. "Sa mending kita ke UKS aja. Sakit banget ya?" tawar Zanna. Sasa mengangguk setuju. Kini mereka berada di uks dan tiduran disana, menatap langit-langit atas. "Sa." panggil Zanna. "Hm." dehem Sasa. "Kak Tasya sama kak Siska kok kelihatannya dendam banget sama lo ya." ujar Zanna masih yang tiduran di samping Sasa tanpa menoleh kearah Sasa. "Entahlah. Gue juga gak tau." balas Sasa. "Gue gak nyangka, ternyata kak Siska menyukai Alvaro." ucap Zanna. Sasa menghela napas kasar. "Hm, apalagi gue." balas Sasa. Ceklek. Pintu uks terbuka dengan lebar dan menampilkan seorang cowok. Avaro, ya cowok itu Avaro. "Ngapain lo disini?" tanya Sasa. "Lo gapapa?" tanya Avaro. "Emang gue kenapa? Gue gapapa tuh." bohong Sasa. "Gue tau Sa, gue tadi juga ada disitu, dibalik kamar mandi." ucap Avaro. "Terus?" tanya Sasa. "Lo ada masalah apa sama Tasya dan Siska itu?" ucap Avaro. "Kok lo kepo banget sih Av." ucap Zanna. "Gue tanya Sasa." tegas Avaro. Sasa mengedikkan bahunya. "Entahlah, gue juga gak tau." balas Sasa. Avaro pergi keluar tanpa pamit dan menutup pintu itu. "Aneh." ucap Sasa. "Sepertinya Avaro suka sama lo deh Sa." tebak Zanna. "Jangan ngawur lo kalo ngomong." ucap Sasa. "Liat aja nanti." balas Zanna. Selang berapa menit lagi pintu itu terbuka dan menampilkan Avaro lagi dan lagi. "Ngapain lagi sih?" tanya Sasa kesal. Avaro membawa kantong plastik besar dan memberikannya kepada Sasa. "Dimakan, habisin sama Zanna. Jangan lupa olesin minyak tuh bahu." jelas Avaro lalu melenggang pergi. Belum sempat Sasa berterimakasih tapi pintu sudah tertutup kembali. "Gue jadi gak enak sama Avaro." ucap Sasa. "Keliatan tuh kalo suka sama lo." balas Zanna. "Ngomong apaan sih lo, gak mungkin lah." kata Sasa. "Tunggu aja." balas Zanna. "Apaan sih lo, gajelas." ucap Sasa. "Makan kuy." ajak Zanna. "Kuylah." balas Sasa semangat. Sasa membuka kantong plastik itu dan menumpahkan semua isinya di atas tempat tidur itu. "Woah banyak sekali." kata Sasa dengan mata berbinar. 1 merk makanan ada 2 makanan. Ternyata Avaro sudah menyiapkan untuk Zanna juga. "Avaro baik ya." ucap Zanna memulai membuka makanan yang ia pilih. Sasa mengangguk setuju. "Iya, sering-sering aja begini." kekeh Sasa. Sasa mengambil makanan yang ia suka dan membukanya. Mereka melahapnya dengan semangat. "Alvaro sama Avaro emang mantul dah, gue selalu kecipratan." kekeh Zanna. "Enakan di elo yekan?" sinis Sasa. Zanna terkekeh. "Hooh." balasnya. Mereka tidur di UKS sampai bell pulang sudah berbunyi. Sasa dan Zanna ketiduran, tidak ada yang membangunkan mereka. Ceklek. Pintu terbuka menampilkan Avaro masuk dengan membawa tas Sasa dan Zanna. Avaro masuk dan melihat Sasa, betapa tenangnya wajah Sasa saaat tertidur. "Cantik." gumam Avaro. Avaro melangkah dan membangungkan Sasa dan Zanna. Avaro menepuk lengan Sasa pelan. "Sa bangun pulang." ujar Avaro. "Sa." "Sa." "Sasa." sentak Avaro. Sasa terkejut reflek langsung bangun dan duduk. "Eh santuy." ucap Avaro. "Apaan sih, ngagetin aja lo." sinis Sasa. "Udah waktunya pulang." ucap Avaro mengingatkan. Sasa terbelalak kaget. "Hah jam berapa ini?" tanya Sasa. "Jam 02.00 lebih." balas Avaro. "Arghhh gue ketiduran." ucap Sasa. Sasa melihat kesamping dan dilihatnya Zanna masih tertidur pulas. Sasa menepuk lengan Zanna dengan pelan. "Zan bangun." ucap Sasa. Zanna hanya menggeliat. "Zanna bangun." teriak Sasa. Zanna langsung bangun dengan muka kagetnya. Sedangkan Sasa dan Avaro terkekeh. "Bangsat." umpat Zanna. "Lo mau pulang gak?" tanya Sasa sinis. "Emang dah pulang ya? Jam berapa ini?" tanya Zanna. "Jam 02.00 lebih." balas Sasa "Anjirrr gue ketiduran." kata Zanna. "Tas kita masih didalam kelas Sa." ucap Zanna mengingatkan. "Tas kalian udah gue bawa ini." ucap Avaro memperlihatkan kepada mereka. Sasa dan Zanna mengambil tasnya. "OMG makasih banget Avaro, lo baik banget sih." ucap Zanna heboh. Avaro mengangguk. "Santai." Balasnya. "Makasih Av." ucap Sasa tersenyum. Avaro tersenyum. "Sama-sama." balasnya. Kini mereka sudah beranjak dari UKS dan menuju parkiran untuk pulang kerumah masih-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN