Chapter 22

1671 Kata
Wajah Ghifan berubah agak masam. "Dia menyukai sekretaris saya." Hendry, "!!?" Hendry merasa bahwa dia pasti salah dengar. Hendry melirik ke arah Rinoi, dia menggaruk pelipisnya. Apakah tebakannya salah? namun dia melihat jelas bahwa Syarastini selalu melirik mencuri-curi pandang ke arah Ghifan sambil tersipu malu, jika Syarastini menyukai sekretaris Tuan Nabhan ini, maka Syarastini tidak perlu melirik dan melihat-lihat Tuan Nabhan secara sembunyi-sembunyi. Ini pasti ada sebuah kesalahpahaman. "Ah, benarkah?" Hendry mulai berpura-pura tidak tahu. "Ya," sahut Ghifan. "Dari mana Anda tahu bahwa Nona Tini menyukai sekretaris Anda?" tanya Hendry. Seorang bodyguard datang, "Tuan, apakah kami akan pergi sekarang?" "Ya," sahut Ghifan setuju. "Baik." Bodyguard itu kembali ke kemudi dan menghidupkan mesin. "Tidak perlu dijelaskan lagi, gadis mana yang membuang waktunya dua tahun hanya untuk menanyakan jadwal kerja seorang pria? gadis mana yang membuang-buang waktu dua tahunnya untuk melihat dari jauh orang yang dia suka?" tanya Ghifan. Hendry cukup terkejut setelah tahu bahwa Syarastini ternyata sudah dua tahun mengikuti pria yang dia sukai. "Anda mendengar sendiri konfirmasi atau ucapan dari mulut Nona Tini bahwa dia menyukai sekretaris Anda?" tanya Hendry. Dia mulai agak gerah karena sikap tuan Nabhan ini yang kurang peka terhadap perasaan seorang gadis, Hendry mulai bertanya, terbuat dari apa hati dan jantung Tuan Nabhan yang ini?. Dia kasihan pada Syarastini yang berjuang untuk membuat dirinya terlihat di mata tuan muda Nabhan ini, namun tidak berhasil terlihat. Ghifan diam. Begitu pula dengan Rinoi yang hanya melirik dan mendengar percakapan antara bosnya dan tuan Kao itu. Ghifan tidak bisa menjawab pasti apakah Syarastini mengatakan ucapannya bahwa dia menyukai Rinoi? yang dia tahu dari sekretarisnya yaitu, Syarastini itu menyukai orang yang bekerja di perusahaan milik ayahnya. "Sepertinya Anda harus jeli dalam melihat ini. Coba periksa cctv di sekitar ke mana pun Anda pergi, temukan hal apa itu," ujar Hendry. Ghifan melirik ke arah Hendry, dia mengerutkan keningnya karena tak paham dengan apa yang Hendry ucapkan. "Tuan Kao, maksud Anda?" "Maksud saya, Anda mungkin harus menyelidiki asal muasal seseorang membuntuti Anda," jawab Hendry, dia melirik ke arah Ghifan dan Rinoi secara bergantian. "Ya … akan saya pikirkan," balas Ghifan. °°° "Nah, dari pada mikir orang yang nggak peka dan jelas, mending kita makan aja." Cika mendekatkan piring yang sudah berisi makanan ke dekat Syarastini. Syarastini yang mengangguk pelan hanya menunduk. Hal ini membuat Cika tak sampai hati untuk memulai makan sendiri. "Tini, lihat aku." Syarastini mendongak lalu melihat wajah temannya. "Kalau kamu dan dia itu berjodoh, maka kalian akan dipertemukan dan tidak akan ke mana-mana. Takdir itu sudah diatur oleh Tuhan. Aku jujur saja, tadi sempat kesal dengan ucapakan dia, ingin rasanya aku mengata-ngatainya di depan Tuan Kao dan Rinoi, namun aku menahannya karena aku menghargai kamu yang menyukainya. Tapi aku tidak setuju dia melirik kamu seperti tadi, itu lirikan menuduh orang yang sedang mencuri atau melakukan suatu kejahatan. Kamu itu sama sekali tidak mencuri barang miliknya atau melakukan suatu kejahatan apapun, aku sebagai teman merasa tersinggung atas lirikan dia terhadap kamu." Setelah mendengar ucapan sang teman, mata Syarastini memerah. Teman. Dia tidak punya banyak teman. Orang yang dia anggap teman hanya Rinoi saja. Rinoi yang memberikan dia contekan tugas dan jawaban ketika ulangan di sekolah hingga ke perguruan tinggi. Makanya dia merasa sangat menghargai Rinoi atas pertemanan mereka. Apalagi sudah dua tahun ini Rinoi tanpa keberatan terus mengatakan jadwal kerjanya. Namun, sepertinya dia menemukan seorang teman lagi, atau bisa jadi ini adalah sahabat yang Tuhan kirimkan untuknya. "Hei, jangan menangisi orang seperti dia. Aku tidak rela jika kamu diperlakukan tidak baik. Cukup aku tahu ibu kamu saja yang melarang-larang kamu untuk keluar rumah karena kamu sakit-sakitan." "Cika …." "Ya?" "Bolehkah kita menjadi sahabat?" Cika melihat manik mata coklat tua milik Syarastini. Bolehkah kita menjadi sahabat? Dia baru pernah mendengar kalimat ini. Biasanya yang dia dengar adalah, bolehkah kita menjadi teman? Apa beda teman dan sahabat? Teman adalah seribu orang yang datang ketika kita senang dan nol orang yang datang ketika kita sedang membutuhkan. Sahabat adalah orang yang datang ketika kita susah. Apakah sekarang Syarastini ini sedang susah? Feeling nya sebagai seorang perempuan mengatakan ya. "Pertanyaan macam apa itu? tentu saja boleh." Syarastini tersenyum, "Sekarang kita sahabat, kan?" "Iya, kita sahabat." Cika menganggukkan kepalanya kuat. "Ayo makan," ajak Cika. "Ya." Syarastini mengambil sendok dan garpu lalu mulai memasukan makanan ke dalam mulut. °°° Sementara itu ketika di pulau a. Ghifan yang duduk di pinggir jendela sambil melihat desiran ombak pantai hanya duduk diam tanpa tanggapan yang berarti. Pramusaji telah menyiapkan makanan, namun Ghifan tidak sadar bahwa mejanya telah penuh makanan. Ada apa denganku? Aku merasa sensitif sekali, padahal itu bukan urusanku. Aku terlalu berlebihan dengan mengatakan pada dia. Jika dia menyukai Rinoi, seharusnya itu urusan dia dengan Rinoi, bukan urusanku untuk ikut campur. Batin Ghifan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan pada dirinya sendiri. Hendry melihat aneka makanan segar yang telah disiapkan pramusaji. Dia melirik ke arah Ghifan yang masih melamun, Hendry tersenyum kecil. "Tuan Nabhan, makanan mana yang menurut Anda enak untuk pembuka?" tanya Hendry. Ghifan masih terlena dalam alam batin. Rinoi menoel ke arah sang bos. "Pak Ghifan, makanan telah siap." Ghifan tersadar, dia tertarik dari lamunannya. Ghifan melihat ke arah meja makan, ada makanan segar berupa olahan laut dan juga makanan sup berkuah, tumis dan lainnya. "Saya ingin minta rekomendasi Anda, kira-kira makanan mana yang menurut Anda enak sebagai pembuka?" tanya Hendry. Ghifan menunjuk ke arah air kelapa muda. "Saya rasa panas hari ini harus dinetralkan dengan kelapa muda." "Baik," sahut Hendry setuju. Makan siang dimulai, namun Ghifan tidak merasakan bahwa dia menikmati makan siang. Anehnya sekarang, suasana hatinya terasa hambar. Namun, demi kerja sama dengan perusahaan lain, dia mengesampingkan kehambaran hatinya itu. °°° "Cika, terima kasih." "Um. Kayak sama siapa aja deh," balas Cika. "Aku turun, yah." "Hum. Tidur siang sana, kamu banyak pikiran. Aku mau balik ke kantor." "Ok." Syatastini turun dari mobil milik Cika. Dia melambaikan tangan pada Cika hingga mobil itu pergi tak terlihat lagi. Shinta yang sedang melihat-lihat koleksi bunga di depan rumahnya, melihat ke arah pulangnya sang anak. "Sudah pulang? ini belum jam dua, baru saja selesai makan siang." "Kami makan siang bukan di restoran di pulau a, Ma. Cika harus balik ke kantor karena ada pekerjaan penting. Nanti saja kapan-kapan baru kita pergi lagi." "Oh. Gitu. Ya sudah, kamu masuk rumah." "Baik." Syarastini berjalan masuk ke rumah, dia menyapa bibi yang bekerja. "Halo, Bi." "Iya, Non," balas bibi. "Sudah pulang, Non?" "Ya. Saya naik ke kamar, yah." "Iya, Non," sahut bibi. Syarastini masuk ke kamarnya, dia meletakan tas selempang di atas nakas lalu berbaring tidur telentang. "Huuh … aku agak lelah hari ini." Kelopak mata Syarastini perlahan tertutup dan kantuk menyerangnya. °°° Ghifan dan Rinoi telah berpisah dengan Hendry. Mereka kini telah kembali ke kantor. Rinoi mulai giat bekerja, dia menyelesaikan pekerjaan apa saja yang masuk ke meja kerjanya untuk diteruskan ke sang bos. Jangan sampai dia mendapat teguran dari bosnya lagi. Sedangkan hal ini berkebalikan dengan Ghifan. Semenjak pulang dari pulau a satu jam yang lalu, Ghifan tak fokus kerja. Ini telah jam tiga siang. Otaknya merasakan bahwa dia malas kerja dan jangan lagi bekerja. Apa mungkin karena ini pengaruh makanan yang dia makan tadi siang? ataukah hal lain? Mari kita tanyakan pada Ghifan yaitu orang yang merasakannya. Ghifan menarik lalu mengembuskan napasnya berkali-kali, dia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Lamungan Ghifan berakhir saat Rinoi masuk ruang kerjanya lalu mengatakan jam kepulangan kantor yang telah berlalu setengah jam yang lalu. "Pak Ghifan, apakah Anda masih bekerja?" "Ya?" Ghifan terlihat seperti orang linglung. "Sudah jam setengah lima sore, apakah Anda masih bekerja ataukah ingin pulang?" tanya Rinoi. Ghifan melirik jam kantor, setengah lima. "Saya pulang. Kamu duluan saja." "Baik, Pak. Permisi," pamit Rinoi. "Hum." Melihat Rinoi keluar dari kantornya, tiba-tiba timbul suatu di pikiran Ghifan. Dia meraih ponsel, tas kerja dan kunci mobil lalu pergi menyusul ke mana Rinoi pergi. Ghifan mengikuti Rinoi ke tempat parkir bawah tanah perusahaan Farikin's Seafood. Dia melihat motor Thunder milik Rinoi keluar dari parkiran menuju luar gedung. Ghifan mengikuti dari belakang. Setelah keluar dari gerbang perusahaan, Ghifan melirik kiri kanan seperti mencari keberadaan sesuatu, namun dia tidak menemukan. Motor Thunder milik Rinoi telah menghilang dari pandangannya namun dia tak menemukan sesuatu yang dia cari. "Aah, ada apa denganku?!" Ghifan seperti merasa kesal. "Kenapa aku jadi ikut-ikutan melihat Rino pulang?!" Ghifan merasa bahwa dia akan marah. Setelah membuang napas kasar, Ghifan memilih untuk pulang saja ke rumah. °°° Gaishan dengan senyum senang melihat para bodyguard berjalan dengan hanya memakai satu sepatu saja. "Huh, betapa senangnya hatiku," ujar Gaishan senang. Para bodyguard, "...." Tuan, kami merasa sangat dirugikan. Gaishan melihat ke arah wajah-wajah bodyguard itu, "Ada apa?" "Tidak ada apa-apa, Tuan," jawab mereka serentak. "Oh. Aku kira ada apa-apa." Gaishan tersenyum manis. Dia melirik ke arah bodyguard itu lagi, "Kalian kehilangan sesuatu kah?" Gaishan ingin bertanya pada bodyguardnya, sebab para bodyguard dia tidak mengatakan bahwa mereka sedang kehilangan barang yang berupa sepatu. "Sebelah sepatu kami tiba-tiba hilang," jawab salah satu bodyguard. "Oh. Sepatu hilang." Gaishan manggut-manggut mengerti. "Iya, Tuan." "Kalau begitu, coba cari tahu, siapa yang ambil, bisa saja ada orang jahil yang tiba-tiba tanpa kerjaan menyembunyikan sepatu kalian." Gaishan memberi saran. "Baik." Beberapa menit kemudian. Wajah-wajah bodyguard itu hanya bisa menelan susah air ludah mereka setelah mata mereka dengan jelas melihat dari rekaman kamera cctv, pelaku yang dengan celingak-celinguk membawa lari sebelah sepatu mereka! Tuhan! ini cobaan apa?! Busran menggelengkan kepalanya penuh dengan rasa simpati pada para bodyguard yang bekerja di bawahnya. "Sudah lihat pengumuman?" tanya Busran. "Belum, Tuan." "Nah, lihat gih sekarang." Pinta Busran. "Baik." Mereka membuka dinding pengumuman di ponsel. 'Perhatian, dibertahukan pada seluruh orang yang tinggal di rumah ini. Jika kehilangan barang apapun itu, pasrah saja nanti akan digantikan oleh bendahara. Ada sesuatu dan lain hal yang tidak dapat kami sebutkan untuk Anda. Yang bertanda tangan Ny. Gea Ach. Nabhan.' Semua orang, "...." Jadi tuan rumah menutup mata atas kejahatan tuan rumah sendiri. °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN