Chapter 14

1788 Kata
Gea menatap tajam bosnya. "Baik, pulang nanti saya sudah memprediksi bahwa Anda akan tidur di luar." Busran, "!!!" "Hahaha, maaf, saya khilaf," ujar Busran setelah dia tertawa sumbang. Jangan sampai sang istri mengusirnya tidur di luar kamar. Dia tidak akan dapat kesempatan enak-enak nanti malam. "Khilaf kok terus-terus, itu khilaf apa doyan?" baru kali ini Ghifan terang-terangan mencibir bosnya di kantor. "Uhuk, namanya juga manusia, tak luput dari kesalahan," balas Busran setelah dia terbatuk. Gea hanya memutar bola matanya, dia melirik ke arah Ghifan, "Ada kejadian apa saat kamu makan siang dengan Tuan Kao?" Ghifan, "...." hanya diam. Ada kejadian apa saat makan siang bersama Hendry? Tentu saja ada kejadian yang besar sekali. Telapak tangannya diludahi dengan bekas makanan lalu wajahnya disemprot dengan air minum campur air liur. Jangan bilang karena insiden tadi siang, berimbas pada kerja sama dengan perusahaan Hongkong itu? Ghifan mulai berpikir yang tidak-tidak. Pihak perusahaan Hendry tidak jadi kerja sama dengan Farikin's Seafood? "Itu … tadi ada sedikit … boleh saya tahu, apa ada tanggapan atau komplain dari perusahaan Hongkong itu?" Ghifan tidak bisa menjawab pertanyaan sang sekretaris bos besar, lidahnya berbelok bertanya lain. "Pihak Sea Delicious menerima syarat Farikin's Seafood dalam kerja sama tanpa merevisi apapun, jadi bisa dibilang ini sangat beruntung, dan juga ini adalah tawar menawar syarat kontrak kerja sama yang tercepat tanpa negosiasi lagi," jawab Gea. "Hah?!" Ghifan membeo. Dia menjatuhkan rahangnya saking bingung bercampur syok. Melihat reaksi Ghifan yang sepertinya kurang percaya atau memang tidak percaya, Gea mengambil berkas yang dikirimkan oleh pihak Hendry pada Ghifan agar Ghifan melihat jelas berkas itu. "Mereka langsung tanda tangan. Ada tanda tangan Tuan Kao yang posisinya sebagai General manager dan CEO Sea Delicious – Tuan Lee," ujar Gea. Ghifan yang melihat lembaran tanda tangan terakhir, "...." Dia tidak dapat berkata-kata. Sejujurnya, Ghifan juga bingung, hal apa yang membuat Hendry mampu membuat CEO Sea Delicious setuju dengan cepat. "Tuan Kao adalah General manager, dia punya kuasa juga. Posisinya sama seperti Pak Dodin yang memegang posisi General manager sementara dari Farikin's Seafood karena kamu belum mau jadi penerus perusahaan. Namun, menurut yang saya baru tahu, Tuan Kao ini adalah keponakan Tuan Lee, jadi istilahnya Sea Delicious ini esok lusa akan jadi milik Tuan Kao karena Tuan Lee tidak menikah," ujar Gea. Ghifan sudah tahu mengenai ini. Hal yang Ghifan tidak tahu adalah, apa yang membuat Hendry begitu cepat menyetujui syarat dari perusahaan milik ayahnya, padahal tadi saat makan siang ada insiden canggung antara dia dan Syarastini. Syarastini lagi …. Ah, Syarastini. Apakah semua ini karena Syarastini? "Ada apa?" tanya Gea, dia melihat mata Ghifan yang melihat kertas namun tak berpindah dari satu titik itu, seperti pikirannya melayang ke arah lain. "Hei, ada apa?" tanya Gea. Ghifan masih diam. Gea melirik ke arah Busran, "Mungkin dia sedang serius membaca." Busran melirik ke arah Ghifan, "Ghifan, bawa saja berkas itu ke ruang kerja kamu, toh nanti masih ada softnya di sini." "Lah? malah makin bengong," ujar Busran. Gea menoel lengan Ghifan, "Mungkin kamu kurang tidur atau istirahat selama beberapa hari ini, Mama lihat kamu nggak fokus, pulang aja gih lalu istirahat." "Sayang, katanya ini bukan di rumah," ujar Busran. "Memang ini bukan di rumah, memangnya kenapa?" Gea melirik ke arah Busran. "Kamu harus memisahkan masalah pribadi dan pekerjaan. Terlalu peduli pada dia," jawab Busran, cemberut. Sang sekretaris khawatir pada manager keuangan, tapi tidak khawatir pada bosnya sendiri yang kurang perhatian. "Yah sudah, kita semua pulang saja biar bisa istirahat, lagipula ini sudah jam tiga sore, dikit lagi jam pulang," balas Gea. Dia tidak mau ambil pusing karena sang bos yang merangkap sebagai suaminya ini terlalu banyak mau. "Ok," sahut Busran dengan penuh semangat hidup seperti melihat cahaya kehidupan. Aneh sekali, Busran yang sebagai bos yang seharusnya mempunyai segala keputusan termasuk dalam hal pulang, ijin dan sebagainya, tetapi Busran ini menerapkan prinsip yang berbeda. Pulang jika istrinya katakan pulang, ijin jika dia dan istrinya tidak ke kantor bersama-sama. Pasangan sejoli kemanapun bersama saling merangkul. Ghifan baru tersadar setelah dia melihat Busran telah bersiap-siap untuk pulang. "Mau ke mana?" tanya Ghifan. "Mau pulang," jawab Busran. Ghifan melihat jam di dinding kerja Busran. "Baru jam tiga." "Sudah dapat instruksi pulang dari istri saya," balas Busran senang. Dia meraih tas kantor lalu mendorong pelan Ghifan keluar dari ruang kerjanya dan mengambil tas kerja Gea, "Sayang, aku yang pegang saja tas kerja kamu, kalau kamu pegang nanti agak berat." "Ok," sahut Gea. Dia mengunci pintu kerja Busran dan bilik kerjanya, mereka keluar dari ruang bos. "Nanti pas sampai kamar, aku boleh minta sedikit pijatan?" tanya Busran halus. "Tanganku lelah," jawab Gea. "Kalau gitu nanti kamu injak-injak badan aku saja, pakai kaki saja kalau tangan kamu lelah, hitung-hitung tetapi kaki karena pakai hak tinggi terus," balas Busran. "Ok," sahut Gea. Ghifan yang ada di belakang, "...." sekarang dia mulai penasaran, seperti apa rasanya hubungan antara pria dan wanita, seperti apa juga hubungan suami istri itu berjalan. °°° Syarastini keluar kamar untuk mengantar Cika pulang dari rumahnya. Mereka berdua sedang menuruni tangga, namun ada Syarastya yang baru saja pulang dari kerja. "Kak Tia," sapa Syarastini. Syarastya hanya mengangguk tanpa membalas, namun dia melihat ke arah Cika dengan tatapan penasaran. "Teman Tini?" tanya Syarastya. "Iya, Kak. Saya Cika," jawab Cika. "Oh." Itu saja respon Syarastya lalu dia berjalan masuk ke kamar yang ada di lantai dasar. Jutek sekali, batin Cika. "Itu kakak yang kamu bilang, kan?" bisik Cika di telinga kiri Syarastini. "Ya. Kami hanya dua bersaudara," jawab Syarastini. "Mukanya udah keriput," bisik Cika. Syarastini, "...." Jika sang kakak tahu tentang bisikan ini, maka mungkin Cika akan ditendang langsung olehnya. Syarastini mengisyaratkan untuk diam saja, jangan lagi berbisik tentang kakaknya. "Hum." Cika hanya bergumam saja. °°° Ghifan masuk ke ruang kerjanya. Ada karyawan lainnya yang melihat ke arah datangnya manager mereka. Rinoi melihat raut wajah bosnya yang terlihat agak bingung, namun dia tidak berani bertanya apa yang terjadi antara pembicaraan Ghifan dan bos besar. Ghifan masuk ke ruang kerjanya lalu duduk, kemudian dia melihat ke arah Rinoi. "Rino, masuk ke ruangan saya." "Siap, Pak." Rinoi dengan sigap masuk ke ruang kerja Ghifan. "Ya, Pak, ada apa?" "Setelah saya tanda tangan berkas kontrak kerja sama antara Farikin's Seafood dan Sea Delicious, segera kamu scan dan kirimkan kembali ke email dan fax dari perusahaan Sea Delicious yang di Hongkong," jawab Ghifan. Rinoi, "??!" pertemuan baru tadi padi, tanda tangan persekutuan kerja sama sekarang? Ada apa dengan dunia? °°° Makan malam di rumah Tinar. Semua anggota keluarga makan dengan cara elegan dan kecepatan stabil, namun ketika Shinta melihat cara makan anak bungsunya yang makannya pelan sekali, dia bertanya, "Tini, kamu sariawan?" Syarastini mendongak, dia melihat ke arah Shinta, "Bibir Tini melepuh, Ma." "Melepuh kenapa?" tanya Shinta. "Tadi makan di restoran korea bersama Cika … Tini tidak lihat-lihat dagingnya masih panas," jawab Syatastini. Blush. Wajah Syarastini merona. Dia ingat peristiwa tadi siang lagi. "Lain kali hati-hati kalau makan, bibir kamu Mama lihat melepuh. Abis makan obati," ujar Shinta. "Baik, Ma," sahut Syarastini. "Tadi teman kamu datang ke sini?" tanya Jihat. "Iya, Kakek. Teman Tini yang bernama Cika datang ke sini," jawab Syarastini. "Oh, itu bagus. Kakek tidak pernah lihat kamu bawa teman ke rumah," ujar Jihat lalu dia melirik ke arah Shinta. Shinta yang mendapat lirikan dari ayah mertuanya itu hanya menunduk makan, dia tak ingin melihat wajah ayah mertuanya. Syarastini diam saja setelah mendengar kalimat dari kakeknya. "Aku melarang Tini bawa teman semasa sekolah karena memang Tini tidak boleh lelah bermain lama. Apa salahnya sebagai ibu khawatir pada anaknya?" suara Shinta terdengar. "Ya, tidak ada yang salah. Tapi mengekang anak, itu juga tidak baik," balas Jihat. Shinta hanya menarik napas lalu membuangnya. Lelah dia jika terus meladeni orang tua bau tanah itu. Badar hanya diam saja, dia tak mau buka suara, itu pasti akan membuat percakapan di meja makan menjadi panjang. Syarastya meraih gelas air dan meminumnya, dia mendorong sedikit piring makannya yang kosong ke depan lalu dia berdiri, "Aku mau istirahat lebih awal, hari ini melelahkan." "Um," sahut Jihat. Syarastya berdiri lalu menjauh dari ruang makan. °°° "Kamu lihat makanan terus dari tadi, kalau nggak mau makan, jangan lihat begitu, kasihkan ke orang lain saja," Gaishan melihat gerak-gerik adik kembarnya yang tidak biasa dari makan malam kali ini. Ghifan malah diam. "Lah, malah bengong," cebik Gaishan. "Ma, Pa, si Ghifan kenapa ini? tingkahnya kok aneh banget." Gaishan melirik ke arah orangtuanya "Tadi di kantor juga kayak gitu. Makanya Mama suruh pulang lebih awal, mungkin Ghifan kurang istirahat jadi kayak gitu," jawab Gea. "Ini karena apa?" Gaishan mulai bertingkah. "Bukan karena kerja," ujar Gaishan. Fathiyah melirik ke arah suaminya, firasatnya mengatakan bahwa suaminya ini pasti mulutnya akan seperti perempuan busuk lagi. "Ini karena terlalu lama kesepian," ujar Gaishan. Semua orang, "...." Nah kan. Mulut Gaishan ini tidak bisa dipuasakan. "Gaishan, jangan cari gara-gara deh sama adik kamu." Gea mengingatkan anak sulungnya. Gaishan mengangguk, "Ok." Dia melirik ke arah sang istri lalu terkekeh pelan. °°° Syarastini mengoleskan obat ke bagian bibirnya yang melepuh karena makan daging panas tadi siang. "Sudah berair di dalam, kalau pecah akan sakit," gumam Syarastini. Dia menyesal tidak mengobatinya setelah pulang dari makan siang tadi. Yah, bagaimana bisa ada waktu untuk mengobati bibirnya, dia dan Cika menghabiskan waktu untuk berbincang mengenai perasaanya. Setelah dia selesai mengaplikasikan obat luka bakar, Syarastini meraih ponselnya lalu duduk di pinggir ranjang dan mulai membuka kotak pesan. Rinoi. Jemari Syarastini sudah siap mengetik pesan, namun dia berusaha untuk mengatur pesan apa yang harus dia ketik. Setelah beberapa lama, akhirnya Syarastini mengetik pesan. 'Rinoi, aku minta maaf atas kejadian tadi siang. Aku tidak bermaksud untuk mempermalukan kamu di depan bos kamu dan yang lainnya. Kejadian tadi diluar dugaanku. Aku harap kamu tidak marah padaku, jika kamu marah, aku berharap kamu memaafkan aku. Dari Tini.' Pesan terkirim. Tak menunggu lama, pesan balasan masuk, itu dari Rinoi. 'Tidak apa-apa, aku tidak menyalahkan kamu. Lagipula bosku tidak mengatakan apa-apa, Tuan Hendry sangat senang mendapat teman baru.' Syarastini sedikit lega, namun ketika dia ingin menyudahi berkirim pesan, apa yang dikatakan oleh Cika tadi siang, kini terlintas. 'Buat dia melihatmu.' Jemari Syarastini mengetik kata demi kata. 'Rinoi, bisakah kamu menyampaikan maafku pada Tuan Nabhan? aku tidak bermaksud untuk mempermalukan beliau. Aku harap Tuan Nabhan tidak marah padaku. Sampaikan padanya bahwa aku menyesal.' Setelah mengirim pesan ini, Syarastini mematikan ponselnya. Dia merasa was was untuk membaca kembali pesan yang telah dia kirim. °°°° Rinoi membaca pesan itu, dia hendak membalas pesan Syarastini. Namun, panggilan telepon dari nomor baru masuk. Rinoi mengangkat panggilan. "Halo." "Hai tampan." Suara perempuan muda terdengar bersemangat. "Ini …?" "Eeih, baru ketemu tadi siang makan bersama saja sudah sok pikun." "!!!" Rinoi menyipitkan matanya lalu mematikan panggilan. Di seberang. Cika mengerutkan keningnya. "Yah dimatiin." "Dasar kamvreet." °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN