Dimakamkan di Depan Rumah

1007 Kata
Jenazah Suamiku Bab 1 : Dimakamkan Depan Rumah "Gali tanah, terus kubur! Beres deh!" "Iya, betul itu. Nggak usah banyak gaya mau bikin acara pesta kematian segala!" "Baguslah dia cepat meninggal, berarti kamu tak perlu repot-repot lagi mengurusi dia yang penyakitan lagi." "Pulang sana, kami tak sudi mengurusi mayat suamimu yang semasa hidupnya tak pernah berguna itu!" Begitulah kata-kata yang kudapat saat datang ke rumah ayah dan ibu yang juga dihuni oleh saudara-saudaraku itu, padahal aku ke sana dengan membawa berita duka meninggalnya Bang Wawan--suamiku. Pria yang sudah 10 tahun membina rumah tangga dalam kesederhanaan juga cinta kasih bersamaku. Rumah tangga kami bahagia, walau kami miskin. Kupercepat langkah menuju gubuk kami, di mana Winka--putriku yang berusia 8 tahun itu kusuruh menunggui jenazah ayahnya. Saat tiba di sana, terlihat sudah ada satu orang tetangga yang datang padahal aku belum memberitahu mereka, sebab yang kuutamakan adalah memberi kabar kepada keluargaku. Kalau almarhum Bang Wawan, dia itu seorang perantau dan katanya dulu sudah tak punya sanak family lagi. "Innalillah wa inna illaihiroji'un, saya turut berduka cita, ya, Wulan." Bu RT memeluk tubuh kurusku saat tiba di depan rumah. "Terima kasih, Bu RT." Aku menyeka wajah yang sembab karena banjir air mata sedari tadi. "Bu RT tahu dari mana?" "Tadi saya bawa pisang goreng untuk Winka dan ternyata ... dia sedang menangisi jenazah ayahnya," jawab Bu RT sambil melepaskan pelukannya dariku. Aku menarik napas panjang sambil mengelap air mata dengan ujung jilbab. "Kamu dari mana? Saudara-saudara juga orangtuamu apa sudah diberitahu?" tanya Bu RT sambil menuntunku masuk. "Mereka tak ada yang perduli, Bu RT. Biarlah saya sendiri yang akan mengurus jenazah Bang Wawan," jawabku dengan tak dapat menghentikan tangis. "Astaghfirullahal'adzim, tega sekali mereka." Bu RT terlihat kaget sambil memegangi dadanya. "Aku membenci mereka semua, Bu RT. Baiklah, aku bisa sendiri dan aku takkan pernah datang kepada mereka lagi." Kukepalkan tangan ini, d**a terasa sesak karena segala kesedihan yang kini sudah bercampur dengan dendam. "Sudahlah, saya akan beritahu warga sekitar tentang meninggalnya suamimu, kami semua akan membantu proses pemakamannya. Kamu tenang saja, Wulan! Walau keluargamu tak mau peduli, tapi kami para tetangga masih peduli dengan kami. Mendiang suamimu orang yang baik. Kamu yang sabar, ya!" Bu RT menepuk pundakku, kata-katanya sungguh menyejukkan hati yang panas ini. Bu RT berlalu dari hadapannya, ia melangkah cepat keluar dari perkarangan rumahku. Kutarik napas panjang dan berusaha kerasa untuk menguatkan diri, semua demi Winka--putriku. Kalau tak mengingat dia, mungkin aku sudah mengakhiri hidup dan pergi menyusul Bang Wawan. Ya Allah, dengan apa jenazah Bang Wawan akan kubungkus? Sedangkan aku tak mempunyai uang sepeser pun untuk membeli kain kafan untuk suamiku. Dadaku semakin sesak saja memikirkan semua ini. Taklama berselang, beberapa warga mulai berdatangan untuk melayat. Aku sedikit lega karena masih ada yang peduli, walau keluarga sendiri tak dapat diharapkan. Usai dimandikan, aku semakin kebingungan jika warga menanyakan kain kafan untuk suamiku. Ya Allah, hari ini aku benar-benar merasa tak berarti sebagai seorang istri, karena tak bisa mengusahakan pakaian terakhir suamiku sebelum ia dimasukkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. "Bu RT, saya ... tak punya uang buat beli kain kafan .... " ujarku pelan sambil menyeka air mata. "Tak perlu kamu risaukan itu, Wulan, kami sudah menyiapkan segalanya. Hmm ... Masalah pemakaman bagaimana, mau dimakamkan di mana almarhum?" kata Bu RT. Aku tertegun, hati sedikit lega karena urusan kain kafan telah selesai, tinggal masalah makamnya lagi. Aku tahu, pemakaman di sini tidak gratis dan ada biaya administrasinya, walau hanya 100ribu tapi benar-benar tak punya uang sama sekali. "Dimakamkan di halaman rumah saja, Bu RT," kataku. "Serius kamu, Wulan? Kamu tak perlu memikirkan semua biayanya, semuanya gratis karena akan diambil dari uang kas desa." Bu RT mengerutkan dahinya. "Serius, Bu RT. Biarlah jenazah Bang Wawan dimakamkan di depan rumah saja, saya ucapkan terima kasih atas bantuan Bu RT, Pak RT dan semua warga. Saya takkan melupakan kebaikan kalian semua," ujarku dengan menyeka air mata yang terus saja mengalir dengan derasnya. Singkat cerita, kini jenazah suamiku telah disemayamkan di depan rumah kami. Semua warga sudah pulang ke rumah masing-masing, dan aku berhutang budi dengan mereka. Bang Wawan telah tenang sekarang, dia sudah tak sakit lagi. Sesungguhnya aku ikhlas, Tuhan, sebab yang bernyawa tetap akan menemui kematian. Yang kusesalkan hingga saat ini adalah sikap keluargaku, mereka manusia paling tega. *** "Akhirnya kamu mengikuti saranku juga, orang meninggal mah tinggal digalikan lubang dan ditanam." Bang Wahyu--abang tertuaku datang ke rumah beberapa hari kemudian setelah meninggalnya suamiku. Aku hanya diam sambil mengupas ubi yang akan kurebus buat sarapan bersama Winka--putriku. "Segeralah berdandan yang cantik, Abang akan memperkenalkanmu dengan saudagar kaya raya biar kamu tak perlu makan ubi terus tiap hari!" ujarnya lagi. "Tidak usah repot-repot, Bang, aku tak berniat menikah lagi. Tanah kuburan suamiku belum juga kering, tapi Abang--" Aku menatap sesak pria berkumis tebal itu. "Wulan, kalau dari dulu kamu mendengarkan perkataan Abangmu ini, kamu takkan melarat begini dan jadi janda miskin! Menurut saja, biar hidupmu enak! Abang akan menjodohkanmu dengan Saudagar Gani dan dia sudah setuju menjadikanmu istri kelimanya," ujarnya lagi. Dadaku semakin sesak saja mendengar perkataan Bang Wahyu, seenaknya saja dia ingin menikahkanku dengan saudara banyak istri itu. Aku tidak mau! "Segera pergi dari rumahku! Anggap aku sudah mati, jadi kamu tak perlu merisaukan masalah hidupku, wahai Tuan Wahyu yang terhormat!" Kuarahkan pisau pengupas ubi itu ke arah pria berkumis tebal itu. "Hey, sudah gila kamu, Wulan!" bentaknya garang. "Jangan mengurusi hidupku lagi, pergi dari sini!" Aku tak takut kepadanya. "Kamu akan masuk penjara, Wulan, buang pisau itu!" bentaknya garang namun turun juga dari rumahku. "Aku tak perduli, enyahlah Abang dari rumahku dan jangan coba-coba mengatur hidupku lagi!" teriakku histeris dengan emosi yang sudah tak terkontrol lagi. Tiba-tiba, terlihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumahku. Lalu turunlah beberapa orang dari kendaraan mewah ini. Jantungku yang sedari tadi berdebar kencang karena marah dengan Bang Wahyu, kini semakin bertabu-tabu karena melihat pria mirip suamiku yang berdiri diantara orang-orang yang keluar dari dalam mobil itu. Siapa mereka? Pisau di tangan ini jatuh perlahan. Tak hanya aku yang terbengong melihat rombongan orang-orang yang memasuki perkarangan rumah gubukku, tapi Bang Wahyu juga. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN