32. Fakta Terbaru

1072 Kata

Leonard melangkah turun dengan wajah seperti badai yang hendak meledak. Setiap hentakan sepatunya di tangga marmer bergema lantang, mengisyaratkan amarah yang dipendamnya. "Mereka menunggu di ruang minum, Leon," lapor Nana dengan suara berhati-hati, wajahnya dipenuhi kecemasan. "Sial," gerutu Leonard melalui giginya yang saling bergemeletuk. "Aku yakin jika Moza telah menceritakan versinya kepada mereka," bisik Nana lagi, mencoba mempersiapkan pria itu. "Tentu saja dia akan melakukannya," sahut Leonard singkat sebelum mendorong pintu ruang minum. Saat pintu terbuka, dua pasang mata langsung menancap padanya. Inggrid duduk tegak di sofa, tatapannya tajam seperti belati. Melisa di kursi bar hanya menyilangkan lengannya, menikmati drama yang akan dimulai. "Leonard Halim! Kau tidak menga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN