11-Kisah yang Berbeda

1510 Kata
Umumnya dua orang yang setelah sepakat untuk menjalani hubungan, mereka cenderung tidak bisa pisah dari satu sama lain. Walau hanya sekadar jalan berdampingan atau genggaman tangan singkat. Namun, pasangan ini berbeda, meski kemarin sang pria telah melamar, nyatanya mereka terlihat seperti biasa. Rensha berjalan di depan dengan Verza beberapa langkah di belakangnya. Tidal ada pancaran bahagia dan senyum mengembang yang hadir di keduanya. Mereka sama-sama tanpa ekspresi. Sama seperti saat mereka menjalani hubungan persahabatan. “Ver!” Rensha memanggil lalu berbalik, membuat si pemilik nama mempercepat langkah. “Kenapa?” tanya Verza sambil melongok ke dalam. Dari tempatnya Verza melihat seorang pria duduk di samping jendela. Dia lalu menatap Rensha yang terlihat sendu itu. Satu tangan Verza terangkat, mengusap pipi Rensha lembut. “Semua pasti baik-baik aja,” ucapnya menenangkan. “Semalem Om Irsya udah ngomong, kan, sama Om Wino?” lanjutnya. Rensha mengangguk pelan lalu menarik napas panjang untuk menguatkan mental. Setelah itu dia membuka pintu kaca di depannya, membuat Om Wino menoleh dan tersenyum. Senyuman itu justru membuat Rensha ketakutan. “Tenang,” ucap Verza sambil menggenggam tangan Rensha. Mereka berdua berjalan beriringan. Rensha menyalami Om Wino, setelah itu duduk di depan pria itu. Sedangkan Verza langsung duduk di samping Rensha. “Om, sebelumnya Rensha minta maaf,” kata Rensha membuka percakapan. Om Wino menghela napas. Semalam saat mendengar cerita dari Irsya dia cukup kecewa. Padahal dia berharap Rensha bersama Gilbert. Dia juga sudah menyukai kepribadian Rensha yang sopan. “Semalam papa kamu sudah cerita,” jawab Om Wino. “Kamu nggak usah merasa bersalah. Mungkin ini yang terbaik untuk kita semua.” “Om nggak marah?” tanya Rensha spontan. Om Wino menggeleng. “Sedikit kecewa, tapi nanti pasti hilang kok,” jawabnya sabar. Tatapan Wino lalu tertuju ke pria yang duduk di samping Rensha itu. “Dia calon suami kamu, Ren?” Rensha menoleh dan melihat seulas senyum terbit dari bibir Verza. “Iya, Om,” jawabnya sambil menatap Om Wino. Pria di depan Rensha manggut-manggut. Dia menilai calon suami Rensha itu tipe pria yang keras. Wino lalu berdiri mengulurkan tangannya ke Rensha. “Om nggak bisa lama-lama, Ren. Ada kerjaan lain.” Tangan Rensha terulur lalu berdiri menatap Om Wino. “Kok buru-buru, Om? Nggak mau pesan makan dulu?” “Nggak bisa, Ren. Ini mepet banget.” Rensha mengangguk mengerti. “Sekali lagi maaf, ya, Om.” Sudut bibir Om Wino tertarik ke atas. “Jangan terlalu dipikiran. Oh ya, Om harap kamu masih temenan baik sama Gilbert, ya.” “Iya, Om,” jawab Rensha menyanggupi. Setelah itu Om Wino keluar restoran, meninggalkan dua orang yang tersenyum lega itu. Verza lalu mendengus, ingat bagaimana kalimat terakhir Om Wino. “Ngarep banget, ya, dia biar lo sama Gilbert,” ucap Verza tak suka. Rensha beranjak berganti duduk di tempat Om Wino. Membuat Verza yang melihatnya mengerutkan kening. “Ngapain pindah?” “Nggak apa-apa,” jawab Rensha beralasan. Sejak semalam rasanya Rensha tidak bisa terlalu dekat dengan Verza. Jantung wanita itu berdetak terlalu kencang apalagi dia hampir kebablasan hanya karena berciuman dengan Verza. Rensha tidak ingin menanggung risiko lebih. Melihat Rensha yang terdiam, Verza mengangkat satu alisnya. Dia bingung apa yang sedang bersarang di kepala Rensha. “Ren. Kenapa diem?” Rensha menggeleng lalu berbalik, memanggil pelayan yang berdiri di dekat meja kasir. “Lo mau pesan apa?” tanyanya sambil membuka menu. “Terserah lo aja.” “Hati sapi mau?” Verza memutar bola matanya malas. “Nggak ada makanan lain selain itu?” Sudut bibir Rensha tertarik ke atas. Dia tahu apa makanan favorit dan makanan yang tidak disukai Verza. “Iya-iya,” jawabnya lantas mendongak menatap pelayan yang telah berdiri di sampingnya itu. “Pesan sea food paket berdua. Minumnya jeruk hangat,” ucap Rensha. Sang pelayang mencatat pesanan Rensha, setelah itu pergi. Meninggalkan Rensha dan Verza yang saling diam. “Ini seriusan kita nikah?” tanya Rensha mengangkat topik semalam. Sontak Verza menegakkan tubuh dengan kedua tangan saling bertumpu di atas meja. “Kenapa? Lo mau batalin? Nggak bisa!” jawabnya tak suka. Dia sudah memberi tahu sang papa akan membawa Rensha ke acara makan malam di akhir pekan. Rensha terdiam. Semalam dia mengiyakan permintaan Verza padahal dia masih bimbang. Di satu sisi dia senang. Di satu sisi dia ragu. Rensha lalu ingat kalau Verza telah membantu keluarganya. Mungkin ini balasan Rensha atas tindakan Verza. Meski Rensha masih mencari tahu apa alasan sahabatnya yang tiba-tiba ingin menikah itu. Drtt!! Ponsel di saku Rensha bergetar. Dia merogoh kantong celana jeansnya dan melihat nama Gilbert muncul di layar. Wanita itu lalu menatap Verza. “Gil telepon.” Verza mengernyit tak suka. “Lo belum ngomong ke dia?” Rensha menggeleng pelan. Dia merutuki dirinya sendiri yang melupakan permintaan Verza semalam.   ***   Suasana apartemen Rensha begitu hening. Papanya sedang tidur, Renga sedang pergi keluar. Menyisakan Rensha dan Verza yang duduk menghadap televisi yang tidak menyala. Cekrek! Dari arah depan terdengar pintu dibuka. Rensha beranjak hendak mendekat saat sang kakak muncul dari ruang tamu. “Eh ada kalian. Sepi banget, gue kira nggak ada orang,” ucap Renga. Renga berjalan ke kursi single lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. “Ren, ini sertifikat rumah.” Rensha mengambil map itu sambil tersenyum. “Rumah kita udah balik?” tanyanya senang. “Ya. Tapi usaha kita nggak bisa dipertahanin.” Mendengar itu Rensha menghela napas panjang. Dia meletakkan sertifikat rumah ke atas meja lalu menepuk pundak Renga pelan. “Kita bisa mulai usaha dari nol. Gue yakin kok kalau kita bisa,” ucapnya menenangkan. Verza melihat interaksi antara adik dan kakak itu. Hal yang tidak pernah dia alami. “Pasti semua balik normal kok.” Rensha menoleh lalu mengangguk pelan. “Gue tadi udah ketemu Om Wino.” Renga menatap Rensha dan Verza bergantian. “Terus gimana?” “Om Wino bilang macem-macem kok.” “Syukur,” ucap Renga mendengar kabar baik yang dibawa Rensha. “Kak. Lo mau nggak kerja di tempat gue?” Ucapan Verza membuat Rensha mengernyit bingung. “Kerja di mana?” Verza tersenyum tipis. Dia belum menceritakan akan meneruskan perusahaan sang papa. “Ver! Kerja di mana?” tanya Rensha tak sabaran. Tet!! Bel apartemen menghentikan percakapan mereka. Verza menggerakkan kepala meminta Rensha membukakan pintu. “Nanti lo cerita ke gue ya,” ucap Rensha setelah itu beranjak ke pintu utama. Selepas kepergian Rensha, Renga menatap Verza dengan pandangan menuntut. “Kerja di mana?” Tangan kanan Verza terulur ke dompet di saku belakang. Dia mengeluarkan kartu nama dan menyerahkan ke Renga. “Besok siang lo dateng ke alamat itu, Kak.” Renga menatap tulisan yang tertera. Dia keget menyadari kalau Verza adalah wakil direktur dari perusahaan properti terkenal. Renga menatap Verza dengan raut keheranan yang kentara. “Gue nggak nyangka. Kata Rensha lo arsitek.” Verza senyum kecut. “Ceritanya panjang. Kapan-kapan gue ceritain,” ucapnya lalu beranjak ingin memastikan Rensha yang sejak membukakan pintu tidak terdengar suara lagi. Di depan pintu, Rensha menatap Gilbert. Pria itu datang dengan wajah memerah. Beberapa jam yang lalu Gilbert mendapat pesan singkat kalau Rensha menolak menikah dengannya. Tentu hal itu membuat Gilbert marah padahal Rensha sudah berjanji. “Ren!!” Suara lain mengagetkan keduanya. Rensha mendapati Verza menatap Gilbert dengan pandangan menilai. “Kenapa nggak masuk?” tanya Verza sambil menatap Rensha. “Gue perlu bicara empat mata sama dia,” Gilbert menjawab. “Nggak bisa!” Emosi Verza mulai menguasai. Dia mendekat dan menarik tangan Rensha. Gilbert tentu tidak tinggal diam, dia menggenggam tangan Rensha yang bebas. Membuat Rensha tertarik dari dua arah. “Jangan tarik-tarik gini. Sakit!!” teriak Rensha. Pergelangan tangannya terasa panas karena ditarik dua tangan yang sama-sama kekar itu. Verza melepas cekalannya membuat Rensha tertarik ke arah Gilbert. “Oke, gue izinin kalian ngomong. Tapi nggak lama!” Setelah mengucapkan itu Verza kembali masuk. Pria itu memilih berdiri di dekat pintu, menguping pembicaraan Gilbert dan Rensha. Selepas kepergian Verza, Gilbert tidak melepas genggamannya. Dia menatap Rensha menutut jawaban. “Kenapa?” tanyanya dengan nada cukup tinggi. Rensha menunduk. Dia menarik napas panjang lalu mengangkat wajah. “Gue mau nikah sama Verza.” “What the f**k!!!” teriak Gilbert kencang. Pria itu menatap Rensha sambil menggeleng tegas. Dia tidak percaya Rensha memilih pria arogan itu. Gilbert lalu mengusap wajahnya kasar. “Lo yakin, Ren? Kenapa tiba-tiba sama dia?” Mata Rensha bergerak ke kiri dan ke kanan. Dia menatap perubahan ekspresi Gilbert. Pria itu sangat marah setelah mendengar keputusannya. “Dia bantu keluarga gue. Dia juga udah ngelamar,” jawabnya meski sebenarnya dia tidak tahu harus menjawab apa. “Jadi dia udah ngelamar? Dan gue kalah karena gue nggak ngelamar lo? Nggak fair!!” “Apanya?” tanya Rensha bingung. “Gue butuh duit cepet biar bayar utang dan dia ngasih itu.” Gilbert mengepalkan tangan. Dia meninju udara untuk meluapkan emosinya. Padahal dia sudah membayangkan akan menjalani hari dengan wanita yang sering hadir di mimpinya otu. “Gue tanya, lo cinta dia nggak? Atau dia cinta sama lo?” Rensha terdiam, tanpa diminta air matanya menetes. Cinta? Bahkan tidak ada alasan itu yang mendasari semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN